MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
69


__ADS_3

Aruna memeganggi pipinya, Ia menatap David dengan tatapan tak percaya. David tega menamparnya hanya karena wanita ular ini.


Mia tersenyum mengejek ke arah Aruna yang saat ini menahan tangis.


"Ini milik Mama Pa!" Ucap Aruna.


"Tidak ada milik siapapun, semua berhak memakai apapun yang ada disini." Ucap David.


"Pakai saja milik ku, dia bebas memakai apapun yang aku punya asal jangan punya Mama!" Kali pertamanya Aruna berani melawan sang Papa.


"Aku tidak mau, barang barangmu jelek, aku hanya ingin memakai ini." Kata Mia dengan suara manja membuat Aruna ingin merobek robek mulutnya saat ini juga.


"Mama mencari semua barang ini dengan kerja kerasnya sendiri, Papa bahkan tidak pernah membelikan Mama apapun jadi tidak ada yang berhak menyentuh barang milik Mama!"


"Diam! Kau tidak tahu apapun Aruna jadi lebih baik kau diam!" Ucap David sambil menunjuk wajah Aruna menggunakan jarinya.


Aruna tidak peduli, Ia tetap berusaha menarik tas yang Mia bawa hingga akhirnya David mendorong tubuh Aruna membuat Aruna jatuh dan kepalanya terbentur meja.


"Pergilah." Kata David mengecup kening Mia.


Mia sempat menatap Aruna dengan senyuman mengejek lalu berjalan keluar dari rumah sementara David hanya menatap acuh Aruna yang kesakitan dan meninggalkan nya begitu saja.


"Non Runa!" Mbok Inem terlihat histeris saat keluar kamar dan melihat Aruan terjatuh dilantai.


Pelipis Aruna lecet dan pipi kiri Aruna sedikit memerah karena tamparan keras David.


Mbok Inem segera membantu Aruna berjalan ke kamar.


"Papa bener bener udah bukan manusia lagi Mbok." Ucap Aruna yang kini menangis dikamar, tak tahan menahan sakit hati juga sakit fisik yang Ia rasakan.


Mbok Inem menatap Aruna prihatin, Ia segera mengambil kotak obat untuk luka di pelipis Aruna.


"Barang barang Mama dipakai sama pacarnya Papa, jelas aku nggak terima karena Mama cari semua itu dengan kerja kerasnya sendiri bahkan Mama rela pergi keluar negeri cuma demi dapetin semua barang itu tanpa uang Papa sepeserpun. Runa tahu itu mbok, Runa tahu tapi kenapa Papa ngebiarin cewek itu ngambil semuanya."


"Kenapa nggak cukup Papa aja yang dia ambil, kenapa harus barang barang Mama?" Tangis Aruna semakin pecah.


Mbok Inem hanya bisa mengelus punggung Aruna lalu berkata, "Sabar ya Non, Tuan memang sedang dibutakan oleh wanita ular itu."


Aruna mulai menghentikan tangisnya, "Jangan bilang Mama sama Kak Bian ya mbok, Runa nggak mau ada keributan lagi." Pinta Aruna yang langsung diangguki Mbok Inem.


Jika sampai Bian tahu semuanya mungkin Bian akan langsung mengamuk.


Sementara itu dikantor, Bian tampak sedikit pusing dengan banyaknya urusan yang harus Ia kerjakan. Tidak hanya pekerjaan kantor namun bercabang dengan masalah dikeluarganya.

__ADS_1


Masalah dengan Rico sudah selesai, Ia hanya tinggal menunggu waktu untuk membuat David dan Mia menyesal dengan segala perbuatan mereka.


Siang ini Bian ingin menemui pengacara yang akan mengurus perceraian orangtuanya.


Anak lain mungkin akan mati matian mempertahankan rumah tangga orangtuanya namun tidak dengan Bian. Justru sudah lama sekali Bian menginginkan perceraian orangtuanya karena Bian sudah muak dengan segala tingkah Papanya.


"Dia baru saja pulang dari luar negeri, diluar negeri menjadi lawyer hebat yang menanggani beberapa kasus besar." Ungkap Sadam saat Bian meminta rekomendasi pengacara untuk mengurus perceraian orangtuanya.


"Ya, aku setuju. Hubungi dia."


"Baik pak."


Sadam segera keluar dari ruangan, Bian segera menyandarkan kepalanya di kursi, Ia juga mengendurkan dasinya. Hari masing siang namun Ia merasakan lelah luar biasa.


