MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
124


__ADS_3

Bian menatap Aruna penuh keheranan, tidak biasanya Aruna bersikap seperti itu. Biasanya Aruna selalu terbuka dan melaporkan pada Bian jika membeli sesuatu.


"Apa yang kau beli itu?" tanya Bian lagi.


"Bukan apa apa kak." balas Aruna terlihat cemas dan menyembunyikan kotak paket dibelakang tubuhnya.


"Aku hanya ingin tahu, apa tidak boleh?"


"Tidak!" balas Aruna tegas.


"Bawa kemari, aku ingin lihat!" Bian semakin penasaran.


"Tidak kak, bukan sesuatu yang penting hanya barang untuk keperluan kampus."


"Jika hanya itu seharusnya kau tidak takut untuk memperlihatkan padaku kan?" selidiki Bian.


"Aku tidak takut, aku hanya-"


"Aruna, buka sekarang!" potong Bian.


Aruna menggelengkan kepalanya, "Untuk kali ini saja kak, percaya padaku." pinta Aruna dengan tatapan memohon.


"Bukankah seorang istri harus mematuhi perintah suaminya? Aku ingin kau membukanya sekarang dan perlihatkan padaku." ucap Bian.


Aruna berdecak, sungguh Ia tak ingin Bian tahu jika Ia membeli cream pembesar gunung kembarnya. Aruna malu sangat malu.


"Buka sekarang sayang." pinta Bian dengan suara lembut membuat Aruna akhirnya luluh juga.


Aruna membuka paket itu didepan Bian, Ia benar benar tak bisa menahan malu karena ketahuan oleh Bian.


"Apa ini? Cream pembesar gunung kembar? Untuk apa kau membelinya?" tanya Bian penuh keheranan.


Aruna berdecak, "Semua karena mantan kekasihmu, aku terpaksa melakukan ini!"


"Jessi? Apa yang dia lakukan padamu?"


"Dia mengejek milik ku yang rata seperti telur dadar jadi aku terpaksa membeli ini agar terlihat berisi." akui Aruna.


Bian tersenyum, "Bukan seperti ini caranya sayang."


"Lalu aku harus bagaimana? Membiarkan dia mengejek ku?" protes Aruna.


"Tentu tidak, milikmu rata karena belum disentuh oleh siapapun sementara miliknya sudah disentuh banyak orang."


"Apa kak Bian termasuk salah satu orang itu?"


Bian berdecak, "Kau bahkan sudah tahu, kenapa harus bertanya lagi."

__ADS_1


"Aku tidak terima!"


Bian menghela nafas panjang "Itu sudah masa lalu sayang."


"Jadi, aku tidak perlu menggunakan ini."


Bian kembali tersenyum, "Tentu saja tidak, ada banyak cara alami untuk apa menggunakan cream berbahaya seperti ini." ucap Bian "Sekarang buang cream itu, nanti akan ku perlihatkan cara alami yang ampuh membesarkan gunung kembarmu." ucap Bian lagi sambil tersenyum nakal.


Aruna mengangguk, menuruti perintah Bian, membuang cream yang Ia beli dengan harga mahal itu.


Setelah membantu Bian mandi dan menyuapi makan malam, Aruna dan Bian kembali ke kamar mereka untuk istirahat.


Aruna mendekat ke arah Bian, "Dengan cara apa kak Bian akan membuat ini menjadi besar?" tanya Aruna sambil memegang kedua gunung kembarnya membuat Bian tertawa geli.


"Kenapa Kak Bian malah tertawa? Apa ada yang lucu? Apa Kak Bian menipu ku? Astaga aku sudah membuang cream mahal itu." ucap Aruna panik.


"Tidak, aku mengatakan yang benar. Cream mu itu berbahaya dan aku bisa membuat ini besar dengan cara alami."


"Bagaimana Kak Bian melakukannya?" tanya Aruna.


"Aku masih belum bisa menggunakan tanganku jadi aku akan menggunakan mulutku."


Aruna terkejut, "Ba bagaimana?" Aruna ingat di video blue yang Ia tonton bersama Nysa, seorang pria seperti bayi besar yang melahap dua gunung kembar milik wanitanya. Tiba tiba Aruna merinding saat mengingat itu.


"Buka baju dan bra mu sekarang." pinta Bian.


"Ck, kenapa malah melakukan itu?"


