
Bian menghentikan laju mobilnya, Ia kini sudah berada didepan rumah sederhana, rumah milik Mbok Inem yang di tinggali putranya, Satria.
Bian keluar dari mobil, anak buahnya sudah berdiri didepan pintu, menunggu kedatangannya.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Bian pada anak buahnya.
"Sedang diproses oleh pihak kepolisian Tuan hanya tinggal melengkapi bukti agar dia bisa segera masuk penjara."
Bian mengangguk paham, "Aku ingin lihat apa saja yang Ia simpan dirumahnya."
"Silahkan Tuan."
Bian mengikuti langkah anak buahnya, memasuki kamar Satria.
"Saya izin keluar Tuan dan untuk semua foto yang ada disini, saya hanya melihatnya sekali. Saya bisa bersumpah atas itu." kata Anak Buah Bian terdengar takut.
Bian berdecak, "keluarlah jika begitu."
Setelah anak buahnya keluar, Bian menatap ke seluruh ruangan kamar Satria.
Kamar sederhana dimana hanya ada sebuah ranjang lusuh juga lemari tua serta meja dimana ada alat pencetak foto. Namun ada yang menarik mata Bian saat melihat ada banyak tempelan di dinding yang berbentuk hati.
Bian mendekati dinding yang banyak tempelan foto, Bian tahu itu foto Aruna, Bian sudah mendengar dari anak buahnya.
Bian melihat foto Aruna yang tertempel disana adalah foto Aruna saat terlelap.
Seketika tangan Bian mengepal, karena akhirnya dugaannya tentang Satria benar. Satria lah yang selama ini masuk ke kamar Aruna saat tengah malam.
Bian semakin marah kala ada foto yang bagian bajunya dibuka agar terlihat dalamnya.
Bian menatap foto itu dengan tatapan marah karena tidak hanya Satria saja yang melihat foto itu tetapi juga anak buahnya ya meskipun hanya sekali namun tetap saja, tidak seharusnya Mereka melihat miliknya.
Dan jika Satria berada disini saat ini mungkin Bian akan menghabisinya lebih dulu karena telah lancang dan kurang ajar.
Bian memotret dinding Satria, setelah itu Ia mengambil satu persatu foto yang tertempel disana.
Setelah dinding bersih tidak ada lagi foto yang menempel, Bian masih mencari lagi apa yang Satria sembunyikan.
Bian membuka lemari tua yang ada disana. Bian menemuakan sebuah laptop.
Bian mengambil laptop itu dan membukanya, beruntung laptop itu tidak memakai sandi jadi Bian bisa melihat apa yang disimpan disana.
Bian membuka penyimpanan, ada banyak foto disana dan saat dibuka, lagi lagi itu foto Aruna.
__ADS_1
Tidak hanya foto Aruna saat terlelap namun ada banyak foto candid Aruna. Saat sedang makan, saat sedang menunggu jemputan bahkan ada saat Aruna sedang tersenyum lebar memperlihatkan kebahagiaanya.
"Dia benar benar maniak!" umpat Bian.
Setelah melihat semua foto, Bian beralih ke video. Dan betapa terkejutnya Bian saat melihat video yang tersimpan adalah rekaman cctv dikamar Aruna. Ada banyak video saat Aruna sedang beraktifitas dikamarnya.
Yang membuat tangan Bian tiba tiba bergetar saat ada dua video yang memperlihatkan Aruna tengah mandi dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
Bian menutup laptop itu dengan kasar. tangannya masih bergetar ditambah matanya yang memerah karena menahan amarah.
Pintu diketuk dari luar, anak buah Bian memasuki kamar Satria.
"Ada berita buruk Tuan, polisi membebaskan Satria karena Ibunya membayar uang jaminan pada pemilik apartemen."
Bian berdecak, "Hubungi polisi yang ada disana untuk menahan Satria. kita akan kesana sebentar lagi." perintah Bian yang langsung diangguki patuh oleh anak buahnya.
Setelah dirasa tidak ada lagi yang disembunyikan oleh Satria, Bian segera membawa laptop dan foto foto Aruna keluar dari kamar.
"Kita berangkat sekarang Tuan?" tanya anak buah Bian yang menunggu di luar.
Bian mengangguk,
"Tuan ingin saya yang menyetir mobil?"
Anak buah Bian mengangguk paham, keduanya segera memasuki mobil masing masing dan meninggalkan rumah Satria.
