MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
50


__ADS_3

Bian menutup pintu kamarnya kasar. Rencana mengejar dan memberi pelajaran pada Aruna gagal total karena melihat Aruna setengah telanjang yang mengoda dirinya dan membuatnya sangat gila.


"Shitt, bagaimana bisa Ia memiliki tubuh semulus itu!" Umpat Bian.


"Aku bisa gila jika seperti ini!" Tambah Bian lalu menjambak rambutnya frustasi.


"Satu satunya cara aku harus segera menikahi Aruna, ya dengan menikahi Aruna aku bebas melakukan apa saja." Ucap Bian sambil tersenyum tengil.


"Dan lagi, tidak ada yang bisa mendekati dirinya selain aku." Ucap Bian lagi dengan raut wajah sebal mengingat saat arisan Aruna didekati oleh Rama.


Dikamar sebelah, Aruna yang masih berada dikamar mandi tampak berdiri dicermin memandangi tubuhnya yang kini polos tak mengenakan apapun.


"Apa ada yang salah dengan tubuhku? Kenapa kak Bian langsung lari." Gumam Aruna.


"Tidak, tidak ada yang salah, tubuhku tidak jelek!" Ucap Aruna sambil memanyunkan bibirnya.


Sementara itu ditempat lain, David yang baru saja menyelesaikan urusan kantornya segera melajukan mobilnya menuju sebuah apartemen yang letaknya tak jauh dari kantor. Ya apartemen yang sengaja Ia beli untuk kekasihnya, Mia.


David memasuki apartemen, melihat kekasihnya sedang asyik merias diri dikamar mereka.


"Ck, kenapa lama sekali." Keluh Mia langsung berlari ke pelukan David.


"Aku kesepian dan sangat merindukanmu." Tambah Mia dengan suara manja.


"Aku juga sangat merindukanmu baby." Balas David lalu mengecup bibir Mia.


"Aku ingin jalan jalan keluar, kita dinner di luar bagaimana?" Ajak Mia yang langsung saja digelenggi oleh David.


"No baby, tidak hari ini."


"Kenapa?" Raut wajah Mia terlihat kecewa.


"Istriku sudah pulang aku takut jika sampai dia melihat kita."


Mia berdecak, "Selalu saja seperti itu."


"Mengertilah sedikit baby." David mengecup kening Mia.


"Sampai kapan aku harus mengerti? Kau sudah berjanji akan segera menceraikan Istrimu aku menunggu itu, tapi sampai sekarang kau bahkan belum menceraikannya!" Protes Mia.


"Aku mungkin tidak akan menceraikan istriku." Kata David membuat Mia melotot tak percaya.


"Apa maksudmu? Kau sudah berjanji akan menikahiku!" Kata Mia terlihat kecewa.


"Maafkan aku sayang, istriku hamil lagi jadi aku tidak bisa-"


Plakkk... Belum sempat David menyelesaikan ucapannya, Mia sudah menamparnya lebih dulu.


"Pembohong! Mulai sekarang kita akhiri saja hubungan kita dan aku akan pergi dari sini sekarang juga!" Kata Mia dengan nada marah membuat David panik lalu memeluknya erat.


"No baby, ku mohon jangan pergi."

__ADS_1


Mia memberontak melepaskan pelukan David, "Lepas, lepaskan aku dari tubuhmu yang menjijikan itu! Aku benci pembohong sepertimu!" Ucap Mia memukuli dada David.


"Tolong, beri aku kesempatan. Aku janji akan segera menceraikan istriku!" Kata David yang akhirnya membuat Mia tenang.


"Apa kau serius kali ini?"


"Tentu saja sayang."


"Baiklah ku beri waktu satu bulan untuk menyelesaikan urusan mu dengan istrimu." Kata Mia.


"Jangan gila, satu bulan tentu saja tidak cukup sayang!"


Mia tersenyum sinis, "Atau tidak sama sekali."


David menjambak rambutnya, Ia terlihat sangat frustasi saat ini.


"Baiklah, satu bulan dan aku akan meninggalkan istriku." Kata David yang langsung membuat Mia tersenyum lebar.


Mia langsung memeluk David, Ia lalu meletakan kedua tangannya di bahu David.


