
Adam akhirnya pamit setelah cukup lama berada dirumah Aruna. Setelah merasakan asin yang luar biasa dilanjut dengan rasa pedas yang membuat lidahnya terasa terbakar.
"Sialan bener tuh Bian, dia punya masalah apa sih sama gue sampai ngerjain gue kayak gini!" Umpat AdamĀ yang saat ini berada disebuah kedai untuk minum es coklat sebagai penawar lidahnya.
Baru menghabiskan setengah gelas minuman coklatnya, Adam merasakan perutnya mulas.
"Anjir, perut gue!"
Adam berlari menuju toilet kedai, Ia segera buang air besar disana karena tak tahan dengan perutnya yang mulas.
"Pasti gara gara tehnya ini!" Umpat Adam saat keluar dari kamar mandi, memegangi perutnya yang masih terasa mulas.
Adam segera pulang ke apartemen, Ia merasa harus istirahat namun sampai di apartemen, Ia tidak bisa istirahat karena Keisha berada disana.
"Berantem lagi sama bokap?" Tanya Adam melihat wajah Keisha lebam dan matanya memerah seperti habis menangis.
"Gue nginep sini ya?"
"Boleh, asal..." Adam tersenyum nakal.
"Ck, kebiasaan Lo. Nggak tahu gue lagi pusing juga!"
Adam berjalan mendekat, mengelus bibir tipis Keisha, "Kan gue mau nyembuhin pusing Lo!"
Keisha berdecak, Ia segera ke kamar Adam, berjalan ke kamar mandi dan diikuti Adam.
"Gue mau mandi dulu." Kata Keisha melepaskan pakaiannya satu persatu.
"Gue mandiin."
Keisha tampak pasrah dengan apa yang dilakukan Adam karena Ia juga menyukai sentuhan Adam.
Bagi Keisha setiap kali Adam menyentuhnya, Ia merasakan kasih sayang yang tidak Ia dapatkan dari siapapun.
Ronde pertama berakhir dikamar mandi, mereka melanjutkan di ranjang Adam.
Baru ingin memulai, Adam kembali merasakan mulas membuat Adam menghentikan kegiatan panasnya dan berlari ke kamar mandi.
"Kenapa sih tuh anak! Lagi enak enaknya juga!" Decak Keisha menatap ke arah kamar mandi yang tertutup.
Keisha bangun dari ranjang, berjalan menuju nakas dan mengambil sebatang rokok milik Adam.
Keisha memilih duduk di balkon, melihat kelap kelip lampu kota sambil merokok, setidaknya seperti ini membuatnya tenang.
"Anjir, perut gue!" Umpat Adam yang ikut duduk disamping Keisha.
"Abis makan apa?" Tanya Keisha.
"Minum teh pedes!"
"Kok bisa?" Keisha menatap Adam curiga.
"Eh tadi kerumah temen gue, dikasih teh rasanya pedes. Kayaknya dia mau ngerjain gue!"
"Temen Lo yang mana?"
Adam terlihat gugup, "Baru kenal kemarin ditongkrongan."
"Oh." Keisha kembali menghisap rokonya lalu mengeluarkannya hingga asapnya terlihat mengepul.
"Gue tidur duluan." Kata Adam meninggalkan Keisha begitu saja.
__ADS_1
Setelah menghabiskan rokoknya, Keisha ikut masuk menyusul Adam dan berbaring disamping Adam.
"Dam..."
"Hmm."
"Kenapa sih kita nggak pacaran aja?"
"Kenapa tiba tiba ngomongin ini?" Tanya Adam merasa heran dengan Keisha "Lo dulu gue ajak pacaran aja malah nolak gue sekarang pengen pacaran."
"Ya dulu gue pikir Lo nggak serius, cuma mau nyakitin gue. Tapi lama lama gue juga pengen Lo seriusin Dam."
"Gue belum siap nikah." Balas Adam acuh dan memunggungi Keisha.
"Nggak minta langsung nikah Dam, minimal pacaran dulu lah,"
Adam kembali berbalik, "Tapi Gue dah punya pacar."
Deg, hati Keisha seketika hancur mendengar pengakuan Adam.
"Pacar? Siapa?"
"Ada lah, Lo nggak perlu tahu!"
"Trus maksud Lo apa Dam? Lo tidurin gue tiap hari dan sekarang Lo punya pacar?" Keisha masih tidak menyangka.
