
Adam sudah selesai menggunakan kartu kredit milik David, Ia pun segera pulang ke apartemen membawa banyak paper bag berisi belanjaan yang baru saja Ia beli.
"Ternyata enak sekali jadi orang kaya," gumam Adam meletakan semua paper bag disofa.
Adam pergi ke dapur untuk minum, Ia melihat ada botol anggur di meja makan.
"Minuman siapa ini? Apa minuman pria tua bangka itu?" Tebak Adam membuka botol yang sudah tak bersegel itu.
"Ini anggur orang kaya, aku akan mencobanya." Kata Adam menuangkan setengah gelas lalu meminumnya.
"Enak sekali." Gumam Adam lalu meminum lagi hingga habis satu gelas.
"Aku akan menyimpannya untuk ku minum lagi nanti." Ucap Adam meletakan anggur dikulkasnya.
Adam berbaring diranjang, Ia merasa sedikit lelah, tak terasa kantuknya menyerang hingga Ia terlelap.
Entah berapa lama Adam terlelap, Adam bangun setelah mendengar suara berisik dari luar apartemennya. Pintunya seperti digedor seseorang dari luar.
"Apa yang terjadi?' Tanya Adam saat membuka pintu dan melihat beberapa pria memakai baju polisi datang.
"Apa kau yang bernama Adam?"
Adam mengangguk, "Ada apa?"
"Kami harus mengeledah apartemenmu untuk pemeriksaan." Kata Polisi itu langsung memasuki apartemen Adam.
"Pemeriksaan apa? Memang apa salahku?" Heran Adam membiarkan semua polisi masuk. Adam merasa tidak memiliki masalah apapun kecuali melecehkan Aruna kemarin namun bukannya itu sudah impas karena Ia juga sudah dihajar habis habisan oleh Bian.
"Apa ini? Kau menggunakannya?" Tanya salah satu polisi saat menemukan bungkusan kecil berisi serbuk putih.
"Memang apa itu? Aku tidak tahu."
"Jangan pura pura bodoh! Kau sudah ketahuan!"
"Aku benar benar tidak tahu apa itu!" Kesal Adam yang sama sekali tidak pernah membawa barang itu masuk ke kamarnya.
"Ini narkoba, apa kau masih menyangkal lagi?"
Adam tentu saja terkejut, Ia tak menyangka ada narkoba di apartemennya padahal Ia sama sekali belum tahu narkoba itu seperti apa.
"Jangan bercanda pak, saya tidak pernah menggunakan barang itu!"
__ADS_1
"Lalu ini apa hah! Udah ketahuan nggak mau ngaku!"
"Gimana mau ngaku, saya memang tidak tahu apapun!" Balas Adam melawan karena Ia memang tidak tahu apapun tentang ini.
"Sudah sudah, sebaiknya ikut saja ke kantor polisi dan jelaskan disana." Kata salah satu polisi mengambil borgol untuk memborgol tangan Adam.
"Tidak, saya tidak mau dipenjara!" Adam ingin lari namun polisi satunya berhasil mencekal dan memborgol kedua tangannya.
"Kamu akan diperiksa, jika memang kamu tidak menggunakan, hasilnya negatif dan kamu akan dibebaskan jadi ikuti alurnya, jangan melawan." Kata polisi itu membuat Adam sedikit tenang dan akhirnya Ia mau menurut.
Adam diperiksa dikantor polisi, Ia masih tidak mau mengakui jika menggunakan narkoba karena memang Ia tidak menggunakan narkoba hingga hasil tes urine nya keluar dan hasilnya membuat Adam sangat terkejut.
Positif
"Bagaimana bisa hasilnya positif sementara saya tidak pernah tahu barang itu. Jangankan menggunakan, membeli saja tidak pernah!" Ucap Adam dengan nada kesal.
"Jika semua maling mengakui kesalahannya pasti penjara disini sudah penuh, kau sudah tertangkap basah Nak masih mau menyangkal?" Sinis polisi yang memeriksannya.
"Aku memang tidak memakainya bagaimana bisa aku mengakuinya!" Kesal Adam.
"Hasilnya positif, jika kau tidak menggunakan barang haram itu mungkin hasilnya akan negatif. Apa mungkin kau juga ikut menyeludupkannya? Kau ikut perdagangan jual beli narkoba?" Selidik polisi itu menatap Adam curiga.
"Sudah masukan saja dia ke sel, percuma mengintrogasi anak muda jaman sekarang tidak akan pernah mau mengakui kesalahannya." Kata polisi lainnya.
"Tidak, aku tidak mau dipenjara! Aku benar benar tidak menggunakannya pak, percayalah padaku." Ungkap Adam sambil memohon namun polisi itu tidak mengubris ucapan Adam, tetap membawa Adam masuk ke sel.
"Aku dijebak, aku dijebak! Percaya padaku pak." Teriak Adam yang kini sudah memasuki sel tahanan seorang diri.
"Sial, siapa yang sudah melakukan ini padaku." Umpat Adam menjambak rambutnya frustasi.
Adam sudah lelah berteriak pada para polisi, Ia akhirnya duduk dilantai, tertunduk. Rasanya ingin menangis tetapi Ia malu.
"Hancur sudah masa depanku." Gumam Adam mengingat dirinya sudah semester enam dan hanya tinggal satu semester lagi Ia sudah bisa wisuda.
Adam mengingat perjuangan sang Ibu yang rela bekerja diluar negeri hanya demi memberikan fasilitas hidup yang baik untuk Adam namun sekarang Adam malah berakhir disini, dipenjara.
"Siapa yang sudah menjebak ku? Apa Bian?" Tebak Adam.
"Lihat saja jika aku sudah bebas, aku akan membalasnya!" Kata Adam dengan tangan mengepal.
Adam terdiam sejenak memikirkan sesuatu, "Kenapa aku tidak meminta bantuan Om David saja? Ya pasti dia akan membantuku atau aku akan mengancamnya lagi." Kata Adam berdiri dan berbalik ingin berteriak pada polisi namun seketika bibirnya terdiam karena melihat David berjalan ke arah selnya.
__ADS_1
"Om datang? Om mau membebaskan ku?" Tanya Adam tersenyum lebar, tampak senang melihat kedatangan David.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa disini? Bukankan aku memberimu credit card untuk bersenang senang?" Tanya David.
"Aku juga tidak tahu Om, para polisi itu datang ke apartemen dan langsung membawaku kesini, mereka menuduhku memakai narkoba." Ungkap Adam.
"Jika kau tidak memakainya kau tidak mungkin berakhir disini" kata David santai.
"Aku tidak memakainya Om, aku juga tidak tahu kenapa hasilnya positif, aku merasa dijebak oleh seseorang."
"Memang siapa yang menjebakmu? Apa kau memiliki musuh?"
"Aku tidak tahu om, sekarang tolong Om bebaskan aku dari sini. Om memiliki banyak uang pasti sangat mudah membebaskan aku." Pinta Adam.
"Tentu saja tidak bisa, aku tidak memiliki kenalan orang dalam." Balas David santai.
"Tolong bebaskan aku bagaimanapun caranya Om, atau aku akan mem-"
"Memberitahu keluargaku tentang perselingkuhanku?" Tanya David dengan nada mengejek.
"Ya aku akan mengatakan pada Bian dan Aruna tentang perselingkuhanmu." Ancam Adam.
David tertawa, "Bagaimana bisa kau mengatakan pada mereka sementara kau saja berada disini." Ejek David.
Adam terdiam sejenak memikirkan sesuatu, "Apa Om yang sudah menjebak ku?"
"Oh tidak, aku sudah ketahuan!" Kata David lalu kembali tertawa.
Adam mengepalkan tangannya, Ia tak menyangka jika David lah orang yang sudah menjebaknya.
"Memang anak ingusan miskin sepertimu bisa selalu mengancamku? Aku bahkan bisa membuat hidupmu lebih buruk dari ini jika aku mau." Kata David meremehkan Adam.
"Lihat saja Om, aku pasti akan membalasmu!"
"Oh tidak, aku sangat takut." Kata David lalu kembali tertawa.
"Aku akan menunggumu keluar untuk membalasmu. Sekarang nikmati hari harimu disini, aku harus segera pergi karena kekasihku yang cantik sudah menungguku diluar." Kata David tersenyum mengejek lalu pergi meninggalkan Adam yang terlihat sangat emosi.
"Pria tua brengsek! Lihat saja aku pasti akan membalasmu!"
Bersambung...
__ADS_1