MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
71


__ADS_3

Bian memasuki rumah, langkahnya kakinya berjalan menuju kamar Mama Anneta.


"Aden sudah pulang?" Tanya Mbok Inem saat Bian akan membuka pintu namun tidak bisa.


Mbok Inem memperlihatkan sebuah kunci pintu, "Terpaksa saya kunci karena Tuan David memaksa masuk sedari siang tadi."


Bian berdecak kesal, apa lagi yang Papanya inginkan batinnya.


Bian memasuki kamar Mama dan melihat Anneta tengah menonton film.


"Mama bosan Bian..." keluh Anneta saat Bian mendekati dirinya.


"Aruna tidak menemani Mama disini?" Tanya Bian yang mengira jika Aruna pulang lebih awal agar bisa menemani Mamanya.


"Anu Den, Non Runa katanya kecapekan jadi langsung istirahat." Jawab Mbok Inem tak ingin Bian tahu luka lebam juga luka dipelipis Aruna.


Bian mengerutkan keningnya, merasa aneh karena tidak biasanya Aruna seperti itu.


"Mama sudah makan?"


Anneta mengangguk, "Sampai kapan Mama akan dipenjara disini?" Protes Anneta.


"Sampai Mama benar benar sembuh dan setelah itu Mama bisa liburan lagi."


Anneta menghela nafas panjang, "Apa perceraian Mama sudah diurus?"


Bian mengangguk, "Sudah Ma, kita tinggal menunggu akta cerainya keluar."


"Sayang sekali, Mama lupa ingin mengatakan jika Mama punya teman seorang lawyer hebat tapi ya sudahlah." Ungkap Anneta, mengingat Ryan yang ternyata seorang pengacara hebat. Anneta sendiri juga baru tahu hari ini setelah Ia mencari cari informasi tentang Ryan.


Padahal saat menjenguknya di klinik, Ryan mengaku jika dirinya pengangguran namun ternyata, Ryan seorang yang hebat berhasil mengapai impiannya menjadi pengacara.


"Lawyer Bian juga hebat kok Ma... nanti setelah dia berhasil menyelesaikan masalah ini, Mama bisa bertemu dengannya." Kata Bian yang akhirnya diangguki Anneta.


Puas mengobrol dengan Anneta, Bian segera keluar dari kamar Anneta. Ia ingin mandi lebih dulu membersihkan diri sebelum menemui Aruna.


Sementara itu dikamar David, Mia baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan jubah mandi.


"Kenapa lama sekali mandinya?" Tanya David merasa heran karena Mia hampir satu jam berada dikamar mandi.


"Aku berendam dulu." Alasan Mia padahal Ia merasa jijik dengan tubuhnya yang baru saja disentuh tiga pria secara bergilir. Mia bahkan menyabuni tubuhnya berkali kali.


David mengangguk saja, seolah percaya dengan semua ucapan Mia. David bahkan tidak menanyakan dimana tas yang Mia bawa, membuat Mia merasa lega karena saat pulang Mia hanya takut jika David marah jika sampai mengetahui Mia menjual tas milik istrinya itu dan uangnya dicopet.


Mia duduk dipinggir ranjang, Ia ingin segera istirahat, merasakan lelah dan remuk tubuhnya namun sepertinya David tidak akan membiarkan Mia istirahat karena saat ini David sudah memeluk Mia, tangannya bahkan sudah nakal menyentuh bagian sensitif tubuh Mia.


"Bisakah jangan malam ini? Aku lelah." Pinta Mia.

__ADS_1


David berdecak, "Aku sudah menahannya sejak kemarin karena kamu tidak pulang, aku tidak mau menahannya lagi!"


Mia akhirnya pasrah, membiarkan David menikmati tubuhnya hingga puas meskipun dibawah sana sudah terasa perih karena perbuatan tiga pria tua cabul yang sangat brutal sore tadi.


...


Bian baru saja keluar dari kamar mandi, Ia sudah mengenakan piyama saat ini.


Bian turun untuk makan malam namun tidak ada Aruna disana.


"Apaa Aruna sudah makan malam?" Tanya Bian pada Mbok Inem.


"Sudah Den, baru saja."


Bian berdecak, "Menyebalkan, kenapa tidak menungguku."


Bian akhirnya makan malam sendiri dengan keadaan kesal.


