MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
109


__ADS_3

Bian meminjam ponsel Aruna yang baru selesai di charger karena ponselnya rusak saat kecelakaan kemarin.


Bian meminta Aruna membuka situs terlarang untuk melihat video dewasa.


Bian memang pernah memperlihatkan blue film pada Aruna namun hanya sekilas karena waktu itu Aruna langsung kabur.


Dan sekarang, Bian ingin memperlihatkan secara jelas tutorial hubungan suami istri pada Aruna.


"Sepertinya memang sekarang sudah waktunya agar kau tidak canggung dan bingung saat waktunya nanti." kata Bian melihat ponsel Aruna yang sudah berisi blue film.


Aruna menurut, Ia akhirnya melihat video sepasang kekasih tanpa mengenakan sehelai benang saling berciuman.


Melihat video itu membuat darah Aruna terasa berdesir apalagi saat pria di dalam video mulai menyentuh dan mencium yang membuat wanita didalam video itu mengeluarkan suara yang pernah Ia keluarkan saat Bian menyentuhnya waktu itu.


"Rasanya aneh, aku tidak mau melihatnya." kata Aruna menutup ponselnya.


"Lihatlah sampai akhir, atau mungkin kau merasakan ingin juga?" goda Bian dengan tatapan nakal.


"Tidak, aku merasa sekarang belum waktunya aku melihat ini!" kata Aruna.


"Ck, lihatlah bagian intinya saja jika tak tahan melihat pemanasannya." pinta Bian.


Aruna kembali menurut, Ia mempercepat video itu hingga sampai tengah dan saat melihat apa yang dilakukan pria di dalam video itu lagi lagi Aruna terkejut hingga Ia membuang ponselnya ke ranjang.


Bian tertawa dengan tingkah Aruna, "Ada apa? Kenapa wajahmu berubah merah seperti itu?"


"Apa setelah menikah Kak Bian akan melakukan itu padaku?"


"Tentu saja, apa kau tidak mau?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Rasanya pasti akan menyakitkan." ucap Aruna membayangkan jika milik Bian yang sangat besar dan panjang masuk ke dalam miliknya, Aruna langsung saja menggelengkan kepalanya.


"Mungkin awalnya akan menyakitkan tapi lama kelamaan akan sangat menyenangkan untukmu."


Aruna menggelengkan kepalanya, "Bagaimana jika kita menikah tanpa melakukan itu kak?"


Bian kembali tertawa, "Jika kita tidak melakukan itu kita tidak akan memiliki keturunan, apa kau ingin seperti itu?"


Aruna menghela nafas panjang, "Aku ingin memiliki anak."


"Jadi kita harus melakukan itu." ucap Bian dengan suara lembut.


"Apa kau ingin mencobanya sekarang?" tawar Bian dengan senyuman nakal.


"Dasar kak Bian mesum!" kata Aruna lalu meninggalkan Bian, memilih kembali berbaring disofa.


Bian tertawa diranjangnya melihat wajah kesal bercampur malu milik Aruna.


Keduanya akhirnya kembali tidur.


Paginya...


Bian bangun dan terkejut karena Mamanya berada disana sementara Aruna sudah tidak ada ditempatnya.


"Kemana Aruna?"

__ADS_1


"Aruna ingin keluar sebentar jadi Mama yang akan menunggumu disini."


"Keluar lagi? Kemana?"


"Mama tidak tahu, mungkin dia ada urusan."


"Urusan apa?" raut wajah Bian berubah kesal.


"Mama tidak tahu Bian, memang semalam Aruna tidak mengatakan padamu?" tanya Anneta.


Bian menggelengkan kepalanya, "Tidak, dia tidak mengatakan apapun."


"Jangan jangan..."


"Jangan jangan apa Ma?" Raut Bian berubah khawatir.


"Ah tidak, hanya perasaan Mama saja."


"Katakan Ma, apa yang terjadi?" tanya Bian mulai panik karena merasa Anneta tahu sesuatu.


"Tidak ada apapun Bian, sudah jangan pikirkan lagi sebaiknya sekarang Mama bantu kamu untuk membersihkan diri."


"Ck, aku tidak mau. Biar nanti Arun saja yang mengurusku!"


"Tapi Aruna sedang pergi, apa kau akan seperti ini seharian? nafasmu bahkan bau!" omel Anneta segera mempersiapkan air untuk Bian menggosok giginya dan Anneta membantu Bian membersihkan tubuhnya.


