
Setelah mengantar Aruna ke kampus, Bian segera melajukan mobilnya menuju kantor.
Sampai dikantor, Ia melihat Sadam sudah berada dimejanya, raut wajahnya terlihat sangat ceria.
"Selamat pagi pak." Sapa Sadam saat Bian melewati depan mejanya.
"Apa kau mengejek ku?" Sengit Bian.
Sadam tampak bingung, Ia hanya menyapa dan tidak bermaksud mengejek Bian, "Maaf pak, saya hanya menyapa jadi dimana salah saya?"
"Wajah cengengesanmu itu terlihat kau mengejek ku! Apa karena sebentar lagi kau menikah sementara aku tidak jadi kau mengejek ku?" Sentil Bian membuat Sadam ingin menahan tawa, tidak menyangka Bian akan sensitif seperti ini.
"Maaf pak, saya tidak bermaksud-"
"Cukup! Jangan katakan apapun lagi. Lihat saja sebentar lagi aku pasti akan menyusulmu menikah!" Kata Bian lalu memasuki ruangannya meninggalkan Sadam yang akhirnya tertawa.
Bian duduk di kursinya, terlihat Ia mengendurkan dasinya. Wajahnya terlihat sangat kesal. Setelah dibuat kesal oleh Aruna kini Ia dibuat kesal oleh Sadam.
Huh Sadam sebentar lagi akan menikah, sementara dirinya? Restu dari Mama saja belum Ia kantongi mana mungkin Ia bisa segera menikah.
"Ck, benar benar membuat jengkel!" Umpat Bian.
Pintu ruangan terbuka, tampak Sadam memasuki ruangan dengan membawa agenda kerja hari ini.
Setelah membacakan agenda, Sadam buru buru keluar karena Ia tak ingin membuat Bian kesal lagi memgingat ekpresi wajah bahagia Sadam yang tidak bisa disembunyikan.
"Panggil Rico untuk ku!"
"Rico anak pemasaran pak?"
"Ya, suruh dia datang ke ruanganku." Perintah Bian.
"Ada masalah apa pak?" Tanya Sadam penasaran karena Sadam melihat tidak ada masalah dengan pekerjaan Rico.
"Ck, jangan banyak tanya! Panggilkan saja untuk ku!"
"Baik pak, baik." Ucap Sadam lalu keluar dari ruangan Bian.
Tak menunggu lama, Rico memasuki ruangan Bian dengan wajah khawatir.
"Bapak memanggil saya?"
Bian menganggukan kepalanya, "Aku sering melihatmu di club malam." Ucap Bian.
Rico mengerutkan keningnya, Ia merasa urusan pribadi seperti itu tidak menganggu pekerjaannya, "memang betul pak, apa ada yang salah dengan pekerjaan saya?" Tanya Rico yang memiliki wajah cukup tampan itu.
"Tidak ada masalah, aku hanya ingin memberimu pekerjaan." Kata Bian membuat Rico semakin heran.
__ADS_1
"Pekerjaan apa lagi pak?"
"Aku sering melihatmu merayu para wanita dan kau selalu berhasil membawa mereka." Ucap Bian membuat Rico tertunduk malu karena Bian mengetahui segalanya.
"Dan aku ingin kau merayu seseorang untuk ku." Kata Bian membuka ponselnya lalu mengirimkan foto Mia pada Rico.
"Ini..."
"Dia sering datang ke club malam yang sama denganmu, apa kau pernah melihatnya?" Tanya Bian yang memang sudah menyelidiki tentang Mia.
Rico tersenyum, "Jika gadis ini, saya bahkan pernah menidurinya." Akui Rico yang membuat senyum Bian mengembang, tak menyangka semua akan semudah ini.
"Dia benar benar murahan, dasar pria tua bodoh!" Batin Bian.
"Lalu pekerjaan seperti apa yang bisa saya kerjakan pak?" Tanya Rico sudah tak sabar.
"Aku ingin kau mengodanya lagi, tidur dengannya dan buatlah video bersama. Aku akan memberikan fasilitas mobil, uang juga hadiah ponsel keluaran terbaru untukmu, bagaimana?"
Mata Rico membulat tak percaya mendengar penawaran bosnya itu, tentu saja Ia mau lagipula bukan hal yang sulit untuk mengoda Mia.