Selesai makan malam, Bian segera ke atas hendak membuka kamar Aruna namun ternyata dikunci.


Bian mengeram marah, Ia akhirnya mengambil kunci cadangan yang Ia punya untuk membuka kamar Aruna namun masih belum bisa terbuka, ternyata Aruna mengunci kamarnya dari dalam.


"Run, buka Run!" Ucap Bian sambil mengedor pintu kamar Runa.


"Aku tahu kamu belum tidur, buka Run!" Seolah tak menyerah, Bian terus mengedor kamar Aruna namun sayang hampir lima belas menit Bian berteriak dan mengedor kamar Aruna, pintu masih belum dibuka oleh Aruna.


"Aden... ngapain?" Tanya Mbok Inem tiba tiba sudah disamping Bian.


"Runa kenapa sih Mbok? Nggak biasanya dia kunci pintu dari dalam. Cerita sama Mbok nggak kalau dia marah apa kesel gitu?" Tanya Bian yang langsung membuat Mbok Inem gugup.


"Anu den, enggak cerita apa apa kok. Non Runa cuma bilang kalau dia kecapekan mau langsung istirahat."


"Yakin? Nggak bohong kan Mbok?"


"Ya yakin den."


Bian menatap raut wajah Mbok Inem yang jelas sekali terlihat jika Mbok Inem berbohong.


Namun Bian memilih mengalah, mungkin Aruna memang sedang tidak ingin diganggu padahal Bian sudah menahan rindu sejak siang tidak bertemu dengan Aruna.


"Ya sudah Bian mau tidur aja!" Ucap Bian lalu berjalan memasuki kamarnya.


Mbok Inem merasa lega setelah Bian pergi begitu juga dengan Aruna yang sedari tadi menguping dibalik pintu merasa lega karena Bian mau mengerti.


Aruna kini sudah duduk didepan cermin meja riasnya, Ia melihat lebam di pipinya semakin terlihat jelas. Aruna benar benar tak menyangka hanya sekali tamparan bisa membuat pipinya langsung lebam seperti ini. Luka dipelipisnya juga masih basah belum kering.


Aruna menghela nafas panjang, "Sampai kapan aku harus menghindari Kak Bian dan Mama?"

__ADS_1


Paginya... Aruna bangun subuh dan langsung pergi ke kampus saat semua orang masih tidur.


"Bekal buat neng Aruna." Kata Mbok Inem yang ternyata bangun lebih awal untuk menyiapkan bekalnya.


"Makasih ya Mbok." Ucap Aruna berjalan cepat keluar rumah.


"Neng Runa mau kemana?" Tanya Mang Torik.


"Ke kampus mang."


"Haa? Sepagi ini?"


Aruna mengangguk, "Mau nganterin Mang?" Tanya Aruna yang sejujurnya takut jika harus naik taksi sepagi ini karena jalanan pasti masih sepi.


"Ayok Non."


Keduanya memasuki mobil, didalam mobil Aruna hanya diam saja tidak mengatakan apapun.


Bian yang masih terlelap dikamarnya mendengar suara mobil keluar dari gerbang namun Ia tidak mengubris, Ia pikir memang mobil yang dikemudikan Mang Torik untuk mengantar Mbok Inem ke pasar.


Dan saat Ia bangun, bersiap kekantor Bian mengamuk kala tak mendapati Aruna di kamarnya juga dimeja makan.


"Apa yang Mbok sembunyiin dari Bian!" Amuk Bian pada Mbok Inem didapur.


"Ng nggak ada Den." Mbok Inem terlihat sangat ketakutan.


Bian akhirnya memilih pergi, saat ini juga Ia harus menemui Aruna.


Benar saja, Bian memasuki area kampus Aruna yang membuat para wanita histeris dengan kedatangan Bian.


"Aruna Lo dicariin!" Teriak salah satu teman Aruna.


"Siapa?"


Belum sempat Aruna berdiri untuk melihat keluar, seseorang masuk dan seseorang itu adalah Bian.


Buru buru Aruna memalingkan wajahnya untuk memakai masker, menutupi pipi lebamnya.


Bian sudah berdiri didepannya, menatap Aruna marah.


Tak mengatakan apapun, Bian menarik masker Aruna dan...


Bian terkejut melihat wajah lebam Aruna.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2