MY CRAZY BROTHER

MY CRAZY BROTHER
107


__ADS_3

Mang Torik tersenyum mendengar jawaban Mbok Inem. Ia tahu Mbok Inem tidak mungkin membenci Bian, Mbok Inem hanya butuh waktu untuk berdamai dengan kenyataan.


"Jika kau menyadari itu lalu untuk apa kau marah pada Bian?" tanya Mang Torik.


"Karena aku merasa bersalah pada putraku, selama ini aku bahkan tidak pernah mempedulikanya, Ia seperti ini karena aku sudah gagal mendidiknya. Seharusnya aku saja yang dipenjara bukan Satria." ungkap Mbok Inem kembali menangis.


"kau memang sudah gagal, kau yang membuatnya menjadi penjahat karena sebenarnya kau bahkan tahu apa yang dia lakukan selama ini namun kau membiarkan saja, kau tidak melarangnya padahal seharusnya kau melarang dan menasehatinya jika Ia berbuat salah bukan malah membebaskan apapun yang dia inginkan." kata Mang Torik terdengar mengebu.


Mbok Inem kembali diam, Ia ingat saat pertama kali memasuki kamar Satria dan melihat ada foto foto Aruna disana, Mbok Inem sempat marah dan menasehati Satria namun ucapan Satria membuatnya kalah, "Selama ini Ibu meninggalkanku bekerja, tidak menemaniku. Aku hanya ingin mencari kebahagiaanku bu dan inilah bahagiaku, apa Ibu tidak ingin aku bahagia?"


Mbok Inem diam dan akhirnya Ia membiarkan Satria melakukan itu semua. Bahkan Mbok Inem juga ikut membantu Satria masuk ke kamar Aruna untuk mendapatkan apa yang Ia mau.


"Kau hanya diam? Apa ucapanku benar?"


Mbok Inem tak menjawab dan malah menangis, "Apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku juga ikut bersalah atas putraku."


Mang Torik menghela nafas panjang, "Pagi ini Den Bian kecelakaan setelah pulang dari rumahmu."


Mbok Inem terkejut, "Kecelakaan?"


"Ya, sekarang dia dirawat dirumah sakit. Ku dengar keadaannya sudah lebih baik." kata Torik lagi membuat Mbok Inem bernafas lega.


"Aku ingin minta maaf pada Den Bian." ucap Mbok Inem.


"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana."


Mbok Inem dan Mang Torik akhirnya pergi kerumah sakit tempat Bian dirawat.


Dengan tangan bergetar dan jantung berdegup kencag, Mbok Inem memasuki ruang rawat dimana ada Bian yang berbaring diranjang juga Anneta yang duduk menemani.


Seketika Mbok Inem tertunduk, merasa sangat bersalah apalagi melihat banyaknya perban yang menempel ditubuh Bian.


"Mbok Inem.." Anneta memyambut kedatangan Mbok Inem dengan senyum mengembang.


"Say saya... Mau minta maaf." ucap Mbok Inem dengan kepala tertunduk.


Anneta berdiri, berjalan mendekati Mbok Inem lalu mengajak Mbok Inem mendekat ke ranjang Bian.


Bian hanya diam, menatap Mbok Inem tidak mengatakan apapun.


"Saya mengakui, putra saya memang salah sudah melakukan hal jahat itu pada Nona, saya tidak bisa menghentikannya waktu itu karena saya sangat menyayanggi Satria, saya juga ikut bersalah atas apa yang terjadi ini. Tolong berikan hukuman juga untuk Saya." pinta Mbok Inem dengan isakan tangisnya.


Anneta menatap Bian, mencoba memberikan kode mata agar Bian berbicara.


Bian menghela nafas panjang, "Aku akan membebaskan putramu."


Mbok Inem terkejut, "Putra saya bersalah, Biarkan dia menerima hukumannya." kata Mbok Inem yang sepertinya sudah menyadari.

__ADS_1


"Tunggulah tiga bulan, aku ingin dia berada disana selama tiga bulan agar bisa menyadari kesalahannya setelah itu aku akan membebaskannya dan kalian pergilah dari kota ini. Aku hanya tidak mau Dia masih menganggu Aruna."


Mbok Inem menatap Bian, air matanya kembali mengalir setelah mendengar ucapan Bian.


