
Selesai makan malam, David dan Anneta masuk ke kamar mereka. Selesai mandi, David menghampiri Anneta yang tengah membaca majalah di sofa.
"Apa kau ingin minum sesuatu?" Tanya David sambil menciumi kening istrinya.
"Tidak, aku sudah merasa kenyang."
"Kau yakin sayang? Baby didalam tidak ingin minum sesuatu? Aku akan membuatkannya." Tawar David sambil mengelusi perut Anneta.
"Umm, baiklah jika kamu memaksa. Buatkan aku jus apel." Pinta Anneta.
David tersenyum mengembang, Ia segera pergi ke dapur untuk membuatkan jus apel.
"Apa yang Tuan lakukan disini?" Tanya mbok Inem melihat David yang baru saja selesai mencuci buah apel.
"Ingin membuat jus apel untuk Neta."
"Biar saja buatkan Tuan." Tawar Mbok Inem ingin mengambil alih namun segera ditolak oleh David.
"Tidak perlu, Neta sedang ngidam. Biarkan aku yang membuatkan. Mbok Inem istirahat saja." Kata David yang akhirnya diangguki oleh Mbok Inem.
Setelah Mbok Inem pergi, David yang baru saja menuangkan jus ke dalam gelas tampak mengeluarkan bungkusan didalam kantong celananya. David membuka bungkusan itu lalu menuangkan ke dalam gelas.
Setelah diaduk, David membawa gelas jus apelnya ke kamar.
"Jus apel segar untuk istriku tercinta." Kata David mengulurkan gelas berisi jus apel.
"Terima kasih Papa sayang." Ucap Anneta segera meneguk isi gelasnya.
"Habiskan sayang." Kata David saat Anneta hanya meminum setengah gelas saja.
"Hmm baiklah."
Anneta menuruti David menghabiskan jus buatan David.
Melihat gelas sudah kosong, David segera mencium kening Anneta.
"Apa besok kita bisa pergi periksa lebih dulu sebelum kamu berangkat kantor? Aku ingin kamu menemaniku." Pinta Anneta yang langsung diangguki David.
"Baiklah, aku akan menemanimu besok."
Anneta tersenyum senang.
Sementara itu ditempat lain, Sadam baru saja menyelidiki penyebab Adam dipenjara dan siapa yang sudah menjebak Adam. Setelah mengetahui, Sadam segera memberitahu Bian.
"Selesai sudah pekerjaan ku hari ini." Gumam Sadam lalu melajukan mobilnya menuju sebuah kafe yang tak jauh dari sana.
"Maaf aku terlambat." Kata Sadam pada Keisha yang sudah menunggunya didepan kafe.
"Apa pekerjaan mu sudah selesai? Bagaimana dengan Adam?" Tanya Keisha yang mengetahui jika Adam dipenjara.
"Kau terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya." Cibir Sadam terlihat tak suka.
"Bukan seperti itu, aku hanya penasaran saja karena selama aku mengenal Adam, aku tidak pernah melihatnya memakai narkoba." Jelas Keisha.
__ADS_1
"Seberapa dekat kalian?"
"Ck, ya sudahlah jika tidak mau menjawab malah mengintrogasiku seperti ini." Sebal Keisha memanyunkan bibirnya.
"Apa kau marah padaku?" Tanya Sadam sambil tersenyum geli.
"Tidak, terima kasih sudah mengantarku." Kata Keisha saat mobil yang mereka tumpangi sudah sampai didepan rumah Keisha.
Keisha hendak turun namun Sadam segera mencekal tangannya, "Aku lapar."
"Ck, masih banyak yang berjualan makanan disana." Balas Keisha sambil menunjuk ke arah jalanan.
"Tapi aku ingin makan mie rebus buatanmu."
Keisha memutar bola matanya malas, "Ya sudah, akan ku buatkan sebagai tanda terimakasih karena kau sudah menjemputku setiap malam." Kata Keisha yang langsung membuat Sadam tersenyum senang.
Akhir akhir ini memang Sadam selalu memjemput Keisha yang bekerja paruh waktu disebuah kafe.
Keduanya keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah dimana Ibu Keisha masih menyetrika baju.
"Belum istirahat Bu?" Tanya Sadam sopan.
"Belum, masih kurang sedikit lagi." Balas Asih, Ibu Keisha sambil melanjutkan menyetrika.
Keisha menghela nafas panjang saat melihat wajah ibunya yang kelelahan, "Nanti jika Keisha sudah mendapatkan gaji, Ibu tidak perlu bekerja lagi. Istirahat saja."