"Ck, lah elo dulu diajak pacaran nggak mau tapi tiap gue minta mau sekarang giliran gue punya pacar, elo protes, bingung sama Lo maunya apa!" Kesal Adam.
"Kalau Lo udah punya pacar, kenapa masih tidurin gue Dam!" Keisha tak kalah kesal.
"Nantilah kalau pacar gue udah ngasih gue jatah, gue nggak bakal minta lagi sama Lo!" Balas Adam santai membuat Keisha geram.
"Dasar cewek aneh, dipacarin nggak mau ditidurin mau ee sekalinya gue punya pacar marah dia!" Omel Adam lalu memejamkan mata. Baru sedetik memejamkan mata, Adam merasa perutnya kembali mulas hingga membuatnya harus bangun dan berlari ke kamar mandi.
Semetara Keisha menangis diruang tamu apartemen Adam. Keisha masih tidak percaya Adam tega memiliki kekasih disaat Ia sudah mempercayakan hidupnya untuk Adam. Ya hanya untuk Adam.
"Semua cowok emang sama aja, lihat aja Dam, gue bakal bales Elo!" Gumam Keisha penuh dendam.
Pagi ini, Aruna berangkat diantar oleh Bian seperti biasa. Aruna memasuki mobil dimana sudah ada Bian disana.
"Tumben kakak pakai bajunya rapi?" Tanya Aruna yang kesiangan dan tidak sempat sarapan, langsung masuk ke mobil.
"Gue mau kerja, tapi ntar pulang gue jemput!"
"Ck kalau sibuk biar di jemput Mang Torik Kak."
"Enggak, gue jemput aja!"
"Terserah Kakak aja lah!" Balas Aruna pasrah.
Keduanya diam sejenak sebelum Aruna kembali bertanya, "Kakak kerja di kantornya Papa?"
"Nggak!"
"Trus kerja dimana?"
"Kepo banget Lo Anak kecil!"
"Ck, cuma pengen tahu aja kak!" Decak Aruna.
"Sama aja kepo!"
__ADS_1
"Ngeselin!"
Tak disangka Bian tersenyum melihat Aruna yang kesal karena ulahnya.
Sesampainya dikampus, Bian menyempatkan untuk turun mengantar Aruna sampai pintu gerbang kampus.
"Loh kak Bian mau kemana?" Heran Runa.
"Mau anterin kamu sampai kelas!"
Mata Aruna melotot tak percaya bahkan Aruna menghentikan langkahnya, "Kak, jangan bercanda deh!"
"Enggak bercanda, serius biar kamu nggak digodain sama cowok kampus yang gatel!"
Aruna ingin protes namun Bian sudah mengenggam tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki kampus.
Hanya pasrah yang bisa dilakukan Aruna saat ini apalagi saat dirinya menjadi tontonan anak anak kampus yang sudah datang.
Banyak yang memuji namun banyak pula yang berbisik iri melihat Aruna bersama pria tampan seperti Bian.
"Mana kelasnya?"
"Sebelah sana." Aruna menunjuk ke arah kelasnya.
"Kalau kelas pacar Lo?"
"Kakak mau ngapain lagi?" Aruna menatap Bian curiga.
"Cuma mau mastiin kalau kelas kalian nggak deket."
Aruna menghela nafas panjang, Ia menunjuk ke arah kelas Adam yang memang jaraknya sedikit jauh.
"Puas!"
"Belum, sebelum Lo putus sama cowok Lo yang brengsek itu!"
Aruna yang kesal mendengar ucapan Bian langsung melepaskan genggaman tangan Bian secara paksa.
"Udah sampe mau masuk!" Kata Aruna langsung memasuki kelasnya tanpa menunggu balasan dari Bian.
Bian masih berdiri ditempat, menatap punggung Aruna yang kini sudah tidak lagi terlihat.
Bian melihat ke arah sekitar, banyak yang menatap ke arahnya kagum.
"Kak mahasiswa sini juga?"
"Bukan, suaminya Aruna." Kata Bian memperkenalkan diri membuat semua orang tampak terkejut.
"Su suaminya?"
Bian mengangguk dan berjalan keluar kampus.
Tepat sampai digerbang, seseorang menabrak punggung Bian dari belakang.
"Sorry, gue nggak sengaja."
Bian berbalik menatap wanita yang seperti sengaja menabrak dirinya. Mata mereka bertemu, Bian mengenal wanita itu.
"Lo kan yang waktu itu di club?"
Bersambung...
__ADS_1