
Aruna terlihat gugup, tak mampu memandang Anneta yang kini memandang ke arahnya. Ia tak menyangka Anneta langsung menanyakan hal seperti itu padanya.
"Maaf Ma..."
"Maaf? Kenapa malah minta maaf." Heran Anneta.
"Maaf karena Aruna tidak bisa menahan diri untuk tidak mencintai Kak Bian." Ungkap Aruna yang sontak membuat Anneta tersenyum.
"Bukankah kita tidak bisa mengendalikan perasaan kita Runa? Dengan siapa kita mencintai, dengan siapa kita harus hidup bersama, kita tidak bisa mengendalikan itu." Kata Anneta.
Benar, apa yang dikatakan Anneta benar, perasaan kadang memang tidak bisa dikendalikan. Mengingat sebelumnya Aruna begitu bucin dengan Adam dan hanya dalam waktu sekejap semua perasaanya sudah beralih untuk Bian.
"Mama tidak marah?"
Anneta kembali tersenyum, "Mama cukup terkejut, semalam saat Bian meminta restu pada Mama."
"Kak Bian meminta sudah meminta restu pada Mama?" Antara terkejut dan senang yang saat ini Aruna rasakan.
Anneta mengangguk, "Dia ingin segera menikah denganmu."
Pipi Aruna langsung saja merona, memerah malu.
"Jadi apa kau sudah siap?" Tanya Anneta lagi "Menikah dengan putra Mama, Bian."
"Aruna..."
Anneta kembali tersenyum, "Jika dilihat kamu sudah siap,"
Aruna kembali tersipu malu karena Anneta mengetahui bahasa tubuhnya.
"Ya sudah jika memang seperti ini, Mama tidak bisa mengatakan apapun lagi selain merestui kalian." Ucap Anneta akhirnya.
"Lalu bagaimana dengan Papa? Sepertinya Papa tidak menyukai hubunganku dengan Kak Bian." Ungkap Aruna terlihat sedih.
"Soal Papa biar Mama yang urus." Kata Anneta membuat Aruna tenang.
Mereka berdua berbicara cukup lama hingga tak terasa sudah pukul enam petang, pintu terbuka dan terlihat Bian datang.
Bian terlihat canggung saat menatap Anneta, karena Ia belum mendapatkan restu dari sang Mama untuk menikahi Aruna membuat Bian merasa canggung.
"Kakak ingin pulang atau menginap disini?" Tanya Aruna.
"Menginap disini saja." Balas Bian mengingat David masih dirumah bersama selingkuhannya jadi lebih baik Bian menghindari itu.
__ADS_1
"Kak Bian ingin makan malam apa? Biar ku belikan?" Tanya Aruna.
"Nasi padang."
Aruna mengangguk dan segera pergi untuk membeli nasi padang. Kini Ia hanya berdua dengan sang Mama kesempatan Bian untuk membicarakan mengenai restu.
Namun baru ingin mengatakan, Anneta sudah menguap lebih dulu, tampaknya ingin segera tidur.
"Mama sudah ngantuk Bian, Mama tidur dulu tidak apa apa kan?" Tanya Anneta yang seketika membuat tubuh Bian lemas, gagal lagi gagal lagi.
"Ya sudah Ma..."
Tak berapa lama, Aruna datang membawa dua porsi nasi padang. Untuknya dan Bian.
Aruna melihat wajah Bian manyun.
"Nggak mandi dulu kak?" Tanya Aruna.
"Nggak, udah laper banget!" Suara Bian terdengar ketus dan Aruna tahu apa yang terjadi pada Bian melihat Anneta sudah terlelap diranjang.
"Cuci tangan dulu kak."
"Ck, bawel."
"Kak Bian kelaperan apa lagi kesel sih?" Heran Aruna melihat cara makan Bian yang tidak seperti biasanya.
"Dua duanya."
Aruna hanya tersenyum, Ia melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Bian yang sedang kesal.
Makanan sudah habis, Aruna membereskan sampahnya lalu membuangnya keluar, saat masuk Ia melihat Bian sudah membuat tempat untuk tidur.
