MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
90


__ADS_3

Seharian ini Ryan berada dirumah Anneta. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan juga menonton film, bernostalgia seperti saat masih muda.


"Apa besok kau akan datang lagi?" Tanya Anneta seperti tidak mengizinkan Ryan untuk pulang.


"Aku masih belum tahu, sepertinya besok ada kasus yang harus ku selesaikan." Ucap Ryan.


Wajah Anneta langsung saja murung membuat Ryan tersenyum mengerti apa yang Anneta inginkan.


"Mungkin lusa aku akan kemari lagi." Kata Ryan.


"Kau sudah berjanji." Kata Anneta penuh harap.


Ryan tersenyum, Ia mengangguk lalu mengelus kepala Anneta, "Aku pulang sekarang hmm."


"Baiklah, jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai rumah."


Ryan mengangguk kembali mengulas senyum lalu memasuki mobil.


Setelah mobil Ryan melaju pergi, Anneta segera memasuki rumah. Melewati ruang tamu, Anneta melihat David berdiri disana seolah menunggunya.


Anneta terus berjalan, tidak memperdulikan keberadaan David.


"Kita harus bicara!" Ucap David membuat langkah Anneta terhenti.


"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi." Balas Anneta tanpa menatap ke arah David.


"Aku ingin membatalkan perceraian kita!"


Sontak tawa Anneta mengema mendengar ucapan David.


"Bahkan akta cerainya sudah keluar, bagaimana bisa kau ingin membatalkan perceraiannya?" Tanya Anneta yang kini akhirnya menatap ke arah David.


"Terserah apapun itu, aku ingin kita kembali menikah." Kata David penuh percaya diri.


"Aku tidak mau, tidak akan mau lagi mengulangi kesalahan yang sama!"


"Kesalahan?" David menatap Anneta marah.


"Ya menikah denganmu adalah satu kesalahan terbesar dihidupku dan aku tidak akan mengulanginya lagi!"


David mengepalkan tangannya, Ia berjalan mendekat namun Anneta memilih pergi.


Langkah Anneta kembali terhenti kala tangannya dicekal oleh David.


"Apa yang kau lakukan?"


"Melakukan hal yang sama, seperti yang pernah kita lakukan dulu."


Anneta menatap David takut, ingatannya kembali pada masa mudanya dulu.


"Lepaskan!" Anneta mencoba memberontak namun cekalan David sangat kuat.


"Lepaskan aku!" Teriak Anneta lagi.


David tersenyum nakal, Ia menyeret tubuh Anneta ingin membawanya ke kamar namun tiba tiba...


Pyarr... seseorang memukul kepala David dengan vas bunga hingga pecah dan berceceran dilantai.

__ADS_1


David melepaskan cekalannya, memegangi kepalanya yang terasa sakit hingga Ia merasakan ada darah yang keluar.


"Brengsek!" David berbalik dan melihat ternyata Mbok Inem yang memukulnya menggunakan vas bunga.


"Lari nyonya." Ajak mbok Inem.


Anneta mengangguk segera berlari ke kamar dan mengunci pintu kamar, begitu juga dengan Mbok Inem yang juga langsung memasuki kamar lalu mengunci rapat pintunya.


David tidak bisa mengejar keduanya, baru ingin melangkahkan kakinya saja kepalanya terasa berdenyut sakit.


"Sial, aku akan membalasnya!" Umpat David masih memeganggi kepalanya.


David memilih duduk di kursi, Ia diam memikirkan masa lalunya yang bisa mendapatkan Anneta dengan mudah bahkan bisa dibilang David bisa merebut Anneta dari Ryan padahal kasta mereka berbeda waktu itu.


David hanyalah anak dari sopir pribadi dikeluarga Anneta yang berkuliah dikampus yang sama dengan Anneta.


Karena Ayah David sedang sakit membuat David harus menggantikan posisi Ayahnya menjadi sopir yang mengantar kemanapun Anneta pergi setelah jam kuliahnya selesai, sebelum menggantikan posisi sang Ayah, David bekerja sambilan menjadi office boy disebuah hotel.


"Jadi Ayahmu masih sakit?" Tanya Anneta yang baru saja pulang dari rumah Amina untuk belajar bersama.


"Benar Nona,"


"Jangan memanggilku Nona, panggil Neta saja."


"Tidak, saya hanya sopir jadi sudah selayaknya memanggil Nona."


"Ck, jangan seperti itu, kita itu teman satu kampus jadi bersikaplah seperti teman." Kata Anneta yang malah membuat David menjadi salah pengertian.


