
Mbok Inem keluar dari ruang rawat Anneta karena tak ingin menganggu Anneta bersama pria yang baru saja datang. Melihat Anneta menangis saat pria itu datang sudah pasti ada masalah diantara mereka yang harus diselesaikan jadi Mbok Inem memilih keluar.
Mbok Inem berjalan menuju taman Klinik, mungkin lebih baik dia menunggu disana sampai tamu nyonya pulang pikir Mbok Inem.
Baru setengah perjalanan, Mbok Inem melihat dokter yang merawat Anneta tampak sedang berbincang dengan temannya. Entah mengapa Mbok Inem sangat penasaran dan ingin menguping pembicaraan dokter itu.
"Aku merasa bersalah saat melihat wanita itu, bisakah kau mengantikan untuk ku?"
"Memang apa yang kau lakukan padanya?" Tanya teman dokter itu.
"Sebelum wanita itu keguguran suaminya datang dan memaksaku untuk membuatkan resep obat penggugur kandungan, bodohnya aku menurutinya." Ucap dokter itu, raut wajahnya penuh penyesalan.
"Suami gila, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena pria brengsek itu!" Umpat dokter itu lagi.
Mbok Inem mengerutkan keningnya, "Tidak kan, tidak mungkin Tuan David melakukan itu pada bayinya sendiri, tidak mungkin. Dia memang jahat pada Nyonya, dia memang menduakan Nyonya tapi tidak mungkin dia membunuh bayinya." Batin Mbok Inem menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Pasti yang dimaksud dokter itu bukan Nyonya, ya pasti bukan!" Ucap Mbok Inem yang kini sudah sampai ditaman.
Mbok Inem tampak mengingat sesuatu, malam itu sebelum Nyonya keguguran, Tuan pergi ke dapur untuk membuatkan jus jambu dan pagi saat Mbok Inem membuang sampah, ada bungkusan aneh ditempat sampah seperti bungkusan obat.
Mbok Inem membegap mulutnya, seolah sudah berhasil menyatukan puzzle ingatannya.
"Jadi yang dimaksud Dokter tadi adalah pak David?" Gumam Mbok Inem. "Rasanya sulit dipercaya, bagaimana bisa Ia tega membunuh bayinya sendiri."
Mbok Inem hanya menghela nafas panjang, Ia tak mampu berpikir lebih jauh lagi.
Semetara itu, diruang rawat Anneta, tampak Ryan duduk dikursi dan sangat dekat dengan ranjang Anneta.
Anneta menghentikan tangisnya, menatap pria yang pernah mengisi hatinya itu bahkan mungkin sampai sekarang masih ada nama pria itu dihatinya.
"Aku menanyakan kabar kenapa kamu malah menangis? Apa aku akan mendengar kabar buruk?" Tanya Ryan masih mengulas senyum untuk Anneta.
"Kemana kamu pergi selama ini? Apa kamu sangat membenciku hingga pergi selama ini?" Tanya Anneta dengan suara serak.
"Apa kamu merindukanku?" Goda Ryan yang langsung membuat Anneta tersenyum.
Anneta hanya tidak menyangka Ryan menemuinya setelah hampir dua lima tahun pergi tanpa tahu kemana Ia pergi selama ini.
"Aku pikir kamu sudah mengetahui segalanya."
Ryan tersenyum, "Segera lah sembuh, sepertinya kau butuh liburan." Kata Ryan.
"Apa kita akan liburan bersama?" Tanya Anneta penuh harap.
Ryan mengangguk yang langsung membuat Anneta tersenyum bahagia.
__ADS_1
Keduanya mengobrol sambil sesekali bercanda hingga tak terasa waktu sudah sore. Ryan pamit pulang karena masih ada yang harus Ia urus.
Ryan berjalan menuju tempat parkir mobilnya, Ia berpapasan dengan Aruna yang berjalan sendirian.
"Paman..." sapa Aruna tampak terkejut bisa bertemu lagi dengan pria yang makan dikedai bersamanya pagi tadi.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ryan pura pura tak tahu, melihat ditangan Aruna membawa bucket mawar putih membuat Ryan tersenyum.
"Mama ku dirawat disini, lalu apa yang paman lakukan disini?"
"Oh hanya menjenguk teman lama. Sudah sebaiknya kau segera masuk, takut jika Mama mu menunggu terlalu lama."
