
Sadam terlambat sampai ke kantor, Bian sudah tiba lebih dulu beberapa menit sebelum dirinya sampai.
"Kau terlihat bahagia?" Cibir Bian saat Sadam datang keruangannya untuk memberikan agenda pekerjaan hari ini.
"Maafkan saya yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saya pak." Kata Sadam tersenyum. Mood Sadam sudah kembali happy saat Ia mendapatkan laporan dari anak buahnya, jika Sadam tidak mendapatkan laporan tentang keberhasilan anak buahnya, belum tentu Ia sebahagia ini.
"Ck, hari ini batalkan semua janji. Aku ada pekerjaan lain yang harus kau kerjakan." Kata Bian.
"Pekerjaan apa pak?"
Bian hanya tersenyum menatap Sadam.
....
Puas mengobrol ditaman, Ryan membawa Anneta masuk mengingat Anneta harus kembali istirahat.
"Apa kau buru buru pulang?" Tanya Anneta saat Ia berbaring diranjang dan Ryan menyelimuti dirinya.
"Kenapa? Kau masih merindukanku?"
Anneta tersenyum malu, Ia masih tidak ingin ditinggal oleh Ryan.
"Apa kau memiliki banyak pekerjaan hari ini?" Tanya Anneta lagi.
Ryan menggelengkan kepalanya, "Tidak, hari ini waktuku untukmu."
Anneta kembali tersipu malu, Ryan memang selalu berhasil membuat dirinya seperti ini.
Keduanya diam cukup lama, hanya saling memandangi satu sama lain hingga keduanya dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka sangat keras.
Brakk...
Anneta dan Ryan sama sama berbalik memandang ke arah pintu, Tampak David berada dipintu dengan tatapan tidak suka.
"Sampai kapan kau akan disini?"
"Apa masalahmu?" Lawan Ryan tersenyum sinis.
"Aku bisa saja melaporkan mu karena mendatangi istri orang!"
Ryan tertawa, "Jadi kau lupa, aku baru saja datang membawa akta ceraimu, Anneta bukan milik mu lagi!"
David mengepalkan tangannya, "Sebaiknya kau segera pergi atau aku akan-"
"Akan apa?" Potong Ryan.
__ADS_1
"Bukankah seharusnya kau yang pergi dari rumah ini? Apa kau lupa siapa pemilik rumah ini?"
"Bukan urusanmu, rumah ini memang milik Aruna tapi Aruna masih tanggung jawabku jadi sebaiknya kau jangan ikut campur."
"Jika Aruna mengetahui segalanya, Apa dia masih bisa memaafkan mu dan menganggapmu Papa nya lagi?"
David menatap Ryan dengan tatapan terkejut, Ryan mengatakan itu seolah memgetahui segalanya tentang dirinya atau memang Ryan sudah tahu?
David tak mengatakan apapun lagi, Ia kembali menutup pintu dengan keras dan pergi dari sana.
"Apa yang kamu ketahui tentang David?" Tanya Anneta yang juga penasaran.
"Banyak yang ku ketahui tapi aku tidak akan mengatakan padamu sekarang."
Anneta berdecak, "Menyebalkan!"
Ryan tersenyum, "Apa Bian akan menikahi Aruna?"
Anneta mengangguk, "Bian menunggu perceraian ku selesai dan dia akan melamar Aruna."
"Bagus, dengan begitu David tidak memiliki hak lagi atas Aruna."
Anneta mengangguk, "Ucapan ku dengan Amina waktu itu sudah terkabul. Dulu kami ingin menjodohkan anak kami jika sudah besar dan sekarang tanpa perlu aku mendekatkan Bian Dan Aruna sudah saling mencintai satu sama lain." Ungkap Anneta dengan mata berlinang mengingat Amina sahabatnya.
Ryan mengenggam tangan Anneta, memberi kekuatan pada Anneta karena dirinya juga merasakan hal yang sama, merindukan Rega dan Amina.
Anneta menunduk mendengar ucapan Ryan, "Maaf, yang tidak bisa menjaga diri waktu itu."
Ryan yang merasa sudah salah bicara langsung memeluk Anneta.
"Sudah, lupakan apapun yang sudah berlalu. Sekarang aku hanya ingin menikmati setiap hariku karena bisa bersama mu lagi."
Anneta tersenyum, "Jadi kapan kita akan liburan bersama?" Tagih Anneta.
"Hmm, bagaimana setelah Bian dan Aruna menikah?"
Anneta mengangguk setuju, keduanya semakin memperat pelukannya.
Sementara diluar, David terlihat gelisah. Posisinya sudah tidak aman sekarang. Ia harus segera menemui pengacaranya dan meminta berkas warisan yang ditinggalkan Rega untuk Aruna agar bisa berpindah atas namanya.
"Sial, aku harus bergerak lebih cepat lagi!"
David memasuki kamarnya, Ia mengambil lagi salah satu koleksi tas milik Anneta, Ia harus menjual tas itu agar bisa mendapatkan uang. Saat ini David tidak punya uang sepeser pun jadi Ia harus menjual tas Anneta lagi dan semoga kali ini Ia tidak ditipu lagi.
David keluar dari rumah, tanpa Ia sadari seseorang yang memang dikirim Bian untuk berjaga disekitar sana melihat David keluar membawa paper bag bertuliskan merek tas ternama.
__ADS_1
"Jadi dia masih belum jera?" Gumam pria yang saat ini sedang memandangi segala pergerakan David didalam mobil.
Pria itu segera mengikuti David dari belakang. David yang tidak memiliki uang memilih berjalan kaki untuk sampai di toko barang loak.
Ia tidak akan lagi pergi ke toko tas yang mungkin menatap ke arahnya curiga karena menjual tas tanpa suratnya, David memilih menjual tas ke toko loak, tidak peduli berapapun harganya asal Ia bisa memiliki uang saat ini.
"Hanya seratus ribu? Apa kau gila? Ini tas berharga jutaaan!" Omel David merasa kesal karena tawaran pemilik toko yang sangat rendah.
"Kau pikir ada yang mau membeli tas seperti ini dengan harga jutaan disini? Jika tidak mau pergi saja sana, cari yang mau membeli tas mahalmu itu!" Sewot pemilik toko.
David berdecak dan memilih keluar dari toko. David tak menyerah, Ia memasuki beberapa toko yang ada disekitar sana namun sama saja mereka menawar tasnya dengan harga yang sama bahkan ada yang lebih rendah, hanya ditawar dua puluh lima ribu saja yang membuat David sangat emosi.
"Dasar orang kampung, bagaimana mereka memiliki selera serendah itu, tidak tahu tas semahal ini!" Umpat David akhirnya menyerah karena tak ada yang mau membeli tasnya.
David duduk disebuah taman, Ia merasa lelah berjalan kesana kemari namun masih belum mendapatkan uang sepeser pun.
Tiba tiba ada yang menepuk bahu David dari belakang, seorang pria muda yang sangat tampan. Kini pria itu duduk disamping David.
"Apa yang aku bawa pak?" Tanya pria muda itu.
"Bukan urusanmu!" Balas David ketus.
Pria itu tampak melihat isi dari paper bag yang diletakan tepat disamping David.
"Tas wanita, sepertinya sangat cantik." Ucap pria muda itu.
"Apa kau akan memberikan pada seseorang?"
"Tidak, aku akan menjualnya, apa kau mau membeli?" Sinis David.
"Benarkah? Coba kulihat." Tanpa menunggu ijin dari David, pria itu mengambil tas dari paper bag.
"Ini tas yang sangat diinginkan kekasihku, bagaimana jika aku yang membelinya?" Tawar pria itu.
"Kau bisa membayar berapa?"
"Dua puluh juta!"
David terkejut, tak menyangka karena ada yang membeli tasnya dengan harga lumayan.
"Ambilah dan segera serahkan uangmu." Pinta David.
"Aku membawa uang cash dan uangku ada dimobil sebelah sana, bisakah kau menungguku disini , aku akan mengambilkan untukmu." Ucap pria itu yang langsung diangguki setuju oleh David.
Pria itu segera pergi membawa paper bag berisi tasnya, "Dasar pria tua bodoh." Ucap pria muda itu tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
David menunggu cukup lama hingga akhirnya Ia sadar jika pria muda itu tidak kembali bahkan mobilnya sudah tak terparkir disana, "Sialan, apa aku ditipu lagi?"
Bersambung...