
Leo mengeluarkan kunci mobil juga kartu kredit pemberian Bian, Ia merasa sudah tak pantas menerima itu.
"Saya mengundurkan diri Tuan, semoga Tuan mendapatkan anak buah yang bisa menjaga loyalitasnya tidak seperti saya." ucap Leo penuh penyesalan.
"Apa kau sudah memiliki pandangan pekerjaan lain?" tanya Bian.
Leo menggelengkan kepalanya, "Saya bisa melakukan apapun untuk mendapatkan uang."
Bian menghela nafas panjang, "Ambil kunci mobilnya, itu hadiah untukmu karena kau sudah bekerja dengan baik selama ini."
"Tapi Tuan, saya tidak pantas menerima-"
"Dan gaji terakhirmu sudah ku transfer, gunakan untuk modal usaha. Bukankah kau juga pandai memasak? Gunakan keahlian mu itu untuk membuka restoran." saran Bian.
Leo menatap Bian tak percaya, sungguh Ia tak menyangka ada manusia berhati malaikat seperti Bian.
"Kenapa Tuan begitu baik pada saya padahal saya sudah mengecewakan Tuan."
"Jika kejahatan di balas kejahatan lalu bagaimana dengan nasib dunia?"
Leo kembali menangis, "Sekali lagi maafkan saya Tuan, saya tidak akan melupakan segala kebaikan Tuan "
Bian berdecak, "Sudah sudah, kenapa kau cenggeng sekali."
"Saya masih tidak menyangka dengan semua kebaikan Tuan."
Bian mengangguk, "Pulanglah, Semoga kau beruntung diluar sana."
Leo mengangguk, "Saya permisi Tuan." Leo berbalik ingin keluar dari ruangan Bian namun suara Bian menghentikan langkahnya, "Terima kasih karena kau juga sudah menyelamatkan istriku."
"Sudah menjadi kewajiban saya Tuan."
Leo sudah keluar dari ruangan, entah mengapa sedikit membuat Bian merasa lega meskipun Ia juga sempat dibuat kesal oleh pengakuan Leo yang menyukai istrinya.
"Pesona Aruna memang benar benar, membuatku kesal saja."
Bian menghela nafas panjang, Ia berniat menyusul istrinya yang ada didalam ruang pribadinya namun Ia tidak bisa masuk karena pintu tertutup.
Bian akhirnya menendang pintu itu agar Aruna keluar.
"Apa sudah selesai?" tanya Aruna terdengar masih kesal.
Bian mengangguk, "Ayo pulang sekarang."
"Baiklah,"
Keduanya pun turun dan segera memasuki mobil. Aruna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Bian sedikit khawatir.
"Pelankan sedikit." pinta Bian.
"Apa kak Bian takut?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya ingin perjalanan pulang kita lebih santai."
"Oh benarkah? Tapi aku ingin segera sampai." ucap Aruna menambahkan kecepatan laju mobilnya yang akhirnya membuat Bian hanya bisa pasrah.
Sampai dirumah, Aruna membantu Bian mandi lalu menyuapi makan, meskipun sedang kesal namun Aruna tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Kenapa lama sekali, apa yang dilakukan didalam sana." omel Bian saat keduanya selesai makan malam dan Aruna pergi ke kamar mandi namun tak kunjung keluar.
Bian bangkit dari ranjangnya, hendak menyusul Aruna bersamaan dengan Aruna yang keluar dari kamar mandi.
"Apa kau berniat menggodaku huh," ucap Bian saat melihat Aruna hanya mengenakan dress satin tipis hingga terlihat lekuk tubuhnya.
"Tidak, aku hanya kepanasan sedari tadi jadi aku memakai ini." balas Aruna santai lalu duduk dikursi rias dan mengikat rambutnya tinggi hingga terlihat leher jenjang yang mulus.
Bian tentu tak tahan melihat godaan Aruna, Ia berjalan mendekat namun Aruna malah menghindar.
"Kak Bian kenapa?" tanya Aruna pura pura polos.
"Kau menggodaku, ya kau menggodaku." ucap Bian terdengar kesal namun Aruna acuh malah berbaring di ranjang bersiap untuk tidur.
"Aku lelah dan mengantuk kak, tidak ada niat untuk menggoda kak Bian sama sekali, lagi pula tangan kak Bian juga sedang sakit."
