MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
40


__ADS_3

Satu jam yang lalu Bian dibuat panik karena tahu ponsel Nysa hilang sementara Ia baru saja mengantar Aruna yang dihubungi Nysa dan meminta nya datang ke klinik.


Bian bersama dengan Sadam, kembali ke klinik untuk mencari Aruna namun ternyata, Bian tertipu karena Klinik yang didatangi Aruna sudah tutup beberapa hari yang lalu.


Sudah sangat jelas jika Aruna sedang dijebak saat ini.


"Ini penculikan Tuan, Apa Nona Aruna memiliki musuh dikampusnya?" Tanya Sadam yang masih belum mengetahui apa yang terjadi.


Bian tidak menjawab, Ia membuka ponselnya untuk mengetahui keberadaan Aruna saat ini.


"Hotel? Sial, dia masih belum jera!" Umpat Bian langsung melajukan mobilnya menuju hotel yang baru saja Ia lacak.


Bian dan Sadam memasuki hotel, tanpa basa basi, Bian memberikan segepok uang untuk receptionis yang berjaga disana.


"Beritahu kamar yang dipesan orang ini sekarang." Pinta Bian memperlihatkan foto Adam yang Ia simpan diponselnya.


Sadam sempat melirik dan terkejut saat melihat siapa pria yang dimaksud Bian, pria yang juga sedang Ia incar karena menganggu Keisha.


"Maaf Tuan, kami tidak bisa-"


"Ambil uangnya, bukankah kau butuh uang? Aku pastikan tidak akan ada tuntutan dari siapapun setelah ini." Kata Bian meyakinkan.


Receptionist itu akhirnya mengangguk setuju, Ia meminta salah satu rekannya untuk mengantar ke kamar Adam.


Dan disinilah Bian sekarang, berada dikamar yang dipesan oleh Adam.


Bian keluar dari kamar mandi, Ia bersyukur belum terlambat menyelamatkan Aruna.


Bian melihat Sadam masih bersemangat memukuli Adam padahal wajah Adam sudah babak belur.


"Apa kau juga memiliki dendam dengannya? Kau terlihat bersemangat memukuli pria brengsek itu." Kata Bian pada Sadam.


Sadam menghentikan pukulannya, Ia mengambil ponsel lalu memotret Adam yang terkapar dan mengirimkannya pada Keisha.


Apa kau menyukainya?


Sadam mengirimkan foto dan pesannya pada Keisha.


"Apa yang akan kita lakukan setelah ini pak?"


"Bawa saja ke kantor polisi, biarkan dia jera."


"Tapi, bukankah tidak mungkin jika kita membawanya dalam keadaan seperti ini pak? Bisa bisa malah kita yang terkena tuntutan." Jelas Sadam.


"Ya sudah, biarkan saja. Aku akan mengawasinya setelah hari ini." Kata Bian menatap Adam yang terkapar pingsan.


"Carikan baju ganti untuk Aruna, dia basah kuyup didalam." Pinta Bian yang langsung diangguki Sadam.


Sadam keluar dari kamar, sementara Bian berjalan mendekati Adam yang terkapar kesakitan.


"Apa yang harus ku lakukan agar membuatmu jera, tidak lagi menganggu adik ku?" Tanya Bian pada Adam.


Adam tersenyum sinis, "Aku tidak akan jera sebelum mendapatkan apa yang ku mau!"


"Kau masih berani?"

__ADS_1


"Tentu saja, apa yang ku takutkan?" Tantang Adam.


Bugh... satu pukulan tepat dibibir Adam.


"Aku akan membuatmu tidak bisa melakukan apapun lagi jika kau masih berani menganggu adik ku!" Ancam Bian.


Adam seolah tak takut dengan ancamanĀ  Bian, "Lakukan saja dan kau akan tahu siapa yang membelaku."


"Apa maksudmu?" Tanya Bian tak mengerti.


"Papa mu saja menyerahkan Aruna secara cuma cuma padaku, jika aku meminta papa mu lagi mungkin dia akan membantu mempermudah aku mendapatkan Aruna." Ungkap Adam sambil tersenyum sinis.


"Brengsek! Apa maksudmu? Jangan bawa Papa ku!"


Bian kembali menghantam bibir Adam berkali kali agar pria itu berhenti bicara.


"Lebih baik Tuan segera membawa Nona pergi." Kata Sadam yang baru saja datang membawa paper bag berisi baju ganti untuk Aruna.


Bian mengambil paper bag lalu kembali memasuki kamar mandi.