"Apa kak Bian akan menghisapi ini?"


"Tentu saja, itu cara alami agar cepat besar."


"Aku tidak mau!" ucap Aruna tegas.


Bian melonggo, "Ada apa denganmu? Rasanya sungguh enak, kamu pasti akan ketagihan."


"Tidak kak, ini untuk dihisap bayi kita nanti kalau kak Bian ingin menghisapnya, bagaimana dengan bayi kita nanti?"


Sontak Bian tertawa dengan kepolosan Aruna, "Sayang dengarkan aku, sebelum dihisap oleh bayi kita, seharusnya ukurannya ditambah agar lebih besar dan caranya seperti itu. Jika tidak dihisap tentu harus diremas tetapi karena tanganku masih sakit jadi aku hanya bisa menghisapnya sekarang. Cepat bawa kemari sebelum aku berubah pikiran tidak mau membantumu."


Aruna terdiam sejenak memikirkan tawaran Bian. Entah mengapa membayangkan saja sudah membuatnya geli apalagi jika...


"Hoamm... Aku mengantuk. ya sudah jika kau ingin di ejek seperti telur dadar, aku tidak akan membantumu." ucap Bian dengan santainya lalu berbaring.


Aruna berdecak, Ia merasa tak ada pilihan lain lagi. Aruna segera membuka piyama dan penutup dua gunung kembarnya, Ia tampak menunduk malu. Meskipun beberapa kali Ia tidak mengenakan pakaian didepan Bian namun entah mengapa rasanya masih saja malu.


Bian tersenyum mengembang, Ia kembali bangun dan meminta Aruna yang berbaring.

__ADS_1


"Apa kak Bian menertawakanku juga?" tanya Aruna terdengar sensitif.


"Tentu saja tidak sayang, aku tersenyum karena tergoda dengan tubuh indahmu itu."


Seketika raut wajah Aruna berubah merah, menahan malu.


"Baiklah mari kita mulai, aku akan menanti bayaranku." ucap Bian yang langsung membuat Aruna menahannya.


"Bayaran apa kak?"


"Kau memintaku seperti ini tentu saja membuat Si otong memberontak ingin meminta juga, jadi kau harus membayarnya dengan memuaskan si otong, bagaimana? bukankah sangat adil?"


Aruna mengangguk, meski merasa aneh dengan ucapan Bian. Ia tidak meminta namun Bian lah yang memaksa sedari tadi.


Bibir Bian mulai menempel di salah satu gunung kembarnya dan ternyata tidak hanya dihisap namun juga dimainkan oleh Bian dan rasanya... Aruna tidak bisa mendeskripsikan apa yang Ia rasakan saat ini karena terlalu nikmat, Aruna terasa dibuat melayang layang oleh Bian hingga tanpa sadar Ia mengeluarkan suara yang sama seperti yang Ia lihat di blue film.


"Ternyata rasanya senikmat ini, seharusnya aku meminta sejak dulu." batin Aruna.


Setelah puas memainkan dua gunung kembar milik Aruna, Bian berhenti dan menatap wajah ingin Aruna.


"Bagaimana rasanya huh?"


"E enak." ucap Aruna tersenyum malu membuat Bian gemas.


Bian kembali melakukan berulang ulang hingga Aruna memintanya berhenti, "Aku ngompol kak."


"Haa?" Bian tampak terkejut.


"Ada sesuatu yang mengalir dibawah sana."


Bian akhirnya paham dan tersenyum, "Oli mu sudah keluar, sekarang giliran milik ku."


Aruna tak paham apa maksud Bian, namun Ia menurut saja bergantian memainkan si Otong hingga Bian merasakan pelepasan.


Paginya...


Aruna menatap ke arah cermin dibagian gunung kembarnya terbuka, Ia melihat masih sama saja tidak ada perubahan. Gunung kembarnya sama sekali belum membesar.


"Kenapa lama sekali?" tanya Bian menyusul ke kamar mandi yang pintunya tidak tertutup. Sejak tangan Bian sakit, Bian melarang Aruna menutup pintu kamar mandi saat Aruna berada di dalam.


"Apa yang kau lakukan sayang?" tanya Bian menghampiri istrinya yang berdiri didepan cermin dengan gunung kembarnya yang terbuka.


"Kenapa masih belum besar kak?" protes Aruna.


Seketika tawa Bian membuncah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2