
Sekuat tenaga Aruna mengeser tubuhnya agar Ia tidak terlihat oleh David yang masih berpelukan dengan wanita itu.
Awalnya Aruna tidak ingin mempercayai apa yang Ia lihat, Ia pikir wanita itu adalah sahabat atau mungkin masih saudara namun setelah Aruna mendengar percakapan mereka, Ia semakin yakin jika wanita itu mungkin spesial untuk David, mengingat ucapan Nysa saat dikantin, wanita muda yang check in dihotel bersama Papanya.
"Aku merindukanmu." Ucap wanita itu membuat David mengangkat jemarinya lalu meletakan di bibir agar wanita itu diam.
"Jangan disini, ayo ikut aku." Bisik David melihat ke segala arah lalu mengandeng tangan wanita muda itu, membawanya pergi.
Dengan hati hancur dan menahan tangis, diam diam Aruna mengikuti David menuju gudang kosong belakang klinik.
David tampak berusaha membuka pintu gudang namun gagal karena terkunci.
Aruna mengintip keduanya dari balik dinding tak jauh dari sana.
Aruna melihat wanita muda itu memeluk papanya dari belakang.
"Jangan disini." Ucap David kala Mia mengodanya.
"Tidak apa apa, lagipula tidak ada orang." Balas Mia semakin brutal mengoda David.
David tidak tahan, Ia menyeret satu kursi yang ada disana dan membawa Mia duduk ke pangkuannya.
"Gadis nakal." Ucap David lalu mencium bibir Mia.
Melihat pemandangan seperti itu membuat Aruna tak kuasa menahan tangis. Aruna membegap mulutnya agar tangisnya tidak bersuara.
Sungguh tak menyangka, pria yang selama ini Aruna hormati dan sayangi tidak malu berbuat bejat ditempat seperti ini apalagi seharusnya David merasa sedih karena kehilangan calon bayinya tapi kenyataanya, disaat Mamanya masih sedih dan shock, Papanya justru bersenang senang dengan wanita lain.
Aruna segera pergi dari sana, rasanya Ia sudah tak tahan lagi melihat pemandangan mengerikan ini. Aruna seperti sedang menonton blue film yang dimainkan oleh Papanya sendiri namun bukan dengan Mamanya melainkan wanita lain.
Aruna sudah melihat jelas wanita itu dan Aruna akan mengingat wajah wanita itu. Aruna berjanji jika sewaktu waktu bertemu dengan wanita itu, Ia ingin menjambak habis rambut wanita yang sudah merusak keharmonisan keluarganya.
Aruna mencuci wajahnya, Ia ingin memastikan jika dirinya tidak terlihat seperti habis menangis agar Mamanya tidak curiga.
Aruna memasuki ruang rawat Anneta dimana Anneta tengah terlelap saat ini. Aruna memandangi wajah lemah Mama Anneta yang membuatnya ingin kembali menangis.
Sungguh Ia masih tak menyangka, Papanya tega mengkhianati Mamanya. Dibalik sikap romantis dan lembut sang Papa ternyata menyimpan kejahatan yang luar biasa.
"Bagaimana jika mama sampai tahu? Aku benar benar tak ingin Mama tahu." Batin Aruna.
Cukup lama Aruna berdiri didepan ranjang sang Mama hingga akhirnya Anneta sadar dan terkejut melihat keberadaan Aruna.
__ADS_1
"Mama..." Aruna memaksakan senyum.
"Runa bawain bunga mawar putih kesukaan Mama." Ucap Aruna membuat Anneta tersenyum.
"Terimakasih sayang." Anneta menerima bunga mawar pemberian Aruna. Sedetik kemudian Anneta tampak celinggukan.
"Dimana Papamu?"
Aruna langsung saja gugup, "Eum, papa sedang mencari makan diluar jadi memintaku menemani Mama sebentar." Bohong Aruna.
"Bukankah tadi sudah makan, apa sudah lapar lagi?" Gumam Anneta.
Pintu terbuka mengejutkan keduanya, tampak David memasuki ruangan Anneta. Aruna melihat David sangat gugup.
"Apa kamu sudah lapar lagi mas?" Tanya Anneta yang langsung membuat David bingung, tak mengerti maksud Anneta.
"Tadi aku mengatakan pada Mama kalau Papa keluar untuk makan lagi." Kata Aruna yang langsung membuat David mengerti.
