
Teriakan keras Mia masih terdengar meskipun Mia sudah dibawa keluar. Anneta menatap ke arah Bian,
"Apa kita tidak terlalu kejam padanya?" Tanya Anneta pada Bian.
"Tentu saja tidak Ma, dia pantas mendapatkan itu."
"Bagaimana jika Papamu mencarinya? Seharusnya berikan saja uangnya dan biarkan dia pergi." Kata Anneta membuat Mbok Inem, Aruna dan Bian langsung menghela nafas panjang, tak menyangka Anneta masih sebaik itu padahal sudah disakiti.
"Jika kita tidak membuatnya jera, mungkin dia juga akan merusak rumah tangga orang lain lagi, apa Mama tidak kasihan dengan para istri diluar sana jika bernasib seperti Mama karena ulah ****** itu?"
Anneta akhirnya mengangguk, sepertinya ucapan Bian memang benar, gadis ular seperti Mia memang harus diberi pelajaran.
"Sudahlah Ma, aku ingin bersiap karena Sadam akan menikah hari ini jadi mungkin aku akan menemaninya seharian. Semua pembawa masalah dirumah ini sudah tidak ada jadi rumah ini aman." Kata Bian merangkul Aruna dan mengajaknya naik ke atas.
"Memang kemana Papamu?" Tanya Anneta melihat tidak ada David disana.
"Aku tidak tahu Ma, mungkin dia sedang bersenang senang dengan gadis lain." Balas Bian lalu naik ke atas bersama Aruna.
Dikantor polisi, Mia masih protes tak terima saat penyidik menayakan beberapa pertanyaan padanya.
"Aku tidak melakukan apapun pak, aku ini dijebak." Ucap Mia dengan wajah memelas berharap para polisi merasa kasihan dan melepaskannya.
"Jika dijebak, apa kau bisa memberikan penjelasan tentang rekaman cctv ini? Jelas jelas kau yang membawa pisau dan mengarahkan kepada wanita tua ini." Ucap Polisi itu yang sudah menerima rekaman cctv dari Mang Asep.
"Itu tidak seperti yang terlihat pak, aku benar benar dijebak!"
"Rekaman cctv ini sudah bisa menjadi bukti jika kau mengancam wanita tua itu, kau sudah bisa menjadi tersangka hari ini."
Mia menggelengkan kepalanya, "Tidak pak polisi, jangan lakukan itu. Aku tidak mau dipenjara."
"Apa kita bisa bekerjasama?" tanya Mia sedikitĀ berbisik pada polisi itu.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan melayanimu semalaman hingga kau puas tapi kau harus melepaskan ku." Tawar Mia pada polisi itu.
Polisi itu tertawa, "Apa kau masih perawan?" Tanya polisi itu yang langsung membuat Mia diam tidak bisa menjawab.
"Oh maafkan aku Nona, aku tidak terbiasa tidur dengan wanita murahan sepertimu jadi sebaiknya kau terima saja proses hukumnya dan jangan banyak protes lagi."
Mia tampak berdiri, Ia masih saja tak terima, "Tidak Pak, aku tidak mau dipenjara."
Mia hendak lari namun dua orang polisi lainnya langsung menangkapnya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau dipenjara, aku bukan penjahat!" Teriak Mia memberontak namun sayang tenaga dua polisi itu lebih kuat dan langsung memasukannya ke bui.
"Sialan, aku pasti akan membalas mereka!" Ucap Mia penuh dendam.
Sementara itu, disebuah masjid terlihat banyak orang berdatangan, mereka adalah sanak saudara Sadam dan Keisha yang ingin menjadi saksi ijab dan kabul dipernikahan Keduanya.
Bian dan Aruna pun tampak hadir disana. Aruna mengenakan dress muslim dengan hijab simple yang menghiasi kepala membuatnya terlihat sangat cantik. Mata Bian tak berkedip berkali kali memandangi Aruna karena pertama kalinya Ia melihat Aruna mengenakan hijab.
"Kak mempelainya disebelah sana, kenapa ngeliatnya kesini terus?" Bisik Aruna sambil menunjuk ke arah Sadam dan Keisha.
"Ck, lebih seneng yang ke arah sini, adem banget dilihatnya."
Aruna berdecak, saat ini Ia menyembunyikan rasa gugup dan malu karena sedari tadi dipandangi oleh Bian.
