
Bian menatap wajah lelap Aruna, setelah membuat Aruna menangis, Bian mendekap tubuh Aruna hingga kini Aruna sudah terlelap.
"Ck, sial! Kau masih tidak ingin kembali tidur?" Umpat Bian sambil memandangi bawah miliknya yang masih berdiri sangat tegak.
Bian tak tahan lagi, Ia bangkit dari ranjang Aruna dan memasuki kamar mandi Aruna. Bian melepaskan hasratnya didalam kamar mandi.
Setelah merasa lega, Bian keluar dari kamar mandi, Ia segera menutup pintu balkon, menyelimuti Aruna lalu keluar dari kamar Aruna. Bian sangat lelah dan sudah mengantuk jadi Ia memilih untuk segera tidur.
Tanpa disadari, Bian lupa mengunci pintu kamar Aruna. Seseorang memasuki kamar Aruna, melihat Aruna yang terlelap.
Orang itu bahkan dengan berani menyentuh pipi Aruna namun karena Aruna merasa terusik, Orang itu akhirnya segera keluar karena tidak ingin ketahuan.
Paginya, Aruna membuka mata namun Ia masih enggan untuk bangun karena tubuhnya terasa berat.
Aruna masih ingin rebahan sembari mengingat kejadian semalam bersama Bian. Aruna langsung menutupi wajah dengan kedua tangannya karena merasa malu.
"Bisa bisanya aku meminta lebih dulu." Gumam Aruna yang masih sangat penasaran dengan rasa selanjutnya.
"Baru awal saja rasanya sudah seenak pantas saja banyak orang menyukai hal seperti itu." Gumam Aruna lagi.
"Menyukai apa?" Suara Bian terdengar tepat disamping Aruna membuat Aruna terkejut.
"Ka kapan Kak Bian masuk?"
"Kamu bahkan tidak tahu aku masuk, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Bian ikut berbaring disamping Aruna. Saat ini Bian masih mengenakan piyama dan sama sama bangun tidur.
"Aku tidak memikirkan apapun."
"Benarkah? Bukankah kamu memikirkan apa yang terjadi semalam." Tebak Bian lalu membawa Aruna kedalam pelukannya.
"Ti tidak, aku tidak memikirkan apapun." Sangkal Aruna dengan wajah gugup.
"Apa yang kita lakukan semalam tidak membuatmu penasaran?"
Aruna langsung memukul dada bidang Bian, "Kak Bian mesum, aku mau mandi saja."
Aruna hendak bangun namun tubuhnya ditarik hingga akhirnya kembali jatuh ke pelukan Bian.
"Mandi bareng? Biar aku bisa denger suara ah lagi." Ucap Bian menirukan suara Aruna semalam membuat wajah Aruna memerah menahan malu.
"Kak Bian!" Aruna memberi peringatan agar Bian berhenti menggodanya.
Bian terkekeh, masih menahan Aruna yang ingin segera beranjak dari ranjang.
"Aku ingin mandi kak!"
"Ayo mandi bersama." Ajak Bian.
Aruna menatap Bian tak percaya, "Berhentilah bersikap mesum kak!" Omel Aruna.
"Siapa yang mengajari ku mesum semalam?"
Aruna menundukan kepalanya, Ia tidak bisa lagi menjawab Bian yang sudah memegang penuh kendalinya. Kebodohan Aruna semalam menjadi senjata Bian untuk membuatnya lemah.
__ADS_1
"Benar benar gadis bodoh, mesum!" Batin Aruna mengumpat dirinya sendiri.
"Baiklah, semalam aku memang salah tapi bisakah Kak Bian melupakan kejadian semalam?"
"Tentu saja aku bisa segera melupakan dan tidak akan mengungkit, tetapi dengan satu syarat,"
"Apa lagi kak?"
"Katakan apa yang terjadi padamu hingga membuatmu seperti itu semalam?"
Aruna terdiam.
"Kalau tidak menjawab, artinya aku bisa meminta yang semalam kita-"
"Baiklah, berhenti membahas yang terjadi semalam." Ucap Aruna terlihat kesal.
"Jadi ceritakan padaku sekarang," pinta Bian.
Aruna menghela nafas panjang, "Aku hanya tidak ingin Kak Bian sakit hati jika sampai mengetahui kalau..."