David menganggukan kepalanya, "Tiba tiba aku merasa lapar lagi jadi aku pergi ke warung makan yang ada didepan klinik." Bohong David sambil menatap ke arah Aruna penuh tanya, mungkinkah Aruan mengetahui dirinya bertemu dengan Mia? Batin David.
Anneta terlihat percaya dan tidak membahas masalah itu lagi, "Lihat aku mendapatkan mawar putih dari Aruna. Cantik sekali kan?" Pamer Anneta memperlihatkan bucket mawar putih pemberian Aruna.
Perlakuan manis David mungkin akan membuat semua orang tak menyangka jika David ternyata berselingkuh dari Anneta.
Selama berada diruang rawat mamanya, Aruna sama sekali tidak bicara dengan David, Ia hanya mengangguk dan menggeleng saat David menanyakan sesuatu padanya.
"Aruna tidak pulang?" Tanya Anneta pada Aruna saat sore hari.
"Nanti Ma, mau bareng Kak Bian yang katanya mau mampir dulu kesini."
"Runa kamu jangan terlalu deket sama Kakakmu itu, kalian ini cewek sama cowok nggak baik kalau terlalu deket." Celetuk David yang entah mengapa membuat Aruna kesal mendengarnya.
Aruna hanya menganggukan kepalanya, tidak menjawab ataupun protes dengan ucapan Papanya itu.
"Biarin aja lah mas, justru harusnya kita seneng ngeliat mereka akur." Kata Anneta pada David.
"Ck, aku merasa deketnya mereka itu nggak wajar jadi nggak bisa dibiarkan, ingat Neta kalau Aruna itu-" ucapan David terhenti kala Anneta mencubit tangan David dan memberikan lirikan pada David.
"Aruna kenapa Pa?" Tanya Aruna dengan wajah datar karena David tak melanjutkan ucapannya.
"Maksud Papa, kamu kan anak gadis satu satunya ya jangan terlalu deket sama Kakak kamu yang cowok." Kata David terdengar gugup.
__ADS_1
"Oh kirain aku bukan anak Papa sama Mama jadi nggak boleh terlalu deket sama Kak Bian." Celetuk Aruna yang membuat David dan Anneta terkejut.
"Ngomong apa sih kamu sayang, sudah jelas kamu itu putri kami, jangan mikir aneh aneh." Ucap Anneta terdengar gugup.
Aruna tersenyum dan menganggukan kepalanya, dalam hatinya Ia merasa sedih karena kedua orangtuanya tidak segera jujur tentang status yang sebenarnya padahal Aruna sudah dewasa, sudah waktunya Aruna mengerti segalanya.
Pintu kembali terbuka, kali ini Bian yang datang.
"Gimana keadaan Mama?" Tanya Bian yang langsung menghampiri Anneta dan mencium punggung tangan Anneta.
"Sudah lebih baik, Mama cuma butuh istirahat dulu beberapa hari disini."
"Bian bawain mama coklat biar mood Mama bagus terus." Kata Bian memperlihatkan paper bag dengan merek coklat terkenal yang disukai kaum hawa.
"Makasih sayang, nanti pasti Mama habiskan."
Bian tersenyum, Ia melihat Aruna yang acuh dan memainkan ponselnya sementara Papanya yang duduk didekat Mama tampak memperhatikannya namun Bian langsung acuh.
"Pulang sekarang Run?"
Aruna langsung menganggukan kepalanya, karena jujur Aruna sudah muak berada disini mendengar ucapan manis Papanya yang nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Bian pulang dulu ya Ma." Pamit Bian kembali mencium punggung tangan Anneta.
"Hati hati Bi, jagain adek kamu." Pesan Mama yang langsung diangguki Bian.
Aruna dan Bian segera keluar dari ruang rawat Anneta.
"Mereka terlihat mengkhawatirkan." Ucap David saat Aruna dan Bian sudah keluar.
"Mengkhawatirkan bagaimana mas?"
"Lihat saja mereka, kedekatan mereka sangat tidak wajar, aku takut mereka mempunyai hubungan spesial."
Anneta tersenyum, "Tidak masalah kan mas, kita malah tidak harus pusing memikirkan siapa yang pantas mendampingi putra kita kelak. Aruna juga tumbuh menjadi gadis yang baik."
Berbanding balik, David terlihat tidak suka dengan ucapan Anneta, "Tidak, aku tidak setuju jika Bian bersama Aruna!"
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komenn
__ADS_1