
Bian dan Aruna sedang berada dihotel tempat diadakan acara resepsi. Bian dan Aruna juga menyewa kamar untuk keduanya istirahat sebelum acara dimulai.
"Ck, kenapa baju yang dibelikan kak Bian seperti ini?" Gumam Aruna saat mencoba dress yang dibelikan Bian untuk pergi ke pesta.
Dress panjang tanpa lengan namun punggung mulus Aruan terlihat sangat jelas karena bagian punggungnya terbuka.
"Ini terlalu terbuka untuk ku." Gumam Aruna didepan cermin terlihat tak nyaman.
Aruna akhirnya tetap memakai dressnya karena hanya ini yang Ia bawa. Kemarin Ia sangat kesal dengan Bian hingga tak sempat melihat dress yang dibelikan oleh Bian.
Selesai memakai dressnya, Aruna mulai memakai make up lalu menata rambutnya.
"Apa kamu sudah siap?" Suara Bian bersamaan dengan pintu yang terbuka.
Bian langsung saja melotot setelah melihat model dress yang Ia belikan. Tadinya Ia ingin memuji kecantikan Aruna namun berubah saat sudah melihat model dress yang dipakai Aruna.
"Kenapa bisa seperti ini bajunya!"
Bian mendekat, menatap punggung mulus Aruna yang seolah menggodanya.
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa Kak Bian membelikan aku baju seperti ini!"
"Haa, bukan aku yang memilih."
Aruna terkejut, "Lalu siapa?"
Bian menjelaskan jika kemarin Ia datang ke butik langganan Mama lalu memesan baju untuk seorang wanita pergi ke pesta dan pemilik butik langsung memberikan baju ini.
Bian terlalu percaya sampai Ia tak melihat seperti apa dress yang akan diberikan pada Aruna.
"Ck, jangan dipakai. Ganti saja."
"Ganti apa kak? Hanya ini yang kubawa."
Bian tentu saja terkejut, lima belas menit lagi acara dimulai, tidak akan cukup waktunya jika mereka pulang hanya untuk berganti baju.
"Ck, sial!"
Bian akhirnya melepaskan jas yang Ia pakai lalu memakaikan untuk Aruna.
"Seperti ini saja."
"Apa tidak memalukan?" Tanya Aruna melihat penampilan dirinya dicermin dan stylenya cukup bagus dipadukan dengan jas Bian, terlihat seperti memakai blezer.
"Bagus, kau terlihat sangat cantik." Puji Bian lalu merangkul Aruna.
"Dasar perayu!"
Bian tersenyum lalu mengajak Aruna turun, "Tetap dekat denganku, jangan menjauh." Bisik Bian saat keduanya sudah berada ditempat acara.
"Siap bos."
Semua tamu sudah berdatangan. Pengantinnya pun sudah turun, Sadam dan Keisha terlihat seperti raja dan ratu yang berjalan diantara para rakyatnya.
__ADS_1
Semua tamu tampak memuji kecantikan Keisha termasuk Aruna yang tak henti hentinya menggagumi mantan rivalnya itu.
"Dia terlihat berbeda, sangat cantik."
"Tapi aku melihat sama saja, jika dibandingkan dirimu lebih cantik dirimu." Kata Bian membuat Aruna langsung salah tingkah.
"Berhentilah merayu ditempat seperti ini Kak." Ucap Aruna menahan malu.
"Aku tidak merayu, aku mengatakan yang sebenarnya."
"Baiklah, terserah kak Bian saja!"
Bian tersenyum geli, membuat Aruna kesal sungguh sangat menyenangkan.
"Aku sangat gugup, mereka memandangiku sedari tadi." Ucap Keisha pada Sadam yang ada disampingnya.
"Santai saja, mereka melihat ke arahmu karena kau sangat cantik."
Keisha berdecak, "Dasar perayu!"
Sadam tersenyum, "Aku mengatakan yang sebenarnya."
Beberapa jam berlalu akhirnya acara sudah selesai, Bian dan Aruna berjalan mendekati pengantin baru.
"Selamat untuk pernikahan kalian, aku juga sudah menyiapkan hadiah untuk kalian berdua." Ucap Bian yang langsung membuat Sadam girang.
"Aku tidak sabar ingin tahu apa hadiahku pak."
Bian tersenyum, "Yang pasti sesuatu yang sangat menyenangkan."
Melihat Bian, Keisha masih tak menyangka jika kehidupannya akan seperti ini. Dulu Ia mengincar Bian dan berniat menggoda Bian namun malah karyawan Bian yang Ia dapatkan, sungguh takdir kadang memang semengelikan ini.
"Ya sudah sebaiknya kita pulang, jangan menganggu pengantin kita." Ucap Bian lalu merangkul Aruna mengajak Aruna pergi.
