MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
94


__ADS_3

Bian masih berlari mengejar Aruna, Ia tak ingin Aruna salah paham dan marah. Sebentar lagi mereka menikah, Bian tak ingin pernikahannya batal hanya karena masalah ini.


Tentang pembunuhan yang dilakukan oleh David pada Orangtua Aruna. Sudah lama Bian mengetahui semua itu dan Bian juga sudah menyelidiki kebenarannya.


Setelah Bian mengetahui jika Papanya membunuh orangtua Aruna demi harta, Bian tak sudi lagi menggunakan uang David. Bian lebih memilih kelelahan bekerja dari pada harus makan uang haram milik David.


Aruna masih terus berlari, tak memperdulikan teriakan Bian hingga akhirnya Ia merasa kelelahan dan terjatuh.


"Sayang... " Bian menghampiri Aruna yang jatuh ke tanah dan menangis. Keduanya kini berada ditaman yang tak jauh dari rumah. Beruntung masih pagi, belum ada orang yang datang ke taman.


"Kenapa, kenapa harus menyembunyikan semua ini?" Tanya Aruna di iringi isakan tangis membuat hati Bian terasa ngilu, tak sanggup melihat Aruna menangis.


"Bukan seperti itu sayang, aku tidak bermaksud menyembunyikan ini, aku berencana menceritakan segalanya padamu tapi-"


"Tapi menunggu kita menikah agar aku tidak bisa kecewa dan meninggalkanmu?" Potong Aruna membuat Bian terkejut karena Aruna mengetahui apa yang Ia pikirkan dan takutkan selama ini.


"Papa ku sudah membunuh orangtuamu, jika kamu tahu semua ini sudah pasti kamu akan membenci Papaku, tidak tentu saja tidak hanya Papaku tapi juga aku, kamu pasti akan membenciku juga dan tidak ingin bersamaku lagi.


Jika aku tidak mencintaimu mungkin aku tidak akan memperdulikan itu semua tapi sekarang aku mencintaimu, aku takut jika kamu membenciku, aku takut jika kamu meninggalkanku." Ungkap Bian.


"Selama ini aku juga tersiksa memendam ini sendirian, aku tersiksa Aruna. Mengetahui Papa ku selingkuh, mengetahui kejahatan papa dimasa lalu, aku kecewa Aruna, aku kecewa kenapa Tuhan memberiku Papa seperti itu." Ungkap Bian lagi akhirnya tak kuasa menahan air matanya, ikut menangis bersama Aruna.


Aruna menghentikan tangisnya, Ia memang sangat terkejut hari ini mengetahui fakta pahit hidupnya.


Rasanya sakit, sangat menyakitkan.


David, pria yang selama ini Ia panggil Papa juga sangat Ia hormati nyatanya tega membunuh orangtua kandungnya demi harta.


Dan Aruna sadar tidak hanya dirinya yang terluka namun Bian juga ikut terluka.


Ya Bian juga terluka karena masa lalu David.


Aruna bangkit, mengenggam tangan Bian mengajaknya untuk ikut bangkit, "Antar aku pulang ke apartemen kak." Pinta Aruna dengan suara serak.


Bian mengangguk, tak mengatakan apapun mengenggan erat tangan Aruna dan keduanya berjalan kembali kerumah.


"Tidak ingin bertemu Mama?"


Aruna menggelengkan kepalanya pelan lalu menundukan kepalanya.


Bian mengerti, cukup mengerti apa yang dirasakan Aruna saat ini, Ia mengajak Aruna memasuki mobil dan segera mengantarnya kembali ke apartemen.


Didalam mobil keduanya sama sama diam, sibuk dengan pemikiran masing masing.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu ke atas." Kata Bian sesampainya di apartemen.


Aruna hanya mengangguk lalu segera keluar dari mobil.


"Dimana Nysa?" Tanya Bian saat apartemen kosong tidak ada Nysa disana.


"Pulang kerumahnya, mungkin dia akan kembali lagi nanti sore."


Bian menghela nafas panjang, "Akan kutemani-"


"Tidak, sebaiknya kakak pulang. Aku sedang ingin sendiri."


Bian menatap Aruna dengan tatapan sendu, "Berjanjilah kita akan tetap menikah." Ucap Bian penuh harap.


Aruna diam, hanya diam.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Ku harap jangan membuat keputusan yang akan menyakiti hati kita berdua." Kata Bian mendekat ingin memeluk Aruna namun Aruna berjalan mundur menolak pelukan dari Bian.


