
Sadam melekungkan bibirnya tersenyum puas kala baru saja Ia mendapatkan telepon dari seseorang yang Ia tunggu sedari tadi.
"Bagus, kita akan bertemu besok pagi." Jawab Sadam lalu menutup panggilan.
"Dia pikir siapa bisa memerasku seperti itu, mari kita lihat siapa yang akan menang." Gumam Sadam lalu kembali tersenyum.
Pintu kamar mandi terbuka, Sadam berbalik melihat Keisha sudah keluar mengenakan jubah mandi. Tadinya Sadam pikir Keisha akan keluar dan mengenakan baju seksi yang akan menyenangkan matanya namun ternyata Sadam salah.
"Kenapa malah menatap ku seperti itu? Apa kau tidak mandi?" Tanya Keisha mengambil handuk di kepalanya lalu membiarkan rambut basahnya terurai.
Sadam menghela nafas panjang, Ia mengangguk, mengambil handuk dan segera memasuki kamar mandi.
"Ada apa? Apa dia marah?" Batin Keisha melihat tatapan mata Sadam terlihat dingin padanya.
Keisha melepaskan jubah mandinya, terlihat Ia hanya memakai dress satin tipis yang menerawang memperlihatkan tubuh seksinya tanpa dalaman.
Keisha segera mengeringkan rambutnya tak lupa memoleskan sedikit make up ke wajahnya agar terlihat lebih cantik dan menyenangkan dimata suaminya.
Keisha sudah selesai, siap mengoda suaminya bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka.
Terlihat Sadam keluar hanya melilitkan handuk dipinggangnya, dada kotak kotak milik Sadam yang sangat mengoda mata Keisha.
Sadam menatap ke arah Keisha dengan tatapan tak menyangka, tadinya Ia kesal karena Keisha seolah tak ada persiapan untuk malam pertama mereka namun sekarang Ia mengurungkan niatnya untuk kesal.
Dengan perasaan gugup dan malu, Keisha berjalan mendekati Sadam lalu menyampirkan kedua tangannya di bahu Sadam.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa tidak bagus seperti ini?"
Sadam tersenyum, "Ku pikir kau akan terus memakai jubah mandimu."
"Oh jadi kau kesal karena itu?" Keisha akhirnya paham apa yang membuat Sadam bersikap dingin.
"Ya, karena aku ingin yang spesial untuk malam ini."
Sadam membawa tubuh Keisha ke ranjang, Ia tampak mengelusi pipi Keisha, "Cantik..." puji Sadam pada gadis yang baru saja Ia nikahi itu.
Pipi Keisha langsung memerah malu.
Tak ingin lebih lama lagi, Sadam mendekatkan bibirnya, mencium bibir Keisha.
Ciuman keduanya pelan namun semakin lama semakin panas apalagi tangan Keisha tidak diam, meraba bagian sensitif milik Sadam membuat Sadam kepanasan.
Sadam melepaskan ciumannya, bibirnya beralih menjelajahi tubuh indah Keisha.
Keduanya semakin kepanasan membuat Sadam tak sabar dan segera menyatukan milik mereka.
__ADS_1
Sebelumnya, Sadam melihat sesuatu yang berbeda dari Keisha, Ia merasa jika Keisha berbeda dengan wanita lain dan sekarang Sadam merasakan itu. Meskipun Keisha sudah tidak perawan namun milik Keisha bisa membuatnya merasakan surga dunia yang sebenarnya, yang belum pernah Ia rasakan dengan wanita lainnya.
"Aku tidak akan berhenti dengan mudah, jadi nikmati saja baby." Bisik Sadam segera memberikan surga dunia untuk Keisha.
Sementara itu, Aruna dan Bian baru saja turun dari mobil. Keduanya berjalan memasuki rumah yang sepi karena semua orang sudah tidur.
"Kak Bian ingin makan lagi?" Tawar Aruna saat keduanya hendak naik ke atas.
"Tidak, aku sudah kenyang. Apa kau lapar lagi?"
Aruna menggelengkan kepalanya, "Aku juga kenyang."
Keduanya naik ke atas, segera masuk ke kamar masing masing untuk istirahat.
Baru saja menutup pintu, namun pintu kembali terbuka, Aruna tampak masuk ke kamar Bian.
"Aku lupa mengembalikan ini." Kata Aruna mengulurkan jas milik Bian.
Namun bukannya menerima uluran jas dari tangan Aruna, Bian malah sibuk memandangi leher jenjang putih mulus milik Aruna.
