
Aruna masih belum bisa memejamkan mata, entah mengapa Ia bisa tidak merasakan kantuk sama sekali. Setelah mendengar Bian mengatakan padanya jika calon istri yang dimaksud Bian selama ini adalah dirinya, tentu saja membuat Aruna sangat senang dan bahagia.
"Sejak kapan aku juga menyukai Kak Bian? Kenapa aku bisa sesenang ini." Gumam Aruna lalu tersenyum.
Aruna tidak tahu pasti sejak kapan Ia menyukai Bian yang jelas saat ini Aruna nyaman saat bersama Bian. Sekarang yang Aruna pikirkan hanya restu dari kedua orangtua Bian yang tak lain juga kedua orangtua angkatnya.
Aruna hanya takut jika Papa dan Mama tidak merestui hubungannya dan Bian.
Perlahan kantuk mulai menyerang, Aruna baru ingin memejamkan mata namun terkejut kala mendengar suara Papa dan Mamanya dibawah.
Aruna akhirnya bergegas bangun untuk melihat apa yang terjadi lantai bawah.
Aruna terkejut saat melihat Papanya mengendong Mama yang merintih kesakitan.
"Ada apa Pa?" Tanya Aruna langsung berlari mengejar kedua orangtuanya.
"Mama pendarahan, Papa bawa ke klinik dulu."
Aruna melihat darah segar mengucur membasahi kaki Anneta yang masih merintih.
Anneta sudah berada didalam mobil bersama David, segera David melajukan mobilnya.
Tidak ingin ketinggalan, Aruna berlari memasuki kamar Bian. Disana Ia melihat Bian yang sudah terlelap.
"Kak bangun, Mama dibawa ke klinik." Kata Aruna sambil mengoyangkan tubuh Bian.
Bian membuka matanya, menatap Aruna keheranan, "Ngapain disini? Mau dikelonin?" Canda Bian langsung menarik tubuh Aruna dan membawanya ke pelukan, masih belum sadar apa yang Aruna ucapkan baru saja.
Aruna terlihat kesal dan langsung memukuli dada Bian, "Sadar kak, sadar! Mama dibawa ke klinik."
Bian terkejut setelah sadar apa yang Aruna ucapkan, "Mama dibawa ke klinik?"
"Iya, Mama pendarahan ayo kita su-"
"Ayo susul sekarang!" Potong Bian langsung bergegas bangun membuat Aruna memutar bola matanya malas.
Keduanya bergegas ke klinik, tanpa berganti baju, masih mengenakan piyama.
Sampai di klinik, terlihat David sedang menunggu diluar ruangan sementara Anneta sedang ditangani didalam.
"Bagaimana Mama Pa?" Tanya Aruna dengan raut wajah khawatir.
"Papa juga belum tahu sayang, doakan Mama baik baik saja." Ucap David dengan raut wajah sedih sementara raut wajah Bian tak terbaca.
Tak berapa lama, dokter yang memeriksa Anneta keluar, ketiganya berlari ke arah dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya David pada dokter yang semalam memberikan obat penggugur kandungan padanya.
"Pendarahannya sangat parah jadi harus dilakukan kuratase untuk menyelamatkan ibunya."
__ADS_1
Terlihat wajah Aruna sangat kecewa mendengar pengakuan dokter didepannya.
"Jika memang itu yang terbaik lakukan apapun untuk menyelamatkan istri saya dok!" Pinta David yang akhirnya diangguki oleh dokter itu.
Dokter itu kembali memasuki ruangan untuk segera menanggani Anneta.
Sementara diluar, semua tampak diam dan sibuk dengan pikiran masing masing.
Melihat wajah Aruna yang kecewa, Bian menepuk nepuk punggung Aruna.
"Mungkin memang belum waktunya kita memiliki adik." Kata Bian.
"Mama pasti kecewa sekali kak."
Bian mengangguk paham dan langsung merangkul Aruna sementara David menatap ke arah Bian dengan tatapan tidak suka namun Bian tanpak masa bodoh dan tetap merangkul Aruna.
Selesai dikuret, Anneta kini sudah dipindahkan diruang perawatan. Anneta menangis sesenggukan mengingat calon bayinya sudah tiada.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi." Hibur David namun tidak digubris oleh Anneta yang masih tetap menangis.