"Terimakasih Den... Terimakasih banyak." ucap Mbok Inem.


Setelah merasa tidak ada yang dibicarakan lagi Mbok Inem pamit pergi dan kini tinggalah Bian dengan Anneta.


"Kenapa Mama tersenyum melihatku?" heran Bian.


"Mama hanya bangga dan bahagia memiliki putra seperti mu."


"Ck, Jangan mengatakan itu Ma... Rasanya aneh."


Anneta tersenyum, "Setelah kau menikah, aku mungkin juga akan menikah dengan Papamu."


Bian menghela nafas panjang, "Terserah Mama selama Mama bahagia."


"Apa kamu masih belum bisa menerima Ryan sebagai Papa kandungmu?"


Bian menggelengkan kepalanya, "Rasanya masih sulit tapi aku akan mencobanya."


"Dia pria yang baik, sama sepertimu." ucap Anneta membuat Bian salah tingkah.


"Ck, kenapa aruna belum juga kembali, kemana pria tua itu membawa Aruna ku pergi." omel Bian.


Anneta tersenyum, "Apa kau tidak percaya dengan Papa mu sendiri?"


"Apa Mama begitu bahagia bersama pria tua itu?"


"Papa mu Bian, pria tua itu Papamu."


Bian berdecak, "Ya, Papaku. Jadi apa Mama bahagia?"


Anneta mengangguk, "Bukankah kita akan bahagia bersama dengan orang yang tepat, sama sepertimu yang bahagia memiliki Aruna."


"Tapi kenapa Aruna masih juga belum kembali." omel Bian lagi sambil menatap pintu.


"Mungkin Papa mu mengajak Aruna ke suatu tempat."


"Kemana?" curiga Bian.


"Mana Mama tahu, nanti tanyakan saja pada Papamu."


Bian berdecak, Ia tak lagi mengatakan apapun dan memilih tidur saja.


Saat sudah bangun, Bian kembali mencari Aruna.

__ADS_1


"Belum kesini, mungkin ada yang sedang dia kerjakan." ucap Anneta.


"Mengerjakan apa? aku sedang sakit dan dia malah sibuk dengan urusannya!" kesal Bian.


"Sabarlah sebentar lagi, Dia pasti akan segera kemari." kata Anneta.


Namun hingga sore hari, Aruna tak kunjung datang membuat Bian semakin kesal.


"Ponsel Mama Mana?" tanya Bian meminta ponsel Anneta.


"Untuk apa?"


"Telepon Aruna sekarang!"


Anneta menggelengkan kepalanya, Ia segera mendial nomor Aruna sebelum Bian kembali marah.


"Tidak aktif." ucap Anneta memperlihatkan panggilan yang tidak terjawab pada Bian.


"Ck, kemana mereka!"


"Tunggulah sebentar lagi, mereka pasti akan kembali kesini." kata Anneta.


"Jika mereka tidak segera datang, aku yang akan mendatangi mereka!"


Anneta hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan konyol Bian.


Pintu ruangan terbuka, Bian pikir itu Aruna namun ternyata bukan, Sadam dan anak buahnya yang datang.


"Mama akan keluar." ucap Anneta tak ingin menganggu urusan Bian.


Bian menatap kesal ke arah Sadam dan anak buahnya.


"Untuk apa kalian kemari?" tanya Bian masih kecewa karena bukan Aruna yang datang.


"Saya datang untuk melaporkan aktivitas kantor hari ini, Semua aman terkendali pak." lapor Sadam pada Bian.


"Dan saya juga ingin melaporkan jika kecelakaan yang terjadi bukan karena kesengajaan, real kecelakaan karena Tuan menabrak truk itu." jelas Anak buah Bian.


Bian mengangguk, "Ya aku sudah tahu. Tadi pagi aku memang mengantuk saat mengemudi. Lalu.bagaimana dengan sopir truk itu?"


"Aman Tuan, sudah saya urus." ucap Anak Buah Bian.


"Baguslah, jika sudah tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan sebaiknya kalian segera pergi."


"Tuan mengusir kami?"


"Ya, pergilah sebelum aku meminta satpam untuk mengusir kalian." ucap Bian dengan nada kesal membuat Sadam dan anak buahnya keheranan.

__ADS_1


"Baiklah kami akan pergi."


Bersambung...


__ADS_2