
Melihat mobil Bian sudah melaju meninggalkan klinik, Aruna segera memasuki klinik.
Aruna merasa aneh saat memasuki gerbang klinik dan terlihat sangat sepi.
"Kok nggak ada orang." Gumam Aruna melihat hanya satu mobil yang terparkir disana.
Aruna menatap mobil yang tak asing itu, "Bukannya itu mobil..." Aruna diam memikirkan sesuatu.
"Adam."
Jantung Aruna berdegup kencang, Ia berbalik berniat keluar namun sayang Adam sudah didepan pintu gerbang dan menutup pintunya.
"Halo sayang." Sapa Adam menatap Aruna yang terlihat takut saat melihatnya.
"Kak, kenapa bisa? Kakak jebak aku?" Tanya Aruna dengan tangan bergetar.
"Yaps, betul sekali. Aku sengaja ngambil ponselnya Nysa biar bisa ketemu sama kamu. Gimana? Kamu nggak terharu sama perjuangan aku?" Tanya Adam mulai berjalan mendekati Aruna yang melangkah mundur.
"Masuk mobil dan ikut aku." Ajak Adam langsung mencekal tangan Aruna.
"Lepas, nggak mau kak!" Aruna mencoba melawan namun tenaganya kalah, Adam sangat kasar, membawa masuk paksa Aruna kedalam mobil dan mengunci pintu mobilnya.
Adam membuka pintu gerbang klinik sebelum masuk ke mobilnya. Klinik ini memang sepi karena baru tutup seminggu yang lalu karena kasus aborsi dan Adam menjadikan tempat ini untuk menjebak Aruna, siapa sangka Ia berhasil menjebak Aruna.
"Kita mau kemana kak? Aku nggak mau ikut!" Kata Aruna masih mencoba membuka pintu meskipun tetap saja pintunya tidak mau terbuka.
"Tentu saja kita akan bersenang senang, lebih baik menurutlah atau aku akan membuatmu pingsan!" Ancam Adam yang akhirnya membuat Aruna diam.
Beberapa menit, Aruna melihat Adam fokus menyetir kesempatan untuk Aruna membuka ponselnya untuk menghubungi Bian.
Kak tolong aku
Aruna selesai mengetik dan baru ingin mengirimnya, ponselnya sudah direbut oleh Adam.
Adam membaca pesan yang akan Aruna kirimkan pada Bian. Adam menatap Aruna marah.
"Jangan berani kamu hubungi siapapun!" Sentak Adam.
Aruna memberanikan diri menatap wajah Adam, mata Adam yang memerah marah, sangat menakutkan.
Bukan seperti Adam yang Ia kagumi selama ini, bukan dia bukan Adam atau mungkin Aruna yang baru mengetahui sifat asli Adam yang memang seperti ini.
"Sebenarnya apa yang ingin kakak lakukan?" Tanya Aruna dengan suara serak menahan tangis.
"Nanti juga bakal tau, sekarang mendingan kamu nurut karena aku nggak mau sampai kasar sama kamu." Kata Adam.
Aruna terlihat pasrah, entah apapun yang akan Adam lakukan padanya, Aruna hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Bian datang menyelamatkannya.
__ADS_1
Mobil berhenti disebuah hotel, Aruna semakin paham apa yang akan Adam lakukan padanya.
"Kak, jangan kak. Jangan lakukan ini padaku." Pinta Aruna dengan wajah pucat.
"Keluar ikuti aku, jangan berusaha kabur ataupun minta tolong, kalau sampai kamu teriak dikit aja, kamu tahu apa ini." Adam memperlihatkan pisau lipat miliknya untuk mengancam Aruna.
"Kak, ja jangan..." Aruna sudah ingin menangis namun Ia tahan.
Adam keluar lebih dulu, Ia membukakan pintu mobil untuk Aruna dan mengajaknya memasuki hotel.
"Inget, jangan berani kamu teriak." Bisik Adam tepat ditelinga Aruna.
Adam sedang memesan kamar hotel, kesempatan Aruna untuk kabur namun siapa sangka tangannya langsung digenggam erat oleh Adam, sangat erat hingga terasa sakit.
"Mau kabur?" Tanya Adam dengan suara pelan, menatap Aruna dengan tatapan marah.
Aruna menggelengkan kepalanya lalu menunduk takut.
Keduanya sudah memasuki kamar hotel yang dipesan Adam.
Secara terang terangan Adam menuangkan air putih ke dalam gelas lalu memberikan obat bubuk yang tidak diketahui Aruna obat apa itu.
