MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
92


__ADS_3

Selesai acara lamaran romantis serta makan malam, Aruna kini diantar Bian pulang ke apartemen sementara Nysa berada di mobil Sadam, diantar oleh Sadam.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Heran Aruna saat Bian mencuri pandang ke arahnya padahal sedang menyetir mobil.


"Kau terlihat sangat cantik malam ini." Puji Bian.


Dengan dress warna cerah membuat pesona kecantikan Aruna terpancar.


"Ck, jangan merayuku kak!"


Bian tertawa, "Aku bahkan sudah memilikimu."


"Apa kita akan segera menikah?" Tanya Aruna.


"Tentu saja, aku akan mempersiapkan pernikahan seminggu lagi."


Aruna terkejut, "Seminggu lagi? Secepat itu?"


Bian tersenyum dan mengangguk, "Aku sudah tidak tahan lagi."


"Tidak tahan untuk apa?" Aruna menatap Bian setengah bergindik apalagi tatapan Bian sangat nakal padanya.


"Tidak tahan untuk...."


"Sudah sudah jangan dilanjutkan lagi." Ucap Aruna seketika saat keduanya sudah sampai didepan apartemen Aruna.


Bian tertawa, "Aku akan mengantarmu ke dalam."


Aruna mengangguk, Ia segera keluar mobil dan melihat Sadam serta Nysa sudah menunggunya.


"Pulanglah, istrimu pasti sudah menunggu." Perintah Bian yang langsung diangguki Sadam.


Sadam segera pergi dari sana karena memang ini yang Ia tunggu sedari tadi, segera pulang karena Ia sudah sangat merindukan istrinya.


"Jadi aku bisa menginap di apartemen Aruna sampai kalian menikah?" Tanya Nysa memastikan.


"Ya, apa kau tidak mau?"


"Tentu saja aku mau, siapa yang tidak mau tinggal di apartemen mewah ini, dia pasti bodoh!" Cibir Nysa membuat Aruna melotot ke arahnya.


Bian tertawa sementara Aruna langsung melayangkan protes, "Bukan aku tidak mau, aku hanya ingin tahu alasannya kenapa harus tinggal disini!"


Bian mendekat lalu mengelus kepala Aruna, "Aku akan mengatakannya setelah kita menikah."


"Kau sudah berjanji dan tidak boleh bohong."


Bian tersenyum lalu mengangguk, "Tentu saja."


"Jadi kapan kita akan masuk ke dalam? Apa kalian masih ingin mengobrol disini sampai pagi?" Cibir Nysa lagi.


Aruna tertawa, "Ada apa denganmu? Kau sangat sensitif malam ini." Heran Aruna.


"Sudah sekarang kalian masuk dan segera istirahat karena mulai besok akan ada banyak yang harus dilakukan untuk persiapan pernikahan."

__ADS_1


Aruna dan Nysa mengangguk, keduanya memasuki apartemen sementara Bian kembali ke mobil.


Ponsel Bian berdering, panggilan dari anak buahnya yang mengintai Satria.


"Sepertinya tebakan Bos benar." Ucap anak buah Bian langsung pada intinya.


"Jadi benar dia?"


"Saya melihat pria itu mengikuti Nona Aruna saat dikampus beruntung teman Nona Aruna sangat cerdas jadi pria itu tidak mengetahui apartemen Nona."


Bian tersenyum, pilihannya tentang Nysa tidak salah karena nyatanya Nysa bisa diandalkan.


"Lalu apa lagi yang membuatmu yakin jika dia pelakunya?"


"Saya menyelinap kerumahnya, ada banyak foto Nona dikamarnya dan ..."


"Dan apa?" Bian semakin penasaran.


"Ada foto terbuka milik Nona."


"APA!" Bian mengepalkan tangannya, Ia mengeram marah.


"Tidak sampai polos Tuan, hanya terbuka sedikit."


"Segera lakukan sesuatu untuk membereskan dia!" Perintah Bian.


"Baik Tuan."


Bian membanting ponselnya, Ia benar benar sangat marah dan tak bisa dibiarkan lebih lama lagi.


Benar benar tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.


Bian sampai dirumah dalam keadaaan sedikit kacau namun Ia langsung masuk ke kamarnya karena rumah sudah sepi, mungkin semua orang sudah terlelap karena Ia pulang sedikit larut.


Paginya...