Selesai membersihkan tubuh Bian, Anneta memakaikan kemeja putih lalu menyisir rapi rambut Bian.


"Aku hanya akan berada disini seharian, untuk apa harus memakai baju rapi seperti ini." protes Bian.


"Jadi ini yang katanya nggak makan seharian?" cibir Anneta saat Bian menerima suapannya dengan lahap.


Bian tersenyum geli, "Aku hanya ingin melihat kepedulian calon istriku, apa salahnya Ma.."


"Tentu saja salah karena kamu berbohong."


Bian kembali tertawa, "Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi."


Selesai sarapan, Bian yang sedang asyik menonton televisi, tatapannya langsung mengarah ke pintu dimana Sadam dan anak buahnya kembali datang dengan membawa banyak barang.


"Untuk apa kalian kemari lagi?" tanya Bian.


"Apa yang kalian bawa?" tanya Bian lagi melihat anak buahnya meletakan kardus besar dilantai.


Sadam dan anak buahnya tidak menjawab ucapan Bian, keduanya langsung saja melakukan tugas mereka, mendekor ruangan Bian secantik mungkin.


"Apa yang kalian lakukan?" sentak Bian mulai kesal karena kedua bawahannya itu sama sekali tak merespon dirinya.


"Kami hanya ingin menghias ruanganmu pak." kata Sadam.


"Untuk apa?"


"Agar Tuan nyaman berada disini." balas Anak Buah Bian.


"Ck, jadi kalian ingin aku tinggal disini lebih lama huh?"

__ADS_1


"Bu bukan seperti itu Tuan, kami hanya-"


"Sudah lanjutkan saja, jangan mengubris ucapannya." bisik Sadam yang masih bisa didengar oleh Bian.


"Kurang ajar kau, lihat setelah aku keluar dari sini aku akan memecatmu!" ancam Bian pada Sadam.


Sadam malah tersenyum, "Bapak akan menyesal jika memecat karyawan teladan seperti saya."


"Aku tidak bercanda!"


"Saya juga tidak bercanda."


"Sudah sudah, segera selesaikan. Jangan bercanda lagi." pinta Anneta yang baru saja masuk dan mendengar pertengkaran Bian.


"Sebenarnya apa yang mereka lakukan Ma?" tanya Bian pada Anneta.


"Seperti yang kamu lihat, mereka sedang menghias kamar ini."


"Bian tahu, tapi untuk apa?" tanya Bian lagi.


"Agar kamu nyaman berada disini."


Bian menatap kesal ke arah Anneta, "Ternyata Mama sama gilanya dengan mereka"


Anneta tertawa dan kembali keluar meninggalkan ruangan.


Bian diam masih berpikir dengan apa yang orang orang lakukan ini dan Aruna, kemana juga gadis itu, kenapa sejak kemarin dia meninggalkan Bian. Hanya memikirkan itu membuat Bian kesal dan rasanya ingin mengamuk.


"Sudah selesai." ucap Sadam setelah selesai mendekor ruangan dengan beberapa bunga dan terlihat sangat indah.


"Bagaimana pak? Apa kau menyukainya?" tanya Sadam.


Bian menatap ke arah Sadam dengan tatapan tajam, "Kau pikir ini kamar hotel bisa sesuka hati kau hias seperti itu? Pihak rumah sakit pasti akan menuntutmu!"


Sadam malah tertawa, "Mungkin nanti malam kamar ini akan menjadi kamar hotel." celetuk Sadam.


"Tapi Tuan sedang sakit, apa Tuan bisa melakukannya?" tambah Anak Buah Bian yang membuat Bian semakin pusing dan bingung tak mengerti apa yang mereka ucapkan.


"Sebaiknya kalian pergi saja" usir Bian.


Pintu kembali terbuka dan kali ini Ryan yang memasuki ruang rawat Bian.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Ryan memastikan.


"Sudah siap pak, kita bisa memulainya sekarang." ucap Sadam yang langsung diangguki Ryan.


Ryan meminta beberapa orang yang ada diluar masuk, salah satunya ada pria paruh baya yang penampilannya seperti penghulu.


"Jadi yang mana mempelai prianya?" tanya pria paruh baya itu.


Ryan, Sadam dan anak buahnya langsung menunjuk ke arah Bian.


"Haaa... Apa yang kalian lakukan?"


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2