MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
93


__ADS_3

Pagi ini Aruna bersiap lebih awal, Ia berniat untuk pulang kerumah. Ya Aruna berniat pulang kerumah untuk bertemu dengan Mama dan Papanya meminta restu karena Ia akan menikah dengan Bian.


Aruna melihat keadaan rumah sangat sepi, tidak ada aktifitas disana. Tidak ada mang Torik yang menyapu halaman rumah seperti biasa, Aruna hanya mendengar sapaan mang Asep saat melewati pintu gerbang.


Aruna terus berjalan memasuki rumah yang tidak terkunci, suasana masih hening hingga Ia mendengar suara Bian yang terdengar cukup keras tak berapa lama suara David menyusul, terdengar tak kalah kerasnya.


Sepertinya mereka sedang bertengkar, batin Aruna.


Aruna berjalan mendekat, Ia baru ingin menanyakan apa yang terjadi namun langkahnya terhenti kala mendengar Bian mengatakan, "Kau pembunuh, kau membunuh orangtua Aruna hanya karena mengincar harta dan ingin memiliki perusahaannya, apa kau tahu betapa aku malu memiliki Papa sepertimu?"


Ucapan Bian terdengar jelas ditelinga Aruna, kepalanya mendadak merasa pusing dan dada pun terasa sesak.


"Pem pembunuh orangtuaku?" Aruna akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


Aruna melihat Bian dan David terkejut menatap ke arahnya.


"Aruna..." bibir Bian terlihat bergetar menyebut namanya.


"Katakan sekali lagi apa benar orangtuaku dibunuh?" Tanya Aruna dengan suara berat seolah menahan tangis.


"Sayang,... aku hanya-"


"Berhenti, jangan mendekat!" Ucap Aruna saat Bian berjalan mendekatinya.


"Sayang, ku mohon jangan seperti ini."


"Lalu katakan yang sebenarnya, apa Papa yang sudah membunuh orangtua ku?" Tanya Aruna sekali lagi.


"Tidak, belum waktunya kamu tahu segalanya, belum waktunya kamu tahu tentang ini!"


"Lalu apa kau akan menyembunyikan semua ini? Kau ingin aku terlihat seperti gadis bodoh yang tidak tahu apapun?" Air mata Aruna tumpah tak bsia menahan untuk tidak menangis.


"Maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua ini." Kata Bian kembali mendekati Aruna namun tetap saja Aruna berjalan mundur, Aruna menghindari Bian.


"Aku tidak membunuh, aku bukan pembunuh. Mereka mati kecelakaan bukan dibunuh." Akui David dengan wajah pucat takut.


"Sebaiknya Anda diam, tunggu sampai aku mendapatkan banyak bukti, aku akan membuat Anda dipenjara!" Ancam Bian.


Plak... David menampar Bian, "Anak macam apa kau ini? Apa kau lupa uang siapa yang kau gunakan untuk membuatmu seperti sekarang hah!"


Bian tersenyum sinis, Ia mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu debit pemberian Papanya dahulu lalu melemparkan didepan David.


"Ambil semua uangmu, setelah kau membuangku ke luar negeri, aku tidak sudi mengambil sepeser uang haram mu itu!"


David terkejut, tak menyangka dengan ucapan Bian yang tidak pernah menggunakan uang yang selalu Ia berikan setiap bulannya.


"Kau membual, mana mungkin kau tidak memakainya."

__ADS_1


"Kau lihat saja saldonya lalu hitung berapa kau memberiku uang selama ini, aku sama sekali tidak menyentuhnya!" Jelas Bian lagi.


Setelah pindah keluar negeri, Bian memang tidak lagi memakai uang Papanya apalagi Ia juga mengetahui asal usul kekayaan Papanya. Bian memilih bekerja paruh waktu dan meminta uang Mamanya dari pada harus makan uang haram milik Papanya.


Aruna tidak tahan lagi berada disana, Ia berlari keluar rumah.


"Aruna..." Bian bergegas mengejar Aruna, saat sampai dipintu, Bian berpapasan dengan Ryan yang membawa beberapa polisi kerumahnya.


"Ada apa ini?" Tanya Bian berhenti sejenak untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Aku yang akan mengurus Papamu, kau urus saja kekasihmu, jangan sampai kau batal menikah karena masalah ini!" Ucap Ryan membuat Bian terkejut namun segera Bian mengangguk dan pergi dari sana.


