MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
41


__ADS_3

Bian tidak langsung pulang kerumah  karena masih banyak pekerjaan dikantor, Bian membawa Aruna ke kantornya. Membiarkan Aruna istirahat diruang pribadinya cukup membuat Bian tenang dari pada harus membawa Aruna pulang kerumah dan meninggalkan sendirian.


Bian sudah tidak mempercayai siapapun termasuk David, Papanya.


Setelah mendengar pengakuan Adam, Bian mulai sadar mungkin David membantu Adam untuk menjebak Aruna.


Teringat saat David menjemput Aruna beberapa hari yang lalu yang berakhir Aruna berada diapartemen Adam dalam keadaan pengaruh obat perangsang.


Mencurigakan namun Bian masih belum memiliki bukti jika Papanya terlibat.


"Istirahatlah, disini aman." Kata Bian menyelimuti tubuh Aruna.


"Aku takut dia akan melakukannya lagi padaku kak." Kata Aruna dengan wajah cemas, jelas sekali Aruna merasakan trauma.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi." Kata Bian.


"Tapi baru saja Kak Bian menyentuhku." Canda Aruna.


Bian menggelengkan kepalanya, disaat seperti ini Aruna masih saja bisa bercanda.


"Kecuali aku, hanya aku yang boleh!" Kata Bian menegaskan.


Aruna tersenyum, baru kali ini Aruna mendengar Bian mengucapkan aku. Bahasa yang lebih lembut dari biasanya.


"Lalu bagaimana dengan Papa dan Mama? Apa mereka boleh menyentuhku?" Goda Aruna.


Bian berdecak, "Hanya Mama, jangan membiarkan Papa menyentuhmu."


"Ck, tapi kan dia juga Papa ku!"


"Ngomong ngomong kemarin saat kamu dijemput Papa, bagaimana bisa kamu bersama Adam?" Tanya Bian mulai terpengaruh dengan ucapan Adam yang mengatakan jika Papanya membantu Adam.


"Runa makan siang sama Papa trus nggak sengaja ketemu Adam, jadi Papa minta Runa diantar sama Adam, ee malah diajak ke apartemen." Akui Aruna yang langsung membuat Bian mengepalkan tangannya karena ternyata ucapan Adam memang benar.


Rasanya sangat tidak mungkin jika mereka bertemu secara tidak sengaja direstoran seperti yang Aruna katakan, sudah jelas jika David membantu Adam.


"Istirahatlah, aku harus kembali bekerja." Kata Bian berdiri dan keluar dari kamar pribadinya.


Sementara itu, Sadam benar benar tak menyangka jika dirinya memilih mengejar Keisha dari pada harus kembali ke kantor.


"Kok Lo kesini?" Bisik Keisha takut ibunya mendengar karena mereka sedang berada diruang tamu sementara Ibunya menyetrika didepan televisi.


"Emang nggak boleh kalau gue mampir."


"Nggak boleh." Tegas Keisha.


"Sa, bikinin minum dulu tamunya." Teriak Ibu Keisha yang tadi sempat menyalami Sadam dan mengobrol sebentar sebelum akhirnya Keisha keluar kamar.

__ADS_1


"Udah mau pulang kok Bu." Balas Keisha.


"Lo kok buru buru?" Ibu Keisha berdiri dan menghampiri Sadam.


"Pulang sana!" Usir Keisha membuat Sadam tidak mempunyai pilihan lain.


"Kapan kapan saya mampir lagi Bu." Ucap Sadam sopan.


"Ya sudah hati hati dijalan Nak." Ucap Ibu Keisha menepuk bahu Sadam saat Sadam mencium punggung tangannya.


Keisha mengantar Sadam sampai depan rumah, "Jangan datang lagi!"


"Kenapa?"


"Aku tidak mau Ibuku berharap lebih padamu, aku tidak ingin membuat Ibu kecewa." Ungkap Keisha.


Sadam tersenyum, Ia berjalan mendekati Keisha dan cup...


Satu kecupan mendarat dikening Keisha.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Sadam memasuki mobilnya.


Keisha masih berdiri ditempatnya, Ia sangat terkejut dengan apa yang Sadam lakukan padanya.


Sadam menciumnya, mencium keningnya. Seketika bibir Keisha melengkungkan senyuman.


"Ada apa ini? Kenapa perasaan ku aneh seperti ini" gumam Keisha.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Sadam yang saat ini sedang melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor.


Selama ini Sadam sering bercinta dengan banyak wanita namun entah mengapa bersama Keisha Ia bisa menahan diri padahal biasanya Sadam hanya perlu berkenalan, meniduri dan semua selesai.


Keisha benar benar benar sudah mengubah dunia gelapnya.


"Gimana? Udah beres?" Tanya Bian saat Sadam kembali ke kantor.


"Sudah pak, sudah ada lima penjaga didepan kamar apartemen yang mungkin membuat Adam tidak bisa keluar dari apartemennya.


"Bagus, biarkan dia terkurung disana lebih dulu sebelum terkurung dipenjara." Kata Bian yang langsung diangguki Sadam.


Didepan apartemen Adam sudah ada lima bodyguard berbadan kekar yang berjaga dipintu.


Saat Adam hendak keluar untuk pergi ke klinik, Adam terkejut kala melihat lima pria yang tak Ia kenali berdiri didepan kamarnya.


"Siapa kalian!" Sentak Adam seolah tak takut dengan kelima pria berbadar kekar itu.


"Lo nggak perlu tahu dan nggak perlu banyak omong! Lebih baik Lo masuk sekarang atau mau kami tambah cacat diwajah Lo itu." Kata Salah seorang pria yang membuat Adam langsung ketakutan dan memilih kembali masuk.

__ADS_1


"Sialan, siapa mereka!" Adam terlihat emosi.


Adam mengambil ponselnya lalu mendial nomor David.


Aktif, kali ini nomor David aktif setelah beberapa hari yang lalu tidak aktif saat Adam menghubunginya.


"Om, kemana aja sih!" Sentak Adam saat David sudah menerima panggilan dari Adam.


"Ada apa lagi?"


"Ada apa lagi? Bisa bisanya Om ngomong kayak gitu setelah gagal bantuin aku!" Umpat Adam sangat kesal.


"Om belum bisa pulang, bagaimana bisa bantuin kamu!"


"Nggak mau tahu Om, kalau sampai besok Om belum balik, aku bakal omongin semua ke keluarga Om tentang perselingkuhan yang Om lakukan!" Ancam Adam.


"Jangan berani berani kamu!"


"Aku udah nggak peduli lagi Om, aku udah habis dihajar sama anak Om itu dan sekarang anak Om itu bawa orang buat ngawasin aku jadi aku mau besok Om kembali dan bilang sama Bian biar nggak ngurusin urusan aku dan Aruna lagi!"


"Besok Om masih belum bisa kembali!"


"Oke, jadi Om mau Bian dan Aruna yang jemput Om sama selingkuhan Om?"


"Brengsek kamu Dam!"


"Om bahkan lebih brengsek dari aku." Balas Adam tersenyum puas.


Adam mengakhiri panggilan setelah dirasa cukup berbicara dengan Adam.


"Tinggal nunggu Om David pulang dan bantuin aku buat nyingkirin Bian, ck ternyata semudah ini." Gumam Adam tersenyum lebar namun sedetik kemudian Ia merasakan bibirnya sakit.


"Sialan, hancur sudah wajah tampan gue!" Umpat Adam.


Ditempat lain, David yang baru selesai meeting bersama kliennya terlihat sangat marah setelah mendapatkan telepon dari Adam.


Ya Adam, anak itu selalu mengancamnya dan membuatnya tak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Adam.


"Ck, ada apa dengan Bian, kenapa dia selalu melindungi Aruna padahal saat kecil Bian sangat menbenci Aruna." Gumam David.


"Apa mungkin dugaan ku selama ini benar, Bian menyukai Aruna? Ah tidak jangan sampai ini terjadi. Jika Bian bersama Aruna gagal sudah rencana yang sudah ku rancang selama ini."


"Aku harus segera kembali dan bertemu Bian, ya harus segera!"


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa

__ADS_1


__ADS_2