Asih tersenyum, "Uang gajimu, gunakan untuk kebutuhan mu, Ibu tidak akan memintanya."
Asih merasa tidak enak dengan Sadam, "Maaf nak Sadam, dia memang suka seperti itu padahal Ibu tahu niatnya baik."
Sadam tersenyum, "Saya mengerti bu."
Sadam ikut ke dapur menghampiri Keisha yang masih memasak mie.
"Baunya enak." Puji Sadam.
"Hmm, tentu saja enak apapun yang ku buat selalu enak." Keisha terdengar membanggakan diri.
Sadam tersenyum kecil lalu mengelus kepala Keisha, "Kau terlalu percaya diri."
Giliran Keisha yang tersenyum, "Memang seperti itu!"
Mie sudah matang, Keisha meletakan dimeja makan.
"Kau tidak makan?" Tanya Sadam melihat Keisha hanya memasak seporsi mie saja.
"Tidak, aku sudah makan di kafe."
Sadam mengangguk, "Baiklah, ayo makan berdua."
Keisha menggelengkan kepalanya, "Untukmu saja."
"Kalau begitu, temani aku."
__ADS_1
Keisha mengangguk, Ia duduk didepan Sadam sambil memainkan ponselnya.
"Kau terlihat menyayanggi ibumu." Kata Sadam disela sela makan mie hangatnya.
"Tidak, dia sangat menyebalkan dan susah diatur!"
"Sepertimu?"
Keisha menatap Sadam kesal, "Jika aku seperti itu kenapa juga kau masih mendekatiku!"
Keisha kembali marah, entah mengapa Ia sensitif sekali hari ini.
"Karena aku menyukaimu." Kata Sadam yang langsung membuat Keisha tersedak.
"Dan aku ingin menikahi dirimu." Tidak hanya tersedak, Keisha juga sangat terkejut.
"Ap apa kau gila?"
"Aku serius!"
"Keadaaan kita berbeda, aku hanya orang miskin sementara kamu..."
"Aku juga sama saja karena aku hanyalah seorang karyawan biasa, bukan bos tapi aku akan berusaha mencukupi semua kebutuhan mu dan Ibumu." Jelas Sadam.
"Apa kau kasihan padaku? Melihat keadaan ku yang seperti ini membuatmu kasihan dan melakukan ini padaku?" Tebak Keisha.
Sadam menggelengkan kepalanya, "Sejak awal melihatmu aku memang sudah tertarik padamu dan sekarang aku malah ingin menikahimu."
Keisha berdecak, "Tidak dapat dipercaya!"
Sadam tersenyum, "Biasanya jika hanya tertarik, aku hanya ingin meniduri lalu ku tinggalkan tapi denganmu rasanya berbeda, tidak cukup hanya meniduri saja."
Keisha tampak diam, seperti bingung ingin menjawab apa hingga Sadam menyodorkan sebuah kotak kecil dan saat dibuka berisi cincin.
"Jangan buru buru menjawab, pikirkan apa kau mau menjadi istriku atau tidak. Jika kau mau pakai cincin ini tapi jika tidak jangan pernah dipakai, buang saja." Kata Sadam lalu kembali ke depan karena mie nya sudah habis.
Keisha masih menatap kotak cincin pemberian Sadam, Ia tampak memikirkan semua ucapan Sadam padanya.
Sementara itu tengah malam Anneta terbangun karena merasakan perutnya yang sakit.
Anneta baru ingin membangunkan David yang ada disampingnya namun tak sengaja melihat ponsel David bergetar dimeja.
"Siapa yang menelepon tengah malam begini?" Batin Anneta tidak jadi membangunkan David malah mengambil ponsel David karena penasaran.
Ada panggilan dari nomor yang tidak disimpan, karena penasaran akhirnya Anneta menerima panggilan itu,
"Kau jahat sekali, kenapa meninggalkan ku saat aku sedang tidur! Aku benar benar marah padamu!" Suara seorang wanita yang menelepon membuat jantung Anneta berdegup kencang.
"Apa aku pelacur? Kau pergi setelah memakai ku!" Tambah wanita itu yang akhirnya membuat Anneta tak tahan dan langsung mematikan panggilan.
Anneta menatap David yang masih terlelap, "Tidak mungkin... tidak mungkin kan Pa..." gumam Anneta kembali merasakan perutnya sakit dan kali ini sangat sakit.
Bersambung...
__ADS_1