Bian melihat Aruna sudah mengigil kedinginan.


"Pakai ini." Kata Bian yang langsung diangguki Aruna.


Bian segera keluar agar Aruna bisa berganti baju.


Tak berapa lama Aruna ikut keluar dan mendekati Bian karena takut melihat Adam yang terkapar penuh luka dan berdarah.


"Kita pulang sekarang." Ajak Bian yang diangguki Aruna.


Kini tinggalah Sadam dan Adam dikamar itu,


"Bangun! Mana kunci mobil Lo, biar gue anter ke apartemen Lo!" Kata Sadam.


Adam menunjuk kunci mobilnya di meja, Ia bangun sendiri tanpa bantuan Sadam.


Adam berjalan pelan keluar hotel dan menjadi tontonan semua pengujung hotel.


Keduanya sudah memasuki mobil, Sadam yang sudah tahu dimana apartemen Adam pun langsung melajukan mobilnya.


Sampai diapartemen, Sadam langsung mengikat kedua tangan Adam, sekuat tenaga Adam memberontak namun gagal karena tenaga Sadam lebih kuat dari Adam.


"Lo mau ngapain!" Sentak Adam saat Sadam mengambil laptop dan ponselnya.


Sadam hanya tersenyum mengotak atik ponsel dan laptop Adam.


Tak berapa lama Keisha memasuki apartemen Adam.


"Lo kesini? Tolongin gue Ke, lepasin ikatan gue." Pinta Adam pada Keisha.


Diluar dugaan, Keisha tersenyum sinis dan langsung mendekati Sadam.


"Udah dihapus semua?"


"On proses, banyak banget." Balas Sadam terlihat kesal membuat Keisha merasa sungkan.

__ADS_1


"Gila, mau ngapain kalian!" Sentak Adam.


"Hapus video biar Lo nggak bisa ngancem gue lagi!"


Adam tersenyum sinis, "Lo pikir cuma di laptop sama ponsel?"


"Dimana lagi Lo nyimpen video Keisha?" Sadam sudah terlihat emosi.


Adam tertawa, berhasil membuat Sadam emosi.


Keisha berdiri, Ia membuka lemari Adam dan mengambil satu kaos kesayangan Adam.


"Lo kasih tau atau gue sobek sobek nih baju." Ancam Keisha.


"Brengsek, jangan berani berani Lo!" Giliran Adam yang emosi.


Keisha tersenyum puas, Ia mengambil gunting dan memperlihatkan pada Adam.


"Oke oke gue kasih tau. Ada di flashdisk." Kata Adam menyerah.


Keisha segera mengambil semua flashdisk Adam dilaci lalu menghapus semua videonya yang ada disana.


Keisha benar benar tak menyangka jika Adam membuat Video bercinta tanpa sepengetahuan Keisha.


Setelah selesai, Sadam dan Keisha keluar dari apartemen Adam, tak lupa melepaskan ikatan tangan Adam.


"Makasih ya." Kata Keisha saat keduanya keluar dari apartemen, menunggu taksi di luar.


Sadam hanya mengangguk, rasanya Ia masih emosi melihat liarnya Keisha saat diranjang bersama Adam.


"Gue emang gini, udah rusak, nakal. Jadi baiknya Lo pikir pikir kalau mau deketin gue." Kata Keisha menghentikan satu taksi lalu masuk ke dalamnya.


Keisha sempat melihat wajah kecewa Sadam yang membuatnya merasa sakit.


Keisha sampai dirumah, Ia langsung saja memasuki kamar tanpa mengubris omelan Ibunya yang tengah menyetrika baju laudryan.


Keisha tertunduk sedih mengingat wajah kecewa Sadam.


"Gue emang udah gini, mau gimana lagi. Udah nggak bisa diperbaiki." Gumam Keisha matanya memerah ingin menangis.


Selama ini Keisha banyak dekat dengan pria namun belum ada yang seperti Sadam.


Sadam sangat mengerti dirinya, tidak menuntut apapun dan bahkan tidak pernah meminta apapun membuat Keisha langsung bisa jatuh cinta pada seorang Sadam.


"Sa... ada temen kamu." Teriak Ibu Keisha dari luar kamar.


"Siapa yang datang?" Heran Keisha karena tidak ada satupun teman Keisha yang tahu rumah Keisha.


Keisha membuka pintu kamar dan terkejut siapa yang duduk diruang tamu, sedang mengobrol bersama Ibunya.


Sadam...


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2