MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
30


__ADS_3

Aruna menutupi kedua gunung kembarnya sementara Bian terlihat kikuk merasa sudah salah menyentuh bagian sensitif tubuh Aruna meskipun terasa sangat menyenangkan dan membuatnya sedikit tegang.


Bian kembali melajukan mobilnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kak Bian mesum!" Ucap Aruna menatap Bian sebal.


"Gue nggak sengaja!"


"Alah bilang aja Kakak mau cari kesempatan kan?" Tuduh Aruna masih tidak terima.


"Kalau gue mau, Gue bawa Lo ke hotel sekarang aja udah beres." Balas Bian yang membuat Aruna akhirnya terdiam.


Aruna merasa kakaknya itu tidak waras.


Bian dan Aruna memasuki rumah tanpa sepatah katapun, mereka langsung masuk ke kamar masing masing.


"Sial, bisa banget nih tangan keceplosan nemplok disana." Kata Bian seraya memandangi tangannya lalu tersenyum nakal.


Bian duduk disofa, Ia tersenyum sambil membayangkan sesuatu, "Kayaknya harus dipercepat nih." Gumam Bian lalu tersenyum lagi.


Tengah malam, Bian yang belum tidur memasuki kamar Aruna. Seperti biasa Bian mengecek pintu balkon kamar yang aman dan sudah terkunci.


Bian memandangi wajah polos Aruna yang terlelap hingga Ia ikut mengantuk dan akhirnya keluar dari kamar Aruna.


Bian membuka pintu dan terkejut saat Mang Torik berdiri didepan pintu kamar.


"Aden habis ngapain dikamar Non Runa?"


"La Elo ngapain disini?" Tanya Bian menatap Mang Torik curiga meskipun Bian tahu bukan Mang Torik pelaku yang menguntit Aruna namun tetap saja Bian curiga dengan Mang Torik.


"Saya cuma mau memastikan kalau Den Bian nggak macem macem didalam."


Bian tersenyum sinis, "Mau macem macem atau enggak itu urusan gue. Rumah juga rumah gue, nah elo siapa?" Ketus Bian membuat Mang Torik tertunduk karena merasa kalah.


"Maaf Den, saya cuma mau mengingatkan kalau Non Runa itu adik Aden."


"Gue tahu, apa masalah Lo?" Bian mulai kesal karena Mang Torik terdengar menceramahinya.


"Saya cuma tidak ingin Aden melakukan hal yang-"


"Mesum maksud Lo? Jangan jangan otak Lo yang mesum!"


"Eng-enggak den." Mang Torik menyangkal.


"Lo kalau nggak tahu apa apa mendingan diem!" Bentak Bian lalu pergi meninggalkan Mang Torik.


Mang Torik menghela nafas panjang, Ia tidak bermaksud membuat Bian marah. Ia hanya sedang menjalankan tugas dari David untuk mengawasi Bian dan Aruna agar mereka tidak melakukan sesuatu yang tidak di inginkan namun sepertinya Bian malah salah paham padanya.


Sementara itu, Adam menghabiskan malamnya di club malam bersama beberapa gadis club yang saat ini menemaninya minum.


"Nambah lagi, nambah lagi!" Pinta Adan mengulurkan gelasnya pada salah satu gadis.


"Lo udah mabuk, nggak langsung masuk kamar aja?" Tanya salah satu gadis yang menemaninya.

__ADS_1


"Enggak, gue belum mabuk. Cepet tambah lagi!" Sentak Adam yang akhirnya dituruti oleh gadis club.


"Gila Lo Dam." Suara seorang gadis yang baru datang lalu bersamaan dengan tamparan pipi.


"Anjing!" Umpat Adam menatap gadis yang berdiri didepannya yang tak lain adalah Keisha.


"Bisa ya Lo kesini sama cewek lain, Lo beneran tega ama Gue Dam!" Ucap Keisha hampir menangis.


Adam tersenyum sinis, "Emang Lo pikir, Lo siapa?"


Dua gadis yang ada disamping Adam ikut tersenyum sinis, seolah mengejek Keisha.


"Kita langsung ke kamar aja lah." Ajak salah satu gadis yang akhirnya diangguki Adam.


Adam berdiri merangkul dua gadisnya, berjalan sempoyongan melewati Keisha begitu saja.


Keisha masih mencoba menahan tangisnya, meskipun gemuruh amarah dan kecewa merebak memenuhi dadanya.


Keisha duduk, Ia mengambil gelas bekas Adam lalu menuangkan minuman yang tersisa dibotol.


