
Setelah kejadian pagi tadi, Aruna sudah tidak kembali ke kamar Bian. Bahkan makan siang milik Bian saja diantar oleh Mbok Inem.
"Aruna mana?" Tanya Bian saat Mbok Inem datang membawa makanan.
"Habis makan siang langsung balik ke kamarnya, nggak ngomong apa apa Den." Jelas Mbok Inem yang langsung membuat Bian berdecak.
Mbok Inem segera keluar setelah mengantar makanan.
Bian mengambil ponselnya lalu menelepon Aruna.
"Kalau Lo nggak kesini gue nggak mau makan siang." Kata Bian lalu mengakhiri panggilan.
Dan tak berapa lama pintu terbuka, tadinya Bian berharap Aruna yang datang namun ternyata...
"Kata Neng Runa, Aden nggak mau makan kalau nggak disuapin, mau Mbok Inem suapin?" Tawar Mbok Inem yang kembali memasuki kamar Bian.
Bian menatap Mbok Inem tak percaya, dalam hatinya Ia merasa sangat kesal karena Aruna berani menolak permintaannya bahkan meminta Mbok Inem untuk menyuapinya.
"Siapa yang minta disuapi, orang Bian aja dari tadi anteng dikamar kok." Kata Bian berbohong.
"Lah tadi kata Non Runa...."
"Mbok Inem dikerjain sama Runa." Kata Bian.
"Ya ampun Non Runa usil banget." Omel Mbok Inem lalu keluar dari kamar Bian.
"Sial, tuh bocah beneran ngajak perang!" Gerutu Bian.
Bian berdiri, ingin menghampiri Aruna ke kamarnya namun Ia merasakan tubuhnya lemas dan perutnya sangat lapar. Akhirnya mau tak mau Bian makan sendiri makanan yang diantar Mbok Inem.
Makan malam tiba, Bian kembali menunggu Aruna setelah seharian Aruna tidak kekamarnya dan lagi lagi makan malam diantar oleh Mbok Inem bukan Aruna.
Setelah Mbok Inem keluar dari kamarnya, Bian yang sudah memiliki tenaga, berjalan ke kamar Aruna.
Dikunci, Bian berdecak dan kembali ke kamar untuk mengambil kunci cadangan.
Pintu terbuka, Bian melihat Aruna sudah berbaring diranjang dengan mata terpejam.
Bian menatap Aruna lama hingga akhirnya Bian tahu jika Aruna hanya pura pura tidur.
Bian tersenyum nakal dan mulai mendekati ranjang Aruna.
"Wah udah tidur, ditelanjangin juga nggak bakal tahu." Ucap Bian yang akhirnya membuat Aruna terkejut, membuka matanya dan melotot menatap Bian.
Aruna bergegas bangun dan langsung menutupi tubuhnya mengunakan selimut, "Kakak mau ngapain!"
"Kenapa? Bukannya elo udah tidur?" Balas Bian tersenyum nakal.
"Kakak kok bisa masuk?" Aruna tak menjawab malah balik bertanya.
"Pintunya udah Aruna kunci, kok kakak bisa masuk?"
__ADS_1
"Nggak penting gue bisa masuk kesini gimana yang terpenting sekarang kenapa Elo nggak kekamar gue nganter makanan dan malah minta Mbok Inem yang nganter sama nyuapin!"
Aruna menundukan kepalanya, "Takut ketahuan sama Mbok Inem lagi kalau kita... eumm kita mau ciuman."
Bian pura pura terkejut, "Eh emang siapa yang mau ciuman?"
"Loh tadi siang kak Bian megang megang pipi sama bibir bukannya mau nyium Runa?"
Bian menoel hidung Aruna, "Dasar otak Lo mesum, udah dibilang tadi ada semut jalan di pipi sama bibir Lo makanya mau gue ilangin." Kata Bian membuat Aruna terkejut.
"Semut jalan? Tapi kok Aruna nggak kerasa ya kak?" Heran Aruna.
"Perasaan Lo udah ketutup sama otak mesum Lo jadi gini." Balas Bian santai.
"Enggak, enggaklah. Emang tadi Kak Bian mau nyium aku kok!" Aruna masih ngeyel.
"Ya udah sini gue cium sekarang kalau Lo ngeyel."
