MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
132


__ADS_3

Aruna menatap ligerie yang dipilihkan oleh Keisha dengan tatapan bergindik.


"Masa iya pakai ginian, malu ah aku." ucap Aruna dengan pipi memerah.


Keisha menggelengkan kepalanya, "Kalau mau nyenengin suami mah kita nggak perlu malu Run."


Aruna kembali menatap lingerie yang kini sudah berada ditangannya, "Tapi kalau yang ini kan sama aja kita nggak pakai apa apa, biasanya aku pakai dress pendek aja Kak Bian udah seneng."


Keisha tersenyum, "Apalagi kamu pakai ini, Kak Bian pasti tambah seneng. katanya biar nggak ngerasa bersalah lagi." bujuk Keisha.


Aruna terdiam, Ia terlihat memikirkan ucapan Keisha.


Kemarin sebelum menjemput Bian, Aruna bertemu dengan Ryan dan Anneta yang baru pulang honeymoon.


Ryan mengatakan jika sempat ke kantor Bian sebelum bertemu dengannya, Ryan juga mengatakan jika tangan Bian sudah sembuh tentu saja Aruna senang mendengar pengakuan Papa mertuanya itu namun saat Ia menjemput Bian, tangan Bian terlihat masih diperban, Aruna tahu jika Bian membohonginya, Aruna juga tahu jika Bian berusaha mengerjainya jadi Ia pun tak ingin kalah, membalas apa yang dilakukan Bian. Saat dikamar mandi Aruna mengenakan pembalut, pura pura sedang datang bulan padahal Ia tidak sedang datang bulan.


Aruna menahan geli setelah melihat wajah kecewa dan amarah dari Bian namun setelah itu Aruna merasa bersalah karena Bian memperlakukan dirinya dengan baik dan membuatnya merasa sangat nyaman.


Meskipun sampai saat ini Aruna masih takut dengan momok malam pertama yang membuat semua wanita menangis saat pertama kali melakukannya.


Dan Aruna sengaja tidak mengikuti kelas terakhirnya, Ia menceritakan masalahnya pada Keisha yang sekarang menjadi tempat curhat jika Ia sedang bingung seperti saat ini.


Keisha memberi saran pada Aruna jika Aruna ingin meminta maaf, Aruna harus membuat Bian senang dengan cara seperti ini.


Ya seperti apa yang dilakukan Aruna saat ini, Ia cosplay ala ala pemain blue film yang membuat dirinya tidak hanya terlihat seksi namun juga sangat mengemaskan.


"Apa yang kau lakukan?" Bian menatapnya dengan tatapan terkejut.


Aruna mencoba tak mengubris keterkejutan Bian, Ia berjalan mendekat lalu meletakan kedua tangannya dibahu Bian.


"Tuan sudah pulang? Sebaiknya Tuan segera menutup pintunya jika tidak orang luar bisa melihat tubuhku ini." ucap Aruna dengan suara manja nan mengemaskan.


Bian menurut saja, Ia menutup pintunya dan kembali menatap ke arah Aruna, Bian bahkan menyentuh dahi Aruna namun tidak demam.


"Sebenarnya siapa kau? Apa kau benar benar Aruna? Tapi tingkahmu seperti bukan Aruna saja."


Aruna kembali tersenyum, meskipun Ia gugup namun Ia tetap harus melakukan ini sesuai dengan apa yang Keisha ajarkan padanya.


"Mari ku antar untuk mandi Tuan." ucap Aruna melepaskan dasi Bian lalu membuka satu persatu kancing baju Bian.

__ADS_1


"Hentikan, jangan menggodaku seperti ini." ucap Bian mulai kesal karena Ia takut tidak bisa menahan diri sementara Aruna masih belum bisa melakukannya.


"Sebenarnya... Aku ingin minta maaf, aku melakukan ini karena merasa bersalah."


Bian mengerutkan keningnya, tak paham dengan apa yang Aruna ucapkan,


"Aku berbohong, aku sedang tidak datang bulan."


Mata Bian melotot setelah mendengar pengakuan Aruna,


"Jadi kau menipuku huh!"


"Kak Bian juga berusaha mengerjaiku, tentu saja aku tidak terima. Jadi jangan salahkan aku." ucap Aruna membela diri.