Adam mengulurkan gelas air racikannya pada Aruna, "Minum!"
Aruna menggelengkan kepalanya, teringat saat di apartemen Adam, Aruna juga diberikan minuman oleh Adam yang langsung membuatnya kepanasan dan merasakan sesuatu yang aneh.
Aruna langsung menutupi bibirnya membuat Adam berdecak kesal.
Adam meletakan minumannya, AdamĀ membuka tas yang dibawa lalu mengambil kain selendang panjang.
Tak mengatakan apapun, Adam mengikat kedua tangan Aruna pada ranjang.
"Kak, jangan gila!" Aruna memberontak dan marah namun tenaganya kalah, Adam lebih kuat darinya hingga kini kedua tangan Aruna terikat sempurna diranjang.
Adam kembali mengambil gelasnya lalu membuka paksa mulut Aruna dan menumpahkan minuman ke mulut Aruna hingga Aruna tersedak dan batuk.
Aruna tidak tahan dengan kekasaran Adam, Ia akhirnya menangis.
"Tinggal menunggu reaksinya sebentar lagi baby." Kata Adam sambil mengelus pipi Aruna.
Adam berdiri, menatap tubuh Aruna dari atas sampai bawah yang mengoda. Bagian dada Aruna sudah basah terkena air minum hingga dua gunung kembar Aruna terlihat jelas.
"Aku tidak sabar ingin melucuti bajumu." Kata Adam tersenyum senang.
"Ku mohon kak, jangan lakukan itu." Pinta Aruna sambil menangis.
"Apa kau sudah merasakannya baby?" Tanya Adam seolah tak mengubris tangisan Aruna.
__ADS_1
Adam duduk dipinggir ranjang, Ia kembali mengelusi pipi Aruna yang membuat Aruna mengeliat. Aruna kembali merasakan panas dan kali ini rasa panasnya sangat luar biasa dan sentuhan Adam, sentuhan Adam membuatnya sangat tenang.
"Kak...."
"Ya Baby, apa kau menyukainya?" Tanya Adam tersenyum puas melihat Aruna begitu mendamba sentuhannya.
Jemari Adam sudah berada dibibir ranum Aruna, Ia mengelus bibir merah merona tanpa polesan lipstik itu.
Awalnya Adam ingin mengoda Aruna lebih dulu, membuat Aruna tersiksa karena menunggu sentuhannya namun melihat Aruna mengeliat dan menatapnya penuh ingin membuat Adam tidak bisa menahan diri.
Adam berdiri, Ia membuka baju dan celanannya. Saat Adam ingin mendekat, bel kamar berbunyi.
"Sial, penganggu!" Umpat Adam berjalan mendekati pintu.
Adam melihat dari lubang intip pintu dan ternyata salah satu pengawai hotel yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Adam berdecak dan langsung membuka pintunya karena Ia pikir ada sesuatu yang penting namun siapa sangka saat pintu terbuka, dua pria menyerobot masuk dan langsung memukulinya secara brutal.
"Brengsek, Lo apain adek gue!" Suara Bian terdengar marah.
Disamping Bian ada Sadam yang juga ikut memukuli Adam.
"Kak Bian..." suara rintihan Aruna membuat Bian menghentikan pukulannya dan langsung berlari mendekati ranjang dimana Ia melihat wajah pucat Aruna dengan tangan terikat.
Bian melepaskan ikatan tangan Aruna lalu memeluknya karena tahu Aruna sedang ketakutan saat ini.
"Panas kak, panas!" Keluh Aruna.
Melihat baju Aruna basah, Bian sudah bisa menduga jika Aruna baru saja dicekoki minuman perangsang oleh Adam.
Bian mengangkat tubuh Aruna, membawanya ke kamar mandi lalu menguyur tubuh Aruna dengan air shower.
Lekukan tubuh Aruna terlihat jelas karena kemeja yang dipakai Aruna basah.
"Masih panas kak." Keluh Aruna lagi membuat Bian tidak memiliki pilihan lain.
Bian duduk di closet, Ia menarik tubuh Aruna, membawanya ke pangkuan. Bian ******* bibir Aruna, tak sampai disitu, tangan Bian bahkan mulai nakal mengerayangi tubuh Aruna.
"Enak huh!" Cibir Bian membuat Aruna tertunduk malu.
Bian membawa Aruna ke bath up yang berisi air dingin.
"Beredam disini dulu sampai panasnya hilang." Kata Bian lalu keluar meninggalkan Aruna.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa
__ADS_1