
Boy tersenyum senang dengan hasil kerja para anak buahnya.
Ia menerima tas gucci dan tas selempang berisi uang sembilan juta serta ponsel milik Mia.
Boy mengambil uang sembilan juta itu lalu memberikan pada wanita juga dua pria yang berhasil menjambret tas Mia.
Boy memberikan masing masing tiga juta.
"Kerja bagus, lain kali aku akan menghubungi kalian lagi." Kata Boy.
"Terima kasih banyak bos, sering seringlah menghubungi kami." Kata Wanita yang membeli tas Mia saat di mall.
Boy mengangguk, Ia memang menyewa orang untuk membantu aksinya.
Ketiga orang itu pergi meninggalkan Boy, segera Boy menghubungi Bian.
"Tugas berjalan lancar bos. Tasnya sudah ditangan saya."
"Segera kirimkan ke kantor dan aku akan transfer uang untuk bayaranmu."
"Siap bos."
Bian meletakan ponselnya, Ia tersenyum senang saat berhasil mengerjai selingkuhan Papanya itu.
"Aku akan membuatnya lebih menderita dari ini." Gumam Bian kembali mengambil ponselnya lalu memanggil seseorang.
"Ada pekerjaan untukmu..."
Bian kembali meletakan ponselnya, sudah cukup untuk hari ini. Rasanya Ia sudah tak sabar melihat bagaimana wajah selingkuhan Papanya itu nanti. Pasti akan menyenangkan untuknya.
Pintu ruangan terbuka, "sekarang waktunya Tuan..." kata Sadam.
Sore ini memang Bian memiliki janji bertemu dengan lawyer yang akan mengurus perceraian orangtuanya.
"Baiklah, dimana kita akan bertemu?"
"Beliau sudah disini, sudah berada diruang meeting."
Bian mengerutkan keningnya, tak menyangka jika lawyernya memilih datang ke kantor ketimbang bertemu diluar.
"Kita kesana sekarang." Ajak Bian berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar ruangan.
Bian membuka pintu ruang meeting, Ia sudah bisa melihat punggung seorang pria yang tengah melihat pemandangan kota dari lantai lima kantornya.
Hanya seorang lawyer yang ada disana, dia bahkan tidak membawa rekannya.
"Permisi pak..." sapa Sadam membuat pria itu berbalik.
Bian langsung dibuat terkejut saat melihat wajah pria yang tak asing untuknya.
"Selamat siang, nama saya Ryan. Saya akan membantu segala permasalahan anda." Ucap Pria itu memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Bukankah Anda ini..."
"Ya, kita pernah bertemu di kedai bubur beberapa hari yang lalu."
Bian akhirnya ingat, jika lawyernya ini adalah pria menyebalkan yang mengajak Aruna bicara saat dikedai bubur.
"Apa tidak ada yang lain?" Bisik Bian ditelinga Sadam.
"Ini lawyer terbaik pak,"
Bian berdecak, sejujurnya Ia malas bertemu dengan pria bernama Ryan itu namun saat ini Ia harus membuang jauh egonya demi masalah orangtuanya agar cepat selesai.
"Bisa kita mulai sekarang?" Tanya Ryan.
Bian mengangguk dan mengajak Ryan duduk, Ia segera memberikan berkas perceraian milik orangtuanya.
"Aku ingin orangtuaku segera cerai, kalau bisa minggu ini suratnya bisa keluar." Pinta Bian.
Ryan tersenyum, Ia membaca satu persatu berkas yang Bian berikan, "Apa masalahnya? Kenapa kau ingin mereka bercerai?"
"Ck, bukan urusan mu, bereskan saja itu!"
"Pak..." Sadam menyenggol Bian, terkejut dengan jawaban Bian.
Ryan tertawa, "Tentu akan jadi urusanku karena aku yang akan membereskannya. Jika aku tidak tahu apa masalahnya, apa yang harus aku katakan dipengadilan nanti?"
Bian sadar dan merutuki kebodohanya, hanya karena kesal membuatnya tidak profesional.
"Sudah berapa lama kau mengetahuinya?"
"Cukup lama, aku pernah menyelidiki Papa saat berada diluar negeri. Dia memang sudah sering selingkuh."
Raut wajah Ryan berubah marah saat mendengar penjelasan Bian, Ia bahkan mengepalkan tangannya.
"Apa prosesnya bisa cepat seperti yang ku harapkan? Aku benar benar muak apalagi sekarang dia sudah mengajak selingkuhannya tinggal dirumah."
