MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
123


__ADS_3

Sadam dan Keisha memasuki mobil setelah baru saja selesai berbelanja mingguan disupermarket.


"Apa Pak Bian tidak marah jika kamu sering izin keluar untuk mengantarku seperti ini?" tanya Keisha mengingat ini belum waktunya untuk Sadam pulang.


"Pak Bian tidak akan mungkin bisa marah denganku, lagipula pekerjaan ku juga sudah aman, sudah selesai sebelum aku menjemputmu." jelas Sadam.


"Baiklah jika seperti itu."


Sadam mulai melajukan mobilnya sementara Keisha memainkan ponselnya.


Keisha ingat akan sesuatu, Ia segera membuka itu dan betapa terkejutnya Keisha melihat rekaman cctv yang sengaja Ia pasang serasa sedang menonton blue film.


"Apa yang kau lihat? Kenapa suaranya seperti itu?" tanya Sadam penasaran mendengar suara seseorang yang sedang bercinta di ponsel Keisha.


"Hentikan mobilnya dan lihat ini!" pinta Keisha yang langsung dituruti Sadam.


Sadam terkejut saat melihat rekaman cctv dimana ada Jessi yang sedang bercinta dengan seseorang.


"Aku beruntung, Cctv ku merekam sangat pas dan terlihat jelas percintaan mereka." gumam Keisha terdengar bangga.


"Kamu memasang Cctv diruangan Jessi?"


Keisha mengangguk lalu tersenyum, Ia sengaja masuk ke ruangan Jessi yang kosong dengan membawa buku tugas agar tidak ada yang curiga dan Keisha menempelkan cctv yang Ia beli kemarin sore saat Sadam kembali ke kantor.


"Karena mungkin dia akan sering menganggu ku dan Aruna jadi aku terpaksa melakukan ini untuk mengancamnya." ungkap Keisha.


Sadam tersenyum dan langsung mengelus kepala istrinya itu, "Kenapa kau pintar sekali sayang."


Keisha kembali tersenyum, merasa lega karena Sadam mendukung apa yang Ia lakukan itu.


Setelah mengantar Keisha pulang, Sadam kembali ke kantor. Ia berpapasan dengan Leo yang juga masuk ke kantor.


"Apa kau membawa berita penting?"


Leo mengangguk, "Aku ditugaskan untuk menjaga Nona."


Sadam menghela nafas panjang, "Ini pasti tentang bule itu."


"Tepat sekali!" ucap Leo sambil tersenyum.


keduanya segera memasuki ruang kerja Bian,


"Aku mencarimu, kemana saja kau?" sentak Bian pada Sadam.


Sadam tersenyum meringgis, "Aku menjemput Keisha dan dia merenggek meminta diantar belanja mingguan, aku tidak bisa menolaknya, maafkan aku pak." ucap Sadam berbohong padahal Keisha sama sekali tidak merenggek justru Sadam sendiri yang berniat mengantarkan Keisha berbelanja.


Bian berdecak, Tatapanya beralih ke arah Leo, "Aku baru menugaskan mu dan kau sudah kemari?"


Leo tersenyum, "Aku baru saja menyelesaikan tugasku Tuan."


Bian terkejut, "Jadi apa yang dia lakukan pada Aruna?"

__ADS_1


Leo menjelaskan apa yang sudah terjadi membuat Bian sangat marah dan mengepalkan tangannya.


"Tuan tenang saja, saya akan semakin ketat menjaga Nona."


"Ya, kau harus melakukannya!"


"Sepertinya Tuan tidak perlu khawatir setelah melihat ini." Sadam memberikan ponselnya yang berisi rekaman cctv pada Bian.


Bian kembali terkejut, "Kau juga menguntitnya?"


"Jangan salah paham dulu pak, itu ulah istriku yang meletakan cctv di ruangan Jessi. Istriku melakukan itu untuk berjaga jaga saja karena posisi Istriku dan Nona tidak aman dikampus jadi Ia harus memiliki senjata untuk mengancam Jessi." jelas Sadam membuat Bian tersenyum lebar.


"Pintar juga istrimu." puji Bian.


"Ck, saya tidak pernah salah mencari pasangan pak." ucap Sadam dengan sombongnya.


"Ck, dasar tukang pamer." gerutu Leo yang ada disampingnya.


"Aku ingin menemui Jessi." ungkap Bian yang membuat Sadam dan Leo terkejut.


