MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
34


__ADS_3

Suasana meja makan pagi ini berbeda dari pagi biasanya, jika pagi biasanya Bian dan Aruna sama sama bawel dan usil namun pagi ini tidak, keduanya terlihat diam, menikmati sarapan buatan Mbok Inem dengan tenang.


"Tumben pada diem aja, lagi marahan ya?" Tebak Mbok Inem yang langsung dijawab keduanya bersamaan.


"Enggak!"


"Eh barengan lagi, duh beneran lagi pada marahan!" Goda Mbok Inem terkikik geli lalu kembali ke dapur.


Bian dan Aruna berdecak bersamaan, mata keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya Bian memutuskan kontak mata lebih dulu.


"Apa Kak Bian marah?" Batin Aruna melihat Bian acuh tidak seperti biasanya.


Keduanya sudah berada didalam mobil dan masih sama sama diam.


"Kak Bian marah?" Tanya Runa tak tahan melihat Bian hanya diam saja tidak seusil biasanya.


"Nggak marah."


"Trus kok diem aja, masih sakit?"


"Engga sakit, Bingung mau ngomong apa."


"Ck, bilang aja marah."


"Lo kok udah ngampus, emang udah siap ketemu mantan Lo?"


Aruna terdiam,


"Ck, balik aja. Nggak usah ngampus." Kata Bian hendak memutar mobilnya namun Aruna menahan tangannya.


"Bosen kak dirumah terus." Keluh Aruna membuat Bian menghela nafas panjang.


"Lo ikut gue aja kalau gitu!"


Aruna mengerutkan keningnya, "Ikut kemana kak?"


"Ya ngantor masa liburan!"


"Ya udah deh nggak apa apa dari pada ketemu Adam."


Bian dan Aruna sampai dikantor. Aruna terlihat kagum melihat kantor Bian yang besar dan memiliki banyak karyawan.


Saat masuk, semua karyawan tampak menunduk sopan ke arah Bian dan Aruna.


"Wah Kak Bian, keren sekali masih muda sudah bisa membangun perusahaan sebesar ini." Puji Aruna saat keduanya berada di lift.


Bian hanya tersenyum menanggapi Aruna.


Kini keduanya sudah berada diruangan Bian.


"Gede banget ruangan Kak Bian, ada kamarnya juga." Kata Aruna saat membuka pintu dan melihat ada kamar di ruangan Bian.


"Nggak usah norak deh Lo!!"


Aruna memanyunkan bibirnya, Bian sudah kembali ke mode galak.


"Lo duduk, gue mau kerja." Kata Bian menunjuk sebuah sofa.

__ADS_1


Aruna mengangguk dan duduk di sofa, matanya masih berkeliaran melihat lihat seisi ruangan.


Aruna melihat ke arah pintu yang terketuk, Seorang wanita muda memasuki ruangan Bian, Ia memberikan map yang mungkin berisi dokumen.


Aruna memandangi gerak gerik wanita itu, terlihat genit dan mencoba merayu Bian namun Bian terlihat acuh.


"Sadam belum datang?" Tanya Bian saat wanita itu hendak keluar.


"Belum pak."


Bian mengerutkan keningnya, "Tumben, apa nggak masuk dia?"


"Saya tidak tahu pak, sejak kemarin Pak Sadam datang terlambat." Kata wanita itu.


"Oh ya sudah, kamu boleh keluar."


"Baik pak." Wanita itu berbalik, sempat melirik sinis ke arah Aruna sebelum akhirnya keluar dari ruangan Bian.


"Ck, itu tadi sekretaris kakak?" Tanya Aruna berjalan mendekati meja Bian.


"Bukan."


"Dia kayaknya suka deh sama kakak." Adu Aruna.


Bian berdecak, konsennya mendadak buyar mendengar ucapan Aruna, "Duduk aja nggak usah ganggu bisa?"


Aruna memanyunkan bibirnya, Ia berbalik dan kembali duduk di sofa.


Bian tersenyum geli melihat tingkah mengemaskan Aruna, Ia juga merasa senang dan bersemangat karena Aruna menemani dirinya bekerja.


"Maaf pak saya terlambat." Kata Sadam merasa tak enak karena Bian datang lebih awal dari dirinya.


"Apa ada urusan lain yang kau kerjakan?" Tanya Bian pada Sadam, "Tika bilang kemarin kau juga terlambat."