Bian semakin menatap Aruna kesal, Ia ikut menyusul diranjang, "Lihat saja jika tangan ini sudah sembuh aku pasti akan membuatmu menangis!" ucap Bian lalu berbaring memunggungi Aruna.
"Baiklah kak, selamat malam." ucap Aruna santai.
Namun Aruna tetaplah Aruna, Ia yang menggoda Bian namun Ia sendiri yang khawatir dan merasa tak enak.
"Kak..." panggil Aruna, "Apa kak Bian sudah tidur?" tanya Aruna.
Bian tak menjawab membuat Aruna menghela nafas panjang, "Ya sudah jika sudah tidur padahal aku hanya ingin membuat Kak Bian senang."
Seketika Bian berbalik membuat Aruna terkejut, "Lakukan sekarang!"
Aruna melonggo menatap Bian tak percaya, "Aku hanya bercanda."
"Jadi kau mengerjaiku?"
Aruna tersenyum, Ia senang bisa membuat Bian kesal. Aruna tak mengatakan apapun lagi, Ia langsung membuka celana Bian dan melakukan yang seharusnya Ia lakukan.
Selesai membuat Bian puas, giliran Bian yang memberikan kepuasan untuk Aruna dengan memainkan gunung kembar Aruna.
"Sampai kapan tangan ku harus diperban seperti ini," keluh Bian setelah keduanya selesai.
"Apa masih terasa sakit kak?" tanya Aruna.
"Sepertinya sudah tidak." ungkap Bian.
"Coba besok periksa ke dokter lain, aku merasa dokter yang kemarin tidak menyukaimu kak." saran Aruna yang langsung diangguki Bian.
Paginya... Aruna mengantar Bian ke kantor, tadinya Aruna ingin mengantar Bian ke dokter namun Bian menolak.
__ADS_1
Sampai dikantor, Bian langsung mencari Sadam.
"Antar aku sekarang."
"Kemana pak?"
"Ke kantor polisi, tempat Jessi ditahan."
Sadam berdecak, "Untuk apa masih memikirkan wanita itu pak, apa Bapak masih belum bisa move on?"
"Apa kau ingin dipecat?"
"Baiklah pak, mari saya antar." ucap Sadam akhirnya.
Bian sudah dikantor polisi, Ia meminta izin pada polisi yang bertugas untuk menemui Jessi namun Jessi tidak mau menemuinya.
Terpaksa Bian mendatangi Jessi langsung ke sel.
"Apa kau ingin mengolok ku?" tanya Jessi menatap Bian sinis.
"Tidak, aku justru mengkhawatirkanmu."
Jessi menatap Bian tak percaya,
"Sebagai seorang teman." tambah Bian tak ingin Jessi salah paham mengartikan ucapannya.
Jessi kembali sinis, "Jika kau mau, aku bisa membuatmu keluar dari sini, kembalilah ke negaramu dan bahagialah disana." ucap Bian.
"Tidak, biarkan saja aku disini agar aku bisa membalasmu setelah keluar."
Bian menghela nafas panjang, "Sebenarnya apa salahku padamu Jessi?"
"Kau masih bertanya? Kau meminta putus tanpa persetujuanku!"
"Itu sudah berakhir lama Jessi dan apa kau lupa penyebab kita putus berasal dari dirimu." ucap Bian menyadarkan Jessi.
Jessi diam, Ia ingat jika Ia bersalah waktu itu, Ia sudah berselingkuh membuat Bian memutuskan cintanya namun Ia tidak memiliki pilihan lain dan Bian tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki.
"Tapi seharusnya kau memberiku kesempatan."
"Apa kau berubah lebih baik? Kau bahkan semakin buruk Jessi. Setelah kita putus aku masih berharap kau bisa berubah namun ternyata kau malah semakin parah mengecani pria tua yang hanya menginginkan tubuhmu, apa kau sadar itu?"
Jessi terdiam, ya benar... ucapan Bian memang benar. Semua pria tua yang Ia kencani hanya menginginkan tubuhnya, tidak membantunya saat Jessi terpuruk seperti ini.
"Aku memberimu waktu selama lima belas menit, pikirkan lagi tawaranku, sungguh aku tidak ingin hidupmu rusak seperti ini." ucap Bian lalu pergi membiarkan Jessi berpikir.
Saat Bian kembali, Ia mendapatkan jawaban tak terduga dari Jessi,
"Biarkan saja aku disini, biarkan aku menyadari semua kesalahanku disini."
Bersambung...
__ADS_1