MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
87


__ADS_3

Nysa yang baru saja menghabiskan buburnya melihat Bian berjalan lesu ke arahnya.


"Aruna masih marah pada Kak Bian?" Tanya Nysa yang langsung diangguki oleh Bian.


"Dia memang seperti itu."


"Biarkan saja, aku hanya ingin meminta mu agar menemani Aruna disini."


"Siap kak, tenang saja."


"Dan mungkin nanti aku akan meminta tolong lagi."


"Meminta apa Kak?"


"Aku akan menghubungimu lewat pesan." Ucap Bian lalu pergi meninggalkan Nysa yang masih kebingungan.


"Kenapa tidak dikatakan sekarang saja, aku sangat penasaran." Gerutu Nysa.


Nysa memasuki kamar dimana Ia melihat Aruna berbaring dengan wajah murung.


"Apa Kak Bian sudah pergi?" Tanya Aruna.


"Ya baru saja pergi."


Aruna bergegas bangun dan keluar dari kamar. Ia segera duduk membuka steofom berisi bubur ayam yang dibelikan oleh Bian membuat Nysa melonggo tak percaya.


"Bukankah kau bilang sudah kenyang? Ku pikir kau tidak akan makan." Celetuk Nysa.


"Kau gila? Tentu saja aku akan makan, aku tidak mau mati kelaparan!"


Nysa berdecak, "Sialan, akting mu sangat bagus kawan!"


Aruna hanya tersenyum, Ia kembali menikmati buburnya hingga Ia merasa ada yang berdiri dibelakangnya. Nysa pun tampak terkejut lalu menahan senyumnya.


Aruna membalikan badannya, langsung saja Ia menunduk malu saat melihat Bian menatap dirinya sambil tersenyum geli.


"Lanjutkan saja, aku kembali hanya untuk mengambil kunci mobil." Ucap Bian mengambil kunci mobil yang ada dimeja, tersenyum sejenak sambil mengelus kepala Aruna sebelum akhirnya Ia pergi meninggalkan Aruna dan Nysa.


Tawa Nysa meledak saat Bian sudah keluar dari apartemen, "Lo bilang Kak Bian udah pergi!" Protes Aruna tampak kesal.

__ADS_1


"Lah tadi emang udah pergi, ya mana gue tahu kalau balik lagi." Ejek Nysa kembali menertawakan Aruna.


Aruna terus menyuapkan bubur ke mulutnya, tak peduli dengan Nysa yang masih menertawakannya toh Ia juga sudah ketahuan Bian jadi Ia akan tetap menghabiskan buburnya.


....


Kali pertamanya Keisha menyiapkan baju untuk Sadam yang akan pergi bekerja.


Setelah kemarin mereka berada dihotel menikmati honeymoon, semalam Sadam sudah membawa Keisha dan Asih untuk tinggal dirumahnya.


"Bukankah cuti menikah harusnya tiga hari?" Protes Keisha karena Sadam baru libur dua hari dan sudah harus kembali bekerja.


"Pekerjaanku berbeda dengan pekerjaan orang, aku tidak akan mendapatkan libur lama."


Keisha berdecak, "Kamu kesayangan bosmu, dia pasti mengerti."


Sadam tersenyum lalu mengelus kepala istrinya yang saat ini sedang membantunya mengenakan dasi, "Jika bukan karena Pak Bian, hidupku mungkin tidak akan seindah sekarang. Mulai sekarang aku hanya meminta kau sedikit mengerti jika aku mungkin nanti lebih mementingkan pekerjaanku tapi aku berjanji akan tetap memikirkan waktu untuk kita berdua." Ungkap Sadam yang akhirnya membuat Keisha mengangguk paham.


Masalah sepele ini seperti ini tidak akan membuat Keisha merenggek marah karena Keisha mengerti, apapun yang dilakukan Sadam saat ini hanya untuk membahagiakan Keisha dan Asih ibunya.


Setelah sarapan bersama Keisha dan Asih, Sadam bergegas untuk berangkat namun baru ingin masuk ke mobil, Sadam melihat Ayah mertuanya datang.


"Untuk apa dia datang sepagi ini!" Omel Keisha menatap Ayahnya tak suka.


"Aku ingin menagih mobilku, kapan kau akan mengantarkan kerumahku?" Tanya Roni penuh percaya diri.


"Apa Ayah gila? Dua hari yang lalu Ayah sudah mendapatkan sertifikat rumah dan uang cash, bagaimana bisa sekarang Ayah meminta la-" ucapan Keisha terhenti kala Sadam mengenggam tangannya meminta Keisha untuk diam.


