
Bian membuka pintu ruangannya, terkejut saat melihat Ryan tengah mengobrol dengan Aruna. Keduanya terlihat sangat akrab.
Sebelumnya memang Bian sudah diberitahu oleh salah satu karyawannya jika Ryan datang saat dirinya tengah meeting dan bodohnya Bian membiarkan Ryan menunggu diruangannya, sekarang melihat Aruna asyik mengobrol dengan Ryan membuatnya sangat kesal.
"Apa yang kalian bicarakan?" Suara Bian mengejutkan keduanya seolah baru sadar jika Bian datang.
"Kak Bian sudah kembali?" Tanya Aruna langsung berdiri menghampiri Bian yang menatapnya kesal. Aruna cukup tahu jika mungkin Bian kesal karena melihat dirinya mengobrol dengan Ryan.
"Hanya mengobrol biasa, seperti seorang Papa dan putrinya." Balas Ryan santai.
Bian tersenyum sinis, seolah tak percaya dengan ucapan Ryan, "Apa kau sudah selesai mengurus surat cerainya?"
Ryan tersenyum, sejujurnya Ia tidak ada niat untuk datang karena memang belum selesai mengurus surat perceraian namun saat Ia melewati kantor Bian, Ryan melihat Aruna ikut masuk ke kantor Bian membuat Ryan penasaran dengan apa yang dilakukan Aruna disini apalagi saat melihat wajah lebam Aruna, Ryan ingin tahu apa yang terjadi pada Aruna namun belum sempat menanyakan, Bian sudah datang lebih dulu.
"Aku hanya ingin melaporkan jika suratnya sudah masuk ke pengadilan dan kita tinggal menunggu hasilnya keluar."
"Hanya itu saja dan kau harus kemari?" Bian terlihat tak suka.
"Tentu saja tidak, aku harus menemui Papa mu untuk meminta tanda tangan agar akta cerai bisa segera keluar."
"Kau bisa menelepon atau mengirim pesan, tidak perlu repot datang!"
"Aku lebih suka datang dan bertatap langsung seperti ini, terasa melegakan apalagi ada gadis cantik periang yang sangat bawel seperti Aruna membuatku betah mengobrol dengannya." Ungkap Ryan membuat Amarah Bian muncul namun Bian mencoba menahan diri karena mau bagaimanapun Ia membutuhkan bantuan Ryan saat ini.
"Jika sudah tidak ada yang ingin kau katakan lebih baik kau segera pergi."
Ryan mengangguk, "Aku juga memang sudah harus pergi, jangan lupa mengirim alamat rumahmu."
Bian mengangguk,
"Senang bisa mengobrol denganmu Aruna." Kata Ryan sebelum akhirnya keluar dari ruangan Bian.
Aruna terlihat gugup, apalagi melihat mata Bian merah, menandakan jika Ia sedang marah saat ini.
"Aku hanya mendengarkan cerita tentang dia dan teman temannya sewaktu masih muda, kami tidak melakukan apapun." Jelas Aruna tak ingin Bian salah paham.
Bian mengacuhkan Aruna, Ia duduk dikursinya dan mulai membuka laptopnya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya Kak." Kata Aruna yang lagi lagi tidak mendapatkan respon dari Bian.
"Ck, ya sudah." Aruna tampak menyerah dan kembali memasuki ruangan pribadi Bian.
"Dasar tidak peka, bagaimana bisa dia hanya mengatakan itu, seharusnya dia sedikit merayu atau mungkin mencium agar aku tidak marah lagi tapi malah pergi begitu saja!" Omel Bian menatap pintu ruangan pribadinya yang tertutup.
__ADS_1
"Dan pria tua itu, bisa bisanya dia merayu gadis muda milik ku, seharusnya dia sadar umur dan tidak mengoda wanita muda, huh semua pria memang sama saja kecuali aku." Omel Bian lagi lalu kembali fokus pada laptopnya.
Didalam ruangan, Aruna terlihat kebingungan dengan apa yang harus Ia lakukan. Bian sedang marah dan mungkin tidak akan mudah memaafkannya. Mau berapa kali Aruna menjelaskan, Bian tetap akan salah paham padanya, memang menyebalkan.
"Lagipula tidak ada salahnya jika aku bicara dengan pak Ryan, aku juga tidak akan menyukainya, kenapa dia bisa seposesif itu!" Ucap Aruna terlihat kesal.