"Segeralah menyusul pak, apa Anda tidak ingin seperti ini?" Sadam menggoda Bian, Ia merangkul Keisha lalu mencium pipi Keisha didepan Bian.
"Jangan seperti ini." Bisik Keisha malu.
"Sialan kau!' Umpat Bian lalu tertawa dan pergi.
Semua tamu sudah pulang, hanya tinggal beberapa orang tersisa disana. Ayah Keisha yang mengikuti pesta sampai akhir, berjalan mendekat ke arah Sadam dan Keisha.
"Jangan lupa belikan mobil baru untuk ku!" Ucap nya.
"Tenang saja Yah, tiga hari saya akan mengirim mobilnya."
"Bagus, kau memang menantu terbaik. Tidak sia sia aku memiliki putri dan bisa menikah dengan mu." Ucapnya lalu pergi.
"Dia sangat menyebalkan, dia pikir selama ini merawatku? Dia bahkan sudah mencampakan ku selama ini dengan ibu!" Omel Keisha dengan raut wajah kecewa.
"Sudah, jangan diperpanjang lagi. Biarkan saja. Selama aku bisa menuruti keinginannya, aku tidak masalah."
"Tapi tetap saja, tidak seharusnya dia seperti itu!" Sentak Keisha terdengar kesal.
__ADS_1
"Apa ini yang aku dapatkan di malam pertama kita?"
Keisha menunduk, merasa bersalah karena sudah berbicara dengan nada keras pada suaminya, "Maaf."
Sadam tersenyum lalu merangkul Keisha, "Sebaiknya kau segera masuk ke kamar, bersihkan dirimu dan bersiap siaplah."
Raut wajah Keisha merona mendengar ucapan Sadam padahal dirinya sudah biasa melakukan ini bersama Adam dulu namun entah mengapa malam ini Ia merasa sangat gugup dan malu.
"Baiklah," Keisha berbalik, berjalan ke kamar pengantin mereka lebih dulu.
Sementara Sadam menatap ke arah Ayah Keisha yang masih berada disana, Ayah Keisha terlihat masih asyik makan makanan yang tersisa bahkan tak segan membungkus makananya.
Sadam mengepalkan tangannya lalu tersenyum sinis ke arah Ayah Keisha.
Puas menikmati semua makanan yang ada disana, Ayah Keisha tampak pulang dan membawa beberapa bungkus untuk istri dan anaknya yang tidak ikut.
Ayah Keisha memasuki mobil, melajukan mobilnya pergi dari hotel.
Masih pukul sembilan malam, namun entah mengapa jalanan sangat sepi membuat Ayah Keisha melajukan mobilnya sangat kencang hingga dijalanan kecil tanpa sadar, Brakkk...
Ayah Keisha seperti menabrak sesuatu membuatnya menghentikan laju mobilnya dan segera turun untuk melihat apa yang Ia tabrak.
"Sial, aku menabrak orang." Umpatnya lalu berbalik ingin kembali masuk namun sangat mengejutkan karena beberapa orang sudah mengerubungi dirinya.
"Hey, kau sudah menabrak teman kami, apa kau ingin kabur?" Tanya salah seorang pria berbadan kekar.
"Sial, bukankah mereka preman didaerah sini?" Batin Ayah Keisha yang cukup mengenali para preman disekitar sini.
"Aku tidak kabur, aku hanya ingin mengambil ponsel untuk menghubungi Ambulance." Ucapnya terlihat bergetar takut.
"Benarkah? Tapi sepertinya tidak perlu karena saat ini yang kami butuhkan hanya uang, jadi serahkan uangmu pada kami!"
"Sial, jadi kalian menjebak ku?" Tanya Ayah Keisha tampak memberanikan diri karena Ia melihat pria yang Ia tabrak sudah bangun dan terlihat baik baik saja.
Kelima preman itu tertawa, "Sekarang serahkan semua barangmu!"
"Tidak akan! Kalian pikir aku takut huh!"
"Baiklah..."
Bugh... bugh... dua orang pria memukuli Ayah Keisha sementara ketiga pria lainnya mengeledah mobil untuk mencari apapun yang ada disana.
"Kita mendapatkan uang cash, sertifikat rumah juga makanan, setelah ini kita akan pesta." Ungkap salah satu preman tersenyum senang.
"Sial, kembalikan semua barangku!"
Bugh bugh... kedua preman itu kembali memukuli hingga Ayah Keisha terkapar tak bisa melawan.
Kelima preman itu segera pergi memasuki mobil mereka.
Salah satu preman tampak mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang,
"Semua beres bos, uang dan sertifikat tanahnya sudah berada ditangan kami."
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaa