MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
121


__ADS_3

Aruna memasuki mobil, bibirnya tak henti hentinya mengomel karena ulah jessi yang membuat bajunya basah juga membuatnya insecure.


"Emang bener sih punya dia gede tapi nggak usah ngatain punya orang kenapa sih!" umpat Aruna.


Aruna melajukan mobilnya menuju kantor Bian, sepanjang perjalanan pikirannya melayang, memikirkan cara agar dua gunung kembarnya lebih berisi agar tidak terlihat seperti telur dadar.


Sampai di kantor, Aruna tak segera turun, Ia membuka ponselnya dan mencari tahu cara membesarkan gunung kembar secara alami.


Pijatan alami dari pasangan bisa membuat ukuran lebih besar.


Salah satu artikel yang Aruna baca, membuat Aruna menggelengkan kepalanya.


"Nggak mungkin bisa sekarang, tangan Kak Bian aja masih sakit." gumam Aruna kembali menscroll ke bawah hingga Ia menemukan artikel lain.


Gunakan cream pembesar untuk hasil maksimal.


Aruna melihat satu produk, Ia seperti tidak yakin namun Aruna tetap harus mencoba agar ukuran gunung kembarnya bertambah.


Akhirnya Aruna memutuskan untuk membeli cream itu secara online.


"Nanti tinggal bilang sama Mbok Siti untuk terima paketnya dan jangan sampai Kak Bian tahu." gumam Aruna tersenyum senang lalu keluar dari mobilnya.


Aruna memasuki kantor Bian, para karyawan Bian terlihat memandang ke arahnya dengan tatapan Aneh. Sangat wajar karena baju yang dipakai Aruna saat ini basah.


"Kenapa baju mu basah?" tanya Bian.


"Mantan kekasihmu yang membuat baju ku basah." adu Aruna tidak ingin menyembunyikan apapun dari Bian.


"Jessi? Kenapa dia melakukan itu?"


"Mana ku tahu kak, mungkin dia tidak terima karena aku menikah dengan Kak Bian,"


"Ck, dia sudah punya kekasih untuk apa menganggu kita." balas Bian seolah tak percaya.


"Mungkin dia masih menyukaimu kak, dia juga menghukum ku lagi."


Bian terkejut, "Apa yang sudah dia lakukan padamu?"


"Dia menyuruhku berdiri karena aku menguap saat jam pelajaran padahal aku sama sekali tidak menguap." akui Aruna.


Bian menghela nafas panjang,


"Katakan padanya kak untuk tidak mengangguku!"


"Apa kau ingin pindah kampus saja?" tanya Bian.


Aruna melotot tak percaya, "Apa kak Bian takut padanya?"


Bian menggelengkan kepalanya, "Bukan takut, aku hanya malas berurusan dengannya, Dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau jadi sebaiknya kita menghindar saja."

__ADS_1


"Benar kan dia masih menyukai Kak Bian?" tebak Aruna.


"Sudahlah sayang, jangan dibahas lagi sebaiknya segera suapi aku makan karena aku sudah sangat lapar." pinta Bian.


Aruna belum puas mendengar jawaban Bian namun Ia tak ingin memaksa Bian dan berakhir dengan pertengkaran lagi.


"Setelah ini ganti bajumu." pinta Bian melihat jiplakan gunung kembar Aruna yang terlihat jelas tentu Bian tidak bisa membiarkan pria lain melihatnya.


"Aku masih ada satu kelas lagi dan tidak bisa pulang karena waktunya mepet."


"Pakai saja kaosku yang ada didalam." ucap Bian menunjuk ke arah ruang pribadinya.


"Pasti akan terlihat besar jika aku yang memakainya." keluh Aruna.


"Bukanlah mode saat ini memang baju oversized seperti itu?"


"Baiklah, aku akan memakainya."


Aruna dan Bian memasuki keruangan pribadi dimana ada lemari yangn cukup besar disana. Aruna membuka lemari itu dan terkejut melihat baju yang sangat banyak disana.


"Pakailah ini." Bian menunjuk salah satu kaos berwarna biru langit.


Aruna mengambil kaos itu, masih baru bahkan tag bajunya masih menempel.