Bian berdecak, Ia membawa tubuh Aruna ke ranjang dan Ia berada diatas,


"Jadi sekarang, apa kau sudah siap?" tanya Bian tangannya mulai menyentuh kulit lembut Aruna yang tidak tertutup apapun.


Aruna mulai gugup, sejujurnya Ia masih takut namun Ia tetap harus melakukan ini, Ia tidak mungkin menghindar lagi kali ini.


"Mandilah dulu kak..."


"Kak Bian bau, mandilah lebih dulu." ucap Aruna.


Bian berdecak, "Bukankah kau tadi mengatakan ingin memandikan ku? Mari kita lakukan sekarang baby."


Aruna menelan ludahnya, Ia mengangguk, menuruti Bian.


Keduanya berjalan memasuki kamar mandi, Bian melepaskan satu persatu pakaiannya hingga Ia pun polos, terlihat si otong sudah berdiri tegak. Panjang dan besar membuat Aruna menggelengkan kepalanya, tidak bisa membayangkan rasa sakit yang akan Ia rasakan jika benda itu masuk ke dalam miliknya.


"Apa yang kau pikirkan Baby, bukankah kau ingin memandikanku?" tanya Bian saat melihat Aruna hanya berdiri dan melamun menatap ke arahnya.


"Ak aku menunggu diluar saja ya kak." ucap Aruna gugup.


Bian menahan Aruna, membawa Aruna ke dalam kungkungan tubuhnya lalu menyalakan shower hingga keduanya basah.


"Jika ingin bermain, tuntaskan jangan berhenti ditengah jalan." ucap Bian.


"Aku gugup kak, rasanya sangat aneh." akui Aruna.

__ADS_1


Bian tersenyum, "Baiklah, aku tidak akan membuatmu gugup lagi."


Bian mengajak Aruna pemanasan di kamar mandi hingga Aruna merasakan relaks setelah itu Bian mengajak Aruna ke ranjang mereka, membuat Aruna merasakan nyaman agar tidak merasa takut lagi setelah itu Bian memulai permaianan yang sudah lama Ia tunggu itu. Dimana Si Otong berusaha memasuki goa sempit milik Aruna hingga membuat Aruna menjerit merasakan sakit, Aruna bahkan menjambak rambut Bian, berharap Bian menghentikan otongnya namun Bian tak menghentikan tetap memaksa masuk hingga si otong benar benar masuk ke dalam dengan sempurna.


"Sakit kak." rintihan Aruna bersamaan dengan darah yang mengalir dibawah sana.


Darah kesucian yang Aruna jaga selama ini hanya untuk dirinya.


Bian mengecup kening Aruna lalu berpindah ke bibir memberikan sedikit ******* untuk meredakan rasa sakit dibawah sana dan setelah itu Bian mulai mengoyangkan perlahan hingga suara rintihan kesakitan Aruna hilang.


Perlahan dan Bian semakin mempercepat tempo gerakannya hingga Aruna merasakan sesuati hangat keluar ke dalam miliknya.


Bian tersenyum menatap ke wajah sembab Aruna dan langsung mengecup kening Aruna.


"Terima kasih sayang, sudah menjaganya untuk ku." ucap Bian kembali mengecup kening Aruna.


"Rasanya menyakitkan kak."


Bian tersenyum, "Semakin lama pasti tidak aka sakit lagi."


"Aku tidak mau melakukannya lagi."


"Dan aku akan memaksa." ucap Bian sambil tersenyum nakal.


"Apa kak Bian akan menyakitiku setiap hari?"


Bian tertawa, "Kenapa kau bisa bertanya seperti itu, percayalah setelah ini rasanya tidak akan menyakitkan lagi. Jika menyakitkan mungkin semua wanita tidak ada yang mau menikah bahkan ada dari mereka yang sampai menjual diri setelah merasakan nikmatnya."


Aruna terdiam, memang benar apa yang Bian katakan, jika saja rasanya tidak nikmat mungkin semua wanita tidak ada yang mau menikah bahkan teman temannya dikampus saja banyak yang sudah melakukan padahal belum menikah.


"Bagaimana jika mencoba lagi?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Tidak kak, rasanya masih sakit."


"Aku akan memaksa." ucap Bian yang kini sudah berada di atas Aruna lagi.


Bersambung....


Jangan lupa like vote dan komenn yaaa

__ADS_1


__ADS_2