
Bian masih menatap Ryan risih, Ia tidak merasa dekat dengan Ryan tapi Ryan berani memeluknya seperti itu. Tidak hanya membuat tubuh Bian sakit namun juga membuat Bian kesal karena Ryan berani menyentuhnya.
"Dasar orangtua tidak waras." ucap Bian saat Ryan sudah melepaskan pelukannya.
"Apa salahku sayang? Apa aku tidak boleh memeluk putraku sendiri?" Adu Ryan pada Anneta yang hanya tersenyum geli melihat keisengan Ryan pada Bian.
"Putraku? Kau tidak akan pernah memanggil ku seperti itu karena aku berubah pikiran, aku tidak akan membiarkan Mama menikah denganmu!" ucap Bian menatap Ryan kesal.
"Hey nak, jangan seperti itu padaku, jika kau tidak membiarkan aku menikah dengan kekasihku, aku pun juga tidak akan membiarkan kamu menikahi Aruna." ucap Ryan kini giliran Aruna yang tersenyum geli.
"Sudah sudah jangan membuat putramu kesal." celetuk Anneta.
Bian melotot menatap ke arah Anneta, "Apa maksud Mama mengatakan aku putranya?"
"Karena kau memang putraku." ungkap Ryan membuat Aruna dan Bian terkejut.
Anneta akhirnya menjelaskan semuanya pada Bian tentang Papa Bian yang sebenarnya.
"Pria itu benar benar brengsek!" umpat Bian mengingat David.
"Sudahlah Nak, jangan pikirkan lagi yang penting sekarang kita bisa bersama sama." kata Ryan sambil mengelus tangan Bian.
"Berhenti menyentuku dan jangan bersikap kita ini dekat, lagipula siapa yang mau memiliki Papa sepertimu!" ucap Bian.
"Lalu kau ingin memiliki Papa seperti David?" balas Ryan santai membuat Bian berdecak kesal.
"Sudah sudah berhenti berdebat," lerai Anneta yang akhirnya membuat Bian dan Ryan sama sama diam.
"Mama dan Paman pulang istirahat saja biar Aruna yang menemani Kak Bian."
"Tidak, Mama masih ingin disini."
"Sama, Papa eh Aku juga mau menemani putraku disini." balas Ryan sambil tersenyum tengil.
"Apa kamu mau pulang dulu Aruna?" tanya Mama yang langsung diangguki oleh Aruna.
"Mau ngambil baju ganti buat Kak Bian."
"Ck, biar diambilin sama Mang Torik, kamu tetap disini." pinta Bian.
"Tidak, biar Aruna saja, aku yang akan mengantar Aruna." kata Ryan membuat Bian melotot tak terima.
"Apa yang akan kau lakukan pada Aruna ku!"
Ryan tertawa, "Aku hanya mengantarnya, tidak mungkin aku menggoda calon istri dari putraku sendiri lagipula calon istriku juga tak kalah cantik."
__ADS_1
"Dasar menyebalkan!" ucap Bian mendengus sebal.
"Kau terlalu posesif nak." ucap Ryan.
"Bukan urusanmu!"
"Sudah sudah, sana antar Aruna saja jangan mengajak putramu berdebat lagi." omel Anneta yang akhirnya dituruti oleh Ryan.
Ryan dan Aruna sudah berada di mobil, keduanya hanya diam saja padahal sebelumnya mereka sangat akrab.
"Kau juga boleh memanggil ku Papa mulai sekarang." kata Ryan seolah tahu apa yang Aruna rasakan saat ini.
"Apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Aruna.
"Tidak, aku mengatakan ini karena sebentar lagi aku akan menjadi Papa mertuamu, apa aku salah?"
Aruna tertunduk malu merasa sudah salah paham,
"Kenapa lewat sini?" tanya Aruna saat Ryan membelokan mobilnya ke kanan padahal seharusnya belok kiri.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Aruna mengangguk, menurut saja karena Ia merasa yakin Ryan tidak akan mungkin melakukan hal jahat padanya.
Tiga puluh menit perjalanan, mobil Ryan berhenti disebuah pemakaman umum.
"Kau sudah bisa menebaknya? sayang sekali."
Aruna mengikuti langkah kaki Ryan memasuki area pemakaman hingga langkah keduanya terhenti di dua batu nisan yang berdampingan bernama Rega dan Amina.
