
Leo berlari menuju gudang belakang kampus, Ia tidak ingin terlambat untuk menyelamatkan Aruna istri dari Tuan yang sudah Ia khianati itu.
Siang tadi, Jessi mengirim pesan padanya jika Jessi akan kembali keluar negeri, ke tempat asalnya dan tentu membuat Leo lega karena tidak akan ada lagi yang mengusik Bian dan Aruna namun ada satu hal yang mengejutkan Leo saat Jessi juga mengatakan jika Ia akan membunuh Aruna sore ini.
Ya Jessi masih memiliki dendam dengan Bian hingga Ia ingin membuat hidup Bian menderita sama sepertinya.
Leo berusaha menasehati Jessi agar bertobat dan tidak menganggu Bian lagi namun Jessi tetap kekeh akan melakukan kejahatan itu.
Saat itu posisi Leo baru akan berangkat ke luar kota untuk liburan sekaligus menenangkan diri, namun melihat niat Jessi membuat Leo putar balik mengurungkan niatnya untuk berlibur dan memilih menyelamatkan Aruna lebih dulu.
Dan benar saja, sampai digudang belakang kampus Ia datang tepat pada waktunya karena Jessi baru akan mengeksekusi Aruna.
"Hentikan semua ini!" ucap Leo meremas tangan Jessi hingga pisau yang Jessi pegang jatuh ke lantai.
"Pergilah, biarkan aku menghabisi gadis sialan ini!" umpat Jessi namun Leo malah menahan kedua tangan Jessi lalu mengikatnya dengan tali yang sudah Ia siapkan.
"Apa yang kau lakukan brengsek!" umpat Jessi lagi.
"Aku sudah memberimu saran untuk bertobat tapi kau malah memilih jalan seperti ini, aku tidak mempunyai pilihan lain selain melaporkan mu pada polisi, kau sungguh berbahaya." ucap Leo membuat mata Jessi melotot tak percaya karena Ia pikir Leo berada dipihaknya.
"Kau gila, bagaimana bisa kau melakukan ini? Bukankah sekarang kita ini teman?"
"Aku menyesal memiliki teman penjahat sepertimu jadi aku memutuskan untuk tidak lagi memihakmu."
"Sialan, dasar brengsek!" umpat Jessi.
Setelah menahan Jessi, beberapa polisi datang untuk menangkap Jessi. Berbekal pisau yang memiliki sidik jari Jessi menjadi bukti untuk menjadikan Jessi tersangka.
"Aku pasti akan membalas kalian!" teriak Jessi saat para polisi datang untuk membawanya.
Leo tersenyum, melihat Jessi sudah dibawa oleh para polisi membuatnya lega. Leo menatap ke arah Aruna yang juga menatap ke arahnya.
"Nona baik baik saja?" tanya Leo pada gadis yang Ia sukai itu.
"Ya, berkat kau. Terimakasih sudah menyelamatkanku." ucap Aruna.
"Tidak masalah Nona, sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Nona."
Aruna terdiam mendengar ucapan Leo.
"Sekarang sebaiknya Nona segera pulang." pinta Leo lalu membalikan badannya berjalan meninggalkan Aruna.
"Apa alasanmu mengkhianati Kak Bian?" tanya Aruna membuat langkah kaki Leo terhenti.
Leo berbalik dan menatap ke arah Aruna dengan tatapan terkejut karena Aruna mengetahui pengkhianatannya.
"Semua orang sudah tahu, bahkan Kak Bian juga sudah tahu." ucap Aruna lagi.
"Maafkan saya Nona." Ucap Leo sambil menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan meminta maaf padaku, seharusnya kau meminta maaf pada Kak Bian."
Leo mengangguk, "Saya memang berencana meminta maaf pada Tuan."
"Lalu lakukan lah sekarang." ajak Aruna.
"Sa saya masih malu Nona, bagaimana jika Tuan-"
"Tuanmu sangat sedih dan kecewa saat ini namun jika kau datang untuk meminta maaf setidaknya bisa mengurangi rasa sedihnya."
Leo terdiam, memikirkan ucapan Aruna.
"Bagaimana? Mau ke kantor bersamaku?" ajak Aruna sambil tersenyum manis membuat Leo akhirnya luluh juga.
