MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
06


__ADS_3

Selesai makan malam, Runa kembali ke kamar untuk belajar. Baru sebentar Ia duduk di meja belajarnya, mendengar suara pintu terbuka membuat Runa membalikan badan dan melihat Bian membawa selimut juga bantal ke kamarnya.


"Ngapain kak?" Tanya Runa melihat Bian menyingkirkan bantal juga selimutnya lalu Bian berbaring menggunakan bantal dan selimut Bian sendiri.


"Malam ini Lo tidur dikamar gue dan gue tidur disini." Kata Bian membuat Aruna melotot tak percaya.


"Tukeran kamar? Nggak mau ah!"


"Ya udah kalau nggak mau tidur sini sama gue." Bian menepuk nepuk sampingnya yang masih ada sisa tempat untuk tidur namun Aruna malah bergindik.


"Jangan gila kak, sana balik ke kamar kakak sendiri!" Kesal Aruna.


"Ogah, kalau nggak mau tidur sini ya sudah sana tidur di kamar gue." Balas Bian tanpa merasa berdosa.


Aruna memanyunkan bibirnya, baru sore tadi Bian membuatnya senang dan sekarang Bian sudah kembali ke sifat aslinya, menjengkelkan.


Aruna kembali belajar, mencoba tidak mengubris Bian namun baru sebentar Ia membaca bukunya, Ia mendengar suara dengkuran Bian yang sangat keras membuat konsetrasinya buyar.


Aruna menutup bukunya kasar, membawa buku juga bantal dan selimutnya keluar dari kamarnya sendiri.


Melihat Aruna keluar, Bian yang sebenarnya belum tidur tersenyum puas karena berhasil membuat Aruna tidur di kamarnya.


Sementara itu, Aruna memasuki kamar Bian. Tidak ada masalah jika harus tidur di kamar Bian karena Aruna juga sering tidur dikamar Bian jika Ia bosan berada dikamarnya namun tetap saja, Ia masih tidak mengerti apa maksud Bian mengajaknya bertukar kamar mendadak seperti ini.


Aruna kembali melanjutkan membaca buku sambil menyenderkan punggungnya di ranjang hingga kantuknya mulai datang dan Aruna akhirnya terlelap.


Sementara itu tengah malam, Bian yang sengaja belum tidur mendengar suara hentakan kaki dari arah balkon kamar. Bian diam ditempat, Ia menutup tubuhnya dengan selimut hingga sampai ke atas.


Dan semenit kemudian, Bian mendengar suara pintu balkon yang dibuka padahal sebelum tidur Bian sudah mengunci pintu balkon kamar Runa. Bian masih diam ditempatnya meskipun sebenarnya Ia sudah tidak sabar ingin melihat siapa orang itu.


Suara langkah kaki berjalan mendekat ke arah ranjang, ini waktunya...


Bian berbalik dan bangun membuat orang yang baru saja masuk itu terkejut dan langsung berbalik ingin kabur.


Bian sempat mencekal kerah baju orang yang wajahnya ditutupi topeng itu namun sayang orang itu menginjak kaki Bian membuat Bian kesakitan dan melepaskan cekalannya.


"Sial!" Desis Bian merasakan kaki telanjangnya sakit karena di injak mengunakan sepatu dan akhirnya Bian hanya bisa melihat pria bertopeng itu kabur sebelum berhasil Ia tangkap.

__ADS_1


"Sial, sial sial!" Emosi Bian karena seharusnya Ia sudah berhasil menangkap pria misterius yang menganggu Aruna itu.


Sekarang Bian yakin sangat yakin jika pria itu adalah salah satu penghuni rumahnya, jika bukan mang Asep sudah pasti itu mang Torik karena hanya kedua pria itu yang bekerja dirumahnya.


Apalagi sampai bisa memasuki kamar Aruna untuk memasang kamera pengawas, jika bukan orang dalam yang tahu tentang rumah Bian tentu saja tidak bisa masuk sembarangan kerumah itu.


"Lihat saja aku akan segera menangkapmu!"


Paginya...


Aruna memasuki kamarnya, melihat Bian masih tidur. Aruna mengabaikan Bian dan segera mandi karena Ia harus segera pergi ke kampus pagi ini.


Selesai mandi, Aruna yang hanya memakai dress satin tipis tanpa lengan keluar dari kamar mandi karena Ia lupa membawa baju ganti yang akan Ia pakai hari ini.