Aruna berbaring diranjang, Ia ingin tidur saja namun matanya tidak mau terpejam. Aruna mengambil tas selempangnya, Ia berniat untuk pulang dari pada bosan disini, toh Bian juga masih marah padanya.
"Mau kemana?" Suara Bian terdengar saat Aruna keluar membawa tasnya.
"Pulang!"
Bian berdecak, Ia sudah kesal kini bertambah kesal.
"Masuk!" Perintah Bian saat Aruna memegang ganggang pintu siap untuk keluar.
"Aku bosan kak, lagipula kak Bian sedang marah, untuk apa menemani Kak Bian!"
Bian akhirnya berdiri, berjalan mendekat ke arah Aruna. Tanpa mengatakan apapun lagi, Bian langsung mengendong Aruna membawa Aruna kembali ke ruang pribadinya, tidak peduli Aruna yang memberontak, Bian tetap membawa Aruna.
Bian membawa Aruna ke ranjang, menguncinya dengan kedua tangannya membuat Aruna tidak bisa kemanapun. Bian memandangi Aruna yang berada dibawahnya, Aruna langsung tersipu malu, Ia sangat gugup dengan padangan mata jarak dekat seperti ini.
"Kak jangan seperti ini." Pinta Aruna tak tahan dengan tatapan mata Bian.
Aruna memutar bola matanya malas, "Aku juga tidak mungkin menyukai pak Ryan Kak,"
"Tapi dia bisa saja menyukaimu!"
"Ck, dia sudah tua. Sudah pasti mempunyai istri!" Aruna tak mau kalah.
"Dia bahkan belum menikah."
Aruna melotot tak percaya, "Jadi dia belum menikah sampai sekarang?"
"Kenapa kau terkejut? Mau menikah dengannya huh!"
Aruna berdecak, "Dia bercerita jika menyukai teman kuliahnya tapi temannya itu malah menikah dengan pria lain. Mungkin itu yang membuatnya tidak menikah sampai saat ini."
"Ck, itu hanya bualan dia saja agar kamu kasihan dan mau dengannya."
"Astaga ,kak!" Aruna kesal dan langsung memukul dada Bian membuat Bian meringgis kesakitan.
"Apa sakit kak? Ak aku minta maaf." Ucap Aruna merasa bersalah dan langsung mengelus dada bidang milik Bian.
__ADS_1
"Hentikan atau aku akan memakanmu sekarang!" Gumam Bian yang langsung dituruti Aruna.
"Menyingkirlah Kak!" Pinta Aruna semakin tak nyaman karena jarak keduanya semakin dekat.
Bian tidak menyingkir, malah mendekatkan bibirnya semakin dekat dan cup...
Bibir keduanya menyatu, Aruna yang berada dibawahnya tampak pasrah dengan permainan bibir Bian yang memberikan sensasi aneh ditubuhnya.
Tidak hanya bibir keduanya yang menempel, Bian kini sudah menindih tubuh Aruna.
Ciuman semakin panas, Bian menurunkan bibirnya dan kini sudah berada dileher Aruna membuat Aruna tak tahan dan akhirnya mengeluarkan suara.
Gila, ini sangat gila.
Bian ingin menghentikan kegiatan gila ini sebelum berlanjut lebih yang akan membuat mereka menyesal namun Bian tidak bisa menghentikannya.
Rasanya ingin lebih dari ini.
Sadarlah Bian, sadarlah umpat Bian dari dalam hatinya.
Bian akhirnya sadar, menatap Aruna sejenak dan langsung bangkit dari ranjang, meninggalkan Aruna yang masih terlihat menginginkannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa kak Bian berhenti? Apa aku bau?" Gumam Aruna lalu mengendusi tubuhnya.
"Aku tidak bau!"
Aruna tampak kesal karena Bian meninggalkanya tanpa mengatakan apapun.
Ia kembali mengambil tas selempangnya lalu keluar, melihat Bian sudah kembali fokus pada laptopnya.
"Aku mau pulang saja kak!"
"Hmm." Bian mengangguk tanpa melihat ke arah Aruna.
Aruna melotot tak percaya, Ia benar benar tak suka diperlakukan seperti ini.
Aruna menghentakan kedua kakinya lalu keluar dari ruangan Bian.
Bian mengacak rambutnya, "Bodoh, seharusnya aku bisa menahan diri."
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komennn...
__ADS_1