MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
139


__ADS_3

Ryan baru saja keluar dari kamar mandi, mendengar ponselnya berbunyi, Ia segera mengambil ponselnya yang ada dimeja.


"Sudah bunyi sejak tadi, siapa yang menelepon?" tanya Anneta.


"Klien." balas Ryan singkat lalu menerima panggilan keluar.


"Jadi Bagaimana?" tanya Ryan saat yang menelepon adalah anak buahnya.


"Pihak Prastama? bukankah itu milik Tama?" tanya Ryan tampak terkejut.


"Baiklah aku mengerti." ucap Ryan lalu mengakhiri panggilan.


Ryan mengenggam ponselnya, Ia terlihat merenung sejenak memikirkan laporan yang baru saja Ia terima.


Prastama, perusahaan yang cukup besar dan terpandang dikotanya yang saat ini menganggu perusahaan milik Bian bahkan berniat menghancurkan, Apa masalah mereka? Heran Ryan karena Ryan mengenal jika Tama pemilik Prastama itu orang yang baik.


Ryan kembali mendial nomor seseorang, "Aku ingin bertemu dengan Tama." ucapnya.


Ryan berdecak lalu menutup panggilan telepon.


"Sial, pasti telah terjadi sesuatu." gumam Ryan lalu kembali masuk ke kamar.


"Aku sudah menyiapkan baju mu." ucap Anneta.


"Terima kasih sayang."


"Apa ada masalah?" tanya Anneta melihat wajah frustasi Ryan setelah menerima telepon.


"Tidak ada masalah apapun, tidak perlu khawatir."


Anneta berdecak, "Kau selalu seperti itu."


Ryan tersenyum, menghampiri istrinya lalu mencium kening istrinya, "Jika aku sudah bisa menyelesaikan masalah ku, akan segera ku beri tahu."


"Kenapa tidak sekarang saja?"


"Aku tidak bisa mengatakan sekarang."


"Baiklah, aku mengerti."


Ryan tersenyum dan kembali mengecup keningnya.


Sementara itu, Bian baru saja menyelesaikan pekerjaannya, Ia melihat ke arah jam dinding dan ternyata sudah pukul satu dini hari.


Bian melihat ke sofa, istrinya Aruna tampak terlelap disana.


Bian berdecak, sebelumnya Ia sudah meminta Aruna untuk tidur diruang pribadinya namun istrinya itu ngeyel dan memilih tidur disofa.


Bian segera memindahkan Aruna ke ruang pribadinya dan Aruna masih terlelap.


"Kau pasti kelelahan hmm." ucap Bian lalu mengecup kening Aruna.


Puas memandangi wajah istrinya, Bian segera pergi ke kamar mandi, Ia ingin mandi agar tubuhnya merasa segar.


Selesai mandi, Bian berbaring disamping Aruna, ikut terlelap bersamanya hingga alarm ponsel Aruna berbunyi menandakan sudah pukul lima pagi.


"Kak Bian tidak bangun?"

__ADS_1


"Aku masih mengantuk." ucap Bian masih memejamkan matanya.


Aruna mengangguk, memilih untuk segera bangun dan mandi.


Selesai mandi, Aruna keluar dan melihat Bian masih terlelap.


Aruna tidak lagi membangunkan Bian, Ia lebih memilih memesan makanan untuk sarapan mereka pagi ini.


Saat ingin memesan makanan, ponsel Aruna lebih dulu berdering dan ternyata panggilan dari Mbok Siti.


"Tuan dan Nona mau diantarkan sarapan?" tawar Mbok Inem dari dalam telepon.


"Enggak perlu Mbok, aku mau pesen makanan saja."


"Duh saya sudah terlanjur bikin sarapan sama jus kesukaan Nona." ucap Mbok Siti.


"Ya sudah Mbok, suruh mang Torik buat nganter kalau gitu." ucap Aruna akhirnya tak ingin membuat Mbok Siti kecewa.


"Siap Non."


Dengan senyum mengembang, Mbok Siti segera membungkus sarapan yang Ia buat lalu diberikan oleh Mang Torik.


"Kenapa harus repot begini, sesekali biarkan Tuan dan nyonya makan diluar." ucap Mang Torik terlihat tak suka.


"Sudah berikan saja, ini kan perintah Nona bukan permintaaanku!"balas mbok Siti tak mau kalah.


Mang Torik segera membawa sarapan ke kantor Bian.


"Maaf ya Mang, pagi pagi dan ngrepotin." ucap Aruna saat menerima sarapan dari Mang Torik.