"Udah mau tidur kak?" Tanya Aruna yang langsung diangguki Bian.
"Capek Run." Keluh Bian.
Aruna hanya menghela nafas panjang, Bian terlihat sangat kesal karena keusilan Mamanya yang tidak segera memberikan jawaban saat Bian meminta restu. Andai Bian tahu jika Mamanya sudah merestui mereka pasti sikap Bian akan berbeda, tidak seperti ini. Namun sekali lagi, Aruna sudah terbiasa dengan segala mood Bian yang berubah ubah seperti saat ini.
Aruna belum tidur, Ia masih menunggu pesanannya datang dan saat sudah datang, Aruna kini ikut terlelap bersama Bian.
Tengah malam, suara panggilan Anneta terdengar, Anneta memanggil Aruna dengan suara berbisik agar tidak menganggu tidur Bian.
"Sudah jam dua belas Ma?" Tanya Aruna yang langsung diangguki Anneta.
__ADS_1
Aruna segera bangun untuk membuka yang Ia pesan semalam, kue ulang tahun bertuliskan selamat ulang tahun Bian, menikahlah bersama Aruna.
Hari ini adalah hari ulang tahun Bian, Anneta memang menunda restunya dan membuat Bian kesal lebih dulu, nyatanya Ia berhasil semalam membuat Bian kesal.
Aruna menyalakan dua lilin yang terpasang di kue ulang tahunnya, Ia segera berjalan mendekat ke arah Bian yang masih terlelap.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun..." Aruna dan Anneta menyanyikan lagu ulang tahun bersama hingga membuat tidur Bian terusik.
Bian akhirnya membuka matanya saat mendengar suara Aruna dan Anneta bernyanyi.
Kesadaran Bian masih belum penuh namun Ia bisa melihat Aruna yang ada disampingnya membawa sesuatu hingga akhirnya saat kesadaran Bian penuh, barulah secara jelas Ia melihat Aruna membawa kue ulang tahu dan Bian juga baru ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Bian tersenyum, mendadak mood kesal yang dirasakan sebelum tidur kini sudah hilang apalagi saat Bian membaca tulisan yang ada di kue ulang tahunnya.
"Mama merestui?" Tanya Bian pada Anneta.
Anneta menganggukan kepalanya, "Ya Mama merestui hubungan kalian, menikahlah dan buat Aruna bahagia." Kata Anneta yang langsung membuat Bian mencium kedua kaki Anneta lalu beralih mencium kedua tangan Anneta.
"Terima kasih Ma... terima kasih sudah memberikan restu untuk Bian dan Aruna." Ucap Bian yang mengundang rasa haru pada Aruna.
Tak menyangka respon Bian akan seperti itu.
Setelah berdoa, Bian segera meniup lilin. Potongan kue pertama Bian berikan pada Anneta dan potongan kue kedua Ia berikan pada Aruna.
"Kenapa menangis?" Heran Bian melihat Aruna malah menangis saat Ia memberikan kue.
Aruna tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.
Bian segera membawa Aruna ke dalam pelukannya, "Kita sudah mendapatkan restu dan akan segera menikah, jadi jangan menangis lagi."
Aruna mengangguk, saat ini Ia menangis bukan karena sedih melainkan karena bahagia dan terharu atas perjuangan Bian untuk cinta mereka.
Bian mengecup kening Aruna membuat Anneta berdehem sangat keras, "Masih ada Mama lho disini." Ucap Anneta yang langsung membuat gelak tawa Aruna dan Bian.
Ketiganya terlihat bahagia berbanding balik dengan yang ada dirumah. David masih belum bisa tidur, tengah malam Ia masih berjaga diruang tamu menunggu kepulangan Mia.
Pukul sembilan malam, Mia meminta izin untuk pergi kerumah Mamanya, saat David ingin mengantar Mia menolak dan hingga saat ini Mia masih belum pulang membuat David cemas.
Berkali kali David mendial nomor Mia namun tidak aktif, Ia juga mengirim banyak pesan namun tidak dibaca oleh Mia.
"Sial, kemana gadis itu pergi!" Umpat David terdengar marah.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen