MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
45


__ADS_3

Seharian berada dikantor membuat Bian dan Aruna merasa jenuh.


Sore ini Bian mengajak Aruna untuk jalan jalan sekaligus makan malam diluar.


"Tapi aku mau pulang dulu kak, ganti baju lah masa mau pakai baju ini lagi." Kata Aruna mengingat seharian ini Ia berada dikantor Bian dan masih mengenakan pakaian yang sama yang Ia pakai kemarin.


"Oke kita pulang dulu." Kata Bian akhirnya melajukan mobilnya menuju rumah.


Sampai dirumah keduanya disambut oleh Mbok Inem yang tampak mengkhawatirkan Bian dan Aruna.


"Aden sama Non Runa kemana aja? Semalam nggak pulang. Bingung Mbok mau telepon tapi nggak punya nomornya." Ungkap Mbok Inem.


"Aku diajak nginep dikantornya kak Bian." Jawab Aruna.


"Berdua aja?" Mbok Inem nampak terkejut.


"Iya Mbok, tapi kita tidur sendiri diri lah masa iya tidur berdua." Jelas Aruna membuat Mbok Inem bernafas lega.


Bian hanya tersenyum kecil, "Jangan suka bohong pada orangtua, nggak baik." Kata Bian sambil mengelus kepala Aruna lalu pergi meninggalkan Aruna dan Mbok Inem.


"Non Aruna bohong?"


"Eng enggak ya Mbok." Aruna terdengar gugup.


"Ya sudah, yang penting Non Runa sama Aden baik baik aja."


Aruna menganggukan kepalanya, "Ya sudah, Runa mau ke atas dulu. Ganti baju soalnya Kak Bian mau ngajakin Runa jalan jalan." Kata Runa terlihat senang, berjalan menaiki tangga.


"Kok Mbok ngerasa akhir akhir ini Aden sama Non Runa deket, padahal biasanya nggak pernah akur." Gumam Mbok Inem merasa aneh.


Aruna tidak langsung ke kamarnya, Ia pergi ke kamar Bian lebih dulu.


"Kak, kenapa bilang sama Mbok Inem kalau aku bohong sih!" Protes Aruna.


"Ya kan emang Kamu bohong." Balas Bian cuek sambil mengambil baju dilemari.


"Kalau Aruna jujur kan malah gawat kak!"


"Gawat gimana? Orang kita nggak ngapa ngapain, cuma tidur diranjang bareng aja. Nggak bakal aneh lah, kita kan saudara." Jelas Bian yang akhirnya membuat Aruna sadar, memang bukan hal yang aneh, lagi pula hanya tidur tidak melakukan apapun.


"Mau protes apa lagi?"


"Ih kak Bian, aku masih disini!" Protes Aruna saat Bian membuka baju didepan Aruna memperlihatkan dada bidangnya.


"Salah sendiri nggak keluar."


Aruna mendengus sebal, Ia langsung keluar dari kamar Bian.


Bian menunggu Aruna didepan kamar. Tak berapa lama Aruna keluar mengenakan dress floral pendek.


"Nggak ada baju lain?" Tanya Bian terdengar tidak menyukai penampilan Aruna.


"Kenapa kak? Kependekan ya?" Tanya Aruna.

__ADS_1


"Jele, Ganti sana!"


Aruna memutar bola matanya malas, Ia kembali masuk ke kamar. Berdiri didepan cermin, Ia merasa bajunya bagus hanya saja terlalu pendek membuatnya terkesan seksi.


Akhirnya Aruna mengganti pakaiannya, mengenakan setelan yang biasa Ia pakai saat ke kampus, celana jeans panjang dan blouse.


"Ganti lagi?" Cibir Aruna saat keluar dan memperlihatkan pada Bian.


Bian tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Sekarang sudah bagus." Kata Bian sambil mengacungkan jempolnya.


"Padahal floral dress tadi juga bagus." Gerutu Aruna.


"Bagus, tapi jika kamu memakainya saat dikamar bersamaku." Gumam Bian dengan suara pelan.


"Haa? Kak Bian ngomong apa?" Aruna samar samar mendengar Bian mengucapkan kamar.


Bian tersenyum, mengelus kepala Aruna, "Nggak ada. Kita berangkat sekarang, keburu malam." Ajak Bian yang langsung diangguki Aruna.


Keduanya turun kebawah, mata Aruna langsung membulat senang saat tahu siapa yang ada dilantai bawah.


"Papa..." Aruna bergegas memeluk papanya.


