MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
68


__ADS_3

David menghisap rokoknya, pandangannya kosong memandang ke arah taman bunga yang ada dibelakang rumahnya.


Saat ini David sedang berada di belakang rumah, menyendiri, menenangkan diri dari segala permasalahan hidup yang mulai berdatangan.


Bian, putra satu satu yang Ia miliki seakan sudah mengulitinya, Seberapa banyak yang Bian ketahui tentang dirinya? Bian bahkan berani melawannya yang artinya Bian mungkin sudah memegang kunci rahasianya selama ini. Rahasia masa lalu yang bahkan Anneta saja tidak mengetahui apa itu.


David membuang jauh Bian keluar negeri agar Bian tidak mengetahui apapun tentang rahasia masa lalunya namun sepertinya David salah karena nyatanya Bian tahu segalanya tentang dirinya.


Bahkan kepemilikan rumah ini, tidak ada yang tahu siapa yang berhak memiliki rumah ini namun ternyata Bian sudah berani mengusirnya yang artinya Bian sudah tahu siapa pemilik rumah ini.


Dimana Bian mencari tahu?


Pertanyaan pertanyaan yang membuat kepala David berdenyut sakit.


David mengerus rokoknya, Ia memasuki rumah hendak menemui Anneta namun sepertinya semua orang mencegahnya. Kamar tamu yang Anneta tempati saat ini terkunci, David tidak bisa masuk kesana.


"Tuan mau apa?" Tanya Mbok Inem saat David berusaha membuka pintu.


"Bertemu Neta!"


"Maaf Tuan, Den Bian bilang Tuan tidak boleh masuk."


David mengeram marah, "Kau pikir siapa kau berani melarangku!"


Mbok Inem menunduk ketakutan, selama ini David tidak pernah membentaknya. Ini lah kali pertama David membentaknya.


"Maaf Tuan, saya hanya mengikuti perintah Tuan Bian."


"Persetan! Ambil kunci cadangan sekarang!" Bentak David namun Mbok Inem tidak bergeming, masih berdiri ditempatnya.


"Ambil sekarang!" Ucap David lagi.


Mbok Inem melangkahkan kakinya, segera pergi dari sana. David pikir Mbok Inem akan menuruti perintahnya, mengambil kunci untuknya namun David salah karena ternyata Mbok Inem malah memasuki kamar lalu mengunci diri disana.


"Sial, sudah berani melawan perintahku!" Ucap David kala menunggu Mbok Inem tak kunjung datang.


David mencari Mang Torik namun sayang, Mang Torik tidak ada, entah dimana Ia bersembunyi.


Hanya Mang Asep, harapan satu satunya yang mungkin bisa membantunya.


"Mendobrak kamar Nyonya?" Tanya Mang Asep terkejut dengan perintah David.


"Aku hanya ingin bicara pada Neta tapi semua orang melarangku bahkan tidak memberi kunci, jadi aku minta dobrak kamarnya sekarang juga!"


"Maaf Tuan, tapi Den Bian-"


Belum selesai dengan ucapannya, David sudah mencekal kerah baju Mang Asep.

__ADS_1


"Kau juga berani melawan perintahku!"


"Bukan berani Tuan, hanya saja saat ini yang menggaji saya adalah Tuan Bian jadi saya hanya akan menuruti perintah Tuan Bian!"


David melepaskan cekalannya kasar, "Sialan, kalian semua lupa siapa yang membayar kalian selama ini, disaat aku bangkrut kalian malah seperti ini. Lihat saja aku pasti akan membalas kalian!" Ucap David lalu meninggalkan Mang Asep.


"Orang udah bangkrut masih berani ngancem, lagian siapa suruh selingkuh. Udah punya bini cakep, body aduhai, bisa kerja sendiri malah nyari kerikil sungai yang bisanya cuma nghabisin duit." Omel Mang Asep.


Dikamar, Mia tampak sibuk mengirimkan pesan pada Rico. Pesannya terkirim namun tidak ada balasan dari Rico.


"Apa maksudnya? Dia meninggalkanku semalam dan pesanku hanya dibaca saja!" Omel Mia kesal.


Mia akhirnya mendial nomor Rico, sekali dua kali namun tidak diangkat. Mia tidak menyerah, Ia mendial nomor Rico lagi hingga nomornya diblokir oleh Rico dan Ia tidak bisa menghubungi Rico lagi.


"Apa apaan ini!" Umpat Mia kesal. "Sebenarnya apa yang Rico inginkan dariku? Sialan!"


Mia membanting ponselnya diranjang, Ia sangat kesal saat ini dan butuh keluar untuk jalan jalan.


Pintu kamar terbuka, David memasuki kamar dengan raut wajah kesal, semakin kesal saat melihat Mia akan pergi lagi.


"Mau kemana lagi?"


"Keluar, jalan jalan. Aku bosan berada disini."


"Tidak, kau tidak boleh pergi! Apa kau lupa sudah pergi semalaman?" Protes Mia.


"Tapi aku tetap akan pergi, aku butuh menghibur diriku, aku lelah berada disini apa kau sama sekali tidak mau mengerti?"


David terdiam, "Baiklah ayo pergi bersama." Ajak David yang langsung membuat Mia terkejut. Selama ini Mia memang tidak pernah keluar bersama David karena urusan mereka hanyalah tentang ranjang lalu memberi uang dan kali ini David ingin pergi dengannya? Oh tidak bisa bisa Mia malu jika sampai bertemu dengan temannya.


"Tidak, biarkan aku pergi sendiri."


"Kenapa tidak bersamaku?" Tanya David, amarahnya kini sudah berada dipucak. Disaat seperti ini Mia sama sekali tidak mengerti dirinya.


"Aku masih sangat muda danlihatlah dirimu, jika kita jalan bersama lalu bertemu temanku, tentu saja aku malu!"


David tidak tahan lagi, Ia mencekik leher Mia, "Jangan bermain main denganku! Aku sudah meninggalkan istriku demi dirimu lalu apa yang kau katakan sekarang!"


Uhuk uhuk... Mia mencoba melepaskan tangan David hingga akhirnya Ia berhasil melepaskan cekikan David.


"Kau gila? Aku bisa mati!"


David sadar apa yang Ia lakukan dan langsung memeluk Mia, "Maaf, maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud kasar padamu." Ucap David membuat Mia memutar bola matanya malas.


"Sekarang biarkan aku pergi jalan jalan." Pinta Mia.


David mengangguk, mengizinkan Mia pergi.

__ADS_1


"Jangan pulang larut."


Mia mengangguk, Ia melihat dikamar itu ada banyak lemari baju, tas juga sepetu milik Anneta.


"Apa aku boleh memakai semua yang ada disini?"


David mengangguk, "Pakai saja apapun yang kau suka."


Mia tersenyum girang, Ia segera memilih milih baju milik Anneta. Hampir semua milik Anneta branded dan sangat mahal bahkan ada yang limited edition, Mia berniat ingin menguasai semua barang barang Anneta.


"Apa aku cantik?" Tanya Mia saat mengenakan dress ketat selutut, dengan hells tinggi juga handbag gucci milik Anneta.


"Ya, kau sangat pantas mengenakan barang barang mahal."


"Seharusnya kau membelikan untuk ku!"


"Ya, jika perusahaan kembali normal aku akan membelikan apapun yang kau suka."


Mia menghampiri David dan langsung mencium pipi David, "Terimakasih sayang."


David mengelus kepala Mia, "Pergilah, jangan lupa pulang karena aku tak suka menunggu."


"Baiklah sayang."


Mia segera keluar dari kamar David. Saat membuka pintu berjalan melewati ruang tamu Ia melihat Aruna yang baru saja pulang dari kampus.


Aruna tampak terkejut melihat Mia mengenakan semua barang milik mamanya, dari atas sampai bawah itu milik Mamanya.


"Apa lihat lihat!" Ketus Mia tak suka dengan cara Aruna menatapnya.


"Apa kau tidak malu? Tidak hanya merebut Papa kau juga memakai barang barang Mama?" Sinis Aruna.


"Apa masalahmu? David bahkan mengizinkan ku memakai semua barang yang ada dikamar."


"Itu milik Mama, bukan milik Papa jadi kau tak berhak, sekarang lepaskan semua barang ini!" Kata Aruna menarik tas yang Mia pegang.


"Tidak mau! Enyahlah kau!"


Pertengkaran terjadi membuat David keluar dari kamar


"Apa yang terjadi!"


"Dia ingin menelanjangiku disini." Adu Mia.


Plakkk...


David menampar pipi Aruna.

__ADS_1


__ADS_2