"Kalau?"
Aruna merasa Bian melonggarkan pelukannya, kesempatan Aruna untuk kabur dan hap, Aruna keluar dari pelukan Bian dan berdiri tepat didepan ranjang.
"Lupakan saja kak, jangan dibahas lagi." Kata Aruna terdengar mengejek lalu berlari ke kamar mandi sebelum Bian kembali menangkapnya.
"Ck, dasar bocah." Umpat Bian merasa ditipu oleh Aruna.
Aruna turun ke bawah, melihat meja makan masih kosong belum ada Bian disana.
Aruna menyeret salah satu kursi lalu mendudukinya.
"Pagi mbak Runa." Sapa seseorang yang membuat Aruna berbalik dan tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya.
"Nginep sini Sat?" Tanya Aruna pada Satria, anak dari Mbok Inem.
"Iya mbak, cuma numpang tidur kok nggak ngrepotin." Ucap Satria sambil tersenyum lebar.
Bian sudah terlihat, berjalan mendekati meja makan. Mata Bian menatap ke arah Satria yang mengobrol dengan Aruna.
Bian tidak mengenal siapa pria muda itu.
"Siapa dia?" Tanya Bian pada Aruna.
"Namanya Satria, anaknya Mbok Inem. Dia suka bantu bantu disini." Jelas Aruna.
"Selamat pagi Mas..." sapa Satria pada Bian.
Bian hanya mengangguk, sesekali Ia mencuri pandang pada Satria yang terlihat tak asing untuknya.
"Mau ngampus apa ke klinik?" Tanya Bian sembari mengigit roti bakar yang sudah disiapkan Mbok Inem.
"Ke kampus aja lah kak."
__ADS_1
"Kenapa nggak nungguin Mama lagi? Takut di usir lagi?"
Aruna menggelengkan kepalanya, "Enggak gitu kak, hari ini ada banyak tugas dikampus yang nggak bisa ditinggalin." Ungkap Aruna yang akhirnya membuat Bian mengangguk paham.
Setelah mengantar Aruna, Bian segera melajukan mobilnya menuju kantor. Bian terkejut saat sampai dikantor dan ternyata David sudah berada disana.
"Mama gimana?" Tanya Bian menatap David tak suka.
"Ada suster, Papa minta tolong suster untuk menjaga Mama karena Papa ingin bicara berdua denganmu."
Bian menatap David malas, sungguh Ia sama sekali tidak ingin berbicara dengan David.
"Ayo duduk dan segera bicara." Ajak David.
Bian mengangguk dan mengajak David duduk di sofa.
"Ada apa?" Tanya Bian dengan suara dingin.
"Kamu sudah membuat perusahaan sendiri dan tidak mau bergabung dengan perusahaan papa."
"Langsung pada intinya saja!" Tegas Bian.
David menghela nafas panjang, "Papa sedang ada proyek besar dan proyek itu bisa lancar jika dibantu teman Papa namun teman Papa memiliki syarat yang harus Papa penuhi."
"Syarat apa?"
"Dia minta Papa menjodohkan kamu dengan putrinya."
Bian langsung terbahak mendengar ucapan David.
"Apa Papa tidak malu?"
David kembali menghela nafas panjang, "Dia cantik, pintar bahkan lulusan luar negeri, kamu pasti menyukainya." Ucap David meyakinkan Bian.
"Aku tidak mau menikah dengan pilihan siapapun karena aku sudah memiliki pilihan sendiri!" Ucap Bian tegas.
"Papa mohon Bian." Pinta David.
Akhir akhir ini perusahaan David memang mengalami penurunan bahkan bisa dibilang hampir bangkrut. Namun dengan proyek ini bisa membuat perusahaannya kembali jaya namun tentu saja ada yang harus ditumbalkan.
Bian putranya yang sudah diincar akan dijadikan menantu oleh temannya.
Karena Bian juga David masih bertahan dengan Anneta.
Jika David menceraikan Anneta sekarang sama saja Ia tidak bisa menjodohkan Bian dengan pilihannya.
"Aku tidak mau, aku sudah mempunyai pilihan yang mungkin akan ku nikahi dalam waktu dekat."
"Siapa? Apa Aruna?" Tebak David menatap Bian geram.
Bersambung....
__ADS_1