Bian bangun bergegas mandi dan segera turun kebawah setelah siap berangkat.


Bian mengerutkan keningnya kala melihat dapur sepi, tidak ada aktifitas Mbok Inem yang biasa dilakukan.


Bian berjalan mendekati kamar Mamanya, "Ma... mama masih tidur?" Tanya Bian dari luar tidak bisa membuka pintu karena pintu terkunci.


Tak berapa lama pintu terbuka, Anneta meminta Bian untuk lekas masuk dan kembali mengunci pintu. Bian melihat Anneta sangat ketakutan.


Wajahnya pucat dan sedikit berantakan.


"Ada apa Ma? Mbok Inem juga tidak ada, kemana dia?" Tanya Bian.


"Papa kamu, papa kamu kemarin bikin masalah."


"Masalah apa Ma?" Belum selesai masalah penguntit Aruna kini masalah bertambah lagi.


Anneta menceritakan apa yang terjadi semalam sebelum Bian pulang membuat Bian geram dan ingin menghampiri Papanya.

__ADS_1


Anneta mencekal tangannya saat Bian akan keluar, "Tolong, jangan sampai kamu emosi dan melakukan kekerasan pada Papa kamu." Pinta Anneta tak ingin Bian bertengkar dengan Papanya sendiri.


"Sudah Mama tenang aja, masalah ini biar aku yang urus!"


Anneta mengangguk percaya, sejujurnya Ia tak ingin melibatkan Bian dalam masalahnya namun Ia juga harus mempunyai perlindungan dari kenekatan David, Anneta tak ingin terjebak untuk yang kedua kalinya.


Bian keluar dari kamar Anneta, wajahnya terlihat sangat emosi.


Brak ... brak... brak...


Bian mengedor pintu kamar David sangat keras.


Tak berapa lama pintu terbuka, David terlihat sama seperti mamanya, berantakan dan wajahnya pucat apalagi Bian melihat ada darah kering disekitar kepala David menandakan jika David belum membersihkan dan mengobati lukanya.


"Untuk apa Anda masih disini?" Tanya Bian penuh keberanian.


"Apa maksudmu?" David merasa keheranan dengan ucapan Bian.


"Anda dan Mama sudah bercerai, seharusnya Anda pergi dari sini!"


David malah tertawa sangat keras mendengar ucapan Bian, "Kau mengusirku?"


"Tentu saja, Anda tak berhak tinggal dirumah ini lagi!"


"Kau pikir kau siapa bisa mengusirku? Aku yang mendapatkan rumah ini dan aku tidak akan pergi dari sini!" Ucap David.


"Anda sudah tidak memiliki hak dirumah ini karena rumah ini milik Aruna!"


Tentu saja David terkejut karena Bian mengetahui siapa pemilik rumah ini.


Bian teesenyum sinis, "Apa anda baru saja terkejut?"


"Setelah bercerai, Aruna menjadi hak ku sepenuhnya karena aku yang mengadopsinya jadi seharusnya aku yang mengusir kalian karena ini rumahku bersama Aruna."


Kini Bian yang tertawa, "Aku akan menikahi Aruna, dia akan menjadi milik ku dan kau tidak memiliki hak apapun atas Aruna!"


Lagi lagi David kembali terkejut, "Tidak, kau tidak akan pernah menikahi Aruna."


"Aku tidak butuh restu dari mu, sekarang sebaiknya anda segera pergi dari rumah ini dan jangan ganggu mama lagi!"


David tersenyum sinis menatap Bian yang berpihak pada Anneta, "Putra macam apa kau ini? Aku sungguh menyesal memiliki dan membesarkan putra sepertimu!"


Bian tak kalah sinis, "Jika aku bisa memilih, aku juga tak sudi memiliki Papa pembunuh sepertimu!!"


Mata David melotot tak percaya, jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan Bian.


"Kau pembunuh, kau membunuh orangtua Aruna hanya karena mengincar harta dan ingin memiliki perusahaannya, apa kau tahu betapa aku malu memiliki Papa sepertimu?" Suara Bian terdengar sangat berat seolah menahan tangis.


"Pem pembunuh orangtuaku?" Suara lembut seorang gadis terdengar tak jauh dari Bian dan David berdiri.


Bian dan David menoleh, melihat siapa yang berdiri disana dengan air mata berlinang.


"Aruna..."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2