Bian melirik ke arah jam tangannya, sudah pukul dua belas malam, Ia harus menyelesaikan masalahnya malam ini karena besok Ia ingin fokus mengurus pernikahannya dengan Aruna.
Sampai dikantor polisi, Bian disambut dengan wajah sembab Mbok inem, Satria yang berada disamping ibunya tampak tertunduk tak berani menatap Bian yang baru saja datang.
"Aden, kenapa Aden meminta polisi untuk menahan putra Mbok?" tanya Mbok Inem tampak tak terima karena polisi tidak membiarkan putranya pulang padahal Ia sudah membayar uang jaminan.
"Apa putramu sudah mengakui kesalahannya?" tanya Bian.
"Satria mengatakan salah masuk, salah satu temannya ada yang tinggal di apartemen itu dan memintanya untuk datang namun malah salah masuk ke apartemen orang lain." jelas Mbok Inem membela putranya.
"Apa hanya itu yang Ia katakan?" tanya Bian sinis.
"Hanya itu Den, selama ini Satria tidak pernah membohongi saya." ungkap Mbok Inem.
Bian masih tersenyum sinis, Ia menatap ke arah Satria yang tetap tertunduk.
"Kau tidak ingin mengakuinya pada Ibumu?"
__ADS_1
Satria hanya diam, masih tak berani menatap Bian.
"Pengecut!"
"Sebenarnya apa yang terjadi Den?"
"Mbok minta saja pada putra Mbok untuk mengakui kesalahannya jika masih tidak mau, aku yang akan membongkar semuanya disini." kata Bian membuat wajah Satria langsung memucat takut.
"Sebenarnya ada apa? kamu ada masalah apa sama Den Bian?" tanya Mbok Inem dengan raut wajah khawatir.
Satria masih tetap dengan pendiriannya, hanya diam dan menunduk membuat Bian sangat geram dan tak tahan lagi.
"Kau lihat apa yang dilakukan putramu pada kekasihku!" ucap Bian memperlihatkan foto Aruna saat terlelap juga video yang ada dilaptop Satria.
"Ti tidak mungkin... Kamu tidak mungkin melakukan ini kan nak?" tanya Mbok Inem terlihat tak percaya.
"Aku menemukan ini dikamar putramu, apa kau masih tak percaya dan menganggap putramu baik?" tanya Bian terlihat kesal dengan Mbok Inem karena masih saja tak mempercayai jika putranya bersalah.
Hal yang tak terduga terjadi, Mbok Inem tersungkur dilantai, berlutut dikaki Bian.
"Saya mohon Den, maafkan kesalahan putra saya. Jangan pejarakan putra saya. Saya mohon Den." ucap Mbok Inem sambil menangis .
"Saya akan melakukan apapun, bekerja seumur hidup tanpa dibayar pun akan saya lakukan asal putra saya bisa bebas." ucap Mbok Inem lagi masih menangis.
Bian menatap ke arah Satria yang masih menunduk, "Apa kau terbiasa hidup seperti ini? Apa kau tidak merasa malu dan kasihan pada Ibumu?"
Lagi lagi Satria tak menjawab hanya diam.
"Yang bersalah harus tetap dihukum. Aku akan tetap melanjutkan hukum atas apa yang dilakukan Satria pada Aruna." tegas Bian membuat tangis Mbok Inem semakin pecah.
"Den... Mbok mohon jangan lakukan itu. Ampuni Satria." ucap Mbok Inem masih menangis.
Bian tidak mengubris tangisan Mbok Inem, Ia segera meminta para polisi untuk memproses Satria dengan memberikan bukti yang Ia bawa.
Setelah selesai memberikan bukti, Bian kembali menghampiri Mbok Inem yang masih tersungkur dilantai, Ia membangunkan Mbok Inem.
"Pulang ya Mbok, biar diantar mang Torik." kata Bian dengan suara lembut.
Mbok Inem menyingkirkan tangan Bian dari pundaknya, "Saya tidak akan sudi kembali kerumah mu lagi! Selama ini saya meninggalkan putra saya, tidak memberikan kasih sayang untuk putra saya karena saya mengabdi dirumahmu, menyayanggi mu dan Aruna dengan sepenuh hati tapi lihat apa yang kau lakukan pada putraku? Inikah balasan mu padaku!" ucap Mbok Inem lalu pergi meninggalkan Bian.
Bian hanya bisa menghela nafas panjang memandangi punggung Mbok Inem.
Bersambung ..
__ADS_1