MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
143


__ADS_3

Pras sengaja datang ke acara Bian, hanya sekedar datang dan mengikuti acara meskipun Ia tidak di undang.


"Apa Anda mengundang pria itu pak?" bisik Sadam ditengah acara.


Bian menatap ke arah pria yang di maksud Sadam, sedikit terkejut karena Ia tak merasa mengundang pria yang tak lain adalah sugar daddy Jessi.


"Tidak, bagaimana bisa dia kemari?"


"Saya juga tidak tahu pak, tapi tenang saja saya akan mengawasi gerak geriknya." ucap Sadam yang langsung diangguki oleh Bian.


"Aku merasa niatnya tidak baik, mungkin dia sudah tahu siapa yang menyebarkan videonya." ucap Bian dan Sadam setuju dengan apa yang Bian pikirkan.


Hingga selesai acara, tidak ada satupun yang terjadi, semua aman dan lancar.


Semua tamu menyalami Bian dan Aruna termasuk Pras.


"Aku tidak merasa mengundangmu." ucap Bian membuat Pras tersenyum.


"Apa kau khawatir jika aku datang?'


"Tidak, untuk apa aku khawatir." balas Bian santai.


"Pintar, aku memang tidak ingin melakukan apapun. Aku hanya ingin melihat orang yang sudah merusak reputasiku bahagia." ucap Pras lalu pergi.


"Dia benar benar sudah tahu." gumam Bian menatap punggung Pras yang berjalan keluar.


Pras berjalan ke toilet untuk menemui salah satu anak buahnya yang menunggunya disana, "Penjagaan sangat ketat, saya tidak bisa melakukan apapun Tuan, bahkan banyak yang tertangkap." ucap anak buah Pras.


"Dasar bodoh!"


Pras memang tidak melakukan apapun namun Ia membawa anak buahnya untuk merusak acara resepsi namun ternyata rencananya itu gagal total.


Pras berniat pergi sebelum Ia juga tertangkap namun sayangnya Ryan sudah menghadang jalannya.


"Apa kau sudah ingin pulang Tuan?" tanya Ryan.


"Ya, tentu saja." balas Pras berusaha santai meskipun Ia merasa panik.


"Tapi anak buahmu banyak yang tertangkap di sini apa kau akan meninggalkan mereka?"


Pras terkejut, "Apa yang kau katakan, aku tak mengerti!"

__ADS_1


"Jangan pura pura bodoh! Berhenti menganggu hidup keluargaku atau aku akan menghancurkanmu!"


Pras tersenyum sinis, Ryan sudah mengetahui tentang rencananya jadi Ia tidak perlu berpura pura lagi.


"Putramu yang sudah menghancurkan ku lebih dulu, aku hanya ingin membalasnya."


"Bukankah kekasih muda mu itu yang memulainya?" tanya Ryan.


"Apa kau menyelidiki ku?"


Ryan tertawa, "Aku akan melakukan apapun demi keamanan putraku dan keluargaku!"


"Sial!" Pras mengeluarkan pistolnya dan langsung menodongkan ke arah Ryan namun Ryan masih tetap santai.


Semua anak buah Ryan bersiap menyerang Pras namun Ryan menghentikan mereka.


"Apa kau juga ingin membunuhku?" tanya Ryan.


"Kau ingin membunuhku seperti kau membunuh adikmu sendiri lalu membuang mayatnya?"


Pras terkejut, "Sial, apa lagi yang kau ketahui?" ucap Pras merasa terancam.


"Ada banyak sekali, sangat tepat jika kau membunuhku jadi tidak akan ada yang tahu kebusukan mu."


Pistol yang dibawa oleh Pras jatuh karena tangannya lebih dulu di tembak oleh seseorang.


"Oh jadi kau yang sudah membunuh pemilik Prastama dan berniat menghancurkan perusahaanku?" Suara Bian terdengar karena baru saja Ia yang menembak tangan Pras untuk menyelamatkan Ryan.


Pras merasa kesakitan namun Ia malah tertawa, "Ya benar aku yang membunuh Tama dan membuang mayatnya, seharusnya aku juga melakukan itu padamu!"


"Kau terlambat, kau sudah terkepung sekarang." ucap Bian tersenyum sinis.


"Sial," umpat Pras saat melihat beberapa polisi berlari ke arahnya.


Pras kembali mengambil pistolnya, Ia segera menembak ke arah Bian.


Dorr...


Bian tersungkur ke lantai,


"APA YANG KALIAN LIHAT, CEPAT BAWA PUTRAKU!" teriak Ryan pada anak buahnya.

__ADS_1


Polisi langsung memborgol tangan Pras, sebelum polisi membawa Pras keluar, Ryan sempat memberikan bogeman pada Pras.


"Aku akan memberimu lebih dari ini jika terjadi sesuatu pada putraku!"


"Aku akan menunggu mu." balas Pras tersenyum puas.


Aruna dan Anneta masih mengobrol dengan beberapa tamu dan mereka terkejut saat melihat polisi datang langsung berlari ke arah toilet. Keduanya semakin terkejut kala melihat Bian dibawa oleh beberapa orang dan ada banyak darah disana.


"Bian..."


"Kak Bian..."


Keduanya langsung berlari menghampiri Bian,


"Pak Bian tertembak." ucap Sadam yang mendampingi Bian.


Aruna dan Anneta langsung menangis, Bian dibawa ke sebuah kamar dimana sudah ada dokter disana.


Bian segera ditangani oleh para dokter.


"Kenapa kalian menangis?" tanya Ryan pada Anneta dan Aruna.


"Bian tertembak, bagaimana aku tidak menangis."


Ryan berdecak, "Hanya tertembak kakinya, dia pasti baik baik saja. bukankah begitu sayang?" tanya Ryan menatap Bian yang meringgis kesakitan karena dokter sedang mengambil pelurunya yang menempel di kakinya.


"Beruntung pelurunya tidak menembus tulang kaki jadi masih aman." tambah dokter itu membuat semua orang yang berada disana lega.


Bian masih meringgis kesakitan namun sepertinya Ia harus berterima kasih pada Papanya yang sudah membantu menyelesaikan masalahnya, jika tidak ada papanya mungkin bukan hanya dirinya yang menjadi korban namun juga Aruna.


"Bagaimana Papa bisa tahu tentang Pras dan Prastama?"


"Papa ini cekatan dan tidak bodoh, tentu saja Papa tahu jika ada yang mengincar keluarga Papa."


Bian berdecak, "Jadi Papa menganggapku bodoh?"


Ryan tertawa, "Kau yang mengatakan sendiri."


"Dasar pria tua menyebalkan, aduhh... hati hati dok." kata Bian pada Dokter yang sedang memberi perban kakinya.


"Ups maaf, tidak sengaja." kata Dokter itu lalu mengedipkan mata ke arah Ryan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2