Bian menarik tangan Aruna hingga Aruna jatuh ke dada Bian dan langsung mencium Aruna.
Aruna mencoba memberontak namun sayang Ia kalah tenaga, karena Bian lebih kuat menahan Aruna hingga Aruna pasrah menerima ciuman bibir Bian yang terasa hangat.
"Ih kak Bian." Protes Aruna memukul lengan Bian.
"Dah seneng kan Lo, udah gue cium." Kata Bian mengusapi bibirnya yang basah karena ciuman panas yang mendadak.
"Aruna nggak minta dicium, udah sana kak Bian keluar aja!" Aruna terlihat kesal.
"Nggak mau, Runa mau tidur aja." Kata Runa menjauh dari Bian dan langsung menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
"Ck, mau gue cium lagi?"
Aruna melotot, tentu saja Ia tak mau.
"Ya udah ayo Aruna suapin!" Kesal Aruna berdiri dari ranjangnya berjalan lebih dulu keluar kamar membuat Bian tersenyum puas karena berhasil membuat Aruna menuruti keinginannya.
Kini Aruna dan Bian sudah duduk disofa yang ada dikamar Bian.
"Jangan gila Lo, masa iya nyuapin makan sesedok penuh gitu!" Protes Bian saat Aruna memenuhi sendoknya dengan nasi dan hanya sedikit lauk.
"Biar cepet habis!"
"Oh Lo marah ama gue, ya udah sini gue makan sendiri kalau Lo nggak ikhlas nyuapin!" Kata Bian merebut piringnya.
"Oh ya udah, Aruna mau tidur." Kata Aruna berdiri dan hendak pergi namun seketika tangannya ditarik Bian hingga jatuh ke pangkuan Bian.
"Emang dasar ngeselin!" Omel Bian.
"Apa sih kak, lepas nggak!" Protes Aruna memberontak namun Bian malah memeluknya erat.
"Jangan gila kak, kita ini saudara." Kata Aruna mengingatkan karena jujur saat ini Aruna takut jatuh cinta pada Bian.
__ADS_1
"Bukan saudara kandung ini jadi bebaslah." Bian terdengar santai.
"Lepas kak!" Pinta Aruna.
Bian yang merasa nyaman, tidak melepaskan Aruna dan malah memeluknya semakin erat.
"Kak..."
"Diem Lo!"
Aruna akhirnya diam, tidak ingin membuat Bian marah. Aruna membiarkan Bian memeluknya semakin erat.
Aruna bahkan bisa merasakan degup jantung Bian yang terdengar kencang.
Hingga beberapa menit akhirnya Bian melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Aruna hingga mata keduanya saling bertemu.
"Sadar kak. Kakak sudah punya calon istri." Kata Aruna mengingatkan.
"Bodo amat Run!"
"Kak..."
"Kenapa? Lo nggak nyaman deket sama Gue?"
Aruna menggelengkan kepalanya, "Bukan gitu kak!"
"Trus kenapa?"
"Runa cuma, emm..."
"Cuma apa?"
Hoammm .... "Aruna ngantuk kak, mau bobok."
Aruna melepaskan tangan Bian dan segera berlari ke kamarnya sebelum Bian kembali mencegahnya.
Aruna mengunci pintu kamarnya, meskipun Bian memiliki kunci cadangan, Aruna tetap mengunci pintu kamarnya.
"Kok perasaan aku jadi aneh gini." Batin Aruna sambil memeganggi dadanya yang berdegup kencang.
"Jangan Run, jangan jatuh cinta sama Kak Bian. Gimana nanti sama Papa dan Mama kalau tahu kalian berhubungan." Gumam Aruna menggelengkan kepalanya, Aruna tidak ingin membuat Papa dan Mamanya kecewa.
Sementara dikamarnya, Bian tampak diam merenung. Mengingat saat Ia menatap mata Aruna. Terlihat bukan mata sayang yang Aruna pancarkan melainkan mata takut.
Mungkinkah Aruna takut padanya?
Bian menggelengkan kepalanya, Ia tak mengerti kenapa bisa sebuncin ini pada Aruna, Bian hanya merasa nyaman dan bahagia saat bersamanya, "Gue bakal bikin Lo jatuh cinta Run...ya gue bakal bikin Lo jadi milik gue, hanya gue!"
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komeeenn
__ADS_1