MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
138


__ADS_3

Ryan sudah berada direstoran tempat mereka akan makan siang. Ryan menunggu kedatangan istri dan anak anaknya direstoran karena baru saja bertemu dengan klien membuatnya tidak bisa menemani ke butik untuk fitting baju pengantin.


"Lho Bian mana?" tanya Ryan saat Anneta datang hanya bersama Aruna.


"Tau lah bikin kesel!" omel Anneta dengan wajah kesal.


"Kak Bian lagi banyak kerjaan kantor Pa, jadi nggak bisa ikut kesini."


"Sayang sekali, padahal Papa udah pesenin makanan kesukaan Bian." Ryan terlihat kecewa, tadinya Ia ingin membuat Bian senang karena dirinya tahu makanan kesukaan Bian namun malah Bian tidak ikut datang.


"Bungkusin aja Pa, nanti biar Aruna anterin ke kantor Kak Bian."


Ryan menggeleng, "Biar Papa aja, sekalian mau ketemu Bian."


"Jangan diajakin bercanda ya Pa, soalnya Kak Bian lagi banyak masalah dikantor." ungkap Aruna mengingat Ryan sering mengajak Bian bercanda dan kesal.


Ryan tersenyum, "Papa tahu."


Selesai makan siang bersama, Anneta mengantar Aruna kembali ke kampus sementara Ryan langsung menuju kantor Bian sambil membawa makan siang yang Ia bungkus untuk Bian.


"Nasi hainan, kesukaan kamu kan?" tanya Ryan meletakan makanan dimeja kerja Bian.


Bian melirik ke arah Ryan lalu ke arah bungkus nasi dengan nama restoran favoritnya, "Ngapain Papa kesini?" tanya Bian membuat Ryan tersenyum karena Bian memanggilnya Papa.


"Nganterin kamu makan siang, kerja boleh tapi jangan lupakan kesehatanmu juga." ucap Ryan.


Bian terdiam, sejak Ryan meletakan makanan dimeja, bau gurih khas nasi hainan menganggu konsentrasinya namun kedua tangannya masih sibuk Ia gunakan untuk mengetik.


"Mau Papa suapin?"


"Nggak!"


Ryan tertawa, "Yakin? Papa nggak akan nawarin dua kali."


Bian berdecak, meletakan laptopnya lalu segera membuka nasi hainan yang dibelikan oleh Papanya.


"Lagi ada masalah?" tanya Ryan melihat Bian makan sambil melihat ke layar laptop.


Bian hanya menggelengkan kepalanya,


"Nggak mau cerita sama Papa? Kali aja Papa bisa bantu."


"Bian bisa atasi sendiri!"


"Ya sudah kalau begitu, anak Papa ini memang mandiri sekali dan nggak mau merepotkan orang lain." cibir Ryan.


Bian menghela nafas panjang, bukan Ia tidak ingin meminta bantuan namun Bian tidak ingin memiliki beban sama seperti saat bersama David yang tidak pernah tulus membantunya. Jika David memberi sesuatu, Bian pun harus membalasnya entah dengan cara apapun membuat Bian tidak ingin lagi meminta bantuan pada siapapun, Bian trauma.


"Aku ini Papa mu, bukan David. Jika ada yang bisa ku bantu katakan saja, aku pasti akan membantumu." ucap Ryan menepuk bahu Bian.

__ADS_1


Bian hanya menganggukan kepalanya,


"Ya sudah Papa juga harus kembali ke kantor, ingat jika ada masalah dengan siapapun segera katakan pada Papa." ucap Ryan berbalik ingin keluar.


Langkah Ryan terhenti saat mendengar suara Bian, "Terima kasih untuk makanannya," ucap Bian terdengar malu.


Ryan tersenyum, menganggukan kepalanya dan segera keluar dari ruangan Bian.


Sampai di mobil, Ryan mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang, "Cari tahu apa yang terjadi dengan perusahaan Bian dan segera laporkan padaku!" perintah Ryan lalu menutup panggilan.


"Jika kamu tidak mau bercerita pada Papa biarkan Papamu ini yang mencari tahu sendiri karena inilah cara Papa menyayanggimu."


...****************...


Aruna baru saja selesai belajar, Ia menatap ke arah jam dinding sudah pukul delapan malam dan Bian belum juga pulang.


Aruna membuka ponselnya, baru ingin mendial nomor Bian, pesan dari Bian lebih dulu masuk membuat Aruna membatalkan menelepon Bian.


Maaf sayang, mungkin aku tidak pulang malam ini.


Aruna menghela nafas panjang setelah membaca pesan dari Bian, "Apa Kak Bian berniat kerja semalaman? Tidak akan ku biarkan itu terjadi." gumam Aruna segera bangkit dari duduknya.


Aruna mengambil tas ranselnya, memasukan beberap barang pribadi miliknya yang mungkin diperlukan. Setelah selesai, Aruna turun ke bawah bersiap untuk pergi.


"Lho, non Aruna mau kemana?"


"Mau nyusul ke kantor kak Bian."


Aruna mengangguk membuat Mbok Siti terlihat kecewa, "Besok nggak di bikinin jus alpukat dong Non?"


"Enggak Mbok, libur dulu."


Mbok Siti mengangguk paham, Aruna segera bergegas keluar rumah mencari Mang Torik.


"Mau kemana neng malem malem begini? nanti kena marah Tuan lho." kata Mang Torik mengingatkan.


"Anterin ke kantornya Kak Bian mang, mau nyusul kesana soalnya Kak Bian nya nggak pulang."


"Ohh gitu neng, ya sudah saya antar sekarang."


Aruna mengangguk dan segera memasuki mobil.


Sementara itu dikantor, tidak hanya ada Bian namun Sadam juga masih disana.


"Kau pulang saja, biar ku lanjutkan sendiri." ucap Bian pada Sadam.


"Tidak pak, saya akan ikut lembur meskipun sampai pagi."


Bian berdecak, "Pulang saja, aku tidak mau istrimu mencarimu dan salah paham."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan istri Bapak?" tanya Sadam.


"Aku sudah mengabari nya jika aku tidak akan pulang malam ini."


"Kalau begitu saya juga akan mengabari Istri saya jika saya tidak pulang malam ini."


Bian kembali berdecak, "Pulang atau ku pecat!"


"Ta tapi pak..."


Bian menatap tajam ke arah Sadam membuat Sadam mengerti jika Bian tidak suka Sadam membantah.


"Baiklah saya akan pulang sekarang." ucap Sadam membereskan barangnya lalu keluar dari ruangan Bian.


Kini tinggalah Bian sendirian berada diruangannya masih menatap layar laptopnya meskipun matanya sudah perih namun inilah pekerjaan yang harus Bian hadapi setiap harinya.


Suara pintu kembali terbuka membuat Bian berdecak, "Bukankah sudah ku katakan untuk pulang saja?" omel Bian lalu menatap ke arah pintu dan terkejut siapa yang datang.


Aruna berdiri disana mengenakan piyama lengan panjang dan membawa tas ransel.


"Siapa yang harus pulang kak?" tanya Aruna berjalan mendekati Bian.


"kenapa kau kesini?" tanya Bian masih terkejut dengan kedatangan Aruna.


"Karena kak Bian tidak pulang jadi aku datang untuk menemani kak Bian."


"Tidak perlu!"


"Aku janji tidak akan menganggu." ucap Aruna lalu tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.


"Baiklah terserah kamu saja." Bian kembali fokus menatap layar laptopnya meskipun saat ini pikirannya sudah buyar karena kedatangan Aruna.


"Apa kak Bian sudah makan malam?"


Bian menggelengkan kepalanya membuat Aruna berdecak.


Aruna duduk disofa sambil memainkan ponselnya, sesekali Bian melihat ke arah Aruna namun enggan bertanya.


Pintu ruangan diketuk membuat Aruna berdiri dan segera berlari untuk membuka pintu.


"Terima kasih pak." ucap Aruna pada Satpam dikantor Bian terlihat mengantar sesuatu.


"Apa itu?"


"Tentu saja makan malam kak." ucap Aruna mulai menyiapkan makan malam dan bersiap menyuapi Bian.


"Tidak perlu hiraukan aku kak, hanya perlu membuka mulut dan makan saja." ucap Aruna yang langsung membuat Bian tersenyum.


Betapa beruntungnya Bian memiliki istri seperti Aruna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2