Sadam tersenyum malu, "Maaf pak, ada sedikit urusan. Biasa."


Bian mengangguk, seolah tahu apa yang Sadam kerjakan. Urusan wanita lagi.


"Siapkan jadwal ku untuk hari ini." Pinta Bian.


"Baik pak." Sadam segera keluar dari ruangan Bian. Sadam sempat menunduk sopan saat melihat Aruna yang duduk disofa.


"Jadi cewek nggak usah gatel bisa nggak!" Sentak Bian mengejutkan Aruna yang memandangi Sadam hingga tak terlihat lagi.


"Tadi itu siapa kak?"


"Asisten gue, kenapa? Naksir Lo!"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Kok aneh sih kak, masa asisten cowok biasanya kalau asisten kan cewek trus cantik sama seksi gitu."


"Suka suka gue lah, asisten gue ini!"


Aruna kembali berdecak, "Iya iya, terserah kak Bian!"


Bian kembali tersenyum geli karena berhasil membuat Aruna kesal.


Sudah satu jam lamanya Aruna berada di ruangan Bian. Sedari tadi Ia hanya menscroll layar ponselnya untuk menghilangkan kebosanan hingga Ia dikejutkan saat Bian meletakan laptop disamping Aruna.

__ADS_1


"Nonton film tuh, ada banyak film. Kalau ngantuk masuk ke kamar tidur disana. Gue mau meeting dulu." Kata Bian lalu meninggalkan Aruna keluar dari ruangannya.


Aruna mengambil laptop Bian dan melihat ada beberapa folder penyimpanan film dengan nama yang berbeda.


Film horor, film asia, film romance dan yang terakhir blue film.


Tentu saja Aruna lebih memilih membuka folder film asia ketimbang blue film karena Bian pernah memperlihatkan seperti apa Blue film itu. Sangat menjijikan.


"Bisa bisanya kak Bian nonton blue film, dasar mesum." Gerutu Aruna mulai menonton salah satu drama asia yang menarik hatinya.


Hampir tiga jam lamanya Bian keluar dan baru kembali.


"Kak Bian meeting kemana sih? Lama banget!"


"Bawel, udah yokk makan siang dulu." Ajak Bian melihat ke arah jam tangan sudah waktunya makan siang.


"Hayukkk," Aruna tersenyum senang dan langsung merangkul tangan Bian.


Keduanya berjalan keluar, menjadi pemandangan para karyawan kantor Bian karena pertama kalinya Bian datang membawa perempuan dan keduanya terlihat mesra.


"Makan apa?" Tanya Bian saat keduanya sudah memasuki mobil.


"Bakso aja gimana kak?"


Bian mengangguk setuju, sejujurnya Bian tidak terlalu menyukai bakso namun melihat raut wajah senang Aruna saat meminta bakso membuat Bian menuruti keinginan Aruna.


Keduanya sampai ditempat penjual bakso pinggir jalan. Aruna terlihat lahap berbeda dengan Bian yang hanya mengaduk aduk mangkuk baksonya.


"Kok nggak dimakan kak?" Tanya Aruna yang hampir menghabiskan baksonya.


Bian hanya diam saja, Ia ragu untuk makan makanan pinggir jalan seperti ini.


"Ck, gini biar baksonya tambah enak." Aruna menuangkan saos, sambal dan kecap ke dalam mangkuk Bian.


"Ck, gue nggak suka dikasih saos!" Protes Bian.


"Coba dulu kak, kalau nggak enak nanti Aruna yang makan."


Bian akhirnya mencicipi sedikit kuahnya, not bad.


Bian mencicipi kuah bersama baksonya dan akhirnya Ia menghabiskan semangkuk baksonya.


"Yang katanya nggak doyan!" Cibir Aruna membuat Bian tersenyum malu.


Setelah membayar, keduanya kembali ke kantor.


Bian kembali meninggalkan Aruna diruangannya karena Ia harus pergi melihat proyek barunya.


Saat kembali, Bian melihat Aruna duduk dan terlelap disofa dengan laptop yang masih memutar film.


Bian mengambil laptopnya lalu mengangkat tubuh Aruna pelan membawanya ke kamar pribadi yang ada diruangannya.


Bian menyelimuti tubuh Aruna, memandangi sejenak wajah lelap Aruna, "Cantik banget sih Lo run!"


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komennn..

__ADS_1


__ADS_2