Aruna tersenyum lalu mengangguk, "Sampai bertemu lagi paman." Ucap Aruna berjalan meninggalkan Ryan.
"Apa dia sesenang itu bertemu denganku hingga berharap akan bertemu lagi?" Gumam Ryan lalu tersenyum geli.
Aruna melanjutkan langkahnya, entah mengapa bertemu dengan paman tadi membuat Aruna merasa senang padahal Ia baru mengenal pagi tadi namun rasanya seperti sudah lama mengenal pria itu.
"Untung kak Bian tidak ada. Jika saja Kak Bian tahu bisa bisa kepalaku dipenggal karena merespon paman itu."
Aruna memasuki ruangan Anneta dimana ada Mbok Inem yang menjaga Mamanya sedang terlelap.
"Nyonya baru saja tidur Non." Kata Mbok Inem dengan suara berbisik.
Aruna mengangguk paham, "Mbok pulang saja biar Runa jagain Mama sampai kak Bian datang."
"Mbok butuh istirahat jadi sekarang pulang saja. Percayakan Mama sama Runa."
Mbok Inem akhirnya mengangguk, Ia segera bersiap untuk pulang.
Aruna meletakan bucket mawar putihnya disofa dan terkejut saat melihat ada bucket yang sama dengan miliknya disofa.
"Ini milik siapa Mbok?"
"Tadi ada temen Nyonya datang, ya sudah Mbok pamit dulu ya neng." Kata Mbok Inem yang langsung diangguki Aruna.
"Temennya Mama? Siapa?" Batin Aruna sangat penasaran.
Aruna duduk dikursi sambil memainkan ponselnya hingga akhirnya Mama Anneta bangun.
"Mau minum Ma?"tawar Aruna yang langsung di gelengi oleh Anneta.
"Kamu sudah lama disini?"
"Lumayan Ma... oh ya Ma temen Mama ada yang datang menjenguk kesini?" Tanya Aruna yang langsung membuat Anneta gugup.
__ADS_1
"Mbok Inem bilang sama kamu?"
Aruna menggeleng, "Kok ada mawar putih disana padahal Runa juga bawain buat Mama." Jelas Aruna yang membuat Anneta sedikit lega karena Mbok Inem tidak menceritakan tentang Ryan pada Aruna.
"Iya, temen Mama tahu kalau Mama suka mawar putih."
Aruna hanya mengangguk dan kembali menatap layar ponselnya.
Anneta diam diam memandangi wajah Aruna. Terlihat sangat cantik jadi wajar jika Bian menyukai adik angkatnya itu padahal dulu Bian sangat membenci keberadaan Aruna.
Entah sejak kapan cinta diantara mereka tumbuh yang pasti semalam kali pertamanya Bian meminta restu padanya karena mencintai Aruna.
"Apa boleh Mama tanya sesuatu?"
Aruna meletakan ponselnya lalu mengenggam tangan Anneta, "Tanyakan apapun itu Ma."
"Aruna sudah tahu jika ternyata bukan anak kandung Mama?"
Setelah sekian lama menunggu saat ini akhirnya datang juga hari ini. Hari dimana Anneta mungkin akan jujur tentang siapa dirinya itu.
Aruna mengangguk, "Apa Aruna salah jika beranggapan seperti itu?"
"Tidak sayang, memang benar kamu bukan putri kandung Mama."
Aruna menundukan kepalanya, rasanya sesak di dada saat mendengar Anneta mengatakan itu padanya.
"Tapi Mama menyanyanggimu seperti putri kandung Mama sendiri."
Aruna mengangguk karena memang benar adanya, Anneta sangat menyayangginya selama ini.
"Dari mana kamu tahu?"
"Waktu kak Bian bertengkar dengan Papa sebelum keluar negeri, Kak Bian mengatakan jika aku hanyalah anak angkat."
Anneta tampak terkejut, tak menyangka Aruna bisa menyimpan kenyataan itu selama bertahun tahun tanpa menanyakan padamya.
"Kenapa tidak menanyakan pada Mama?"
"Aruna hanya ingin Mama yang mengatakan sendiri seperti saat ini."
"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama sayang."
Aruna tersenyum, "Runa baik baik saja Ma."
"Lalu sekarang apa kau sudah siap menikah dengan Bian?"
__ADS_1
Sontak ucapan Anneta membuatnya terkejut, tak menyangka Anneta sudah mengetahui hubungannya dengan Bian.
Bersambung...