Bau harum dari sabun Aruna menyeruak menganggu tidur lelap Bian.


Bian membuka matanya, melihat kaki jenjang putih mulus milik Aruna yang sedang mengambil baju di lemari.


Mata Bian naik ke atas, rambut Aruna yang di kuncir memperlihatkan tengkuk leher milik Aruna yang sangat mengoda.


"Kakak sudah bangun? Baguslah, aku harus ke kampus pagi karena ada kelas pagi. Segeralah bersiap dan antar aku kak." Kata Aruna tanpa merasa berdosa sudah membuat Bian ingin.


Aruna kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian, kesempatan Bian untuk kabur dari kamar Aruna karena Bian tidak ingin Aruna melihat keadaannya saat ini.


Selesai bersiap, Aruna segera ke bawah untuk sarapan.


Aruna sarapan lebih dulu karena Bian belum turun. Seperti biasa, Aruna sarapan roti gandum selai coklat dan segelas susu.


Bian turun saat Aruna baru selesai meneguk segelas susunya. Bian menatap bibir Aruna dimana ada bekas susu di pinggir bibir Aruna.


"Apa kau tidak bisa minum dengan baik?" Kesal Bian.


Tahu maksud Bian, Aruna malah menjilati bibirnya dengan lidah untuk membersihkan susu yang menempel disekitar bibir.


Dan apa yang dilakukan Aruna membuat Bian semakin gemas. Rasanya Bian ingin membawa Aruna ke pojokan dan ******* bibir Aruna hingga puas karena berhasil membuatnya kesal pagi ini, ralat bukan pagi ini namun setiap Aruna makan bibir Aruna seakan mengoda Bian.


Entah Bian yang sensitif atau mungkin Aruna sengaja melakukan itu untuk mengoda Bian, yang pasti Bian benar benar gemas dengan Aruna.

__ADS_1


"Pakai ini, bersihkan bibirmu dengan benar!" Bian memberikan selembar tissu lalu keluar lebih dulu meninggalkan Aruna.


"Ck, dasar tukang marah." Omel Aruna membersihkan bibirnya menggunakan tissu dan berjalan mengikuti Bian.


"Tuan muda mengantar Nona lagi?" Tanya mang Torik seperti tidak rela Aruna di antar oleh Bian.


"Ya, aku akan mengantarnya setiap hari agar Aruna aman dari para pria hidung belang!" Ucap Bian yang langsung membuat mang Torik mengangguk dan langsung meninggalkan Bian.


Bian melihat gerak gerik Mang Torik memang sedikit mencurigakan, apalagi postur tubuh Mang Torik hampir mirip dengan pria yang menyelinap semalam?


"Den, itu temennya Non Runa kesini lagi." Kata Mang Asep membuyarkan lamunan Bian.


Tanpa mengatakan apapun, Bian langsung menghampiri Randi yang berada didepan gerbang rumahnya.


"Selamat pagi calon kakak ipar." Sapa Randi ramah pada Bian.


Sedikit terkejut karena Randi mengetahui jika dirinya kakaknya Aruna bukan suaminya Aruna.


"Mau ngapain?"


"Mau jemput yayank Aruna dong, boleh kan? Bukan suaminya loh cuma kakaknya ini." Kata Randi dengan nada mengejek.


Bian tersenyum, "kita tarung dulu, kalau Lo bisa ngalahin gue, Lo bisa nikahin Aruna sekarang juga." Kata Bian membuat Randi terlihat senang.


"Apa? Kak jangan gila!" Aruna tiba tiba datang dan melayangkan protes tidak setuju.


"Biarin aja Run, aku siap kok tarung sama kakak kamu demi kamu." Kata Randi.


"Please Rand, jangan Lo ladenin. Kakak gue itu pernah juara taekwondo dikorea dua tahun yang lalu, Lo bisa mati Rand."


Randi langsung saja terdiam, sementara Bian tersenyum mengejek ke arah Randi.


"Gimana mau tarung sekarang? Nih mumpung tangan gue lagi gatel pengen mukul orang." Kata Bian sambil mengepal kepalkan tangannya.


"Run, gue cinta beneran ama elo tapi kalau masalahnya udah kayak gini mendingan gue nyerah aja deh. Sorry ya Run nggak bisa memperjuangin elo." Kata Randi langsung tancap gas meninggalkan Bian dan Aruna.


Bersambung. .

__ADS_1


__ADS_2