Tangis Aruna pecah saat menatap dua batu nisan bertuliskan nama orangtua kandungnya yang selama ini Ia cari dan selalu Bertanya tanya kenapa orangtuanya tega meninggalkannya dan inilah alasannya.
"Rega... Amina... Aku datang kesini, tidak sendirian. Aku datang bersama putri cantikmu." ucap Ryan membuat tangis Aruna semakin pecah.
"Sebentar lagi dia akan menikah dengan pria pilihannya yang sangat dia cintai dan aku pastikan pria itu juga yang akan mencintai juga menjaga Aruna disepanjang hidupnya."
"Semua masalah sudah selesai, orang yang menyakiti kalian berdua bahkan sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, kalian bisa tenang sekarang." ucap Ryan lalu menepuk bahu Aruna.
"Ucapkan apapun yang ingin kau katakan pada mereka selama ini." pinta Ryan pada Aruna namun Aruna memilih menggelengkan kepalanya,
"Tidak paman, rasanya aku malu berada disini. Selama ini aku selalu menganggap mereka sudah jahat karena telah membuangku namun ternyata aku salah, pikiran ku yang sudah jahat selama ini." ungkap Aruna sambil menangis.
"Apapun yang kau pikirkan tentang mereka karena ketidaktahuanmu jadi jangan menyesali apapun Aruna, kau sudah melakukan yang terbaik selama ini."
Aruna menangis, Ia masih belum sanggup mengatakan apapun. Aruna hanya mencium batu nisan kedua orangtuanya sebelum Ia keluar dari area pemakaman.
__ADS_1
"Apa kau sudah merasa lega sekarang?" tanya Ryan melihat Aruna sudah tak menangis lagi saat keduanya sudah berada didalam mobil.
Aruna menggelengkan kepalanya pelan, "Terimakasih paman karena sudah membawaku kesini."
Ryan tersenyum, "Jangan memanggilku paman, panggil saja aku Papa."
"Ta tapi..."
"Sekalipun kau bukan calon istri Bian, aku akan tetap menganggapmu putriku." ucap Ryan lagi.
Aruna tersenyum, "Terimakasih Paman eh Papa." ucap Aruna tersipu malu.
"Kapanpun kau membutuhkan bantuan katakan saja padaku, aku akan bersedia membantu asal jangan meminta aku untuk menaklukan Bian karena aku saja masih belum bisa." kata Ryan lalu tertawa.
Aruna terdiam sejenak, Ia merasa tertarik dengan tawaran yang Ryan berikan, "Aku ingin Papa membantuku sesuatu."
Ryan terlihat senang, "Katakan apa yang bisa ku bantu? Aku akan mengusahakannya."
Aruna tertunduk, "Sebenarnya...."
Ryan tersenyum lalu mengangguk, "Masalah mudah itu, aku akan membantumu." ucap Ryan membuat Aruna merasa lega.
Sementara itu, setelah pulang dari kantor polisi Mbok Inem mengurung diri dikamar, Ia hanya keluar sebentar untuk menemui Bian lalu kembali lagi ke kamar.
Mbok Inem meratapi foto Satria sambil sesekali menangis sedih karena Ia tidak bisa membuat Satria bebas dari hukuman.
Mbok Inem mendengar pintu diketuk, Ia akhirnya keluar untuk melihat siapa yang datang dan ternyata Mang Torik.
"jika kau datang atas suruhan orang orang jahat itu kau pergi saja, aku tidak menerima apapun lagi dari mereka!" tegas Mbok Inem.
"Tidak, aku datang atas keinginan ku sendiri."
Mbok Inem menatap mata Torik dan tidak ada kebohongan dimatanya.
"Masuklah." Mbok Inem mempersilahkan Mang Torik masuk.
Mang Torik sudah duduk disofa lusuh milik Mbok Inem, "Kau baik baik saja?"
"Bagaimana kau bisa menanyakan itu sementara keadaan ku sangat hancur saat ini, putraku harus dipenjara karena kekerasan hati Bian." ungkap Mbok Inem.
Mang Torik menghela nafas panjang, "Jika Aruna itu putrimu apa kau juga bisa memaafkan orang yang sudah melecehkannya?"
Mbok Inem terdiam,
"Bayangkan saja jika berada di posisi Den Bian, apa kau bisa memaafkan Satria?"
__ADS_1
Mbok Inem tertunduk, "Tentu saja Tidak." ucapnya dengan suara lemah.
Bersambung...