"Hello baby girl."


"Ck, aku sudah bukan anak kecil lagi Pa!" Protes Aruna.


"Tidak, sekarang aku sudah menjadi putri dewasa milik Papa."


Bian berdecak, "Ayo berangkat sekarang."


"Mau kemana kalian?" Tanya David.


"Jalan jalan sore trus lanjut makan malam." Balas Aruna.


"Papa tidak diajak?"


"Bukannya Papa sibuk?" Kata Bian sinis.


"Tidak, hari ini Papa tidak sibuk dan bisa ikut kalian jalan jalan." Kata David.


Aruna tampak bersorak senang, "yeayy, kita makan malam bersama, ck sayang sekali Mama belum pulang." Ungkap Aruna yang selalu merasa senang saat keluarganya berkumpul.


"Ck, kami ingin jalan jalan berdua, sebaiknya Papa pergi dengan sweet girlnya Papa." Ucap Bian membuat Aruna dan David terkejut.


Mendadak David menjadi gugup, "Ya sudah sana kalian pergi saja."


Tanpa mengatakan apapun lagi, Bian segera menarik tangan Aruna dan membawanya memasuki mobil.


"Sweet girl siapa yang Kakak maksud? Apa Mama?" Tanya Aruna nampak penasaran.


"Tentu saja Mama, siapa lagi kalau bukan Mama."

__ADS_1


Aruna mengangguk paham, tadinya Ia sempat negatif thinking dengan sang Papa, mengira Papanya sudah selingkuh meskipun Aruna sangat yakin Papanya tidak akan melakukan itu mengingat Papa sangat mencintai Mama Anneta.


"Kemana kita?" Tanya Bian yang masih belum tahu tujuan jalan jalan sore kali ini.


"Bioskop."


"Ck, membosankan." Kata Bian.


Aruna berdecak, "Tidak kak, ada film bagus yang harus kakak tonton."


"Film apa? Aku lebih suka blue film." Kata Bian menatap Aruna nakal.


"Ck, dasar mesum!" Ucap Aruna sebal membuat Bian tertawa.


Keduanya sudah berada di bioskop, saat ingin membeli tiket film ternyata sudah habis membuat Aruna memilih film secara random.


"Jika membosankan aku akan keluar dari sini." Bisik Bian yang diangguki Aruna.


Awal film dimulai, terlihat bagus dan tidak membosankan hingga saat ditengah tengah ada beberapa adegan yang membuat Aruna menutup matanya karena banyak adegan percintaan secara terang terangan.


Bian tampak menikmati filmnya, berbeda dengan Aruna yang lebih sering menutup kedua matanya.


"Kita keluar saja kak." Bisik Aruna mulai tidak tahan dengan adegan yang ditayangkan.


"Sebentar, masih seru." Kata Bian tanpa menatap Aruna karena matanya fokus menatap layar bioskop.


Aruna berdecak, Ia akhirnya mau tak mau masih bertahan disana hingga film selesai.


"Kamu bilang tidak suka blue film tapi mengajak ku nonton dibioskop, seharusnya kita menonton dikamar, lebih asyik." Goda Bian saat keduanya keluar dari bioskop.


Mata Aruna melotot, "Film yang ingin ku tonton sudah habis tiketnya jadi aku memilih random film, mana ku tahu banyak adegan dewasanya." Ungkap Aruna menatap Bian sebal.


"Ck, bilang saja kau mau mengodaku huh." Ejek Bian yang langsung membuat Aruna protes tak terima.


"Tidak perlu repot repot datang kesini untuk mengoda kak Bian, aku memakai dress pendek saja Kak Bian sudah tergoda," ejek Aruna tak mau kalah.


"Aku tidak tergoda, aku mengatakan yang sebenarnya. Kau jelek saat memakai dress pendek!"


"Benarkah, jadi kakak tidak tergoda?" Tanya Aruna menatap Bian genit saat keduanya sudah berada didalam mobil.


'Tidak!"


"Benarkah?" Aruna menggulung rambutnya hingga leher jenjang mulusnya terlihat dan sangat menggoda Bian.


"Ck, apa Ac nya mati? Aku kegerahan." Kata Aruna membuka kancing baju paling atas.


Bian tidak tahan lagi, Aruna benar benar penggoda hebat.


"Shitt... jangan salahkan aku! Kau yang memulai semuanya!"


Bian menarik lengan Aruna hingga mendekat ke arahnya lalu mencium bibir tipis Aruna yang sangat menggoda.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2