"Ck, aku taruh disini saja." Kata Aruna berbalik meletakan jas Bian disofa karena Bian tak segera menerima jasnya.
Kini bukan lagi leher putih mulus yang Bian lihat, melainkan punggung putih mulus milik Aruna yang mengoda mata Bian.
Tanpa sadar, tangan Bian terangkat, menyentuh punggung mulus Aruna membuat Aruna terkejut dan merasa geli.
"Ck, salah sendiri godain. Dah sana keluar!" Usir Bian.
Aruna memanyunkan bibirnya lalu berjalan keluar meninggalkan kamar Bian.
"Ck, nggak bisa sabar lebih lama lagi. Rasanya udah gue mau anuin aja tuh cewek!"
....
Sekuat tenaga Roni, ayah Keisha bangun setelah cukup lama berbaring dipinggir jalan dan tidak ada yang menolongnya.
"Sialan, mereka sudah mengambil semuanya!" Umpat Roni saat semua barang berharganya hilang diambil para preman. Beruntung mereka tidak mengambil mobilnya jika saja mobil Roni diambil sudah pasti istrinya akan marah karena mobil yang Ia pakai saat ini milik istrinya.
Sampai dirumah, Roni sudah di tunggu oleh istrinya, "Kenapa lama sekali? Apa kau bernostalgia dengan istri tua mu itu?"
"Ck, apa yang kau bicarakan, lihatlah wajahku babak belur seperti ini. Seharusnya kau mengkhawatirkan ini tidak malah menuduhku seperti itu." Ucap Roni barulah membuat istri mudanya terkejut dengan keadaan Roni yang berantakan dan penuh luka lebam.
"Apa yang terjadi?" Panik istri muda Roni.
"Aku baru saja di jambret oleh para preman."
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Bukankah kau juga preman? Lalu apa yang hilang? Mobilku?"
Istri Roni terlihat mengkhawatirkan hartanya ketimbang keadaan suaminya.
"Mobilmu aman, hanya sertifikat rumah dan uangku yang diambil. Mereka preman daerah selatan, aku tak sanggup melawan mereka." Akui Roni.
"Syukurlah jika mobilku masih, ya sudah masuk saja segera obati lukamu, aku lelah dan ingin tidur." Istri Roni langsung meninggalkan Roni begitu saja membuat Roni hanya bisa menghela nafas panjang.
Selama ini Roni memang tidak pernah dihargai oleh istri mudanya karena Ia hanya menumpang disini.
Roni segera ke dapur untuk mengambil air guna mengompres luka lebamnya sambil memikirkan cara membalas preman selatan agar sertifikat dan uangnya bisa kembali.
"Aku pasti akan membalas mereka!" Ucap Roni penuh dendam.
...
Tengah malam, Bian terbangun karena merasakan haus.
Bian melihat botol dimeja kosong, Ia pun akhirnya turun ke dapur untuk mengambil air minum.
"Siapa kau?" Tanya Bian saat melihat pria berkaos hitam tengah duduk dimeja makan sambil membawa segelas air putih.
"Tu tuan... maafkan saya Tuan, saya keluar dari kamar untuk minum." Jelasnya.
Bian menelisik wajah pria muda itu dan barulah dia ingat jika pria ini putra Mbok Inem, Satria yang memang sering menginap disini.
Bian hanya mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya mengambil air minum. Bian berbalik menatap ke arah Satria yang tengah asyik menatap layar ponselnya.
Tidak ingin terlalu kepo dengan urusan oranglain, Bian kembali naik ke atas setelah selesai minum.
Ia menyempatkan masuk ke kamar Aruna sebelum kembali ke kamarnya.
"Ck, ceroboh. Kenapa tidak dikunci!"
Bian melihat ke arah ranjang, dimana Aruna terlelap tanpa selimut. Terlihat Aruna mengenakan piyama serba pendek.
Bian berdecak lalu menarik selimut Aruna, menutupi tubuh Aruna dengan selimut.
Tak sengaja mata Bian menatap ke arah lantai yang terlihat kotor.
Bian menatap lebih dekat hingga akhirnya Ia sadar jika lantai kotor itu karena ada bekas jejak sepatu.
Bian melihat ke sekitar memang banyak bekasnya, sepertinya ini sepatu seseorang dari luar rumah mengingat baru saja hujan dan pasti diluar becek.
"****!" Umpat Bian sadar apa yang terjadi, segera berlari ke kamarnya untuk mengambil laptopnya.
__ADS_1
Bersambung...