"Sepertinya ini merek baju luar negeri, apa Kak Bian membeli baju ini saat masih disana?" tanya Aruna.


Aruna mengerutkan keningnya,


"Ini semua pemberian Jessi, aku ingin membuangnya tapi aku tidak suka membuang barang uang yang masih bagus jadi aku menyimpannya disini." ungkap Bian yang langsung membuat Aruna menundukan kepalanya.


"Pakai baju ini agar kau bisa membuat Jessi kesal, bukankah dia juga sudah membuatmu kesal?" tanya Bian yang langsung membuat senyum Aruna mengembang.


"Kak Bian membelaku?"


"Tentu saja aku akan membela dan melindungi istriku."


Seketika Aruna memeluk Bian, mulai saat ini Aruna berjanji akan selalu mempercayai cinta Bian.


"Sudah, kembali lah ke kampus. Jangan lupa menjemputku nanti sore."


"Baiklah kak."


Aruna memberanikan diri mencium bibir Bian sebelum Ia keluar dari ruangan Bian.


Bian kembali duduk di kursi kebesarannya, Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Ia akhirnya mendial nomor anak buahnya dengan menggunakan satu jari karena hanya satu jari yang bisa Ia gunakan.


"Aku ada pekerjaan untukmu, mulai sekarang kau harus menjadi pengawal pribadi untuk istriku, jangan membiarkan seseorang menyakitinya." pinta Bian.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Bian mengakhiri panggilannya, sedikit bisa bernafas lega. Bian tahu Jessi bukanlah orang sembarangan, Ia bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.


Bian tidak ingin terjadi sesuatu pada Aruna jadi Ia harus melindungi Aruna sebelum Jessi melukai Aruna.


Sampai di kampus, dengan penuh percaya diri Aruna keluar dari mobil. Tidak ada yang aneh dengan penampilan Aruna, semua mahasiswa kampus tampak biasa saja memandangi Aruna hanya satu orang ya hanya satu orang yang menatap ke arah Aruna dengan tatapan penuh kebencian, Jessi.


"Berani beraninya dia memakai baju itu!" umpat Jessi.


Jessi tampak menghadang Aruna,


"Ada apa Miss?" tanya Aruna seolah tak tahu apapun padahal Aruna tahu jika Jessi pasti kesal melihat kaos pemberian untuk Bian Ia pakai.


"Aku melihat ada yang salah denganmu!"


Aruna mengerutkan keningnya, "Ada apa denganku? Sepertinya tidak ada yang salah."


"Kenapa kau harus memakai kaos oversized seperti ini, apa kau tidak tahu larangan kampus yang baru?"


"Memang apa salahnya dengan kaosku, masih terlihat sopan dan pantas dipakai."


"Kampus melarang mahasiswi memakai kaos oversized!"


Aruna terkejut, "Apa yang harus ku lakukan, aku pasti akan dihukum." ucap Aruna pura pura takut dan terkejut.


"Ya, sepertinya kau memang pantas dihukum."


"Lalu apa para gadis itu juga akan dihukum? Mereka juga memakai kaos oversized sama sepertiku!" kata Aruna menunjuk ke arah para sekumpulan gadis yang memakai kaos besar sepertinya.


Jessi mengepalkan tangannya, Ia merasa buntu saat ini, pikirannya buyar dan tidak bisa memberi pelajaran pada Aruna.


"Lepas kaos ini sekarang, aku akan memberi baju lain untukmu!" ucap Jessi.


"Tidak mau, ini kaos pemberian suamiku, mana mungkin aku menggantinya."


"Suamimu? Apa benar suamimu yang memberikan ini sendiri padamu?" tanya Jessi memastikan.


Aruna mengangguk, "Suamiku tidak ingin aku sakit karena memakai baju basah jadi dia meminjamkan bajunya, apa masalahmu Miss?"


Jessi hanya diam saja.


"Sudah ya miss, aku harus ke kelas sekarang." ucap Aruna meninggalkan Jessi begitu saja.


Jessi mengepalkan tangannya, rasanya masih tak percaya Bian akan melakukan itu.


"Brengsek!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2