"Kak ada cewek cantik tuh." Bohong Aruna agar Bian berhenti memperhatikannya.
"Emang ada yang lebih cantik dari kamu? Enggak ada."
Seketika pipi Aruna merona, memerah malu.
"Ck, ngeselin." Omel Aruna membuat Bian tertawa geli.
Acara ijab dan kabul selesai, Bian dan Aruna dibawa kerumah Keisha yang tak jauh dari sana.
Keduanya kini sedang makan siang bersama keluarga. Ayah Keisha juga tampak hadir bersama istri dan anak barunya.
"Aku sudah menjadi wali dipernikahanmu, jangan lupa untuk menberikan sertifikat rumah dan uang sepuluh juta!"
Keisha hanya mengangguk, saat ini Ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan Ayahnya meskipun sebenarnya dirinya tidak ingin memberikan sertifikat itu.
"Maaf ibu..." ucap Keisha pada Ibunya.
Asih tersenyum, "Tidak apa, berikan saja apapun yang dia mau."
Sadam sempat mendengar obrolan ketiganya, Ia segera mendekat, "Setelah ini kita akan pindah kerumahku Bu, Ibu bisa menikmati masa tua ibu disana dan tidak perlu bekerja lagi, aku yang akan menanggung segala kebutuhan ibu dan Keisha." Ucap Sadam membuat mata ayah Keisha melotot tak terima.
"Hanya ibunya saja? Lalu bagaimana dengan Ayahnya?" Protesnya.
"Bukankah Ayah sudah meminta sertifikat tanah dan uang?"
"Aku ingin satu lagi, berikan aku satu lagi."
"Apa lagi Ayah? Jangan macam macam!" Sentak Keisha kesabarannya mulai habis.
__ADS_1
"Mobil, ya aku ingin mobil. Berikan aku mobil."
"Ayah gila? Bagaimana bisa Ay-" belum sempat melanjutkan ucapnnya, tangan Sadam mengenggam tangan Keisha, meminta Keisha berhenti.
"Lalu jika aku tidak mau memberikan?"
"Aku akan menghancurkan pernikahan kalian, apa kalian tahu aku ini ketua preman, aku bisa meminta para premanku untuk menghancurkan pernikahan kalian!" Ancam Ayah Keisha.
"Ayah Gila!"
"Jangan Gila mas!" Asih yang sedari tadi hanya diam kini terdengar protes tak terima dengan ancaman suaminya yang sampai saat ini belum menceraikannya itu padahal dia sudah menikah lagi.
Ayah Keisha tertawa puas karena berhasil membuat takut Keisha dan Asih.
"Terserah kalian, belikan aku mobil atau akan ku hancurkan pernikahan kalian!"
Sadam mengangguk, "Baiklah, akan ku belikan mobil untuk Ayah, jika memang sudah tidak ada lagi sebaiknya Ayah pergi saja."
"Aku akan memikirkan apa lagi yang ku inginkan jadi sebaiknya kau siapkan uang yang banyak untuk ku!" Kata Ayah Keisha lalu keluar dari kamar Keisha.
Asih terlihat meneteskan air mata, "Maafkan dia nak sudah membuatmu repot seperti ini." Ucap Asih pada Sadam merasa tak enak dengan menantunya itu.
Sadam tersenyum, "Tidak masalah Bu, Ayah biar saya yang mengurusnya, Ibu tenang saja."
Asih mengangguk dan segera keluar, membiarkan Sadam dan Keisha berdua dikamar.
"Mana wajah cantik istriku?" Goda Sadam melihat Keisha cemberut sedih.
"Ma maaf, karena aku memiliki ayah seperti itu." Ucap Keisha menundukan kepalanya.
Sadam tersenyum, Ia merangkul Keisha, "Tidak masalah, selama aku bisa memberikan, akan ku berikan apapun."
"Tapi bukankah seharusnya-"
"Ssssttttt..." Sadam menempelkan jarinya dibibir Keisha, meminta Keisha diam.
Sadam memajukan bibirnya, hendak mencium Keisha namun keduanya dikejutkan oleh suara Asih yang kembali,
"Masih ada tamu dilu- eh maaf ibu tidak tahu. Lanjutkan saja." Ucap Asih tak sengaja melihat apa yang seharusnya tidak Ia lihat.
Asih kembali menutup pintu sementara Sadam dan Keisha tampak gugup dan malu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeenn