
Bian menatap ke arah Ryan dengan tatapan tak percaya. Pria tua didepan nya itu mengaku jika mantan kekasih Mamanya yang tentu saja membuat Bian sangat terkejut.
"Kau masih tak percaya?" Tanya Ryan sambil mengelus elus dahinya yang terasa sakit karena benturannya cukup keras.
Ryan berdecak, Ia mengambil ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto semasa muda kepada Bian.
"Itu aku dan Mama mu, sebelum hubungan kami dirusak oleh Papamu yang gila harta itu!" Ungkap Ryan.
Bian terdiam, melihat foto masa muda Mamanya yang sangat cantik, begitu juga dengan pria disampingnya yang mengaku sebagai mantan kekasih Mamanya juga terlihat sangat tampan semasa muda, ya meskipun sekarang saja pria ini masih tampan walaupun sudah berumur.
"Kau masih tidak percaya?" Tanya Ryan sambil tersenyum geli.
"Ck, lalu untuk apa kau menggoda Aruna waktu itu?"
Ryan tertawa, "Kau pikir aku predator yang menggoda gadis muda seperti Aruna?" Geli Ryan.
"Aku memang sengaja ingin dekat dengan Aruna karena aku tahu dia putri Rega dan Amina. Mereka juga sahabatku jadi apa salahnya jika aku mengunjungi putri mereka?"
Bian kembali menatap Ryan dengan tatapan tajam, "Jadi Anda menyelidiki keluargaku?"
"Tidak hanya menyelidiki, selama ini aku tidak pernah meninggalkan Anneta, aku selalu mengawasinya dari jauh hingga sekarang tiba waktunya aku harus keluar karena apa yang David lakukan tidak bisa dibiarkan lagi!"
"Anda ini psikopat atau apa, bagaimana bisa mengawasi hidup orang seperti itu!" Kesal Bian.
Ryan tertawa, "Yah anggap saja aku ini pria yang tidak pernah berhenti mencintai Anneta."
"Rasanya aku ingin muntah, dasar pria perayu!" Ucap Bian kembali melajukan mobilnya.
"Calon putra ku ini memang lucu sekali." Celetuk Ryan membuat Bian melotot tak terima.
"Berhenti mengucapkan kata menjijikan itu, anda pikir aku akan mengizinkan Mama menikah lagi? Tidak! Aku tidak akan membiarkan Mama menikah dan disakiti pria lagi!" Ucap Bian penuh penekanan.
"Baiklah, jika kau tidak mengizinkan aku menikah dengan Mama ku, aku juga tidak akan membiarkan Aruna menikah denganmu!"
Bian menghentikan laju mobilnya, membuat kening Ryan kembali terbentur.
"Apa hak anda melarang Aruna menikah denganku!"
"Ck, jadi kau belum tahu? Aku ini masih memiliki hubungan darah dengan Rega papa kandung Aruna, tentu saja aku memiliki hak atas Aruna." Kata Ryan santai.
"Jadi kau tidak percaya?" Tanya Ryan tertawa melihat tatapan tak percaya Bian.
__ADS_1
"Aku tidak mempercayai omong kosongmu itu!"
"Minta anak buahmu untuk menyelidiki silsilah keluarga Aruna karena kau menbutuhkan mereka untuk menjadi saksi saat akan menikah nanti dan lihat jika aku terbukti memiliki hubungan darah, aku tidak akan membiarkan pernikahanmu berjalan dengan lancar!"
"Anda mengancamku?"
"Ya, jika kau tidak membiarkan aku bersama Anneta tentu saja aku akan melakukan itu!" Balas Ryan sambil tertawa.
"Dasar licik!"
Ryan tertawa semakin keras.
"Ck, jika Aruna membatalkan pernikahan kami, jangan berharap anda bisa bersama Mama ku!" Tegas Bian dengan raut wajah sedih.
"Kau tidak mempercayai Aruna?" Heran Ryan.
"Aruna sangat membenci Papaku, mungkin sebentar lagi dia juga akan membenci ku juga Mama. Aku takut kecewa jika terus berharap bisa bersama dengan Aruna." Ungkap Bian.
Ryan berdecak, Ia menepuk bahu Bian, "aku tidak menyangka pengusaha sukses sepertimu bisa pesimis seperti ini."
"Aku tidak pesimis, aku hanya takut berharap jika akhirnya harus kecewa."
Ryan tertawa, "Kau bahkan belum memulainya, jika aku jadi kau, aku pasti tidak akan menyerah."
Ryan terdiam, "Waktu itu Mama mu datang padaku, Ia mengatakan jika hamil dengan Papamu. Ku pikir Mama mu sudah tak mencintaiku lagi jadi aku memilih pergi tapi ternyata aku salah, Mama mu dijebak oleh Papamu, dia masih mencintaiku, itu yang membuat aku bertahan dan menunggu selama ini." Ungkap Ryan sambil tersenyum.
Bian menatap mata Ryan, jelas terlihat jika Ryan tidak berbohong. Ryan mengatakan yang sebenarnya, Ia tidak sedang membual saat ini.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Bian akhirnya mulai luluh dengan Ryan.
"Mengambil kembali milik ku yang sempat hilang."
Bian tersenyum, "Semoga beruntung." Ucap Bian lalu kembali melajukan mobilnya.
"Jadi apa ini lampu hijau dari calon putra sambungku?" Celetuk Ryan sambil tersenyum senang.
"Aku belum mengatakan apapun, jangan terlalu percaya diri!" Ketus Bian.
Ryan tersenyum, merasa lega akhirnya Ia bisa meluluhkan Bian.
Sampai dikantor polisi, keduanya segera masuk. Didalam tampak David masih berteriak memberontak tak terima dirinya ditangkap.
__ADS_1
"Aku di fitnah, aku tidak mungkin melakukan perbuatan jahat itu!" Ucap David mencoba membela diri.
"Jika kau masih tidak mau mengakui, hukumanmu akan semakin berat!" Ucap salah satu polisi yang mengintrogasinya.
"Bagaimana aku mau mengakuinya jika aku tidak pernah melakukan apapun!" Ucap David lagi.
"Lagi pula mana buktinya jika aku memang membunuh Rega dan Amina!" Sentak David yang sama sekali tidak takut dengan para polisi itu.
"Buktinya ada disini." Kata Ryan memperlihatkan sebuah flashdisk yang Ia bawa saat ini.
"Tidak mungkin, aku tidak pernah melakukan apapun!" David masih membela diri.
Ryan mendekat memberikan flasdisk itu pada Polisi.
"Flasdisk ini berisi rekamanan cctv saat David merusak mobil Rega agar rem nya blong."
Mata David melotot, Ia terkejut mendengar ucapan Ryan.
Flasdisk terbuka, berisi rekaman cctv yang memperlihatkan David memang merusak mobil Rega diam diam. Meskipun rekaman lama tapi semua polisi tahu jika pria yang terekam itu memang David.
"Bagaimana bisa?" Gumam David tak percaya Ryan masih mendapatkan rekaman cctv itu padahal dulu Ia sudah menghilangkan semua jejak kejahatannya agar kematian Rega dan Amina memang murni kecelakaan.
"Apa kau masih mengelak lagi?" Sentak salah satu polisi.
"Tidak mungkin, itu bukan aku. Bukan aku yang membunuh mereka!"
"Ck, langsung bawa ke bui saja!" Kesal salah satu polisi.
Dua polisi langsung menarik paksa tubuh David dan membawanya ke sel.
"Aku tidak melakukannya, sudah ku bilang aku tidak melakukannya!" Teriak David dari dalam sel penjara.
"Sebaiknya kau diam atau kau mau ku buat diam selamanya!" Ancam salah satu polisi lalu meninggalkannya.
"Sial, aku tidak mau membusuk dipenjara seperti ini! Ryan... pria itu benar benar sudah menghancurkanku!" Umpat David sambil memukul mukul sel penjara.
"Apa kau tidak bisa diam?" Suara seseorang yang tak asing terdengar membuat David berbalik untuk melihat suara siapa itu.
Dan betapa terkejutnya David melihat siapa yang satu sel dengannya.
"Halo om... bagaimana kabarmu? Bukankah karma berjalan begitu cepat. Kau menjebak ku masuk dipenjara sekarang kau sendiri juga dipenjara." Ucap pria muda yang kini berdiri dan mengepalkan tangannya seolah siap meninju David.
__ADS_1
"Aa.. adam..." suara David bergetar, Ia terlihat ketakutan.
Bersambung...