MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
144


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, setelah kejadian penembakan di acara resepsi hingga membuat kaki Bian pincang namun sekarang Bian sudah kembali normal dan kakinya sembuh.


Tidak terasa sudah dua bulan masa pernikahan Bian dan Aruna, sudah banyak hal yang terjadi dan kini Bian merasa keadaan sudah aman, perusahaanya bahkan sudah membaik, investor yang sempat pergi kini sudah kembali berdatangan, Ia tidak perlu lagi bekerja hingga larut seperti dulu.


Sekarang fokus Aruna dan Bian adalah membuatkan cucu untuk Anneta dan Ryan.


Dan pagi ini, Aruna bangun lebih awal. Menuju kamar mandi dengan membawa tespack yang baru Ia beli kemarin.


Dengan jantung berdegup kencang, Aruna melihat ke arah tespack dan Ia tersenyum lebar kala melihat tespack berubah garis dua.


Aruna segera keluar dan melihat Bian sudah bangun, "Apa yang terjadi? Kenapa kau tersenyum?"


"Aku ingin memberimu sesuatu."


"Apa itu?"


Aruna memberikan tespack pada Bian yang langsung membuat Bian memeluk Aruna.


"Apa ini benar?"


Aruna mengangguk,


"Kita harus periksa ke dokter sekarang!" ajak Bian langsung berlari ke kamar mandi untuk bersiap.


Aruna dan Bian turun setelah selesai bersiap, "Lho Tuan dan Nona mau kemana?"


Aruna menatap ke arah Mbok Siti yang sempat Ia curigai itu hingga membuatnya meminta Ryan untuk menyelidiki Mbok Siti namun tidak apapun yang harus dicurigai oleh Mbok Siti karena memang sikap Mbok Siti berlebihan seperti itu hanya karena ingin mengambil hati Tuan dan Nonanya. Kini Aruna merasa lega karena Mbok Siti bukan orang jahat.


"Mau periksa ke dokter Mbok,"


"Nona sakit?"


Aruna menggeleng, hanya tersenyum dan segera pergi membuat Mbok Siti kebingungan.


...****************...


"Selamat atas kehamilannya," kata dokter yang memeriksa Aruna.


"Usia kandungannya sudah dua minggu, setelah ini mungkin akan merasa mual dan pusing di pagi hari, namun tidak apa apa karena hal yang biasa dialami oleh para Ibu hamil." ucap dokter itu.


"Kalau hamil apa masih boleh melakukan itu dok?" tanya Bian.


"Tentu saja tidak boleh!"


Bian terkejut dan langsung lemas,


Dokter itu pun langsung tertawa, "Tidak boleh terlalu sering, cukup tiga kali satu minggu."


"Yesss." Bian segera bersorak membuat Aruna dan dokternya menggelengkan kepalanya.


Aruna dan Bian tidak pulang kerumah, Ia mampir ke rumah Anneta lebih dulu.


"Kenapa tidak bilang kalau mau datang,"


"Kenapa kalian malah tersenyum?" heran Ryan menatap ke arah Bian dan Aruna yang hanya mengulas senyum sedari tadi.


"Kami datang membawa kabar bahagia."

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Anneta.


Bian menyodorkan tespack bergaris dua pada Anneta dan Ryan.


Anneta dan Ryan tersenyum bahagia melihat tespack garis dua itu.


"Akhirnya kita punya cucu pa..."


Ryan mengangguk, "Mulai sekarang kamu harus jadi suami siaga Bian, jangan sampai terjadi apapun pada Aruna." kata Ryan pada Bian.


"Siap Pa..."


Semua orang terlihat bahagia mengetahui kehamilan Aruna.


Hari berganti minggu... Minggu berganti bulan dan tidak terasa kehamilan Aruna sudah berusia sembilan bulan lebih, sudah waktunya menunggu kelahiran calon baby yang mereka tunggu selama ini.


Selama sembilan bulan juga Aruna merasa Bian semakin protektif padanya, Aruna bahkan mengambil cuti sejak awal kehamilan karena Bian tidak mau terjadi apapun pada Aruna.


"Ayo dorong... Kurang sedikit lagi, sudah kelihatan kepalanya." teriak dokter kandungan yang membantu proses kelahiran Aruna.


Aruna kembali mengejan, disampingnya ada Bian yang mengenggam tanganya sedari tadi menyemangati Aruna juga memberikan kata kata cinta yang membuat Aruna semakin semangat.


"Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu." bisik Bian ditelinga Aruna berkali kali hingga keduanya mendengar suara bayi. Seketika Bian langsung mengecup kening Aruna.


"Terima kasih sayang, terima kasih. Aku sangat mencintaimu." ucap Bian membuat Aruna tersenyum dengan air mata yang mengalir, bahagia karena sekarang Ia tidak hanya menjadi seorang istri namun juga seorang ibu.


"Mana cucuku, mana cucuku." suara Anneta terdengar memasuki ruang persalinan bersama Ryan.


Baru saja selesai di adzani oleh Bian, Baby mungil mereka langsung diminta oleh Anneta.


"Ck, biarkan babynya menyusu ibunya lebih dulu Ma." pinta Bian langsung mengambil kembali baby dari tangan Anneta.


"Mama masih pengen gendong." keluh Anneta.


"Besok kita bikin sendiri aja Ma kalau Bian pelit." bisik Ryan membuat Anneta tersenyum.


Bian dan Aruna terlihat bahagia melihat baby mereka mencari asi dan langsung melahapnya.


"Pinter banget kek bapaknya." celetuk Bian membuat Aruna tertawa.


"Namanya siapa?" tanya Ryan.


"Arzidan Sakala Hartono."


Ryan tersenyum, "Pakai marga kakeknya nih."


"Boleh nggak? Kalau nggak boleh ganti nih." ucap Bian membuat Ryan tertawa.


"Baru aja akur udah mau berantem lagi." cibir Anneta lalu kembali mengendong baby Zidan yang sudah selesai nyusu.


"Lho kok Oma di pipisin sih." keluh Anneta membuat semua orang yang ada disana tertawa.


Hari hari berlalu sejak baby Zidan berumur sehari hingga tiga bulan tidak ada kedamaian dimalam malam Bian dan Aruna.


Setiap malam Baby Zidan bangun dan mengajak begadang kedua orangtuanya bahkan Bian seringkali dibuat puasa tidak melakukan itu karena setiap akan melakukan Baby Zidan bangun dan harus digendong oleh Aruna.


"Aku pikir sudah aman sayang." ucap Bian saat Baby Zidan kembali terlelap.

__ADS_1


"Ya, tapi aku lelah." keluh Aruna.


"Biarkan aku yang memainkan, kau hanya perlu merasakan." ucap Bian yang langsung diangguki oleh Aruna.


Bian mengecup kening Aruna setelah selesai.


Aruna belum terlelap, tak sengaja Ia melihat ada bekas luka dibelakang telinga Bian.


"Apa ini karena aku?" tanya Aruna tersenyum geli mengingat jika itu bekas cakarannya saat masih kecil.


"Ya, kamu memang sangat nakal."


Aruna tertawa, "Kak Bian yang mendorongku lebih dulu, aku hanya membalasnya." kata Aruna membela diri.


Bian ikut tertawa, Jika mengingat tentang masa lalu kadang membuatnya tak percaya, dulu Ia sangat membenci Aruna namun sekarang Aruna malah menjadi istrinya. Istri yang sangat dicintai oleh Bian.


"Jangan memamggilku Kakak karena aku bukan kakakmu lagi."


"Lalu aku harus memanggil apa?"


"Apa saja asal jangan Kakak."


Aruna mengangguk setuju, mulai sekarang Ia tak akan memanggil Kakak lagi melainkan Mas, panggilan sayangnya untuk Bian yang kini sudah bukan kakaknya.


"Mas Bian..."


Bian tersenyum dan langsung mengecup kening Aruna.


"Terima kasih sudah menjadi istriku Dik Aruna."


Aruna tertawa, "Apa brother crazy sekarang berganti menjadi Husband Crazy?"


"Tentu saja tidak, aku akan menjadi Good Husband dan Good Father untuk keluarga kecilku."


Aruna tersenyum, mereka memandang satu sama lain,


"Aku ingin nambah,"


"Boleh kok mas." ucap Aruna dengan suara manja membuat Bian gemas.


Bian sudah bersiap dan ingin memulai namun...


Oekk...


Oekkk..


Baby Zidan kembali bangun membuat keduanya tertawa.


TAMAT.


Alhamdulilah akhirnya....


Terima kasih author ucapkan buat para readers yang setia menunggu update novel ini.. terima kasih untuk vote,like dan komennya...


semoga kita semua diberikan kesehatan dan kebahagiaan...


Tunggu novel author selanjutnya yaa... Ba bayyy

__ADS_1


__ADS_2