Leo mengangguk menerima tawaran dari Aruna untuk datang ke kantor Bian.
Dan sampai dikantor, kedatangan Leo membuat Bian terkejut,
"Bukankah aku menyuruhmu untuk berlibur?"
"Benar Tuan, saya datang kemari karena..." Leo menatap ke arah Aruna karena merasa ragu ingin mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Jessi baru saja ingin membunuhku!" ungkap Aruna membuat Bian terkejut.
"Dan Leo datang tepat waktu untuk menyelamatkanku!" ungkap Aruna lagi.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Bian terlihat sangat marah.
"Maafkan saya Tuan." ucap Leo penuh penyesalan.
"Aku hanya ingin tahu apa alasanmu mengkhianatiku?" tanya Bian masih belum merasa puas dengan penjelasan Leo.
"Say saya khilaf Tuan."
"Apa kau tergoda dengan tubuh Jessi?"
Leo menggelengkan kepalanya, "Bu bukan karena itu Tuan."
"Lalu apa? Katakan padaku sekarang agar aku bisa memaafkan mu!"
"Say saya..."
"Katakan sekarang!"
"Saya menyukai Nona."
Bian terkejut begitu juga dengan Aruna yang ada disana.
"Saya sudah menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada Nona namun perasaan tidak bisa ditahan lagi hingga membuat saya melakukan itu." ungkap Leo lalu menundukan kepalanya karena tidak berani menatap ke arah Bian yang sangat marah padanya.
__ADS_1
"Jadi kau ingin menghancurkan hubunganku dengan istriku menggunakan cara kotor itu?"
"Sekali lagi maafkan saya Tuan!"
Bian berdiri dari duduknya, Ia berjalan menghampiri Leo. Rasanya ingin memukul wajah Leo saat ini juga namun Ia sadar tidak bisa melakukan itu karena tangannya terluka.
"SADAAMMM!" teriak Bian dari dalam ruangannya membuat Sadam segera masuk ke ruangan Bian.
"Ada apa Pak?"
"Bukankah kau ingin menghajar pengkhianat ini? Hajar sekarang!" perintah Bian pada Sadam.
"Sudah cukup kak, Leo sudah mengakui kesalahannya, apa masih perlu ada kekerasan?" ucap Aruna menghentikan niat Sadam untuk menghajar Leo.
"Kau membelanya? apa kau juga menyukainya?" tuduh Bian membuat mata Aruna melotot tak percaya.
"Astaga, bukan seperti itu maksudku kak, aku hanya-"
"Hanya membela karena terpesona dengan wajah tampan Leo?" tuduh Bian sekali lagi membuat Aruna menggelengkan kepalanya, menyerah tak ingin berdebat dengan Bian yang sedang emosional.
"Baiklah, lakukan apapun yang Kak Bian inginkan, aku tidak akan ikut campur!" ucap Aruna lalu memilih masuk ke dalam ruang pribadi Bian.
"Dasar menyebalkan, aku hanya tidak ingin ada kekerasan tapi dia malah menuduhku seperti itu!" omel Aruna terlihat sangat kesal.
Diluar Bian menatap ke arah Sadam, "Tunggu apa lagi? Pukul dia!" perintah Bian.
Tanpa berpikir panjang, Sadam segera memberi bogeman pada Leo.
Tiga bogeman di kedua pipi Leo hingga Bian meminta untuk berhenti, "Sudah cukup!"
"Tapi saya masih ingin memukulnya pak." ungkap Sadam terlihat belum puas.
"Dan kau boleh membalasnya Leo." perintah Bian yang langsung membuat Leo menggelengkan kepalanya, tidak mau membalas pukulan Sadam.
Mata Sadam melotot, "Kenapa Bapak meminta Leo untuk membalas?"
"Karena kau melawan perintahku!"
Sadam berdecak, "Baiklah, jika tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan lebih baik saya keluar karena pekerjaan saya masih banyak dan saya harus segera pulang." ucap Sadam terlihat kesal lalu keluar dari ruangan Bian.
"Apa sakit?"
Leo mengangguk,
"Itu tidak seberapa jika dibandingkan rasa sakit yang kurasakan karena terlalu mempercayaimu."
Leo meneteskan air matanya, "Sekali lagi maafkan saya Tuan."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa