MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
133


__ADS_3

Sadam baru saja selesai mandi, Ia keluar dan melihat istrinya duduk dipinggir ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Siapa yang sudah membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya Sadam langsung mengambil ponsel dari tangan Keisha dan melihat nama Aruna disana.


"Aku hanya bertukar pesan dengan Aruna, apa kau cemburu?" protes Keisha tak suka dengan Sadam yang langsung merebut ponselnya.


Sadam tersenyum lalu mengembalikan ponsel istrinya, "Maafkan aku sayang." ucap Sadam lalu memberikan pelukan pada istrinya.


"Apa yang kalian bicarakan?' tanya Sadam yang langsung membuat Keisha tersenyum geli.


"Aruna baru saja mengatakan padaku jika rasanya sangat menyakitkan saat pertama kali melakukan itu."


Sadam menatap Keisha heran, "Pertama kali melakukan? Bukankah mereka sudah melakukan kemarin malam."


Giliran Keisha yang dibuat bingung, "Sepertinya mereka baru saja melakukan karena siang tadi Aruna ... " Keisha menceritakan apa yang terjadi siang tadi dimana Ia mengajak Aruna membeli lingerie ke mall sebagai tanda perminta maafan pada Bian karena Aruna telah berbohong semalam.


"Jadi semalam mereka belum melakukan? Pantas saja tadi dikantor Pak Bian terlihat kesal dan sangat pekerja keras, tidak seperti biasanya." ucap Sadam lalu tertawa, sekarang Ia sudah memiliki bahan ejekan jika besok bertemu dengan Bian.


"Sudahlah, jangan ikut campur atau menertawakannya, biar bagaimanapun kita bisa hidup karena bekerja dengannya." nasehat Keisha.


"Ck, kau selalu saja membela Pak Bian, apa kau menyukainya?"


Keisha langsung saja gugup, Ia segera menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak,"


Sadam hanya berdecak, Ia berdiri untuk mengambil pakaiannya, sementara Keisha tampak terdiam, Ia menenangkan dirinya jika Ia sudah tidak lagi memiliki rasa untuk Bian, ya sudah tidak lagi setelah Ia bersama dengan Sadam.


...****************...


Aruna terusik tidurnya kala merasa ada yang menciumi pipinya.


"Bangun, apa kau tidak ingin makan malam?" suara serak Bian terdengar membuat Aruna membuka matanya.


"Jam berapa?"


"Jam delapan."


Aruna menggerakan tubuhnya ingin bangun namun tubuhnya serasa remuk bahkan dibawah sana masih sakit.


Entah berapa ronde sampai tak terhitung, kini tubuhnya sudah lengket dan lemas.


"Mau ku gendong ke kamar mandi?" tanya tawar Bian.


Aruna mengangguk saja karena tubuhnya terasa lemas.


"Apa tanganmu sudah benar benar sembuh kak?" tanya Aruna saat Bian menurunkan dikamar mandi.


"Sudah, dokter itu benar benar menipuku, aku akan menghajarnya jika sampai bertemu lagi." ucap Bian terdengar kesal setelah mengingat dokter rumah sakit yang memberikan perban pada lukanya yang sudah sembuh.

__ADS_1


"Sudahlah kak, lagipula apa yang Kak Bian inginkan sudah terjadi kan?"


"Tapi aku harus menunggu lama!"


Aruna menggelengkan kepalanya, Ia memilih mandi dari pada harus mendengar omelan suaminya itu.


Selesai mandi, keduanya bersiap turun ke bawah untuk makan malam. Bian kembali mengendong Aruna.


Dan sampai dibawah, betapa terkejutnya Aruna saat melihat mertuanya duduk dikursi meja makan bersiap untuk makan malam bersama.


"Pa Papa... Ma Mama..." Aruna memaksa turun dari gendongan Bian.


"Kenapa Kak Bian tidak bilang kalau Papa mama kesini." protes Aruna dengan suara berbisik.


"Kamu tidak bertanya." balas Bian santai.


Terdengar tawa renyah dari Ryan, "Tidak perlu gugup Aruna, kalian sudah menikah, bebas melakukan apapun lagipula ini rumah kalian sendiri." ucap Ryan dan Aruna hanya tersenyum tipis masih menahan malu.