David pikir Anneta menyukainya karena David sangat pintar dan tampan meskipun Ia hanya seorang anak sopir.


David tersenyum, Ia jatuh cinta pada Anneta untuk pertama kalinya.


Hingga akhirnya, David merasa sakit hati saat melihat Anneta memiliki kekasih yang tak lain adalah Ryan.


David bahkan sering melihat Anneta dan Ryan menginap dihotel bersama membuatnya sangat geram dan marah.


Satu hari saat hujan deras, David menjemput Anneta dari rumah Ryan. David keluar dari mobil membawa payung berjalan mendekati Aruna dan Ryan yang sudah menunggunya didepan rumah.


"Maaf aku tidak bisa mengantarmu." Ucap Ryan sambil mengecup kening Anneta didepan David.


"Tidak apa, lekaslah sembuh." Balas Anneta masih menempel pada Ryan seolah masih ingin bersama.


"Jika sembuh mari kita lakukan lagi." Bisik Ryan dengan tatapan nakal.


David tidak bodoh, Ia tahu sangat tahu apa yang mereka bicarakan bahkan didepannya mereka tak malu membicarakan hal intim seperti itu.


David mengepalkan tangannya, Ia sudah tak tahan lagi menahan perasaannya pada Anneta selama ini.


David memberikan satu payung untuk digunakan Anneta setelah Anneta dan Ryan selesai berciuman didepannya.


"Jaga kekasihku dengan baik, aku tidak mau dia sampai terluka sedikitpun." Ucap Ryan.


"Baiklah."


Setelah memasuki mobil, David melajukan mobilnya. Hening, tidak ada obrolan diantara keduanya.


Sesekali David mencuri pandang, menatap Anneta dari spion, Anneta terlihat sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti disini?" Tanya Anneta saat David menghentikan mobilnya disebuah minimarket.


"Saya ingin membeli minuman sebentar Nona."


Anneta mengangguk paham, "Baiklah, jangan lama lama."


David mengangguk dan segera keluar dari mobil.


Tak berapa lama, David kembali masuk membawa dua botol air mineral.


"Minumlah Nona, sudah saya bukakan." David mengulurkan sebotol air mineral yang sudah terbuka.


Anneta tak ragu menerima botol air mineral karena dirinya juga haus.


"Kenapa rasanya aneh?" Ucap Anneta setelah meneguk isinya hampir setengah.


"Mungkin karena masih baru Nona."


"Ya mungkin."


Sampai dirumah, Anneta langsung mandi, selesai mandi Ia merasakan tubuhnya panas, sangat panas. Anneta turun ke dapur untuk mengambil air es, Tidak ada siapapun dirumah, orangtuanya sedang pergi berbisnis, bibik dirumah juga sudah tidur.


"Ada apa Nona?" David berjalan mendekat.


"Entahlah, tiba tiba aku merasa panas."


David tersenyum, Ia menyentuh dahi Anneta.


"Aku tahu bagaimana cara menyembuhkannya Nona."


"Bagaimana?"


David mengajak Anneta ke kamar lalu dia mulai berani menyentuh bagian sensitif milik Anneta yang membuat Anneta tidak lagi merasakan panas.


"Lakukan lagi." Ucap Anneta tanpa sadar.


"Baiklah jika Nona memaksa." Ucap David tersenyum penuh kemenangan.


Anneta sadar apa yang Ia lakukan pagi harinya, Anneta marah dan menangis karena David lancang melakukan itu padanya.


"Nona yang memaksaku semalam, kenapa menyalahkan aku?" Tanya David tanpa merasa bersalah.


"Kau gila? Tidak mungkin aku melakukannya, kau pasti menjebakku!"


David tersenyum, Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah video dimana Anneta merasa menikmati setiap sentuhan David.


"Brengsek! Hapus videonya sekarang!" Pinta Anneta sangat marah.


"Pasti akan menyenangkan jika kekasih Nona mengetahui video ini."


"Tidak, jangan lakukan itu!" Pinta Anneta dengan wajah pucat takut membuat David tersenyum puas.


Semenjak itu, David sering meminta Anneta melayani hasratnya hingga Anneta hamil dan akhirnya menikah dengan David.


David mengingat masa itu dan Ia berniat ingin melakukannya lagi, membuat Anneta hamil lagi agar mereka bisa kembali bersama.


"Aku sudah bangkut, Mia bahkan sudah meninggalkan aku jadi lebih baik aku bertahan dengan Anneta."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaa


__ADS_2