"Baiklah pak, saya mau. Jadi kapan saya bisa melaksanakan tugas dari Bapak?"
"Secepatnya."
Rico mengangguk paham, setelah tak ada yang dibicarakan lagi, Ia segera keluar dari ruangan Bian.
Diruangannya, Bian tersenyum puas. Tak menyangka akan semudah ini membalaskan rasa sakit hati Mamanya.
Sementara itu, Anneta baru saja selesai sarapan dibantu oleh Mbok Inem.
"Sekarang minum obatnya dulu Nyonya." Kata Mbok Inem menyiapkan obat dan segelas air putih.
Setelah menelan obatnya, Anneta kembali berbaring.
"Aku bosan berada disini Mbok." Ungkap Anneta yang membuat Mbok Inem terdiam.
"Lebih baik Nyonya disini dari pada pulang dan melihat kelakuan bejat Tuan." Batin Mbok Inem mengingat semalam Ia dibuat terkejut karena Tuannya pulang membawa wanita lain.
David bahkan mengajak wanitanya tidur di kamar yang sama dengan kamar Anneta. Sungguh Mbok Inem masih tak menyangka jika Tuannya tega menduakan cinta Anneta.
Padahal selama ini Mbok Inem melihat hubungan majikannya itu sangat harmonis.
"Apa yang kau pikirkan Mbok? Kenapa melamun?" Heran Anneta saat Ia bicara dan Mbok Inem sama sekali tak menyahut.
"Tidak ada Nyonya, saya hanya sedih saja melihat nyonya terbaring disini." Ungkap Mbok Inem.
"Apa semalam David pulang?"
__ADS_1
Deg... pertanyaan yang rasanya tidak ingin Mbok Inem jawab.
"Pulang Nyonya."
"Bersama wanitanya?"
Deg... Mbok Inem kembali terkejut ternyata Anneta sudah mengetahui jika David memiliki wanita lain.
"Nyonya sudah tahu?"
Anneta mengangguk, "Jadi benar kalau semalam Ia membawa wanita itu pulang." Ucap Anneta terdengar tenang.
"Benar Nyonya." Balas Mbok Inem menundukan kepalanya.
"Apa dia mengajak wanita itu ke kamar ku?"
Mbok Inem hanya diam, kali ini Ia tak akan menjawab lagi, Mbok Inem tidak ingin membuat Anneta semakin terluka.
"Ck, pasti jawabanya iya kan?" Tebak Anneta namun tidak mendapatkan respon dari Mbok Inem.
"Lihat saja setelah pulang dari sini aku pasti akan mengajukan gugatan cerai."
"Nyonya..." Mbok Inem sangat terkejut.
"Tidak ada yang perlu dipertahankan Mbok, ini sudah menjadi toxic dan aku harus segera melepaskan ini." Ungkap Anneta.
Mbok Inem hanya menganggukan kepalanya, Ia tidak memiliki saran apapun yang pantas untuk di ucapkan. Mau seperti apa keputusan kedua majikannya itu, Mbok Inem hanya bisa mendukung yang terbaik.
"Saya hanya tidak menyangka Tuan tega melakukan itu pada Nyonya."
Anneta berdecak, "Dia sering melakukan itu Mbok, hanya saja selama ini aku diam karena aku tidak ingin Bian dan Aruna tahu yang mungkin akan membuat mereka membenci papanya." Ungkap Anneta setelah bertahun tahun memendamnya sendiri.
Dulu Anneta sudah pernah memergoki David selingkuh namun Ia hanya diam saja karena ingin mempertahankan rumah tangganya mengingat saat itu Bian masih Sd dan Aruna masih balita, masih butuh sosok Papa jadi Anneta menahan rasa kecewanya namun sekarang Anneta tidak ingin menahan lagi, toh Bian sendiri yang meminta dirinya menceraikan David.
Pintu ruangan terbuka, Mbok Inem dan Anneta menatap ke arah pintu.
Betapa terkejutnya Anneta saat melihat seorang pria yang sangat Ia kenali dan selalu Ia ingat berdiri didepan pintu membawa bucket mawar putih kesukaannya.
Deg ... deg... deg... jantung Anneta bahkan memompa sangat cepat.
Pria itu tersenyum berjalan mendekat ke arahnya, "Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"
Seketika tangis Anneta pecah,
"Ryan..."
Bersambung...
__ADS_1