MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
24


__ADS_3

Aruna menyeruput teh panas buatan Mbok Inem. Setelah tubuhnya kepanasan lalu kedinginan kini tubuhnya sudah kembali menghangat setelah minum teh panas.


Bian kembali memasuki kamar Aruna, melihat Aruna sedang duduk disofa memakai selimut sambil minum teh.


"Gimana udah enakan?" Tanya Bian yang kini ikut duduk disofa.


"Udah kak, makasih."


"Sekarang Lo ceritain sama Gue, gimana bisa Lo di apartemen cowok Lo padahal tadi pas video call Lo sama papa?" Tanya Bian.


"Tadi pas makan siang nggak sengaja ketemu Adam trus Papa tiba tiba harus kembali ke kantor jadi Runa pulang sama Adam."


"Trus Lo mau diajak ke apartemennya?" Tanya Bian sinis.


Aruna menundukan kepalanya karena memang Ia yang salah,


"Kalau seumpama gue telat dateng, udah habis Lo sama dia!" Kata Bian.


"Maaf kak."


"Jangan minta maaf sama gue, minta maaf sama diri Lo sendiri. Bayangin aja kalau sampai Lo diapa apain, emang nggak nyesel?"


"Nyesel kak."


"Nah itu Lo pinter, trus kenapa tadi bego banget hah!" Sentak Bian terdengar galak.


"Runa cuma masih nggak nyangka kalau adam tega ngasih obat gituan sama Runa." Ungkap Runa.


"Obat perangsang itu biar Lo mau di apa apain sama dia, jadi kalau dia nyentuh nyentuh, Lo pasrah aja keenakan kayak pas tadi gue nyium Lo, minta nambah kan Lo!"


Aruna kembali menundukan kepalanya, wajahnya terasa panas karena pipinya memerah malu.


"Itu ciuman pertama ku tahu, diambil sama kakak tapi nggak apa apa lah sama kakak sendiri." Kata Aruna.


"Kalau Lo nggak gue cium, udah gila Lo tadi ngrasain kesiksa!" Jelas Bian.


"Iya kak tahu."


"Sekarang gue yang kesiksa Run, gara gara ngerasain bibir Lo manis banget, jadi pengen lagi." Batin Bian.


Keduanya sama sama diam sejenak, memikirkan kejadian hari ini yang sangat tidak mereka sangka.


"Trus Lo masih mau lanjutin hubungan Lo sama dia?" Tanya Bian.


"Aku masih belum tahu Kak."

__ADS_1


"Bodoh banget kalau Lo masih mau lanjut, mau nunggu beneran diperkosa?"


Aruna menggelengkan kepalanya, "Enggak Kak, jangan ngomong gitu. Runa mau mikirin dulu gimana baiknya biar nanti nggak nyesel."


"Nggak ada jalan terbaik lagi Run selain putus, Lo tu bener bener nggak waras Run!" Umpat Bian.


Aruna diam menunduk, wajahnya terlihat sangat sedih dan kalut.


"Trus lagi, kok bisa Papa masih disini? Bukannya Papa lagi diluar kota?" Tanya Bian penasaran karena setahu Bian semalam Papanya pergi keluar kota untuk urusan bisnis.


"Aruna nggak tahu kak, papa bilang kalau ketinggalan pesawat dan dia nginep di hotel."


"Ck, emang nggak punya rumah sampai harus nginep dihotel!" Kesal Bian.


"Mungkin biar cepet kalau ke bandara lagi Kak."


Bian terdiam, mendengar penjelasan Aruna membuatnya merasa janggal. Rasanya sangat tidak mungkin jika kebetulan mereka bertemu direstoran tanpa disengaja seperti yang Aruna ceritakan.


Tetapi jika menuduh Papanya bersekongkol dengan Adam juga tidak mungkin, seburuk buruknya sang Papa, Bian yakin tidak mungkin Papa akan mencelakai Aruna meskipun Aruna bukan putri kandung namun Bian yakin jika David menyayanggi Aruna seperti putri kandungnya sendiri.


"Ya udah, Lo istirahat aja sambil mikirin mau putus apa enggak, kalau saran gue sih harusnya Lo putus tapi kalau Lo bego dan bucin, lanjutin aja nggak apa apa paling ntar perawan Lo ilang abis itu Lo ditinggalin!" Kata Bian berdiri dari duduknya.