David baru ingin kembali ke kamar karena merasakan kepalanya kembali pusing akibat luka dikepalanya belum Ia obati.


Namun langkahnya terhenti kala melihat Ryan datang membawa tiga orang berseragam polisi.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Ryan tidak mengubris ucapan David, "Dia pelakunya pak, tangkap saja dia." Pinta Ryan pada polisi yang Ia bawa.


Tak menunggu lama, ketiga polisi langsung meringkuk dan memborgol kedua tangan David.


"Apa kau gila Hah!" Sentak David.


"Seharusnya aku sudah menangkapmu sejak dua puluh tahun yang lalu!" Ucap Ryan tampak puas melihat tangan David diborgol.


"Bawa sekarang pak!" Perintah Ryan yang langsung diangguki oleh para polisi.


Ketiga polisi itu langsung menyeret David meskipun David melawan dan memberontak.


"Aku tidak melakukan kesalahan apapun!"


"Katakan saja nanti dikantor polisi!"


"Tidak, aku tidak mau dipenjara!" David masih saja memberontak namun tenaganya kalah hingga membuatnya pasrah saat Ia dimasukkan ke dalam mobil polisi dan mobil segera melaju meninggalkan rumah mewah yang Ia tempati selama ini.


Melihat David sudah dibawa pergi, Ryan tersenyum puas. Ia kembali memasuki rumah untuk menemui Anneta.


Ryan mengetuk pintu kamar Anneta tanpa bersuara namun tidak ada respon dari dalam. Ryan terus mengetuk pintu hingga terdengar suara lembut Anneta,


"Siapa?"


Ryan diam tak menjawab, terus mengetuk pintu berharap Anneta membukakan pintu namun masih tetap sama, Anneta hanya menanyakan Siapa dan tidak membuka pintunya.


Karena kesal tak segera dibukakan pintu, Ryan akhirnya mendobrak pintu kamar Anneta hingga terbuka.


Suara jeritan Anneta terdengar namun Ryan malah tertawa geli.

__ADS_1


"Ck, ternyata kau!" Kesal Anneta antara senang dan terkejut karena Anneta pikir yang mendobrak pintunya David.


"Kenapa terkejut seperti itu?" Tanya Ryan melihat Anneta dari atas sampai bawah, hanya mengenakan jubah mandi selutut mempelihatkan kaki jenjang milik Anneta yang masih terlihat mulus.


"Ku pikir kau..." wajah Anneta berubah memucat membuat Ryan mendekat lalu memeluk Anneta.


"Kenapa tak mengatakan padaku hmm?" Tanya Ryan.


"Mengatakan apa?"


"Jika semalam David berulah."


Anneta terkejut, "Dari mana kamu tahu?"


Ryan tersenyum tengil, Ia mengandeng tangan Anneta mengajaknya keluar untuk mempelihatkan sesuatu, "Apa kau tahu ini?" Tanya Ryan mengambil benda kecil yang Ia tempelkan di dinding.


"Bukannya ini..." Anneta menatap Ryan curiga.


Ryan malah tertawa, "Ini kamera pengawas, kemarin aku sengaja meletakan ini karena aku tahu pasti David akan berulah lagi. Benarkan?"


Anneta tersenyum dan kembali memeluk Ryan, kali ini pelukannya lebih erat.


"Semua sudah berakhir, tidak akan ada lagi yang menyakitimu dan mengancam mu lagi." Ucap Ryan.


"Apa kau sudah mengetahui segalanya?"


Ryan mengangguk, "Ya, aku mengetahui segalanya dan aku kecewa padamu."


Mata Anneta kembali memucat mendengar ucapan Ryan, "Apa yang membuatmu kecewa?"


"Kenapa kau tidak jujur padaku sejak awal? Jika dulu kau jujur tentang David yang mengancammu semua tidak akan seperti ini, kau tidak perlu menderita hidup bersama penjahat seperti David."


"Maafkan aku." Sesal Anneta.


Ryan mengangguk,


"Lalu dimana David sekarang?"


"Dia sudah berada ditempat yang seharusnya Ia tinggali sejak dulu!"


"Dimana?"


"Penjara."


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa

__ADS_1


__ADS_2