"Kalian pulang saja, Biar Papa yang menunggu disini." Kata David pada Bian dan Aruna.
"Tidak Pa, Runa mau nunggu Mama disini."
"Pulang, besok kau harus kuliah kan?" Pinta David lagi.
Bian dan Aruna sudah berada didalam mobil perjalanan pulang. Mata Aruna memerah seolah menahan tangis.
"Jangan menangis, apapun yang terjadi mungkin ini yang terbaik untuk kita semua." Kata Bian.
"Mama pasti sedih banget kak."
"Lagipula usia Mama sudah terlalu tua untuk hamil, resikonya bisa lebih tinggi saat melahirkan, sudah jangan pikirkan lagi." Ucap Bian yang akhirnya diangguki Aruna.
"Mungkin ini waktunya Mama mengendong cucu bukan anak lagi." Ucap Bian yang langsung membuat Aruna menatap tajam ke arahnya.
"Jangan bercanda kak!"
"Aku tidak bercanda sayang, memang benar kan. Harusnya kita segera menikah lalu membuatkan cucu untuk Papa dan Mama agar mereka bisa menikmati masa tua mereka." Kata Bian yang langsung membuat kedua pipi Aruna memerah menahan malu.
Bian memang benar benar bisa membuatnya salah tingkah.
"Apa Papa dan Mama setuju jika kita menikah?" Tanya Aruna.
"Setuju atau tidak, mereka harus setuju."
"Ck, jangan memaksa Kak." Kata Aruna yang langsung membuat Bian kesal seketika.
"Kalau nggak maksa, kita nggak akan nikah. Mau?"
__ADS_1
Aruna terdiam sejenak, memikirkan ucapan Bian.
"Aku cuma nggak mau nyakitin Papa sama Mama Kak."
"Kita nggak akan nyakitin mereka. Kalau Papa sama Mama sayang kita pasti mereka bakal ngerti posisi kita." Ucap Bian yang akhirnya dibenarkan oleh Aruna.
"Tunggu sebentar lagi, biar aku perjuangkan semuanya."
Aruna mengangguk, Ia merasa sangat dicintai oleh Bian. Seperti kata pepatah, pria yang mencintaimu akan mengajakmu ke pelaminan bukan sekedar pacaran.
Keduanya sampai di rumah, tiba tiba hujan deras disertai petir yang membuat Aruna sedikit takut.
"Tidurlah, aku akan berada disini sampai kamu terlelap." Kata Bian membuat Aruna sedikit tenang.
Dan benar setelah Aruna terlelap, Bian segera keluar dari kamar Aruna.
"Aden, gimana keadaan Nyonya?" Tanya Mbok Inem pada Bian yang saat ini berada didapur untuk mengambil minum.
"Mama keguguran."
"Ya Allah Aden, kasian Nyonya." Ucap Mbok Inem terlihat sedih.
"Ya memang sudah seharusnya seperti itu." Kata Bian.
"Semalam padahal Tuan seneng banget, Nyonya ngidam minta dibikinin jus ee malah sekarang udah nggak ada." Ungkap Mbok Inem membuat Bian terdiam.
Bian tak menyangka jika Papanya senang dengan kehamilan Mamanya. Jika Bian membaca raut wajah Papanya saat tahu Mamanya keguguran, papanya terlihat menyembunyikan raut senang.
Bian segera naik ke atas untuk istirahat karena ini masih tengah malam dan dirinya masih mengantuk.
Sementara itu diklinik, Aruna memandang langit langit dengan pandangan kosong. Seolah tak tahu apa yang Ia rasakan saat ini.
"Sayang... sudah, jangan pikirkan lagi." Kata David mencoba menghibur.
"Dia sudah meninggalkanku, apa kau juga akan meninggalkanmu mas?" Tanya Anneta dengan mata sembab.
"Sudah, jangan bicara seperti itu dulu. Lebih baik kamu-"
"Kamu juga akan meninggalkanku mas?" Potong Anneta.
"Sayang, apa yang kamu bicarakan hmm."
"Katakan kamu tidak akan meninggalkanku mas." Ucap Anneta.
David hanya diam, diam sangat lama membuat Anneta kembali menangis.
Tidak hanya kehilangan bayinya, Ia juga hancur karena prasangkanya saat ini benar.
Bersambung .. .
__ADS_1