"Aku akan mengirimnya besok." Kata Sadam membuat senyum Roni mengembang.


"Dan satu lagi, setelah pulang dari resepsi kemarin malam, aku dijambret, sertifikat dan uangnya diambil oleh para preman. Aku ingin kau membantuku mendapatkan uang dan sertifikatku kembali."


Sadam mengangguk melihat luka diwajah Roni yang masih lebam, Ia sudah paham dengan apa yang terjadi, "Baiklah, aku akan meminta orang untuk mengusut para preman itu dan mengambil kembali sertifikat rumahnya." Kata Sadam terlihat tenang.


"Jangan gila mas, bagaimana bisa kamu menuruti setiap keinginan Ayah yang tak tahu malu seperti itu!" Protes Keisha.


"Hey pelacur kecil, sebaiknya kau diam saja. Sudah beruntung pelacur sepertimu bisa mendapatkan suami yang kaya, baik hati juga menyayanggi orangtuamu!" Umpat Roni membuat Keisha menatap Roni penuh kebencian dan memilih masuk ke dalam.


Sadam melihat ke arah punggung Keisha yang memasuki rumah, tangannya mengepal mendengar ucapan Roni pada istrinya itu.

__ADS_1


"Sudah, biarkan saja dia. Aku sangat berharap besok kau bisa membawa mobil untukku dan sertifikat tanah juga uang sepuluh juta milik ku." Kata Roni tanpa malu.


"Baiklah, sekarang sebaiknya Ayah pulang karena aku harus bekerja."


Roni mengangguk, "Aku menunggu untuk besok." Ucap Roni lalu pergi meninggalkan Sadam.


Melihat Roni sudah keluar melewati gerbanng, Sadam merogoh ponselnya lalu menghubungi seseorang,


"Lakukan sekarang!" Perintah Sadam lalu mengakhiri panggilan.


Baru ingin membuka pintu mobilnya, Sadam mengurungkan niatnya, memilih kembali masuk kerumah.


Sadam membuka pintu kamar, melihat istrinya tertunduk dilantai sambil menangis. Sadam segera menghampiri Keisha, memeluk Keisha sambil sesekali mengelus kepala Keisha.


"Aku tidak ingin menjadi pelacur, Dia yang membuatku menjadi pelacur , dia yang membuatku merusak diriku sendiri." Ucap Keisha sambil sesenggukan menangis.


Sadam semakin mempererat pelukannya, berharap bisa membuat Keisha lebih tenang.


"Dulu dia menjualku pada temannya, keperawananku hilang padahal aku masih smp waktu itu, semenjak itu aku menjadi liar dan nakal. Dia menyalahkanku padahal dia sendiri yang membuatku jadi pelacur. Aku benar benar membencinya." Ungkap Keisha membuat tangan Sadam kembali mengepal.


"Jangan katakan apapun lagi, jangan membuka masa lalu yang sudah kau tutup rapat, sekarang masa depanmu bersamaku dan aku tidak akan membiarkan ada yang menyakitimu lagi. Aku berjanji." Kata Sadam yang malah membuat tangis Keisha semakin keras.


Sementara itu, hampir lima belas menit Roni menunggu taksi namun taksinya tak kunjung lewat.


Roni masih merasakan senang karena akhirnya sebentar lagi Ia memiliki mobil sendiri karena selama ini Ia selalu menggunakan mobil istrinya dan terkadang Ia harus mengalah saat mobil itu akan digunakan oleh istrinya. Seperti saat ini, Ia datang kerumah Sadam menaiki taksi karena istrinya melarang menggunakan mobil, istrinya takut jika Roni dijambret lagi.


"Ck, kenapa lama sekali taksinya." Gumam Roni melihat diseberang ada halte bus membuat Roni beralih ingin naik bus saja.


Roni ingin menyebrang, melihat jalan sepi, Ia berjalan ke depan namun siapa sangka ada motor yang melaju sangat kencang ke arahnya dan ....


Brakkk... Roni tertabrak motor itu.


Roni menjerit kesakitan, Ia merasakan pandangannya semakin hilang dan akhirnya tak sadarkan diri.


Pengendara motor itu sempat melihat ke arah Roni dan memilih kembali melajukan motornya dengan kencang.


"Semua beres bos!"


Baru saja Sadam mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya.

__ADS_1


Sadam tampak tersenyum puas, "Masih belum seberapa, aku ingin dia lebih menderita dari ini!"


Bersambung...


__ADS_2