"Apa kau yakin pak?"


"Ya, aku tidak ingin dia menganggu Aruna lagi, aku ingin dia kembali ke tempat asalnya."


"Tapi sepertinya akan sia sia pak, mengingat Jessi orang yang sangat keras kepala." ucap Sadam yang sedikit banyaknya Ia juga mengenal Jessi.


"Kita coba saja dulu."


Sebelum jam pulang, Bian menghubungi Aruna agar Aruna tidak menjemputnya karena Bian akan diantar oleh Sadam.


Setelah Leo memastikan jika Jessi masih berada di kampus, Leo segera memberitahu Bian.


"Kita ke kampus sekarang pak?" tanya Sadam yang sudah siap melajukan mobilnya.


"Ya, kita kesana. Semoga sudah tidak ada orang karena aku tak ingin ada yang salah paham jika aku menemui Jessi."


"Tentu saja pak, biasanya jam segini kampus sudah sepi."


Dan benar ucapan Sadam, sampai dikampus terlihat sangat sepi hanya ada dua satpam yang berjaga itupun sudah diamankan oleh Leo jadi Bian lebih leluasa memasuki area kampus.


"Kau datang untuk ku?" tanya jessi terlihat senang. Tadinya Jessi ingin segera pulang namun setelah melihat Bian datang rasanya Jessi tak ingin pulang, ingin berada disini saja bersama Bian.


"Aku memang datang untuk menemuimu."


"Kau berubah pikiran? Kau ingin kita kembali bersama?" tanya Jessi penuh percaya diri, ingin memeluk Bian namun Bian menghindar.


"Aku tidak ingin kembali padamu, aku hanya ingin memperingatkan agar kau berhenti menganggu istriku Aruna."


Jessi tersenyum sinis, "Lalu jika aku tidak mau?"


"Jika kamu tidak mau, aku akan menghancurkan hidupmu!" ancam Bian namun Jessi malah tertawa.

__ADS_1


"Kau bisa melakukan itu sejak dulu namun kau tidak melakukan itu padaku, kau justru selalu melindungiku." ucap Jessi santai.


"Sekarang keadaan sudah berbeda, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku hanya ingin bahagia bersama Istriku, jika kau masih berani menganggu Istriku, tentu aku tidak akan membiarkanmu begitu saja." ancam Bian lagi.


Jessi diam, Ia melihat sorot mata Bian yang mengebu. Sedikit mengecewakan karena apa yang Bian ucapkan benar jika Bian sudah tak mencintainya lagi, lalu apa yang harus Ia lakukan? Menyerah?.


"Baiklah, aku tidak akan menganggu hubunganmu dan istrimu."


Bian mengerutkan keningnya, merasa tak percaya dengan ucapan Jessi.


"Aku tidak bohong, aku tidak akan menganggu istrimu lagi."


"Baik, ku pegang ucapanmu!"


Jessi mengangguk, "Tapi bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?"


Bian langsung menolak, "Tidak!"


"Hanya sekali sebagai tanda perpisahan kita." pinta Jessi dengan tatapan memohon.


"Ck, baiklah. Awas saja jika kau macam macam." ucap Bian yang tidak bisa melakukan apapun karena tangannya masih sakit.


Bian memasuki mobil dan langsung disambut senyuman nakal Sadam.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" omel Bian.


"Bapak baru saja berpelukan dengan mantan kekasih, apa tidak takut ada getaran cinta lagi diantara kalian?"


"Sialan, apa kau meragukan cintaku pada Aruna, tentu aku tidak akan jatuh cinta lagi pada Jessi!"


Sadam tertawa, "Aku hanya bercanda pak, kenapa harus sensitif seperti itu."


"Kau sangat menyebalkan!''


Sampai didepan rumah, Bian sudah disambut oleh Mang Asep.


"Kebetulan Tuan sudah pulang, ini ada paket untuk Nona Aruna."


"Paket apa mang?"


"Saya tidak tahu Aden, tulisannya tidak jelas."


Tanpa curiga, Bian segera membawa masuk paket itu karena Aruna memang sering belanja online.


"Kau membeli apa?" tanya Bian memberikan paket pada Aruna.


Aruna terkejut, matanya melotot dan langsung merebut paket yang Ia pesan kemarin.


"Astaga, aku lupa memberi tahu Mbok Siti dan Mang Asep."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2