Ryan semakin kesal, namun Ia mencoba profesional.
"Lalu kau hanya diam saja melihat Papa mu membawa selingkuhannya?"
"Tentu saja tidak, aku sudah mengusirnya tetapi dia sungguh tidak tahu malu masih tetap berada disana." Ungkap Bian lagi.
"Perceraian adalah jalan satu satunya agar dia bisa keluar dari rumah itu segera."
Ryan mengangguk paham, "Kenapa dia tidak membeli rumah untuk selingkuhannya?"
Bian langsung tertawa sinis, "Saat ini papaku sudah bangkrut, tidak ada yang bisa Ia lakukan selain menumpang dirumah itu."
Ryan kembali mengangguk, "Baiklah, aku akan segera mengurus perceraian ini dan aku pastikan dalam waktu tiga hari kau sudah mendapatkan akta cerainya."
Bian tersenyum lebar, Ia merasa sudah tidak kesal lagi dengan Ryan, "Aku menunggu kabar baik darimu."
__ADS_1
Sementara dipinggir jalan, Mia tampak kelelahan setelah berlari cukup jauh karena mengejar jambret itu kini kakinya sakit semua karena Ia memakai hells dengan hak tinggi.
Mia berjalan lebih pelan hingga Ia tak tahan lagi dan akhirnya terjatuh di tepian jalan.
"Sial, bagaimana aku harus pulang sekarang? Tas dan ponselku dijambret!" Mia menangis, tak bisa membayangkan jika Ia harus berjalan kaki sampai rumah David, oh bisa bisa kakinya lepas saat ini juga.
Sebuah mobil berhenti tepat disamping Mia, "Hey Nona, apa yang kau lakukan disini? Butuh tumpangan Nona?" Tanya salah seorang pria yang duduk di kursi belakang, tersenyum nakal ke arahnya.
Mia melihat ada tiga pria didalam mobil dan sudah tua semua nungkin lebih tua dari David.
"Ck, sial sekali aku hari ini!"
"Bagaimana Nona? Butuh tumpangan atau tidak?" Tawar pria itu lagi.
"Tidak, lebih baik pergilah sekarang!" Umpat Mia.
"Baiklah, hati hatilah Nona jika berjalan sendirian karena didepan sana ada banyak preman yang mungkin memperkosamu hingga mati."
Seketika mata Mia memandang ke arah depan. Benar ada segerombolan pria yang sedang nongkrong tak jauh dari Mia jatuh.
"Sial, benar benar sial!" Umpat Mia lagi.
"Bagaimana Nona, apa kau berubah pikiran?"
Terpaksa Mia berdiri dan masuk kedalam mobil dari pada Ia harus mati sia sia ditangan para preman itu.
"Kau memilih keputusan yang tepat Nona." Ucap Pria tua disampingnya yang kini sudah mengelus kaki mulusnya.
"Jangan menyentuhku!"
"Jika kau tidak ingin disentuh, keluar saja dan berjalan lah melewati para preman itu." Ucap pria didepan sambil tertawa.
"Sialan, dasar kakek kakek mesum!"
Ketiga pria tua itu hanya tertawa mendengar umpatan Mia. Mereka bergiliran menikmati tubuh Mia didalam mobil hingga Mia kelelahan.
"Dimana rumahmu cantik? Aku akan mengantarmu pulang sekarang." Kata pria terakhir yang menikmati tubuh Mia.
Mia merasa jijik dengan tubuhnya, Ia menangis sesenggukan sesekali tangannya terangkat untuk memberikan arahan jalan pada pria yang menyetir mobil.
Mia turun dari mobil setelah sampai, Ia masih belum berani masuk kerumah David dengan keadaan berantakan seperti ini.
Setelah cukup lama berdiri didepan, Ia akhirnya memasuki pintu gerbang, bersamaan dengan mobil Bian yang juga masuk ke garasi.
"Wah ada wanita malam disini!" Ejek Bian melihat penampilan Mia sangat berantakan membuat Bian merasa senang.
"Jaga ucapanmu! Aku akan mengadukan pada Papamu!"
"Adukan saja, dia bahkan sudah tidak berguna lagi dirumah ini." Ejek Bian lagi lalu memasuki rumah.
Mia hanya mengepalkan tangannya, sungguh Ia ingin memberi pelajaran pada Bian agar tunduk padanya.
__ADS_1
Bersambung...