"Jadi kalian sudah melakukannya ya?" goda Anneta.


"Sudah dong Ma, Aruna udah ketagihan minta nambah." celetuk Bian membuat mata Aruna melotot dan langsung memukul lengan Bian.


"Kebalik, Kak Bian maksa minta terus Ma padahal Aruna masih sakit!" adu Aruna akhirnya.


Anneta menatap Bian sambil menggelengkan kepalanya, "Bian kamu tidak boleh seperti itu, harus bersabar." ucap Anneta membuat Bian meringgis.


Mbok Siti terlihat sudah menyiapkan menu makan malam untuk mereka,


"Gimana mbok, betah kan kerja disini?" tanya Anneta ramah.


"Betah kok Nyonya."


"Syukur deh, jewer aja telinganya kalau anak anak disini pada nakal Mbok." ucap Anneta.


Mbok Siti tertawa, "Nanti saya bisa dipecat kalau berani jewer Non Runa sama Den Bian." balas Mbok Siti yang langsung membuat semua orang tertawa.


"Mama sama Papa nginep kan?" tanya Aruna disela sela makan malam.


"Nginep lah, mau gangguin pengantin baru belah duren." ucap Ryan.


Bian berdecak, "Gangguin aja, orang habis ini kita mau tidur, udah capek main berkali kali." pamer Bian.


Ryan tertawa, "Papa nggak percaya kamu sehebat itu bisa berkali kali."


"Ck, tanya aja sama Aruna Pa."


"Emang bener Run?" tanya Ryan namun Aruna hanya menunduk malu tidak menjawab pertanyaan Ryan.

__ADS_1


"Sudahlah mas, jangan tanya masalah gituan lagi, anaknya malu juga!'' protes Anneta yang akhirnya membuat Ryan diam.


"Kalian nggak nunda punya anak kan?" tanya Anneta.


"Enggak dong Ma..."


"Baguslah, Mama udah nggak sabar gendong cucu."


Selesai makan malam, semua orang masuk ke kamar masing masing.


Bian yang baru keluar dari kamar mandi melihat Aruna termenung seolah sedang memikirkan sesuatu.


Bian mendekati Aruna lalu memeluknya.


"Apa yang kau pikirkan sayang?"


Aruna terkejut lalu menghela nafas panjang, "Aku takut ... Bagaimana jika aku tidak segera hamil? Mama dan Papa pasti kecewa karena mereka sudah berharap cucu pada kita." ungkap Aruna.


Bian tersenyum, "Kenapa kau mengkhawatirkan masalah itu sayang, bukan hal yang sulit."


"Kau selalu meremehkan sesuatu seperti itu." omel Aruna.


"Jika memang kau ingin segera hamil, kita harus sering melakukan itu, setiap saat dan setiap hari." kata Bian sambil tersenyum nakal.


"Apa harus seperti itu?"


"Tentu saja sayang, jadi mari kita lakukan lagi." ajak Bian membawa Aruna ke ranjang.


"Kak Bian bilang ingin istirahat malam ini?" protes Aruna mengingat Bian mengatakan itu pada Ryan saat mereka makan malam tadi.


"Ck, Jika ingin segera punya anak, kita juga harus terus berusaha sayang, tapi terserah saja aku tidak akan memaksa." ucap Bian lalu sedikit menjauh.


"Tapi milik ku masih sakit kak." Aruna menunduk sedih.


"Aku akan pelan pelan sayang, jadi bagaimana? Mau tidak?" tanya Bian kembali mendekat.


Aruna mengangguk pelan membuat Bian tersenyum mengembang. Tidak hanya sekali namun Bian kembali melakukan berkali kali hingga Aruna kelelahan dan tertidur.


Bian tersenyum melihat wajah lelap Aruna yang berkeringat. Entah sudah berapa kali untuk hari ini,rasanya Bian masih ingin lagi lagi dan lagi.


Bian merasa kasihan melihat Aruna yang masih kesakitan namun Ia juga tidak bisa menahan diri untuk bersabar menunggu esok.


"Maafkan aku sayang dan terima kasih untuk segalanya." ucap Bian lalu mengecup kening Aruna lama dan terlelap bersamanya.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn...

__ADS_1


__ADS_2