MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
137


__ADS_3

Bian dan Sadam baru saja sampai dihotel tempat mereka akan bertemu dengan pihak Prastama namun sepertinya mereka di prank oleh pihak Prastama karena sampai di hotel tidak ada siapapun disana.


"Apa kau yakin disini?" tanya Bian pada Sadam memastikan.


Sadam membuka ponselnya dan memperlihatkan chatnya pada Bian, "Bukankah disini tempatnya pak?"


Bian mengangguk, "Benar, apa mereka belum datang? Kita mungkin terlalu pagi."


Sadam kembali memperlihatkan chatnya, "Pukul lima pagi, benar pak mereka mengajak kita bertemu pukul lima pagi." ucap Sadam lagi.


"Lalu kenapa mereka belum datang? Aku rela meninggalkan istriku sepagi ini hanya demi menghargai mereka." omel Bian.


"Kita tunggu satu jam lagi pak, jika mereka tidak datang saya akan menghubungi mereka."


Bian mengangguk setuju dengan Sadam.


Namun hingga satu jam lamanya, tidak ada satupun dari pihak Prastama yang datang ke hotel tempat mereka seharusnya bertemu.


Sadam terlihat menghubungi pihak Prastama namun harus dibuat emosi karena nomor mereka tidak aktif.


"Sialan, apa mereka mengerjai kita?" umpat Bian.


"Sepertinya begitu pak."


"Mulai sekarang jangan terima Prastama sebagai investor kita meskipun mereka memohon!"


"Ta tapi pak, Prastama itu perusahaan besar jadi mungkin bisa membuat perusahaan kita ikut maju jika bekerja sama dengan kita." ungkap Sadam.


"Masih banyak investor lain yang tidak mempermainkan kita seperti ini, kita memang butuh mereka tapi kita juga harus punya harga diri!" ucap Bian yang akhirnya diangguki oleh Sadam.


Sadam dan Bian akhirnya ke kantor dengan keadaan kecewa. Sampai dikantor mereka harus dibuat kecewa lagi karena dua investor lainnya ikut mengundurkan diri dari perusahaan Bian.


"Pihak Starla dan Zola juga mengundurkan diri mulai hari ini pak." jelas Sadam memberikan data pengunduran diri pada Bian.


Bian terlihat menghela nafas panjang, Ia benar benar tak tahu apa masalahnya, kenapa bisa seperti ini. Satu persatu investornya mulai hilang.


"Jika seperti ini terus, kita bisa bangkrut pak." ucap Sadam terlihat khawatir.


"Apa hanya bangkrut saja yang kau takutkan?" tanya Bian namun Sadam diam tak menjawab.


"Yang harus kita lakukan saat ini adalah mencari penyebab mereka mengundurkan diri. Jika itu karena kualitas kerja kita, kita harus segera memperbaiki agar inverstor lain yang masih bersama kita bisa bertahan, bukan malah mengeluh takut bangkrut." ucap Bian yang membuat Sadam menunduk malu.


"Maafkan saya pak."


"Kita harus bekerja lebih keras lagi mulai hari ini."


"Baik pak."

__ADS_1


Sadam segera keluar dari ruangan, membiarkan Bian sendirian.


Bian terlihat sangat stress dan frustasi melihat perusahaannya diambang kehancuran.


Ponsel Bian berdering, Terlihat Anneta yang menelepon dirinya,


"Ada apa Ma?" tanya Bian dengan suara lemah karena lelah, semalam Bian hanya tidur beberapa jam saja dan harus pergi sebelum subuh.


"Kenapa suaramu seperti itu? Apa kau sakit?" tanya Anneta dari dalam panggilan.


"Tidak, hanya tidak fit saja."


"Ck, makanya jangan kebanyakan begadang kalau malam. Mama tahu kamu lagi seneng senengnya main sama Aruna tapi ingat harus jaga kesehatan juga!" omel Anneta membuat Bian berdecak.


"Sebenarnya Mama ini kenapa? apa telepon cuma mau mengomel?" keluh Bian, Ia sudah pusing masalah pekerjaan sekarang ditambah lagi dengan omelan Mamanya.


"Mama cuma mau bilang, nanti jam satu datang ke butik langganan Mama buat fitting baju pengantin kamu dan Aruna, jangan lupa buat jemput Aruna."