"Kak Bian ihh!"


"Napa? Minta dicium lagi?" Goda Bian membuat pipi Aruna kembali memerah.


Bian tersenyum dan segera keluar dari kamar Aruna.


"Adik itu hanya status Run, bentar lagi Lo juga jadi milik gue!" Batin Bian tersenyum sendiri didepan kamar Aruna.


Sementara itu, David yang baru saja bangun dari tidur siang terkejut membaca pesan dari Adam.


Aku gagal om, gara gara anak Om yang satu datang trus bawa Aruna pulang.


Nggak mau tahu, pokoknya Om harus bantuin aku sampai aku dapetin apa yang aku mau.


"Bian datang? Dari mana Bian tahu apartemen Adam?" Batin David kini kembali pusing karena harus memikirkan bagaimana caranya membantu Adam.


Sejak kecil, David mendidik Aruna sangat tegas agar Aruna tidak tergoda dengan hal seperti ini dan sekarang terbukti, Aruna susah dirayu meskipun Aruna sangat menyukai Adam namun Aruna mampu menjaga diri. Disatu sisi David sangat bangga dengan Aruna namun disisi lain, David merasa bingung harus dengan cara apa agar Adam bisa mendapatkan apa yang Ia mau dari Aruna.


"Kita jadi berangkat malam ini kan sayang?" Tanya Mia yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku masih belum tahu baby!"


"Ck, apa kau ingin membatalkan liburan kita lagi? Sekarang apa lagi? Istrimu merengek lagi?" kata Mia terdengar kesal dan marah.

__ADS_1


"Bukan masalah itu, ada pekerjaan yang masih harus ku lakukan, bagaimana kalau kita tunda dulu liburannya?"


"AKU TIDAK MAU!"


David menghela nafas panjang, "Baiklah baiklah, kita berangkat sore ini." Kata David membuat Mia tersenyum lebar.


David segera mengirim pesan untuk Adam,


Bersabarlah dulu, aku harus pergi keluar kota, tunggulah sampai aku kembali dan aku akan memberikan apa yang kau inginkan


Sementara itu di apartemen, Adam membanting ponselnya diranjang setelah membaca pesan dari David.


"Sial, berapa lama lagi aku harus menunggu!" Batin Adam.


"Sebenarnya kau ini kenapa? Siapa yang membuatmu semarah ini? Dan siapa pula yang berani memukulmu?" Tanya Keisha yang saat ini sedang mengompres pipi Adam yang lebam.


"Bukan urusan Lo! Yang jelas gue butuh Lo malam ini." Kata Adam.


"Nggak bisa gue lagi datang bulan." Balas Keisha santai.


"Kalau Lo lagi datang bulan harusnya nggak usah kesini, nggak guna tahu nggak!"


Keisha menekan pipi Adam hingga Adam meringgis kesakitan, "Gue juga udah mau balik nih." Kata Keisha berdiri dan meninggalkan apartemen Adam.


"Emang dasar cowok brengsek, udah dibantuin kompres masih aja ngatain gue nggak guna!" Umpat Keisha yang saat ini sudah keluar dari apartemen Adam.


Sebenarnya Keisha tidak datang bulan, Ia membohongi Adam karena Ia sudah malas melakukan hubungan tanpa kejelasan dengan Adam.


"Dari pada gue ngejar cowok mesum kek Elo mendingan gue ngejar cowok ganteng super tajir itu!" Kata Keisha tersenyum senang lalu pergi dari sana.


Esoknya, Adam mencari Aruna dikampus dan Ia ingin membawa Aruna kembali ke apartemennya namun Ia tidak melihat Aruna dimanapun, bahkan dikelas Aruna tidak ada.


"Temen Lo mana?" Tanya Adam pada Nysa adik sepupunya.


"Aruna?"


Adam mengangguk, "Nggak masuk," balas Nysa.


Adam berdecak dan berniat keluar,


"Tumben nyariin Aruna? Trus pipi Lo kenapa? Berantem lagi." Tanya Nysa penasaran dengan pipi lebam Adam.


"Bukan urusan Lo!" Kata Adam lalu keluar dari kelas Aruna.


"Dasar cowok kutub utara, dingin banget padahal sini nanya baik baik!" Kesal Nysa.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2