"Nggak apa apa Non, tumben aja biasanya kalau lagi nggak dirumah makannya juga diluar kan Non?"


Mang Torik mengangguk dan segera pamit pulang.


Didalam mobil, Mang Torik merasa curiga dengan sikap Mbok Siti yang menurutnya berlebihan.


"Aneh, mungkin dia mau cari muka sama Tuan dan Nona nya." gumam Mang Torik lalu melajukan mobilnya pulang kerumah.


Sementara Aruna menyiapkan sarapan yang dibawakan Mang Torik selagi Bian masih mandi.


"Sarapan dulu kak." tawar Aruna saat Bian sudah keluar dari ruangan pribadinya sudah rapi menggunakan setelan kerjanya.


"Pesen?" tanya Bian.


"Enggak, dapet kiriman dari Mbok Siti."


"Ck, ngapain minta di kirim, kita kan bisa pesen." ucap Bian.


"Aku nggak minta Kak, orang Mbok Siti sendiri yang mau ngirimin." balas Aruna.


Bian mengangguk, duduk disamping istrinya dan mulai menikmati sarapan paginya.


"Enak juga punya Bini, sarapan disiapin, makan di suapin." celetuk Bian membuat Aruna terkekeh.


"Jadi istri juga enak, tidur dikelonin, tiap bulan ada yang transfer duit."


"Ck, sekarang bilang tidur dikelonin, kemarin aja nangis." cibir Bian membuat Aruna kembali tertawa.

__ADS_1


"Sakit kak, kalau nggak sakit nggak nangis lah."


"Sekarang nggak nangis malah minta nambah lagi ya?" goda Bian membuat Aruna tersenyum malu.


"Pagi pagi udah mesum!"


Bian tertawa,


Pintu ruangan terbuka, Sadam yang baru saja masuk terkejut melihat Bian dan Aruna sedang sarapan didalam.


"Waduh ada Nona, saya keluar dulu kalau begitu." ucap Sadam berniat berbalik.


"Eh sini, ikut sarapan." ajak Aruna.


"Nggak usah, dia paling sudah sarapan dirumah." ucap Bian tidak ingin waktu berdua bersama Aruna di ganggu oleh Sadam.


Sadam mengangguk, setuju dengan ucapan Bian, "Saya sudah sarapan dirumah Nona, silahkan dinikmati." ucap Sadam lalu keluar dari ruangan Bian.


"Dia tiap hari udah dimasakin istrinya, nggak pernah makan diluar." jelas Bian saat Sadam sudah keluar.


Aruna malah diam mendengar ucapan Bian,


"Kok malah diem?"


"Aku jadi istri nggak guna banget ya kak, nggak bisa masak kayak Keisha." kata Aruna terdengar sedih membuat Bian merasa bersalah karena sudah salah bicara.


"Nggak apa apa nggak bisa masak yang penting pinter kalau di ranjang." bisik Bian.


"Dasar mesum, lagi ngomong serius juga kak!" protes Aruna.


Bian tertawa, "Emang bener kok, lagian aku nyari istri buat di ajak seneng seneng bukan malah dijadiin pembantu."


Aruna akhirnya tersenyum, meleleh mendengar ucapan Bian.


"Nah senyum gitu kan cantik."


"Ya udahlah aku berangkat kampus sekarang aja dari pada denger rayuan kak Bian bisa bisa nanti malah nggak ngampus."


Bian tersenyum geli, "Aku anterin ya."


"Nggak usah Kak, lagi sibuk kan? Aku naik taksi aja."


"Bener nih? Aku anterin aja lah."


"Jam segini udah macet kak, bisa bisa nanti kerjaan Kak Bian berantakan jadi biar aku naik taksi aja." ucap Aruna lalu mencium punggung tangan Bian tak lupa Bian memberikan kecupan kening sebelum Aruna keluar.


Aruna sudah berada didepan kantor menunggu taksi lewat, tiba tiba ada mobil berhenti didepannya, "Eh istrinya Bian ya, bareng aku aja yuukk." ucap Pengemudi mobil seorang pria muda dan terlihat tampan.


Aruna mengerutkan keningnya, Ia merasa tak mengenal pria itu meskipun dia mengenal Bian.


"Aruna ngapain kamu disana." suara teriakan seseorang dari belakang Aruna membuat Aruna berbalik,


"Papa ..." ucap Aruna melihat Ryan berada disana.


Dan saat Aruna berbalik lagi, mobil yang tadi berhenti didepannya sudah tidak ada.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komenn yaaa


__ADS_2