Semakin stres saja Bian mendengar permintaan Mamanya, "Jangan hari ini Ma, Bian sibuk."


"Ck, lalu kapan? Kalian menikah empat hari lagi jadi kamu harus datang nanti siang atau Mama minta Papa yang jemput ke kantor?"


Bian kembali berdecak, "Iya iya, nanti Bian datang."


"Nah gitu dong, kamu ini cuma disuruh fitting aja susah banget."


Bian meletakan ponselnya, lalu menjambak jambak rambutnya terlihat bertambah frustasinya.


Sebelum pukul satu, Bian ke kampus Aruna untuk menjemput Aruna lebih dulu karena mereka akan berangkat ke butik bersama.


"Tadi aku juga ditelepon sama Mama." ucap Aruna sesaat setelah memasuki mobil.


Bian hanya memganggukan kepalanya lalu mulai melajukan mobilnya.


"Kak Bian capek atau lagi ada masalah?" tanya Aruna melihat Bian lebih banyak diam saat ini.


"Dua duanya."


"Nggak mau cerita sama aku?"


Bian berdecak, "Lagi pusing mikirin kerjaan malah Mama minta fitting baju segala." ucap Bian terdengar sangat kesal.


"Kan semua demi kita kak."


"Tapi lagi banyak masalah ditempat kerja, aku mana sempat mikir yang lain Run." ungkap Bian terdengar mengebu.


"Lalu sekarang bagaimana? Mau di cancel aja acara wedding dream kita?"

__ADS_1


Bian terlihat diam sejenak, "Sorry run, aku cuma capek dan pusing. nggak ada maksud buat nyakitin kamu." ucap Bian merasa dirinya salah.


Aruna tersenyum lalu mengelus bahu Bian, "Aku bakal berusaha selalu ngertiin kamu Kak."


Kini akhirnya Bian bisa tersenyum setelah mendengar ucapan Aruna.


Keduanya sudah sampai dibutik dan sudah ditunggu oleh Anneta disana.


"Oh jadi ini calon pengantinnya, dari saudara sekarang malah jadi pasutri ya." ucap desainer yang juga teman Anneta.


"Pokoknya pilihin baju yang paling bagus buat mereka ya jeng." pinta Anneta.


"Masalah gampang, kalau cantik dan ganteng gini mah mau pakai apa aja tetep bagus."


Aruna dan Bian dibawa ke ruang ganti, sudah ada beberapa gaun yang ada disana, Aruna hanya perlu memilih salah satunya.


Aruna mencoba satu persatu dan Ia perlihatkan pada Bian.


"Skip!" ucap Bian merasa tidak suka karena terlalu terbuka dibagian dadanya.


Aruna kembali mencoba gaun yang lain, lalu diperlihatkan pada Bian,


"Ck, skip lagi, yang lain aja!" ucap Bian lagi melihat gaun dengan bagian punggung terbuka memperlihatkan kulit putih mulus Aruna.


"Ck, kenapa di skip mulu sih kak!" protes Aruna.


"Terlalu seksi, ganti yang lain." ungkap Bian yang akhirnya membuat Aruna mengerti apa maunya Bian.


Aruna kembali keluar mengenakan gaun terakhir yang membuat Bian terpana. Gaun putih lengan panjang menutupi area sensitif milik Aruna hanya bagian leher kebawah sedikit terbuka karena model gaun sabrina namun tidak masalah untuk Bian yang terpenting dada dan punggung Aruna tertutup sempurna.


"Ganti lagi?" cibir Aruna.


Bian tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Ini baru cocok."


Aruna akhirnya ikut tersenyum lega. Setelah mantap dengan pilihannya, selesai sudah fitting baju pengantin mereka untuk hari ini.


"Sebelum balik kita makan siang dulu ya, Papa udah nungguin direstoran sekitar sini." ajak Anneta.


"Nggak bisa Ma, Bian harus kembali ke kantor sekarang!"


"Ck, kamu kenapa sih Bian, cuma makan siang sebentar masa nggak mau!" omel Anneta.


"Pokoknya Bian mau balik kantor sekarang!" ucap Bian lalu pergi begitu saja.


"Itu anak bener bener deh!"


"Maa... Udah biarin kak Bian balik ke kantor. Aruna yang akan nemenin Papa sama Mama." rayu Aruna pada Anneta agar berhenti mengomel.

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2