"Aku lupa harus menjemput Aruna." Bian mengambil ponselnya, Ia mengecek ponselnya dan ternyata ada pesan dari Aruna.


Aku sudah pulang naik taksi, kakak lanjutkan bekerja jangan pikirkan aku.


Bian berdecak, "Bisa bisanya dia tidak menungguku."


Menjemput Aruna menjadi alasan Bian bertemu dengan Aruna, sekedar melepaskan penat juga rindu.


Sadam kembali masuk keruangan Bian, "Pak, lawyernya ingin bertemu kita nanti sore."


Bian tersenyum senang, "Semakin cepat semakin bagus!"


Ponsel Bian berdering, Bian pikir dari Aruna namun ternyata Bian salah, bukan dari Aruna.


"Bos, dia keluar dari rumah." Ucap seseorang dari telepon.


"Ikuti kemana dia pergi."


"Baik bos dan satu lagi, dia pergi memakai barang Nyonya."


Seketika Bian mengepalkan tangannya, gadis tak tahu malu, bisa bisanya dia memakai barang milik Mamanya.


Bian memang sengaja menyewa orang untuk mengikuti Mia karena Bian ingin tahu gerak gerik Mia.


"Ikuti terus dan beri sedikit pelajaran untuknya karena berani memakai barang barang Mama!."


"Baik bos."


Boy nama orang yang disewa Bian untuk mengikuti Mia tampak memasukan ponselnya di kantong, Ia kembali memakai kaca mata hitamnya dan mulai mengikuti Mia.

__ADS_1


Tidak ada yang aneh, Mia hanya pergi ke mall melihat barang barang yang ada di mall lalu kembali berjalan jalan mengelilingi mall.


"Aku lelah, aku haus." Gumam Mia yang duduk disalah satu kursi tunggu.


Mia hendak membeli boba namun uang cashnya habis jadi Ia memakai credit card pemberian David.


"Maaf Nona, credit card ini tidak bisa digunakan."


Mia tentu saja terkejut dengan ucapan pelayan boba itu, "Tidak mungkin, coba saja lagi."


"Masih tidak bisa Nona." Ucap Pelayan boba itu lalu mengembalikan kartu kredit milik Mia.


"Sial, bagaimana aku harus membayar." Batin Mia terlihat malu karena dibelakangnya sudah banyak orang yang mengantri ingin membeli boba.


"Totalnya tujuh puluh ribu Nona." Kata pelayan itu lagi.


"Ak aku tidak bisa membayar karena uang cash ku habis jadi bisakah ku kembalikan saja boba ini?" Tanya Mia menundukan malu.


"Maaf, tidak bisa dikembalikan jadi bayar saja sekarang." Ucap pelayan itu mulai kesal dengan Mia.


"Ta tapi-"


"Hey nona, lihatlah barang barang yang kau pakai sangat mahal bagaimana bisa kau tidak membayar boba ini." Kata wanita paruh baya yang mengantri dibelakangnya.


"Jika kau tidak bisa membayar boba ini lebih baik kau jual saja tas limited editionmu itu!" Kata wanita yang lain.


Mia terdiam sejenak, Ia melihat tas milik Anneta lalu tersenyum, "Jadi apa kau mau membelinya?"


"Ku bayar sepuluh juta." Kata wanita itu.


"Baik, berikan uangmu sekarang." Kata Mia dengan bodohnya.


Wanita itu tersenyum dan segera memberikan uang sepuluh juta pada Mia.


"Bodoh sekali, tas itu harganya hampir satu miliar dan dia hanya menjualnya sepuluh juta saja." Bisik wanita lainnya yang membuat Mia terkejut tak menyangka jika harga tasnya sangat mahal.


"Sialan, tapi tidak apalah yang penting aku bisa membayar boba ini." Batin Mia.


Mia segera keluar dari mall dengan membawa uang hasil penjualan tas. Ia juga membeli tas baru untuk menyimpan uang dan ponselnya.


Mia sedang dihalte menunggu taksi sendirian dan Ia terkejut kala sebuah sepeda motor berhenti didepannya lalu pria yang membonceng dibelakang turun langsung merebut tasnya dan kembali menaiki motor.


Sontak Mia langsung berteriak, "Jambret... tolong tas ku dijambret." Teriak Mia berlari mengejar pengendara motor yang mengambil tasnya itu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2