Bian tersenyum kecut, "Maafkan kesalahan Papa ku, aku pastikan dia akan membayar semua yang sudah dia lakukan." Kata Bian lalu keluar dari Apartemen.


Aruna tertunduk lemas, Ia kembali jatuh ke lantai dan menangis lagi.


Bagaimana sekarang? Apa yang harus Ia lakukan, Aruna benar benar tak tahu lagi.


Aruna tak tahu lagi harus bagaimana dirinya menghadapi Bian sekarang ini.


...


Bian kembali kerumah, Ia sudah disambut oleh Ryan dan Anneta.


"Bagaimana Aruna?" Tanya Anneta dengan tatapan khawatir.


Anneta baru saja mengetahui dari Ryan jika David lah yang sudah membunuh Rega dan Amina orangtua kandung Aruna.


Lima tahun pernikahan bersama David, Anneta masih mengalami ekonomi yang sulit hingga Rega menawari David bekerja diperusahaan milik Rega. Berkat kecerdasan David, Rega mempercayakan segalanya pada David hingga peristiwa maut itu terjadi, Rega dan Amina mengalami kecelakaan mobil, keduanya meninggal ditempat dan hanya Aruna yang selamat. Karena tidak memiliki keluarga, perusahaan jatuh ke tangan David dan Aruna yang masih bayi di adopsi oleh David bersama Anneta.


Selama ini Anneta tidak mencurigai apapun hingga akhirnya kebusukan David terbongkar setelah hampir dua puluh tahun berlalu.


"Aruna masih shock,"


"Mama paham, biarkan dia sendiri lebih dulu." Kata Anneta menghibur Bian.


"Bian takut Aruna membatalkan pernikahan Ma..." ucap Bian dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Anneta mendekat lalu mengelus punggung Bian, "Jangan berpikir seperti itu, Mama yakin Aruna mencintai kamu dan dia tidak akan membuat keputusan seperti itu."


Bian mengangguk, mencoba mempercayai ucapan Mamanya.


"Sekarang sebaiknya kita ke kantor polisi karena David sudah dibawa kesana." Ajak Ryan yang langsung diangguki oleh Bian.


"Kamu dirumah saja, tidak perlu ikut." Kata Ryan sambil mengelus puncak kepala Anneta membuat Bian menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Sepertinya kita harus berangkat sekarang." Ajak Ryan terlihat gugup karena tatapan Bian.


Bian dan Ryan memasuki mobil. Segera Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Tak perlu buru buru, santai saja." Kata Ryan terlihat takut karena laju mobil sangat kencang.


"Anda takut?"


Ryan berdehem, pura pura tidak takut agar Bian tidak meremehkannya, "Tidak, aku juga biasa naik mobil dengan kecepatan tinggi."


Bian tersenyum, Ia menambahkan kecepatan mobilnya.


"Jangan gila, pelankan laju mobilnya!" Sentak Ryan benar benar takut.


"Anda bilang sudah biasa dengan kecepatan tinggi, kenapa sekarang malah ketakutan seperti itu?" Ejek Bian.


"Itu dulu saat aku masih muda, sekarang aku sudah tua tentu saja aku sudah tidak seperti itu lagi!"


"Anda menyadari jika sudah tua?"


"Tentu saja, apa kau tidak lihat wajahku sudah dipenuhi keriput!"


"Jika sudah merasa tua kenapa anda gatal sekali, kemarin Anda menggoda Aruna dan baru saja Anda menggoda Mama ku, apa maksudnya?" Protes Bian membuat Ryan sadar jika Bian masih kesal karena Ia ketahuan mengelus kepala Anneta.


"Ah ternyata kau ini begitu pendendam, sama seperti Mama mu." Celetuk Ryan.


"Jangan sok tahu tentang Mama ku, Anda baru saja mengenal Mama ku bisa bisanya Anda berbicara seolah Anda ini mantan kekasih Mama ku!"


"Aku memang mantan kekasih Mamamu."


Cittt.... Bian menghentikan mobilnya mendadak membuat kepala Ryan terbentur dashboard mobil.


"Apa kau gila!" Sentak Ryan saat merasakan keningnya sakit karena terbentur dashboard mobil.


Bersambung..

__ADS_1


Maaf jikalau sering ada typo hehe


__ADS_2