"Apa kau ingin bersenang senang sayang?" Tawar Mia yang langsung membuat David terhipnotis, melupakan masalahnya sejenak dan ikut bersenang senang bersama Mia.


Setelah melakukan tiga kali permainan panas, Mia tampak kelelahan dan terlelap. David memungguti bajunya lalu kembali memakainya. Ia segera pergi sebelum Mia bangun dan melarangnya untuk pulang yang mungkin membuat David kembali luluh pada Mia. Karena saat ini kelemahan David ada apa Mia, Ia tidak ingin kehilangan kekasihnya itu.


David memasuki mobilnya, diam sejenak memikirkan apa yang harus Ia lakukan agar bisa bercerai dengan Anneta dalam waktu dekat hingga akhirnya Ia memiliki sebuah ide bagus.


Sebelum pulang kerumah, David pergi ke sebuah klinik. Ia mencari dokter obgyn.


"Apa maksud Anda Pak?" Heran dokter itu melihat ada seorang pria yang menemuinya dan menawarkan segepok uang padanya.


"Beri aku obat aborsi dan aku akan memberikan semua uang ini padamu." Kata David membuat dokter itu sangat terkejut.


"Jangan gila pak, klinik ini tidak membuat obat seperti itu!"


"Lalu buatkan untuk ku!" Pinta David sedikit memaksa.


Dokter itu menghela nafas panjang, lalu memberikan resep obat pada David dan memberikan beberapa obat racikan.


Dengan senyum mengembang David membawa pulang obat yang akan membuat semua masalahnya selesai.


David memasuki rumah, melihat semua keluarganya sedang berkumpul makan malam.


"Sudah makan?" Tanya Anneta saat David berjalan mendekat ke arah Anneta dan mencium kening Anneta.


"Belum, aku sangat lapar." Keluh David.


"Duduklah, aku akan menyiapkan untukmu." Kata Anneta yang langsung diangguki David.


Melihat David, Bian segera menghabiskan makanannya lalu pergi dari meja makan tanpa sepatah katapun.


"Suasana hatinya sedang tidak baik." Kata Anneta pada David.

__ADS_1


Aruna yang masih duduk disana memandangi punggung Bian yang kini sudah tak terlihat.


"Aku sudah selesai, aku akan naik lebih dulu." Pamit Aruna pada David dan Anneta.


Aruna memberanikan diri memasuki kamar Bian, Ia melihat Bian merokok di balkon kamarnya. Tanpa mengatakan apapun, Aruna duduk disamping Bian.


"Apa kakak masih marah?"


"Tidak!"


"Kenapa hanya diam saja?"


Terdengar helaan nafas Bian, "Ada yang ingin ku ceritakan tapi tidak sekarang."


"Ck, selalu seperti itu!"


Bian tersenyum lalu mengelus kepala Aruna, entah mengapa rasa kesalnya mendadak hilang setelah melihat Aruna.


"Kakak sudah tidak marah lagi?" Tanya Aruna sekali lagi.


"Memang siapa yang marah?"


"Bukannya kak Bian marah karena aku dekat dengan Rama?" Tebak Aruna.


"Tidak!"


Aruna memanyunkan bibirnya, "Tadi siang Kak Bian terlihat kesal!"


Bian terkekeh, "Aku tidak kesal, hanya cemburu!" Akui Bian lalu menatap Aruna sebal membuat Aruna tersenyum geli.


"Jadi kakak cemburu?" Goda Aruna sambil menyenggol lengan kakaknya.


"Bukankah kamu juga cemburu dengan calon istriku?" Bian tak mau kalah, Ia kembali mengingatkan Aruna tentang calon istrinya.


"Kak Bian!"


"Kenapa? Cemburu?" Ejek Bian.


"Pasti Kak Bian bohong kan? Mana mungkin Kak Bian punya calon istri tapi nggak diajak kerumah, dikenalin sama Papa Mama." Protes Aruna.


"Lah ngapain diajak kerumah orang calonnya ada udah dirumah, udah kenal sama Papa Mama." Balas Bian santai.


"Maksud Kak Bian?" Aruna masih belum mengerti.


"Lah ini calon nya udah disini." Kata Bian lalu menoel hidung mancung Aruna membuat wajah Aruna terasa memanas dan kedua pipinya memerah.


"Jadi yang dimaksud calon kak Bian selama ini... aku."


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2