Baru ingin minum, ada tangan yang langsung mengambil gelas dari tangan Keisha.


"Jangan mabuk sendirian." Kata seorang pria yang mengambil gelas Keisha.


"Urusan Lo apa!" Sentak Keisha sambil menatap tajam ke arah pria yang terlihat tampan itu.


"Memang nggak ada urusannya sama Gue, tapi sayang aja ngeliat cewek secantik Elo, mabuk sendirian. Bisa bisa Lo digilir cowok cowok yang ada disini." Kata pria itu sambil menunjuk kearah gerombolan pria yang kini menatapnya lapar.


Ucapan pria itu sontak saja membuat Keisha merinding. Ia tidak bisa membayangkan sesuatu yang menjijikan itu terjadi padanya. Selama ini jika ingin minum, Keisha selalu ditemani Adam jadi Ia tidak takut namun kali ini, Keisha merasa sedikit takut.


"Gue nggak kenal Elo!"


Pria itu mengulurkan tangannya, "Sadam."


Keisha menatap ke arah pria bernama Sadam itu. Sepertinya bukan pria jahat, pikir Keisha.


Keisha menerima uluran tangan Sadam, "Keisha."


"Nama yang cantik, secantik orangnya." Puji Sadam.


Keisha tersenyum sinis, "Dasar cowok, kalau mau dapetin aja gombalannya sampai pucuk gunung, coba kalau udah, dibuang gitu aja!"


"Pengalaman pribadi huh?" Ejek Sadam membuat Keisha menatap Sadam kesal.


"Gue bercanda, sorry." Kata Sadam tak ingin Keisha marah.


"Mau makan?" Tawar Sadam melihat Keisha hanya diam saja.


"Gue nggak laper!"


"Yakin? perut Lo bunyi dari tadi." Balas pria itu.


Keisha tertunduk malu, karena Ia belum makan malam dan merasa lapar.

__ADS_1


"Gue traktir Lo mau makan apa aja." Tawar Sadam.


"Abis itu Lo minta jatah kan?" Tuduh Keisha.


"Enggaklah, tapi kalau Lo mau ngasih gue nggak nolak." Cengir Sadam.


"Ck, semua cowok sama aja!"


"Ayoklah makan, gue juga laper." Ajak Sadam yang akhirnya diangguki Keisha.


Keduanya keluar dari club menuju parkir mobil.


"Mobil Lo?" Tanya Keisha melihat mobil yang dipakai Sadam lebih mewah dari mobil milik Adam.


"Bukan, gue ngrental biar keliatan kerena aja." Balas Sadam tersenyum tengil lalu memasuki mobilnya.


Keisha yang sudah memasuki mobil menatap Sadam tak percaya, "Elo ngrental dan ngakuin ke gue?"


"Ya iya, kenapa emang?"


"Nggak malu?" Heran Keisha.


Sadam tertawa, "Ngapain gue harus malu, emang itu kenyataannya."


Keisha masih menatap Sadam tak percaya,


"Mau makan dimana?"


"Hanna resto."


Sadam mengangguk dan langsung melajukan mobilnya menuju Hanna resto.


Hanna resto adalah restoran berkelas yang harga makanannya sangat mahal. Keisha sengaja mengajak Sadam kesana agar Keisha mengetahui Sadam orang kaya atau hanya pura pura kaya.


Keisha bahkan sengaja memesan makanan termahal sesampainya disana.


"Gue nggak biasa makan makanan murah." Kata Keisha yang hanya diangguki Sadam.


"Tapi Lo harus habisin semua." Kata Sadam yang diangguki Keisha.


Jika makanan dipinggir jalan saja enak enak sudah pasti makanan direstoran mahal ini juga enak, pikir Keisha.


Semua makanan yang dipesan Keisha dan Sadam sudah datang namun Keisha terkejut kala melihat ada beberapa makanan yang menggunakan daging mentah.


"Gila, beneran masih mentah ikannya!" Batin Keisha melihat sushi ikan salmon.


Sadam terlihat santai menikmati makanannya, meskipun Sadam memakan ikan mentah namun terlihat enak.


Keisha memakai sumpitnya lalu mengambil satu potongan ikan salmon mentah dan langsung melahapnya.


Rasanya sama sekali tidak enak, Keisha yang belum pernah makan, ingin memuntahkan ikan yang baru saja Ia lahap.


"Enak kan?" Suara Sadam terdengar membuat Keisha mau tak mau menelan makanannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2